
Allera menatap datar atap bernuansakan angkasa luar. Ada kilauan yang terpancar melalui bintang buatan yang ia tempel bulan lalu. Langit nampak suram, terdengar guruh menggelegar di balik awan gelap itu. Hari ini menjadi momen dimana para manusia malas untuk berativitas seperti Allera misalnya. Ia lebih memilih untuk merebahkan tubuh di atas kasur empuk dan selimut berbahan sutera yang lembut. Sesekali ia pun mengingat bagaimana cara untuk bisa menguasai permainan gitar lebih baik lagi. Jujur saja, sudah beberapa hari ini Allera memang sangat tidak nyaman. Dimana Allera harus sering-sering bersitatap dengan pria, membuatnya harus sering menguasai ketakutannya. Juga ia lebih memilih untuk banyak diam dan menurut dengan apa yang diperintahkan oleh pria itu.
Tangan yang halus yang dilingkari oleh gelang berwarna biru laut ia lihat dan mulai mengelus kembali. Menerawang tentang hal apa yang akan terjadi hari ini dan selanjutnya. Lalu caranya untuk menghabiskan cemilan yang diberikan oleh Kayla. Ia tak habis pikir dengan pola pikirnya gadis tersebut. Bagaimana bisa ia hanya membeli kuaci sepuluh bungkus serta sosis yang ia beli sampai kamarnya pun masih bersimbah sisa makanan yang masih utuh tidak termakan olehnya. Dia bilang akan kembali lagi hari ini, tapi nampaknya ia lupa akan janji yang Kayla buat sendiri.
Allera mengubah posisi terlentangnya menjadi miring ke arah kanan. Menampilkan sekantong pelastik bertuliskan Almamidi yang Allera yakin itu milik Kayla yang tertinggal. Masa bodo dengan Kayla, ia kembali dengan posisi telungkup terus memandang tangannya yang terlihat segar kembali. Tentu Allera senang akhirnya ia bisa memainkan piano kembali. Sudah lama gadis tersebut tidak mengcover lagu.
Terdengar bunyi gelegar di luar sana, menimbulkan efek kilatan yang membuat Allera sedikit bersembunyi di balik hangatnya selimut. Guruh kembali mengamuk, seakan di atas sana sedang meributkan sesuatu dan bertengkar dengan hebat. Allera kembali meremas selimut yang sudah menutupi seluruh badannya. Ia berdoa pada Tuhan untuk segera melerai pertikaian yang mereka lakukan.
Doanya sempat terhenti tatkala ponselnya bersuara lantang memerintah Allera untuk segera mendekat, hal yang paling Allera benci adalah saat ponselnya jauh berada Allera. Membuatnya harus beranjak dari tempat persembunyiannya.
Ponsel tersebut sempat mati, dan tidak ada dalam hitungan satu detik. Ia kembali meraung untuk memrintahkan Allera agar segera mengangkatnya.
Dengan malas Allera mengangkat, "Halo."
"Lera, kenapa lo lama banget sih angkatnya?"
Allera cukup terkejut dan menjauhkan ponselnya sejauh mungkin. Itu suara laki-laki. Matanya sedikit terbeliak, melihat kembali ponselnya yang menampilkan nomor yang tidak dikenal. Dengan ragu ia pun bertanya, "S-siapa?"
"Serius, Allera? Kita sudah sering ketemu loh. Lo gak kenal suara gue sama sekali?"
Walau tidak terlihat oleh pria tersebut, Allera menggedik tidak peduli. "Maaf, mungkin salah sambung. Gue tutup teleponnya."
Baru saja Allera hendak menutup, langsung disanggah oleh penelpon di seberang sana, "Jangan ditutup!" Allera mendengar dia mendesah gusar.
"Ini gue Green."
Tak perlu ditanya lagi siapa yang berikan nomornya pada Green, pasti jawabannya adalah Kayla. Satu-satunya orang di kafe yang mengetahui.
Hening sejenak, sebelum Green memulai kembali, "Gue cuma mau bilang, gue dapet nomor lo dari Kayla. Dan gue berani tebak lo sudah tahu hal itu. Bagaimana hasil latihan lo? Ada perkembangan? Oh iya, gue sudah buat lagu di kursus nanti. Kalau sekarang pasti gak bisa, karena disini lagi hujan."
