
Kenop pintu ia buka perlahan menimbulkan bunyi decitan yang cukup keras. Sebelum masuk, matanya sudah disuguhi oleh warna hijau yang mendominasi. Ia berjalan sampai kaki yang telanjang merasakan lembutnya karpet hijau dengan aroma mint yang selalu ia pakai menempel di seluruh ruangan. Langit mulai menggelap, burung yang setiap menjelang malam selalu bersautan melewati rumah. Lantai yang dilapisi karpet tersebut pria itu lewati dan menutup jendela dengan horden hijau yang menutupi renda putih.
Green meregangkan tubuh setelah menutup jendela. Pria jangkung dengan kulit eksotis tidak langsung membersihkan tubuh, melainkan berjalan menghampiri kursi yang sudah berada di samping jendela dengan gitar yang ia simpan di atasnya. Gitar tersebut ia ambil, lantas mengganti posisi menjadi Green yang duduk di kursi tersebut. Green mulai menyetel kunci agar gitar yang ia pakai terdengar lebih merdu. Biasanya senar gitar tersebut sering sumbang. Maklum saja, gitar berwarna cokelat itu Green beli sendiri sewaktu dia masih sekolah dengan hasil uangnya sendiri saat mendapat tawaran nyanyi juga. Sudah tiga tahun juga gitar itu menemani Green setiap waktu.
Teringat akan sesuatu. Green berdiri lantas menuju nakas, membuka laci dan mengambil kamera disana. Sudah hal wajib bagi pria itu untuk selalu merekam aksinya dan mendapatkan hasil dari video yang dia upload di akun sosial medianya.
Setelah meletakan kamera di depan dengan stand yang sudah ia persiapkan. Green mulai memetik gitar sebagai intro dari lagu covernya tersebut.
Matamu melemahkanku
Saat pertama kali kulihatmu
Dan jujur, ku tak pernah merasa
Ku tak pernah merasa begini
Green memang sering meng-cover lagu Indonesia. Tapi tak jarang pula para pengikutnya yang merequest lagu. Sebab ia lebih suka lagu indie, walau terkadang Green pun sering mendengar lagu lainnya. Saat selesai di bait pertama, Green kembali ke awal untuk memulai nada berikutnya. Saat seluruh jarinya ke atas-bawah mengikuti suaranya. Green pun mulai menghayati setiap lirik yang teringat di luar kepala.
Oh, mungkin inikah cinta
Pandangan yang pertama
Karena apa yang kurasa, ini tak biasa
Jika benar ini cinta
Mulai dari mana?
Di bagian ini lah Green selalu merasa penasaran bagaimana rasanya pandangan pertama itu. Jujur saja, Green sendiri belum benar-benar merasakan bagaimana perasaan itu dan semenyenangkan apa yang akan dia rasakan nantinya.
Oh, dari mana?
Dari matamu, matamu
Kumulai jatuh cinta
Kumelihat, melihat
Ada bayangnya
Dari bagian terakhir Green berhenti memainkan gitarnya. Menatap lurus pada karpet hijau.
"Cewek itu gimana yah keadaannya? Gue gak yakin kalau tuh cewek bakal datang lagi besok, apalagi tangannya yang berdarah seperti itu," gumam Green bertanya pada diri sendiri.
***
Beberapa jam lalu saat keadaan sehening malam yang berkabut tanpa ada suara di sekelilingnya. Kecuali suara merdu yang berasal dari samping Green. Sambil memainkan alat yang dia pegang, pria tersebut memperhatikan bagaimana suara emasnya mengalun di antara para penonton. Tak heran kafe ini menjadi ramai, mungkin karena mereka memiliki joker andalan disini. Green sempat tidak habis pikir, kemana saja dia selama ini. Tempat yang indah dan bagus untuk nongkrong pun dia tidak tahu.
Untuk lagu yang akan dibawakan nanti, Green menyarankan Allera untuk menyanyikan lagu Indonesia. Awalnya Allera menolak, karena Kayla sudah setuju saran yang diajukan Green. Akhirnya Allera mengikuti kemauan Green, tapi tetap Allera yang memilih lagu siapa yang akan ia nyanyikan. Green cukup tercengang Allera memilih lagu yang menurut Green terlalu mellow untuk para pengunjung. Tapi Allera tetap bersikeras dan tetap membawakan lagu tersebut. Setelah Green menyetel gitar, barulah Allera masuk ke bagian bait pertama.
Oh betapa ku saat ini
ku benci untuk mencinta
mencintaimu
Untuk pertama kalinya Green merasa terpesona mendengar suaranya. Bahkan Green pun menutup kelopak matanya hanya untuk mendalami lagu tersebut. Sambil memetik gitarnya dengan perlahan.
Sudah beberapa kali ia melihat Allera. Tapi entah kenapa, di balik suaranya itu. Green baru merasakan aura ketakutan dalam diri Allera saat pengulangan liriknya. Terlihat bagaimana ia mengucap kata demi kata di setiap lirik lagunya terdengar sangat tidak stabil.
Aku tak tahu apa yg terjadi
antara aku dan kau
yg ku tahu pasti
ku benci untuk mencintaimu....
Oh betapa ku saat ini
ku cinta untuk membenci
membencimu....
Tangannya semakin lemah saat di bagian akhir. Terutama bagian saat Allera mengucapkan kata membencimu, Green dapat merasakan bagaimana Allera sangat membenci sesuatu.
Aku tak tahu apa yg terjadi
antara aku dan kau
yg ku tahu pasti
ku benci untuk mencintaimu....
Jarak antara Green dengan Allera memang terbilang terlalu dekat. Kayla sendiri yang menyarankan hal itu, katanya,
"Kemistri itu harus didapat walau kalian tidak berduet! Ingat!"
