FIDUCIA

FIDUCIA
15



Allera tidak pernah merasa secanggung ini bahkan dengan kakaknya sendiri. Ia hanya mampu menjawab pertanyaan ringan yang Aldi lemparkan padanya. Bahkan saat ia bertanya tentang kenapa Allera duduk di belakang pun tidak mampu gadis tersebut jawab. Setelahnya hanya keheningan yang ada. Saat sampai Allera dikejutkan akan kehadiran Green yang sedang duduk manis di meja bar sambil bercengkrama dengan Kayla. Saking asiknya, mereka pun tidak sadar kehadiran Allera yang sudah berdiri mematung di samping mereka. Sambil mengetukan meja berulang kali, akhirnya keduanya langsung tersadar.


"Ah, Alle. Lo sudah datang?"


Allera mengangguk. "Kenapa orang ini ada disini?"


"Ah itu ... jadi gini, Alle. Kemarin Bos bilang ke gue katanya pelanggan pada suka lo sama Green tampil disini."


"Terus?"


"Hm ... dia minta buat seterusnya ada disini, makanya Green langsung jawab iya." Kayla melihat respon Allera, sedang Green hanya mengangguk membenarkan.


"Oke."


"Oke?" Kayla cukup tercengang mendengar jawaban yang diberikan Allera.


"Ya, btw. Makasih buat yang kemarin. Maaf kalau kemarin gue dorong lo dan langsung pergi gitu saja." Setelah mengucapkan hal yang membuat Allera malu, lantas ia pun pergi tanpa pamit.


Kayla yang merasa tidak tahu apa-apa pun bertanya, "Kenapa sama kemarin?"


Pria itu tidak menjawab. Justru menghampiri Allera sambil tersenyum tidak jelas. "Jadi, apa lo sudah mau dekat sama gue?" Green melotot.


Duh gue ngomong apa sih? batin Green.


"Ah gak! Maksudnya, apa lo sudah mau jadi teman gue dan gak menghindar terus?"


Dengan ragu Allera menjawab kata 'iya' dengan anggukan seperti robot. Semalam setelah Allera bercerita dengan Bunda. Dia jadi terpikirkan tentang Green yang relain wajahnya babak belur hanya untuk menyelamatkan Allera. Sampai sekarang pun wajahnya masih buruk seperti kemarin. Allera menelisik wajah Green dengan seksama. Sepertinya pria itu terjaga sepanjang malam. Terlihat dari kantung matanya yang menghitam, ditambah dengan memar di sudut mata Green. Membuat penampilan Green terlihat sangat kacau.


Bunda menyarankan Allera untuk segera berterimakasih dan sudah ia lakukan sebelum tampil tadi. Dalam hati Allera memang sedikit merasa tidak enak padanya sekaligus memikirkan keadaan Green. Walau masih ada ketakutan yang menyelimuti batin Allera selama ini. Dia tidak tahu apakah tindakan Allera kali ini benar atau tidak, yang pasti Allera hanya mampu berharap semoga Green tidak sedekat yang dibayangkan Allera. Ia mulai memegang microphone dan yang pasti didampingi oleh Green. Dengan jarak satu meter agar Allera pun merasa nyaman.


Mungkin selepas tampil, Allera akan mentraktir minuman untuk Green. Hitung-hitung juga untuk jasanya yang kemarin dan mengganti susu kotak yang diberikan pria itu.


Awalnya begitu. Sebelum Allera menuntaskan perkataannya untuk membalas jasa. Ponsel Green meraung beberapa kali. Membuat Allera tidak jadi untuk melanjutkan pembicaraan. Green meminta waktu untuk menelpon sebentar.


"Ah, maaf. Lera! Gue terima telepon dulu."


Kayla menepuk pundak Allera. "Lo gak apa-apa?"


Hanya anggukan yang Allera berikan. Ia memperhatikan punggung Green yang terlihat sangat serius menjawab teleponnya. Terdengar sedikit perdebatan Green dengan sang penelpon, emosi Green sepertinya sedang meluap. Allera mencoba mengabaikan itu. Lantas berbalik menuju meja kosong di ujung dengan foto yang terbingkai sangat cantik disana.