Allera menarik napas mendengar penjelasan Green yang sangat panjang. "Dan gue mau ngasih tahu lo, apa besok lo senggang abis tampil? Karena siang besok gue gak bisa ke kafe, bisanya malam. Bisa, kan?
Allera terlihat menimang jawaban. Walau sebenarnya Allera selalu tidak sesibuk itu setelah tampil. Makanya dia selalu nongkrong sebentar di kafe dan tidak melakukan apa-apa selain melihat aktivitas kafe yang sedang rame. Keadaan hening sejenak membuat orang yang di seberang sana terus memanggil.
"Lera? Lera? Apa lo masih bernapas? Bilang yes kalau lo masih hidup."
Gadis itu mendengus kesal tapi enggan untuk menjawab pertanyaan Green, hingga jangkrik yang ada di kamar Green pun dapat ditangkap oleh telinganya. Cukup lama Allera termenung. Sebelum Green memutuskan segalanya secara sepihak.
"Kalau lo diem, gue anggap lo setuju untuk ketemu sama gue."
Sontak membuat Allera terkejut sampai tersedak air liurnya sendiri."Eh, Lera!" terdengar Green khawatir, dan setelahnya dibuat kesal olehnya. "Lo gak beneran mati, kan?"
Sumpah! Kalau orang itu ada di dekat Allera. Mungkin kakinya sudah Allera injak sampai gepeng.
"Iya-iya, atur saja jamnya. Nanti gue nunggu lo di tempat biasa."
Green tertawa, membuat Allera kembali meninju angin."Oke, see you."
Pria itu menutup telepon. Dengan tatapan kesal Allera menyumpahi Green agar ia tidak datang dan semoga ban sepeda, motor, atau mobil yang ia pakai bocor. Guruh marah, membuat Allera tak sempat mengaminkan doanya lantas berlari ketakutan ke arah kasur.
***
Bibirnya terangkat, membentuk lengkungan manis dengan lesung pipit yang timbul saat dia tersenyum. Entah sejak kapan, ponsel hitamnya sangat lucu dan ingin ia awetkan. Rasanya sangat seru mendengar Allera kesal seperti itu. Ia tergelak lalu terjun bebas ke arah kasurnya. Demi apa pun, di luar sana sama sekali tidak menggambarkan perasaan senang Green. Kenapa langit lebih suka bersedih dan menimbulkan dentuman yang sangat keras? Ia memiringkan badan, melihat keadaan malam yang sedang diserbu oleh ribuan air yang menghantam bumi. Bukannya Green tidak bersyukur akan hujan, karena katanya hujan merupakan anugerah yang Tuhan berikan. Salah satu sumber daya yang paling penting dalam makhluk hidup. Kalau tidak ada air, mana mungkin Green bisa setampan ini. Oke, itu tidak nyambung sama sekali.
Beberapa hari ini Green menemukan sifat Allera yang tidak pernah ia temukan, dan ini merupakan hal yang sangat langka sekali. Walau Green yakin Allera masih menyimpan rasa keraguan padanya. Karena hanya bebrapa yang Green tahu dengan tingkah Allera. Dia terlalu manis, tak heran karena ia sering meminum cokelat dingin seperti minuman itu sumber nutrisinya. Satu hal lagi yiang tak Green tahu tentang Allera, ternyata gadis tersebut sangat menyukai hal yang feminim. Tapi tak dapat dipungkiri kebanyakan dari perempuan memang menyukai hal yang sangat cute. Selain penyuka minuman cokelat, Allera termasuk orang yang menyukai lagu-lagu jaman dulu yang sebenarnya Green kupas sendiri dengan mendesak Allera sedang mendengar lagu siapa setiap dia menunggu Green berada di sampingnya.
Untuk sejenak Green melupakan beberapa hal yang membuat pria itu sedikit menyayangkan karena tidak bisa bertemu dengan Allera seperti biasanya. Ada satu alasan yang membuat Green tidak bisa hadir yaitu .... pintu terketuk.
"Haysel,"
"Iya, Bu." Ia berjalan lantas membuka pintunya.
"Ada apa, Bu?"
