FIDUCIA

FIDUCIA
16



Malam ini rasanya rumah terasa sesak untuk Green. Ia melirik kantong berisi lilin yang baru saja dibeli tadi sore. Tapi masalahnya, Green tidak tahu alamat Allera. Mungkin berkunjung sebentar ke kafe tempat Kayla bekerja ada bagusnya juga. Jadi Green memacu mobil lebih kencang dari biasanya. Membelah langit malam yang terlihat sangat terang.


Setelah sampai, Green mencari siluet Kayla dari sudut ke sudut. Harusnya ia sudah sibuk melayani. Tapi Kayla tidak kunjung terlihat. Lantas ia menanyakan rekan kerjanya. Dia bilang Kayla sedang izin keluar sebentar. Untuk menemui seseorang.


Beberapa menit setelahnya, Green terpaksa untuk memesan minum terlebih dahulu. Menikmati suasana kafe yang lebih ramai dan banyak pasangan yang sedang bermesraan. Green melihat ke sekeliling. Ternyata banyak yang berpasangan dan hanya Green seorang diri tanpa ada yang menemaninya. Lantas Green memeriksa ponselnya mencari simbol kalender untuk melihat sekarang hari apa.


"Ah, gue lupa! Sekarang malam minggu yah?" gumam Green seraya menyeruput minuman yang telah sampai.


Sepertinya akan sia-sia juga kalau Green mengundang temannya yang lain. Melihat sekarang sedang malam minggu. Pasti mereka pun asik bersama pasangannya. Diam di tempat yang sepi, bermesraan, lalu ... Green tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Green kembali melihat keramaian di luar sana dan di dalam. Malam minggu memang benar-benar seistimewa itu sampai jalanan macet serta para pegawai yang daritadi sibuk mondar-mandir melayani pesanan.


"Gue denger lo cari gue, kenapa?"


Green menoleh, lalu menawarkan Kayla untuk duduk di depannya. "Gue mau minta alamat Allera. Lo tau, kan?"


"Hm ... gimana yah." Kayla nampak berpikir.


"Kasih tahu saja!"


"Emang ada apaan sih?"


"Gue mau ngasih sesuatu buat dia, hitung-hitung hadiah buat dia karena sudah mau menerima gue jadi temannya."


"Yakin dia mau temenan sama lo? Gue sih gak seyakin itu." Kayla mengambil minuman Green dan menyedotnya.


"Kenapa lo ngomong gitu?"


"Yah, bukan apa-apa sih. Cuma gue gak yakin saja kalo dia beneran mau temenan sama lo. Gue berani jamin, itu si Allera bakalan jauh-jauh dari lo."


"Kenapa?"


Kayla menggedik bahu tidak peduli. "Gue gak bisa bilang."


Satu hal lagi yang membuat Green penasaran tentang Allera. Dia terlalu tertutup dan juga Green tidak bisa menemukan celah untuk mengenalnya lebih jauh lagi. Melihat bagaimana Allera selalu menghindar darinya, otomatis membuat Green pun tidak ada kesempatan untuk menanyakan hal lainnya. Sebelum Green pergi tadi sore, seharusnya dia berada di sisi Allera. Terhitung untuk semakin mengenal Allera lebih jauh lagi. Green pikir itu kesempatan yang sangat bagus. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain untuk Green menghajar mantan pacar Jeje.


"Kasih tahu saja lah, Kayla."


"Sorry, gue gak bisa. Terus jam gue buat izin sudah habis. Jadi nikmatin saja minuman lo disini."


Kayla beranjak meninggalkan Green yang sedang terpaku mendapat tolakan. Pria itu menghela napas. Sepertinya Kayla tahu sesuatu tentang Allera dan Green yakin akan hal itu. Dilihat dari sisi manapun pasti Allera tidak akan mau menyebarkan alamat rumahnya termasuk Green yang terbilang baru mengenalinya. Green bisa menebak Allera merupakan tipe wanita yang percaya dengan orang yang sudah dekat dengannya. Seperti Kayla. Karena tidak mendapat apa-apa, akhirnya Green memutuskan untuk pulang dengan tangan hampa.


***


Kayla telungkup dengan kedua kaki yang ia angkat. Matanya sibuk kesana-kemari melihat ponsel yang ia miringkan untuk terhindar dari musuh di game yang baru saja Kayla download. Sedangkan mulutnya asik mengeluarkan bunyi melalui permen karet yang ia kunyah.


"Kay, berisik tahu!" Allera terduduk di samping kasur sambil membawa minuman dan makanan.


