
Pikirannya melambung tinggi, teringat beberapa tingkah konyol Allera yang sering ia lakukan bersama Green. Sebenarnya tidak terlalu berlebihan, hanya saja ia tidak menyangka dengan Allera yang sekarang. Entah orang lain menyadari hal itu, tapi Allera cukup senang. Ternyata dekat dengan siapapun tidak seburuk itu.
"Lera, apa belum jadi juga?"
"Oh. Sudah kok, tinggal dibungkus."
Bunda tertawa. "Kamu pikir bunga itu nasi goreng?"
Ia menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Pokoknya sudah jadi, Bun. Tinggal diantar saja."
"Ya sudah, kamu antar bunga itu bisa, kan?"
Allera melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul menunjukan sebelas duabelas siang dan pasti waktunya tidak akan cukup untuk Allera pergi mengantar pesanan dan belum lagi pergi ke kafe. Akan memakan waktu lama.
"Kayaknya gak bakalan sempat, Bun. Aku 'kan harus ke kafe."
Bunda menunjukkan wajah kecewanya. "Yah, mau bagaimana lagi."
Gadis tersebut langsung bergegas mengambil tas kecilnya dan pamit pada Bunda yang masih menunjukkan raut kecewa. Biasanya jika sudah begitu Allera akan mencium pipi Bunda.
"Aku sayang Bunda!" teriak Allera yang berlari setelah mengecup pipi Bunda.
"Jangan lari-lari begitu, Lera!"
Allera hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. Melewati aroma bunga, berjalan menuju halte bus. Hari ini cuaca kembali sendu. Tidak sesuai dengan perkiraan cuaca yang sering diberitakan. Ia menghela napas, seharusnya Allera jangan pernah mempercayai ramalan cuaca tersebut. Buktinya sekarang langit mulai menghitam, dan Allera tidak membawa payung.
Arlojinya kembali ia lihat, dan masih ada waktu untuk berlama-lama di halte bus ini. Namun, ia tidak mungkin harus kebasahan kalau nanti sang hujan mulai menyerbunya. Walau sudah tertutup oleh atap yang lumayan menutupi seluruh tubuhnya. Tetap saja ada beberapa dari mobil pribadi yang melewati genangan air dan membuat cipratan tersebut mengenai pakaiannya.
⚪⚪⚪
Hari sial kembali datang. Setelah Allera keluar dari toko bunga dan hendak menuju halte bus. Tiba-tiba hujan datang, ia tak sempat menuju toko kembali melihat dirinya saja sudah setengah jalan. Lagipula bajunya terlanjur basah, jadi untuk apa ia membutuh payung. Hanya akan membuat baju Allera semakin basah kuyup saja. Semua orang di sekitarnya hampir sama dengan Allera yang terjebak hujan, yang membedakan hanyalah keadaan mereka saat ini. Hanya Allera yang terlihat sangat kacau.
Ia menggaruk tengkuk yang entah mengapa terasa lebih gatal. Allera ingin menutup seluruh wajahnya saat ini juga. Kalau bisa ia segera berlari dan membasahkan diri kembali lantas pergi tanpa harus membuat dirinya semakin malu lagi.
Awalnya sempat berpikir seperti itu. Namun ada hal yang membuat Allera semakin malu bertambah kesal, saat baju kesayangan dia terciprat oleh kubangan air yang tanpa sengaja terlindas oleh motor besar. Tapi Allera tak sempat memaki orang tersebut karena lajunya sangat cepat. Sepersekian detik kemudian disusul oleh bus yang sudah sampai.
"Gue kira lo gak bakal datang, Alle," seloroh Kayla yang bergegas memberikan handuk kecil pada Allera.
"Sudah setengah jalan gue gak mungkin lah gak datang."
"Tapi baju lo ...."
"Gampang itu mah, yang penting gue isi acara dulu. Si Green mana?"
"Gak tahu tuh ... eh tuh orangnya!"