Kayla sendiri tidak bisa menemani Allera karena kafe lebih ramai dari biasanya. Bos Kayla memang sudah memperkirakan segalanya. Keadaan kafe menjadi berbeda saat Green bersedia untuk gabung bersama Allera. Lengkungan tipis berasal dari bibirnya terpancar dengan indah di wajah, dengan mata terlihat seperti terpejam. Lantas menyesap kembali minuman yang sudah dipesan Allera. Melihat temannya yang lelah melayani tanpa menghilangkan keramahan, Allera nampak senang.


Green mengetuk meja, menyadarkan Allera kembali. "Hm, maaf. Kayaknya gue harus cabut dulu. Sampai ketemu besok ya!"


Belum waktunya Allera untuk membalas jasa Green. Atau mungkin kali ini Tuhan sudah mengabulkan doa Allera untuk segera menjauh darinya?


Baguslah. Hidup gue bisa tenang kalau dia gak ganggu kehidupan gue!


Allera menyeringai, memegang sedotan dan menandaskan minuman. Akhirnya doa yang setiap hari Allera rapalkan berhasil membujuk Tuhan untuk segera menjauhkan pria itu. Sempat disayangkan karena Allera belum membalas jasa.


"Halah, bodoamat balas jasa!" gumam Allera.


"Hah? Lo ngomong apa, Alle?" Salah satu rekan kerja Kayla menghampirinya saat Allera sedang melamun.


"Sejak kapan lo disini?"


"Barusan, tadi gue manggil lo gak nyahut-nyahut. Yasudah gue langsung duduk saja." Pria itu menyengir. "Gue disuruh Kayla buat nemenin lo, siapa tahu saja lo minat sama gue."


"Sudah pernah lihat gelas melayang belum?"


"Eh belum, kenapa?"


Allera memegang gelas kosong berisi es batu dan mengangkatnya ke atas. Mengayunkan gelas tersebut secara perlahan membuat pria di depan Allera sedikit menegangkan tubuh dengan tangan melindungi wajahnya.


"Santai, Alle. Masa lo tega sih muka gue yang ganteng ini ditimpuk gelas begitu."


"Gak peduli, sana pergi!"


"Iya deh gue pergi, dasar beruang kutub!" cibirnya.


Allera tidak peduli. Daripada harus mengalami hal yang tidak diinginkan Allera. Lebih baik gadis itu mengusir pria tadi. Jangan sampai ketenangan Allera menikmati malam ini jadi terganggu.


***


"Gue sudah pernah bilang ke lo, jangan deketin adek gue lagi!"


Green mendapat telepon dari Jeje dan emosinya sedikit tidak terkendali saat mendengar suara Jeje yang tersendat karena menangis.


Lawan bicara Green menelan saliva. "B-bukan gitu, Kak! Ta-tadi, sebenarnya tadi cuma salah paham. Aku gak pernah ada maksud untuk sakitin Jeje."


Green mendesah tak percaya. Mengambil kerahnya kencang sampai mendekat dengan Green. "Sekali lagi lo deketin dia, abis lo di tangan gue!"


"Kasih Gueㅡah! Gak! Maksudnya kasih aku kesempatan, Kak! Aku gak bakalan kayak gitu lagi."


"Lo berani jawab, hah? Jeje bilang sama gue, lo nampar dia. Siapa lo? Gue saja kakaknya gak pernah kayak gitu. Lo yang bukan siapa-siapa berani nampar?" Emosi Green menggebu-gebu.


Green mendorong pria yang berkencan dengan Jeje sangat kuat. Menimbulkan beberapa dari pengunjung Mall melirik bahkan ada yang merekam aksi Green melalui ponsel mereka. Merasa tidak terganggu. Green hanya fokus dengan pria yang sedang meringis serta meminta ampun padanya.


"Kak, tolong bilang ke Jeje. Aku benar-benar gak sengaja lakuin itu. Plis, Kak!"


"Gak sengaja kata lo? Lo tahu istilah tidak ada asap tanpa api?" Green melengos pergi, dan berujar kembali, "lo pikir sendiri, dan jauhi adek gue!"


Tak habis pikir. Padahal Green sudah berulang kali bilang ke Jeje untuk tidak berkencan. Lebih baik dia fokus belajar, tapi perkataannya selalu diabaikan. Green menghela napas panjang. Belum pernah Green merasa semarah ini kalau bukan karena adiknya yang sakit hati karena pria bodoh yang dengan seenaknya menampar Jeje. Walau ia tidak tahu permasalahannya apa. Jeje bilang untuk segera datang ke Mall. Karena dia sudah pulang duluan dan langsung menelpon Green. Jelas Green kaget dan tanpa pikir panjang untuk segera pergi menyusul adiknya.