Kayla menoleh dan wajahnya berubah menjadi senang. "Waw! Super sekali kawanku ini!" Kayla menyimpan permen karet di belakang telinganya.


"Astaga! Kayla, lo jorok banget sih! Kenapa gak dibuang saja?" pekik Allera.


Kayla tidak peduli dan langsung memakan semangka yang Bunda potong barusan. "Di belakang telinga gue ada penyimpanan buat permen karet. Lagian gue juga yang makan, masalah buat lo?"


"Bukannya gitu, Kay. Itu 'kan harusnya dibuang! Jorok banget!"


Dengan mulut penuh Kayla berujar, "Yang makan siapa? Gue, kan? Jadi suka-suka gue lah!"


"Sebelum ngomong abisin dulu tuh makanan! Muncrat kemana-mana."


Kayla mengangkat bahu. "Bodo amat!" Kembali mengisi mulutnya dengan potongan semangka yang lebih besar. "Oh iya! Kemarin dan tadi si Green nyariin lo, terus minta alamat lo."


"Terus lo kasih?"


"Pas pertama sih enggak, tapi setelah dia mohon-mohon ke gue dengan wajah memelasnya. Akhirnya gue ...."


"Akhirnya gue apa?"


Belum sempat Kayla melanjutkan percakapan. Pintu depan sudah terketuk, dengan ucapan salam yang begitu lantang.


"Serius, Kay? Astaga! Nyesel gue izinin lo sering nginep di rumah gue."


Kayla menggosok tangan sambil memelas. "Sorry, abis muka dia bikin gue gak tahan buat nerkam dia."


Allera memutar bola mata jengah, lantas beranjak dari kasur berniat untuk membukakan pintu sebelum Bunda sudah lebih dulu berada di daun pintu. Wajah Bunda terlihat sangat senang. Karena mungkin ini pertama kalinya ada pria yang berkunjung ke rumah Allera. Bunda sempat berpikir hal aneh tentang Allera yang tidak pernah membawa pasangannya. Tapi kali ini Bunda merasa bersyukur melihat siapa yang kali ini datang.


"M-maaf, Tante. Apa Alleranya ada?"


Bunda tersenyum manis dan sedikit terpesona dengan ketampanan pria dan membawa bingkisan yang mungkin untuk Allera.


"Siapa namamu, Nak?"


"A-ah, saya Green. Tante."


"Huss, jangan Tante. Panggil Bunda saja. Allera ada di dalam. Mari masuk."


"I-iya, Tanteㅡah maksudnya, iya. Bunda."


Bunda terkikik dan mempersilahkan Green untuk masuk. Bunda memanggil Allera untuk segera menghampiri Green yang justru menolak.


"Jangan gitu, dia tamu loh. Kamu kesana nanti Bunda bikin minuman buat dia."


"Iya deh, Bun."


***


Green berdeham saat Allera sedang termangu menatap lurus tembok yang kelihatannya lebih menarik daripada Green. Pria itu memperhatikan Allera dengan seksama. Membuat Allera pun merasa risih sendiri. Terkadang Allera juga sedikit mencuri pandang ke Green, tapi dengan cepat Allera mengalihkan pandangannya.


"Allera, kenapaㅡ hooh, hai ganteng ...." sapa Kayla.


Green melambaikan tangan. "Hai, Kayla."


Dengan cepat Allera menyikut Kayla yang sudah duduk di sampingnya. "Apa sih, Kay. Berhenti ngeledek deh."


"Jadi gue kesini mau ngasih ini."


Green memberi bungkusan tersebut pada Allera. Tapi bukan Kayla namanya kalau tidak merusuh suasana yang sudah Green bayangkan sejak tadi.


"Wih apa nih," Kayla berujar seraya mengeluarkan isinya. Matanya langsung berbinar tatkala melihat satu buah lilin besar berwarna biru laut. Kemudian ia mengendus lilin tersebut. "Kok gak wangi sih?"


"Kay, wanginya gak akan keluar kalau gak dibakar."


"Oh iya."


Green menggelengkan kepala, lantas kembali melihat Allera yang ikut tersenyum. Baru kali ini Green melihat Allera tersenyum. Walau hanya tarikan kecil, cukup manis menurut Green. Selama satu menit Green memandang Allera yang tersenyum ramah pada Kayla sebelum manik mereka saling bertumbuk selama beberapa detik. Lantas memalingkan wajah setelah ketahuan melirik Allera secara diam-diam.


Pria berambut kelam itu kembali berdeham. "Lera, apa lo punya gitar?"


"Hah?"