Allera menoleh, menampilkan penampilan Green yang tak kalah basahnya. Kayla melakukan hal yang sama, memberikan handuk baru pada Green. Tapi rasanya ada yang tak asing dengan apa yang dipakai Green kali ini.
Ah! Kenapa pakai baju putih itu lagi sih? Aller berdecak.
Walaupun tertutupi oleh kemeja hitam milik Green, tapi kaos putih tersebut merupakan hal yang paling membuat Allera merasa tidak nyaman. Jelas, warna putih akan semakin memperlihatkan lekuk tubuhnya, terutama bagian depan itu.
"Mesum!"
"Hah? Apa kata lo?"
Allera kaget mendengar ucapan gila Green, mana ada Allera berpikiran mesum. Walau hanya sesaat sih. Allera membuang mukanya sambil berkacak pinggang, meninggalkan Green dengan tingkah sombongnya. Membuat Green sedikit mengeryit.
Setelah tampil, Green memaksa untuk Allera pulang bersamanya. Pria tersebut baru menyadari kalau pakaian yang Allera kenakan sedikit kotor. Lantas ia melepaskan kemeja, untuk menutupi bagian depan bajunya. Membuat kemeja Green terlihat seperti rok.
"Lo yang mesum!"
Green terkekeh. "Mana bisa gue biarin cewek secantik lo berpakaian seperti ini."
Mereka sampai di tempat parkir, dan Allera terlihat geram melihat motor yang dia pakai.
"Jadi lo yang sembarangan lewat terus nyiprat genangan air itu?"
"Maksud?"
"Lo gak lihat siapa pelaku yang bikin baju gue seperti ini?"
Green menggeleng.
"Gara-gara motor lo!"
"Kok gue?"
"Iya motor lo!"
Green memegang dagunya. "Kayaknya bukan deh. Secara kan motor kayak gini banyak orang yang pakai."
Eh? Benar juga sih, kalau dilihat-lihat motor seperti itu banyak kloningnya. Artinya Allera salah menduga dan membuat dia semakin ...
"Helm lo! Tuh liat, gue ingat ada gambar minion di belakangnya. Seorang cowok jarang loh pakai begituan."
"Benar juga."
"Tuh kan!" Allera mendengus. "Gara-gara lo! gue jadi diketawain pembeli kafe dan tampil tadi juga gak begitu maksimal."
Green berlalu tanpa mendapat persetujuan dari Allera. Pria tersebut menyuruh Allera untuk segera naik. Dia mulai menyalakan motor dan melesat membelah langit malam.
⚪⚪⚪
"Lera, lo gak tahu kalau Green sudah dua bulan yang lalu dia pergi ke luar kota?"
Allera menghentikan aktivitasnya yang sedang mengeringkan rambut. Hujan tadi cukup membuat Allera sedikit pusing, ditambah dengan informasi tidak jelas yang diberikan oleh Kayla. Gadis tersebut sengaja akhir-akhir ini sering mengunjungi kafe hanya untuk menunggu pria itu datang kembali dan mengambilnya.
Informasi tersebut membuat kenangan Allera dan Green sedikit terganggu.
"Maksud lo apa?"
"Loh? Jadi lo gak tahu sama sekali?"
Allera menggeleng.
"Gue juga baru tahu kemarin sih, pas adiknya datang kesini dan nitip salam buat lo. Gue pikir lo sudah tahu."
Ia tidak mendapatkan apa pun tentang kabar Green. Allera hanya yakin bahwa Green pasti akan kembali dan bisa mengambil gitarnya. Perkiraannya terlalu jauh, harapan yang selama ini dia bayangkan sirna bagai matahari tertelan awan kelam. Namun, ia yakin. Sekelam apa pun awan, pasti akan hilang juga. Jadi ia mengambil resiko berat dan untuk pertama kalinya Allera menanyakan sesuatu yang membuat dia semakin yakin kalau dirinya memang sudah berubah.
"Lo punya kontak Jeje?" Karena banyak yang berlalu-lalang, gadis tersebut membawa Kayla menuju kursi di meja bar.