Green menggelengkan kepala. Yah, meskipun suaranya tidak begitu stabil, Allera menyanyi dengan cukup bagus. Tidak banyak nada yang fals bahkan melenceng dari lagu itu. Green cukup terpukau sampai di bagian akhir. Rasanya ia ingin mendengarnya lagi dan lagi.
"Kay! Gue pulang!"
Gitar yang ia pangku dibiarkan tergeletak di atas panggung. Lalu mengejar Allera yang berlari seperti orang lagi kesetanan.
Dapat! batin Green memenangi.
"L-lepas!"
"Gak, lo kenapa langsung pergi?"
"Gue bilang lepas!"
"Harusnya lo nyanyi satu lagu lagi, lo gak lihat penonton barusan keliatan kecewa?"
"Gak peduli! LE-PAS!"
Jika sudah berkata sambil penuh penekanan seperti itu Green tidak bisa memaksa kehendak orang lain. Akhirnya dengan berat pun Green melepaskan tangan dan membiarkan Allera untuk pergi. Untuk kali ini pun Allera tidak berniat menoleh atau sekadar mengatakan kata sampai jumpa lagi. Tidak ada.
***
Keesokan harinya, Green teringat akan janji yang ia buat dengan Kayla. Setelah pulang dari kampus, Green berniat untuk kembali ke Cafe itu. Sesuai perjanjian, Kayla menyebutkan untuk menemani Allera sampai dia sembuh. Walau perjanjian yang terakhir membuat Green tidak mengerti sama sekali.
"Buat dia menghilangkan rasa itu. Mungkin ini satu-satunya cara."
Rasa yang seperti apa yang ada dalam pikiran Allera. Apakah Allera mengalami putus cinta sehingga dia menjauh dari Green? Pertanyaan demi pertanyaan mengumpul di otak Green sampai-sampai ia tidak sadar bahwa sepeda yang Green kendarai sudah sampai di tempat ia tuju. Green memarkirkan sepeda. Ponselnya bergetar.
Karrel :
Lo gak dateng latihan?
Saat membuka pesan yang tertera, Green langsung memaki siapa yang mengirim pesan padanya. Tanpa membalas, ia langsung menekan tombol off. Biasanya kalau tidak membalas pesan dari anak itu, pasti setelahnya dia akan melakukan tindakan spam ke pesannya.
Aroma kopi terhirup ketika Green masuk ke dalam. Banyak dari para pegawai yang sibuk wara-wiri melayani beberapa pesanan termasuk Kayla. Tapi berbeda dengan dia, entah jabatannya apa. Menurut Green, Kayla itu termasuk orang yang terlalu santai bahkan tidak seperti rekan kerja yang lain. Terlihat seperti Bos walaupun ia tahu Bos sebenarnya bukanlah dia.
Berbagai spekulasi terus melintas seperti kendaraan. Green menggeleng guna menyadarkan pikirannya selama beberapa detik lalu. Kini Kayla mulai bergerak meninggalkan Allera seorang diri.
"Apa lo selalu disini?"
Tidak ada niatan Green untuk mengejutkan Allera. Tapi reaksi gadis tersebut cukup membuat Green mengangkat kedua alisnya.
"Ngapain lo?"
"Main lego."
"Jangan bercanda," culas Allera.
"Gue serius, btw. Gue mau nepatin janji ke temen lo itu."
"Gak tertarik."
Green mengerutkan dahi, baru kali ini ia merasa terabaikan. Allera kembali menyesap kopi pesanannya. Sampai Kayla yang sudah tidak sibuk itu datang.
"Dateng juga lo, cowok brengsek!"
"Stop panggil gue dengan sebutan itu, gue punya nama."
"Mulut, mulut siapa? Kok lo yang sewot?"
"Bukanㅡah! Bodo amat, jadi gimana soal kemarin? Apa dibatalin saja?"
"Eh, enak saja kau! Tidak semudah itu, ferguso! Lo bakalan tetap nemenin Allera nyanyi."
Allera yang sedang asik menyeruput minumannya tersedak, mengatur napas kembali dan menyaring apa yang diucapkan temannya itu. Kayla sempat menepuk pundak Allera tapi langsung Allera tepis, lantas menarik tangan Kayla menjauh dari Green. Gadis itu sendiri tak bisa menyeimbangkan langkah kaki Allera yang tidak terkontrol, sampai di dekat lorong toilet Allera berhenti.
"Lo gila ya, Kay?"
"Gila apa?"
"Astaga! Perjanjian awal lo sama dia apa?"
"Dia bakal datang kesini setiap hari, nemenin lo tampil sampai tangan lo pulih."
"Gak! Gue gak mau! Pokoknya gak mau!" ujar Allera yang masih tetap penuh dengan penekanan.
"Tapi, Alleㅡ"
"Gue bilang enggak ya enggak, yasudahlah! Mending gue cabut dari sini saja!"
Baru saja Green menghampiri mereka. Mendadak ia balik ke kanan saat Allera berjalan cepat, Green sempat menahan tangan Allera yang langsung diberi tatapan kesal campur marah. Jelas ia tidak berani untuk menanyakan kenapa Allera langsung pergi. Mungkin dia sedang dalam bulanannya. Atau mungkin karena Green belum meminta maaf pada Allera? Green menatap nanar punggung kecil itu, dan ia cukup sadar diri bahwa Allera memang benar-benar tidak ingin dekat dengan Green.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
🎶 Naif - Benci Untk Mencinta 🎶
Intinya sih nih gaes, jangan menunda kata maaf.
Jadi akibatnya kek Green deh yang belum ada kesempatan buat minta maaf.
Wqwq~ jadi gitu deh, semoga kalian suka.
Papai~~