"Astaga, Alle. Dia nanya lo punya gitar kagak," potong Kayla dengan geram.


"Oh, ah! Kayaknya ada, sebentar gue cari dulu di kamar Abang."


Allera terlihat sangat kikuk tidak seperti biasanya yang selalu cuek tanpa banyak berbicara. Ekor matanya melihat kepergian Allera sampai dia kembali lagi membawa gitar berwarna cokelat. Lantas Green berdiri mengambil alih gitar tersebut agar tidak repot nantinya.


"Mau lo apain tuh gitar?" tanya Kayla.


Green tersenyum. "Mau gue ajak main bulutangkis."


"Bego, ya?"


"Lo lah yang bego."


"Apa?"


"Menurut lo, gue minta Allera ambil gitar buat apa? Ya buat nyanyi lah."


"Iya-iya terserah lo dah!"


Tanpa diperintah sama sekali, Green menyela tempat duduk Kayla dan Allera. Mengambil bagian tengah supaya bisa lebih dekat lagi.


"Eh. Eh! Apa-apaan nih?" pekik Kayla.


"Gue mau ajarin Lera main gitar, lo pergi sono!"


Kayla mencebik, lalu memberi ruang untuk Allera dan Green agar lebih leluasa. Kedua matanya terpaku saat Green mulai memetik gitar sambil sesekali mengajarkan beberapa chord untuk musik yang Green bawakan. Allera cukup tegang dan sesekali melihat dengan serius apa yang diajarkan Green.


"Belajar gitar enaknya memang harus pake dua gitar. Hm ... besok gue kesini lagi deh sambil bawa gitar."


"Eyy! Alle, gak usah tegang gitu." Tuduh Kayla yang sibuk ngupil tidak peduli.


Allera tersadar, dan menelan salivanya. "S-siapa yang tegang, huh?"


"Jadi, Lera. Lo sedikit paham 'kan apa yang gue ajarin?"


"Paham, cikgu!" jawab Kayla.


Green menghela napas. "Bukan lo, bambang!"


"Suka hati lah!"


Jam menunjukan pukul sebelas. Rasanya waktu tidak terasa kalau berduaan dengan Allera. Ah! Bukan berdua ternyata, melainkan bertiga. Terhitung ada demit yang mengikuti aktivitas malam Green bersama Allera. Pria itu lantas sedikit melirik Kayla lebih tajam sampai keduanya saling bertatapan.


"Apa lo? Naksir?" tukas Kayla.


Pipi Green berkedut ngeri. "Hidih, mending gue pacarin miper saja ketimbang lo. Kay!"


"Selera lo murahan banget. Lo gak normal?"


Green melirik Allera sebentar. "Normal lah, tapi kalau gue dikasih pilihan antara lo sama miper. Gue mending milih miper."


"What? Kayaknya lo sudah bosen hidup." Kayla menarik baju Green sampai wajah mereka saling menatap sengit.


"Duh kalian kayak bocah saja," Allera berujar seraya berdiri.


"Mau kemana lo?"


"Ah! Itu ... gue mau ambil minuman, tuh sudah habis." Allera menunjuk dua gelas yang mereka tandaskan akibat terlalu sering berdebat.


Green menepis tangan Kayla dengan kencang, membuat sang gadis pun mendelik tidak suka. "Gak usah, Lera. Sudah malem, mending gue balik."


"Oh iya! Bagus, sono pergi."


Sepertinya Kayla menaruh dendam pada Green, sampai-sampai kehadirannya pun tidak disukai. Green menitip salam ke Aldi pada Allera karena katanya sudah tertidur pulas. Sedangkan Bunda dengan senang hati mengantarnya sampai mobil Green menghilang di ujung gerbang. Allera mengajak Kayla untuk segera masuk ke kamar. Rencananya gadis berambut sebahu itu akan menginap di rumah Allera. Sebenarnya masih sedikit kesal juga sih karena Kayla dengan mulut embernya memberi tahu alamat Allera, yang membuat Allera sedikit canggung dengan Green tadi.


Allera menghela napas kembali. Mungkin Tuhan tidak akan pernah mengabulkan doanya. Terlihat sekarang Green pun akan sering mengunjungi rumahnya. Mengingat tugas kelompok yang diberikan Bu Lidya untuk minggu depannya lagi.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Ah, sumpah deh. Aku tuh suka banget sama si Kayla ini. 😂 orangnya nyablak banget, udah gitu kalo ketemu Green pasti bakalan debat mulu wqwq~


Pokoknya gitu deh.


Hv a nice day, semoga kalian syukaa~


Papai~~