"Jeje siapa?"
"Adiknya si Green."
"Hoh, si kutu kampret itu? Gue gak punya, habis gimana ya. Dia cuma datang terus balik lagi tanpa pesan apa-apa."
"Dia gak nanyain gue?"
Mulut Allera ternyata kalau sudah penasaran tidak bisa di rem sama sekali. Kenapa pula dia menanyakan hal itu? Membuat Kayla menjadi lebih tertarik dengan perasaan Allera kali ini.
Kayla menyipitkan matanya. "Ada hubungan apa antara lo sama Green?"
"Lo ngomong apa sih?" Allera mengibaskan tangannya.
"Halah, gue tahu lo pacaran 'kan sama Green? Hayo ngaku?"
Desakan Kayla membuat Allera tidak bisa berkata-kata. Pasalnya, Allera tidak begitu mengerti juga apa yang terjadi padanya hingga ia begitu peduli pada Green.
"Gak! Mana ada!"
"Alle, gue berteman sama lo dari awal masuk SMA. Gue tahu gelagat lo kalau lagi bohong. Lihat tangan lo!"
Kayla melirik kedua tangan Allera yang sedang meremas bajunya. Ia sangat tahu perilaku Allera kalau sedang berbohong. Meskipun pengalaman percintaan Allera tidak begitu lihai dibanding Kayla yang sering bergonta-ganti pasangan. Kayla pun merasa heran dengan dirinya, ia terlalu lelah menghadapi percintaan yang tidak berlangsung lama. Selalu kandas, maka dari itu Kayla lebih memilih menyendiri. Hitung-hitung menemani Allera yang sudah bertahun-tahun tidak memiliki kekasih.
"Tapi gue beneran gak pacaran sama cowok itu, gue cuma mau balikin gitar dia."
Kayla tertawa dengan kencang.
"Jangan ketawa!"
Ia menghapus air yang ada di ujung matanya. Saking terlalu kencang tertawa. "Gue cuma keinget saja sama kejombloan lo yang abadi itu, apa lo gak pingin gitu lepasin jomblo? Gue lelah lihat lo sendiri terus."
"Hei!" Allera menepuk bahu Kayla. "Sebelum ngomong ke gue, tanya ke diri sendiri dulu. Lo gak ada bedanya sama gue."
Kayla mendelik. Lantas menyeringai, membusungkan dada terlihat menyombong. "Gue jomblo berkelas, jelas harus dapet cowok yang berkelas juga! Selama ini banyak yang daftar ke gue, tapi gue harus pilih-pilih lah."
"Ah masa?"
"Astaga! Lo gak percaya sama gue?"
"Sayangnya enggak."
"Alle, lo anggap apa pertemanan kita yang sudah dijalin lama ini apa? Lo jahat, Alle. Apa yang lo lakuin itu beneran jahat banget."
"Memangnya kita berteman ya?"
Kayla memasang wajah terlukanya. "Lo bercanda?"
"Gue serius tuh." Walau dalam hati Allera tertawa, lalu menyesap minuman lekatnya yang sudah ia pesan beberapa menit lalu.
Kayla dan Allera memang sudah berteman sangat lama. Tak heran mereka mengerti satu sama lain. Termasuk tentang apa yang Allera takutkan, Kayla tidak ingin sahabat satu-satunya itu menjadi penyendiri sangat lama. Ia akan sangat mendukung hubungan Green dengan Allera, melihat sikap Allera sekarang pun sudah terbilang sangat berubah. Allera mengobrol dengan salah satu pegawai lelaki, dan hal tersebut merupakan hal yang luar biasa. Ya, sekarang dia sudah menerima dan mulai beradaptasi dengan lingkungan walau ada beberapa pria di sekitarnya.
Gue ikut senang, Alle.
"Oh, gue harus balik kerja lagi nih. Kemarin gue dimarahin Bos gara-gara kebanyakan ngobrol sama pelanggan."
"Sip."
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Semoga syuka~~
Papai~~