FIDUCIA

FIDUCIA
11



"Yakinkan aku


Untuk tidak membencimu."


ㅡ Allera Navulia


.


.


.


.


.


Jeje terlihat sangat senang dan terus menempel dengan Ibu layaknya perangko.  Di balik kacamatanya yang lebar, ia memperhatikan punggung-punggung kecil yang akan terus Green jaga dan tidak boleh ada yang menyentuh berlian Green yang sangat berharga itu. Green teringat akan pesan terakhir yang selalu ia ingat sampai saat ini. Salah satu panutannya sedari kecil yang mengajarkan Green untuk selalu menghargai wanita dan tidak berbuat kasar terhadapnya. Walaupun tindakan kemarin ke Allera di luar kendalinya. Tapi Green berani bersumpah kalau dia tidak ada maksud untuk membentak apalagi berkata kasar.


Mungkin Allera akan menjadi salah satu daftar orang yang harus ia lindungi di kemudian hari. Green berhenti. Apa yang sudah ia pikirkan?


Hal yang sangat tidak mungkin, melihat reaksi Allera saja seperti tidak ingin dilindungi. Buktinya ia selalu menghindar dari Green, walau ia tidak tahu atas dasar apa Allera selalu menjauh darinya. Padahal secara penampilan dan sifat pun Green sudah merasa sempurna kok. Di tambah dua sosok perempuan yang tinggal bersamanya. Terbiasa dengan hal yang sering perempuan lakukan.


"Kamu sedang apa, Nak?"


"Iya, Bu?"


Ibu menggeleng. "Kenapa malah bengong disitu? Gak mau masuk? Gak rindu sama Ibumu ini?"


"Kok Ibu ngomongnya gitu sih? Jelas aku kangen lah." Green mempercepat langkah, menyusul Jeje dan Ibu menuju ruang keluarga. Ibu tadi membawa makanan yang ia beli di jalan. Katanya tidak ada waktu untuk membuat masakan, lagi pula Ibu baru pulang. Begitupun dengan Green, mungkin besok.


Jeje dan Ibu duduk. "Jadi, siapa cewek yang diceritakan Jeje?"


"Bukan siapa-siapa kok, Bu."


Jeje ikut menimpal, "Bohong! Buktinya tadi Kakak kelihatan murung banget pas cewek itu marah?"


Apa begitu kentara? batin Green.


"Dia cuma temen Kakak, Jeje."


Sambil mendengus Jeje memalingkan muka. "Kenapa Kakak nyangkal terus sih?"


"Sudah sudah." Ibu mengeluarkan papper bag berisi berbagai macam makanan yang Ibu buru saat pulang. Terdapat soto ayam, jajanan pasar, ayam geprek dan tak lupa sebagai pelengkapnya yaitu nasi. Jeje semakin antusias saat makanan kesukaannya tidak Ibu lupakan.


"Huwa, aku sayang Ibu!" Jeje berujar dengan nada manjanya.


Walaupun hanya bertiga, suasana terasa semakin ramai kalau ada Jeje. Andai Ayah bisa melihatnya, mungkin beliau pun akan senang. Bahkan tak jarang Ayah selalu menjahili Jeje, kalau anak itu mulai diam dan tak banyak bicara. Green mengambil beberapa jajanan tersebut. Mengucapkan doa sambil berharap semoga Ayah bahagia di atas sana.


Mereka memang kerap makan bersama di ruang keluarga, kata Ibu lebih seru sambil menonton televisi.


"Haysel," panggil Ibu.


Green menoleh. Belum sempat bicara, Jeje sudah lebih dulu memotong. "Ibu, Kakak gak mau dipanggil Haysel. Katanya lebih suka panggil Green."


"Kakak gak pernah bilang gitu."


"Pernah kok!" Jeje bersikeras bahwa ucapannya memang benar.


"Dek, jangan bikin Kakak hapus kamu dari kartu keluarga loh."


Sepersekian detik kemudian Green merasakan perih saat Ibu melayangkan tangan ke kepalanya. Green menoleh memberikan tatapan terluka pada Ibu dengan sangat dramatis.


"Ibu, sakit tau!" rengek Green.


"Yang berhak hapus kalian dari kartu keluarga cuma Ibu, ingat!" Lantas Ibu tertawa kencang ketika Green merengut dengan bibir melambai kebawah.


"Yasudah, Ibu mau kasih tahu ke kamu. Bulan depan kamu pindah kuliah di luar negeri, ya?" pinta Ibu.


"Tapi, Bu. Haysel betah disini. Kenapa harus pindah?" Green menyeruput soto ayam yang sudah ia pindahkan ke mangkok. Taburan koya dan daging ayam yang diiris menyamping sehingga tidak hancur begitu menggugah selera makannya. Apalagi rempah kunyitnya yang sangat kental di lidah. Langsung lumer dalam mulut Green, sampai ia pun tidak henti menyantapnya. Ibu memang selalu tahu kalau Green memang sudah lama tidak makan soto lamongan.


Ibu memegang tangan Green yang satunya. "Demi kebaikan kamu, sayang."


Tidak ada jawaban. Green hanya mematung, sampai Ibu melambaikan tangan depan wajahnya. Berulang kali Ibu memanggil nama Green membuat Jeje pun memperhatikan tingkah aneh Green.


"Kakak!" pekik Jeje.


Green menganga. "Ah? Ya?"


"Dipanggil Ibu, Issshhh ... kenapa gak nyahut sih?"