Untuk mengurangi kesedihan di hati Jeje. Green berniat untuk membelikan lilin aromaterapi. Kesukaan Jeje, dan biasanya memang selalu menenangkan. Membuat kita pun menjadi relaks. Green membeli dua lilin dengan aroma yang berbeda. Lavender dan pappermint. Mungkin perasaan Jeje akan lebih baik lagi.


***


"Kakak!" rengek Jeje.


Green tersenyum pas masuk yang langsung disambut oleh Jeje. Seperti biasa, Jeje memeluk erat kakaknya, Green lantas mengacak rambut Jeje yang berada dalam dekapannya.


"Jangan acak-acak rambut Jeje!"


"Iya deh iya."


Jeje mengembungkan pipi. "Oh iya, makasih ya Kak sudah balesin dendam aku ke Gio kurang ajar itu."


"Kakak 'kan sudah peringatkan kamu jangan deket-deket sama cowok lain. Jangan buat Kakak cemburu dong!" Green berujar dengan mulut yang ia manyunkan.


"Maaf." Jeje menundukan kepala. "Gak lagi-lagi deh, janji!"


Gadis mungil berbalut dress tersebut mengaitkan jari kelingking Green menyatu dengan kelingkingnya. Menyegel janji yang Jeje buat untuk tidak mengingkari.


"Awas loh ya."


Suasana tersebut terhenti saat Ibu mulai ikut bicara, "Ada apa nih? Kok dramatis sekali?"


"Ah itu, tahu gak Bu!" perkataannya terpotong saat fokusnya teralihkan satu hand bag yang Green pegang dan langsung mengambil alih. "Wah, Kak Green ini apa?"


"Kesukaan kamu. Jadi tadi Kakak sekalian beli."


"So sweet! Tapi kok belinya dua? Buat aku semua?"


Dengan cepat Green mengambil kembali dan menyangkal asumsi Jeje. "B-bukan. Kamu satu saja!"


"Ah pasti buat cewek kemarin ya? Hayo ngaku!" desak Jeje membuat Green sedikit bingung.


"Jelas bukan lah!"


"Kenapa malah ribut sih?"


Aksi mereka terganggu saat Ibu menyela Jeje dan Green yang saling meledek. Terutama dengan suara Jeje yang sangat keras menimbulkan gendang telinganya pecah seketika.


"Gak kok, Bun." Green membela diri.


"Haysel," panggil Ibu. "Bisa kita bicara sebentar?"


Green mengangguk lantas mengikuti Ibu ke arah kolam yang berada di belakang rumahnya. Sedang Jeje sibuk menata koleksi lilin barunya di kamar. Wajah Ibu nampak serius, lebih serius dari kemarin. Green menebak, pasti Ibu akan membahas hal yang sama. Padahal Green saja tidak ada niatan untuk melakukan hal itu, ia cukup bersenang-senang. Lagipula, nilai Green selama satu semester ini bagus dan tidak ada masalah sama sekali.


"Kamu tahu 'kan Ibu ngajak kamu ngobrol disini. Ibu mohon sama kamu, turuti permintaan Ibu dan Ibu gak akan minta apa pun lagi ke kamu."


Green menunduk. "Tapi Buㅡ"


"Gak ada ruginya kok kalau kamu nerima permintaan Ibu. Justru baik untuk kamu juga."


"Bu, aku pengen kuliah disini dan gak mau jauh dari kalian juga."


"Apa ini karena cewek yang sedang kamu dekati sekarang?"


Mencoba untuk meminimalisir rasa curiga yang Ibu miliki. Green menarik napas dan kembali menyangkal. "Bukan gitu, Bu. Aku gak pingin jauh dari kalian saja. Bukan karena Allera."


"Tapi kenapa Ibu gak merasakan kalau kamu berkata jujur? Benarkah kamu menyukai perempuan itu?"


"Ah, kenapa semuanya ngira aku pacaran sama cewek itu sih?" keluh Green.


"Jadi kamu mau 'kan kuliah di luar negeri?"


Alih-alih menjawab, Green berdiri. Sebelum tangan Ibu menghentikan niatnya untuk pergi.


"Haysel, jawab Ibu."


"Maaf, Bu. Aku lebih suka disini."


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Semoga suka huhuhu ㅠㅠ


Papai~~