Alisnya terangkat. "Loh kok tanya lagi kenapa sih? Ibu 'kan suruh kamu siap-siap untuk beli perlengkapan buat kamu. Soalnya Ibu gak mau anak Ibu yang tampan ini menderita di negeri orang."
Green menyisir rambutnya dengan sela-sela jarinya, sambil mengembuskan napas panjang. Ia melupakan sesuatu, tadi setelah Green pulang dari kafe. Ibu tiba-tiba memberi tahu untuk Green segera bersiap dan esoknya tinggal membuat paspor. Sudah kesekian sampai Green rasanya tidak dapat menghitung berapa kali Ibu meminta pada Green, dengan cara yang berbeda-beda pula. Cuma untuk malam ini Green meresa sedikit tidak enak pada Ibu yang memohon sambil menangis. Sebenarnya tidak ingin pergi, mengingat ada beberapa alasan yang membuat Green untuk tetap tinggal disini.
"Tapi 'kan di luar hujannya makin gede loh, Bu. Aku malas ah kalau harus basah-basahan," Green berkilah, mencari kembali alasan yang membuat pria itu tidak akan jadi untuk pergi. Namun Ibu tidak terlihat kecewa, dan membuat ide baru yang membuat Green menjadi terpaksa untuk mengikuti keinginan Ibunya.
"Yasudah kalau gitu, besok kita sekalian saja beli perlengkapannya. Kamu sudah bikin paspor, kan?"
Green kembali mendesah, lantas menemukan alasan lain. "Jadwal kesananya besok siang, Bu." Padahal kenyataannya ia mendapat jadwal pagi. Yah! Berbohong sedikit demi kebaikan ada benarnya juga. "Jadi aku gak yakin bakalan sempet atau enggak."
Kali ini alasan yang dibuat oleh Green berhasil membuat Ibu berpikir keras, membuat pria itu berselebrasi dalam hati sambil tersenyum penuh kemenangan. Jawaban yang diberikan Ibu cukup membuat Green ingin melompat kegirangan.
"Hm ... kalau gitu sudah deh , beli perlengkapannya nanti saja. Lagian masih satu bulan lagi kamu pergi," Ibu lantas pergi setelah mengucapkan hal itu.
Saat kesempatan emas datang di depan mata. Sangat sayang untuk kita menolaknya mentah-mentah, walau masih diberi kesempatan kedua pun rasanya hal itu masih sangat langka. Jadi ia tidak ingin kesempatannya bisa berduaan dengan Allera jadi terganggu. Green bersandar pada daun pintu sepeti orang yang sedang mengalami banyak masalah karena terlalu lama berpikir. Sampai kehadiran Jeje pun tidak terdeteksi. Jeje melambaikan tangan depan wajah Green yang tidak mendapat respon sama sekali. Akhirnya ia berteriak kencang.
"KAKAK JANGAN MELAMUN! NANTI KESURUPAN!"
Jantung Green melengos, seperti dicabut secara paksa oleh malaikat izrail. Green mendelik, menjitak kepala Jeje sangat kencang, yang dibalas oleh rengekan Jeje.
"IBU! KAK HAYSEL JITAK KEPALA AKU!'
Green membekap Jeje, membuat gadis itu pun meronta akibat Green yang terlalu kuat meng-headlock kepala adiknya dengan salah satu lengan dengan menutup mulutnya untuk berhenti berteriak.
"Diam, Je."
Dengan secepat kilat Jeje membalas perlakuan Green, menginjak kakinya yang tak kalah kencang. "Sakit tau," ringis Green yang hanya dibalas oleh Jeje yang menjulurkan lidahnya.
"Satu sama! Jeje juga sakit tahu!" Jeje ikutan bersandar di tembok yang agar bersebelahan dengan Green. "Besok Kakak ketemu sama cewek yang—" Green kembali membekapnya.
Pria itu meringis saat mendapati Jeje yang menggigit telapak tangannya, kembali berujar, "Pokoknya besok aku ikut sama Kakak."
"Gak!"
Jeje menyeringai dan melipat tangan di dada. "Kalau enggak, Jeje bakal bilangin ke Ibu kalau Kakak—"
"Oke, oke. Kamu juga ikut."
Bakalan ribet nih kayaknya, Green mengembuskan napas lelah.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