Green melengos pergi. Saat menatap punggung anaknya, Ibu melipat tangan di atas meja. Selalu saja seperti itu. Setiap Helena meminta Green untuk segera berangkat melanjutkan pendidikannya ke luar negeri pasti yang ia terima hanya tolakan. Padahal kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Helena harus memikirkan cara agar Green mau untuk melanjutkan pendidikan disana.


***


Terlihat dari luar salah satu gedung minimalis yang didominasi warna ungu dan putih, bertuliskan Squad Premiere salah satu sekolah musik yang ada di Jakarta dengan fasilitas yang lengkap. Dimana bisa mengenal instrumen dan vokal dengan menyenangkan. Allera melihat bagian depan yang sudah disuguhi pintu transparan. Menampilkan sang resepsionis untuk menyambut para murid jika ingin mendaftar atau kesulitan untuk mencari lokasi tempat mereka belajar.


Jadwal Allera di Squad Premiere ini memang hanya dua kali seminggu, yaitu sabtu dan minggu saja. Selama setahun pula Allera sudah mengenal teknik menyanyi serta mendalami bakatnya dalam bermain piano. Biasanya Allera akan belajar di bagian aula dekat kelas Drum secara berkelompok. Sebenarnya bisa saja Allera mengambil less private. Hanya saja, biaya disini terbilang cukup menguras tabungannya selama ini. Walau Bunda sudah menyanggupi tapi tetap saja Allera tidak enak kalau sudah memiliki uang hasil keringatnya sendiri.


Lagipula, lebih baik belajar secara berkelompok. Karena selain di grupnya hanya sembilan orang yang didominasi perempuan, Allera juga senang karena tutor disini sangat ramah dan baik. Terutama kesabarannya dalam mengajar.


"Baik, coba lakukan pemanasan terlebih dahulu. Di mulai dari Hm." Bu Lidya tutor yang mengawali kursusnya dengan kata Hm pertama seperti biasa diiringi piano sebagai patokan nada semakin tinggi, dan terkadang Bu Lidya menyarankan untuk menggunakan diagfragma.


Sebelum memakai diagfragma. Bu Lidya menghentikan dentingan pada pianonya. "Sebentar anak-anak, saya mau memperkenalkan kalian teman baru dan ini bisa menggenapkan kelompok tugas yang akan kita lakukan minggu depan."


Bu Lidya beranjak dari tempatnya. Membawa sosok laki-laki berkaos hitam dengan tas slempangan kecil, Allera mengerjap beberapa kali.


"Perkenalkan diri kamu."


"Baik, hm ... panggil saya Green saja. Salam kenal."


Bu Lidya mengangguk dan menyuruh Green untuk duduk di sebelah Allera.


"Hai," sapa Green.


Allera menelan salivanya tanpa menoleh apalagi membalas sapaan dari Green. Tadi apa kata Bu Lidya? Menggenapkan kelompok tugas nanti? Apa itu artinya terdiri dari dua orang saja? Gadis itu menggeleng cepat. Jangan sampai Green satu kelompok dengannya.


Setelah menyanyikan satu lagu secara berkelompok. Bu Lidya keluar sebentar, katanya hendak mengambil sesuatu.


"Gue gak tahu kalau lo kursus disini."


Allera mengabaikan Green. Terdengar dari beberapa perempuan yang berbisik tentang Green.


"H-hai, gue Angel."


"Oh hai Angel."


Mereka saling memperkenalkan diri. Green membalas seperti biasa.


"Green, apa lo sudah punya cewek?"


"Gak mungkin lah dia jomblo!" timpal yang lain.


Allera memutar bola matanya. "Enggak ada kok," Green menjawab dengan cepat.


"Wah! Kalau gitu gue saja yang jadi cewek lo!"


"Eh gak bisa dong!"


"Gini saja Green. Lo pilih salah satu dari kita, kecuali Allera." Dia menjeda dan kembali melanjutkan setengah berbisik, "Allera kayaknya gak suka cowok, mending lo jauh-jauh deh sama dia kalau gak mau muka lo bonyok."


"Memang kenapa dia gak suka cowok?"


"Gue gak tahu, ah! Pokoknya lo nanti kalau butuh apa-apa panggil gue aja, apalagi kalau nanti kita bagi kelompok. Mending sama gue saja!" ujar Angel.


Green melirik Allera yang sedang bertopang dagu sambil bersenandung kecil. Merasa ada yang memperhatikan, Allera menoleh dan langsung menatapnya dengan tatapan mengerikan.


"H-hai, Lera."


Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Allera tidak membalas sapaannya lagi. Sepersekian detik kemudian Bu Lidya masuk kembali, membawa beberapa kertas seperti kartu tarot.


"Silahkan ambil kartu ini untuk menentukan kelompok kalian."


Satu per satu dari mereka mulai berdiri dan mengambil kertas tersebut. Termasuk Allera yang sedari tadi tidak tenang siapa yang akan menjadi partnernya. Setelah semua mengambilnya barulah Bu Lidya mengizinkan mereka untuk membukanya.


Suasana kelas menjadi ramai, berbicara siapa saja yang mendapatkan angka yang sama. Kecuali Green. Ia terlihat biasa saja. Allera tidak ingin membenarkan asumsinya yang sejak tadi terngiang di kepala.


"Lera, kamu dapat angka dua 'kan?"


Dengan kaku Allera menoleh, berharap perempuan yang bertanya seperti itu dengan suara baritonnya. Tapi ekspetasi yang dia bayangkan sirna saat melihat langsung. Allera berdecak kecewa, meremas kertas sialan itu.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Kira2 siapa yaaaaaa?


Papai~~