FIDUCIA

FIDUCIA
17



Seperti yang dikatakan Green kemarin. Dia datang lagi ke rumah Allera dengan gitar yang berada di punggung Green. Pria itu tersenyum manis ke Bunda dan Aldi. Berpenampilan rapi dengan rambut yang ia buat sangat klimis, telihat anak rambut yang menghalangi dahinya. Belum lagi kacamata bulat Green yang terlihat sangat kinclong. Matanya berbinar, saat Bunda memuji Green. Pria yang kini memakai jaket biru lantas melepas gitar serta jaketnya, menampilkan tangan kekar yang dibalut kaos putih. Tidak dapat dipungkiri, Allera bisa melihat badan Green yang sangat atletis. Allera berani jamin kalau Green sering berolahraga dan membuat pria tersebut sangat menggoda.


Sebentar? Menggoda? Sepertinya Allera harus mencuci otaknya terlebih dahulu. Inilah akibatnya kalau Kayla sembarangan memberi alamat Allera. Apalagi ke Green. Gadis tersebut mengusap tangan kanannya yang tidak dibalut perban. Tangan Allera sudah lebih baik dari kemarin, dan mungkin Allera sudah bisa memainkan pianonya. Sebab ia belum pernah mencobanya. Allera melihat Bunda mempersilahkan Green untuk masuk. Mengambil alih barang-barang Green. Memperlakukan Green seperti raja yang sesungguhnya.


Tanpa disuruh, Green duduk dengan malu-malu. Bunda menyuruh Allera untuk duduk di samping Green. Tapi Allera beralasan akan membuatkan minum untuk Green dan kali ini Bunda tidak memaksa Allera untuk menjamu tamu yang tidak diundangnya.


Di dapur, Allera mengaduk teh hangat yang sudah diberi gula. Padahal di luar gerimis mengundang. Apa pria itu tidak kehujanan? Allera menggeleng kembali dan mengambil beberapa cemilan.


"Oh, jadi kamu tinggal di komplek Citra? Pantas saja wajah kamu gak asing." Bunda terkikik seakan sudah mengenal lama dengan Green.


"Iya, Tan-maksudnya Bunda. Saya juga berpikir kalau rumah Allera jauh, ternyata masih dekat sini juga."


Bunda memukul pelan pundak Green. "Jangan sungkan-sungkan, ya? Maaf, karena Bunda cuma suguhin seadanya saja. Jangan kapok main kesini."


"Gak apa-apa, Bun." Green menyengir lebar.


"Haduh, maaf. Bunda terlalu senang karena akhirnya Allera punya pacar," Bunda berhenti. "oh, bukan. Maksud Bunda teman cowok Allera. Bunda pergi dulu, ya? Abang, sudah jangan tatap Green begitu. Nanti dia kabur loh."


Aldi mendengus, dan dia sedari tadi duduk sambil memperhatikan Green dengan tatapan yang tidak biasa. Seperti ingin menghajar Green. Kemudian pria berusia duapuluh lima tahun tersebut beranjak dengan tatapan yang tidak lepas dari Green. Membuat Green pun terus menelan saliva. Napasnya kembali berembus dan tersenyum saat Allera kembali dengan nampan di tangannya. Green tahu tangan Allera masih belum sembuh. Dengan cekatan ia pun mengambil nampan tersebut.


Green ternyum manis. "Sini gue yang bawa."


Allera hanya mengangguk, mengikuti langkah Green dan duduk di sebelahnya. Sedikit agak jauh, sebab Allera masih ragu dengan Green serta belum mempercayainya sama sekali. Allera membenarkan rambut yang menganggu pemandangan. Mencoba menatap Green yang sedang sibuk mengeluarkan gitarnya. Allera tidak merencanakan hal semacam ini sebelum mata mereka saling bertumbuk kembali. Entah apa yang ada di pikiran Green kala itu, ia tersenyum kembali membuat Allera pun menggeserkan tubuhnya sampai ke ujung sofa.


"Jangan jauh-jauh, gue 'kan mau ajarin lo main gitar. Oh iya lo ambil gitar Abang lo itu, biar enak juga belajarnya."


Gadis itu menurut lalu beranjak menuju kamar Aldi yang bersebelahan dengan kamarnya. Sebenarnya kemarin Allera tanpa ragu mengambil gitar, karena kakaknya sudah terlelap. Tapi untuk kali ini pintu kamarnya tertutup, yang mengharuskan Allera untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Memang terdengar sangat tidak sopan saat Allera dengan lancang masuk ke dalam kamar Aldi tanpa izin. Mau bagaimana lagi, rasanya Allera masih tidak berani untuk berbincang dengan Aldi. Lagipula Aldi tipikal pria yang akan tertidur sangat pulas, walau keadaan sangat ramai tidak membuat Aldi terbangun.


Dengan ragu Allera mengetuk pintu kamar Aldi. Terdengar suara musik yang sedikit lantang, membuat Allera mengetuk lebih keras serta memanggil namanya berulang kali. Allera mengembus napas jengah dan terus mengetuk pintu serta berteriak dengan kencang.


"Abang!"


Pintu terbuka. "Eh kenapa, Dek?"


"Aku mau pinjam gitar Abang dong."


"Ambil saja, biasanya juga langsung ambil kayak kemarin."


"Eh?"


"Kemarin kamu ambil gitar Abang, kan?"


Gawat! Ternyata malam itu Aldi tidak tidur dan sadar kalau gitarnya ia pinjam. Allera menggaruk rambut yang tidak gatal dan lagi ia tidak tahu harus bertindak apa. Allera hanya melakukan tindakan kikuknya sekali lagi, membuat gadis tersebut telihat sedikit lebih konyol dibandingkan dengan kemarin. Ekor matanya mengikuti Aldi yang masuk ke kamar dan kembali lagi dengan gitar cokelatnya.


"Nih!" Aldi menyerahkan gitar tersebut.


Allera menerima. "Makasih ya, Bang."


Aldi hanya mengangguk, lantas memajukan badannya sedikit lebih menunduk. Allera tidak bisa menghindar, karena sedetik kemudian Aldi memegang pundak Allera lalu berbisik, "Jangan terlalu dekat sama cowok itu, ya?"


"Kenapa?" Mungkin ini salah satu prestasi besar yang didapat Allera karena merespon pertanyaan yang dilempar Aldi.


Aldi masih memegang pundak Allera. "Abang gak rela kalau kamu bakal suka sama dia, terus ninggalin Abang. Jangan terlalu dekat."


Tidak terhitung berapa lama Allera tidak tersenyum karenanya. Hati Aldi mendadak hangat melihat Allera menutup mulut diiringi tawa kecilnya yang membuat bahu Allera sedikit bergerak. Ia melihat tawanya walau sejenak dan mengangguk menjawab pertanyaan Aldi. Lantas gadis tersebut berjalan kembali ke tempat Green yang sedang menunggunya.


***


Green sedang asik menikmati teh buatan Allera yang menurut Green lebih manis Allera dibanding teh ini. Setelah menyesap teh tersebut, Green membuka cemilan yang berada di kaleng khong guan tapi isinya berbeda dari ekspetasi Green, yang justru berisi rengginang. Pria itu memperhatikan makanan tersebut, dan bertanya dalam benaknya. Sudah berapa lama Green tidak memakan rengginang itu? Seingatnya sudah lama sekali, mungkin sebelum negara api menyerang.


Pandangan Green teralihkan saat ia melihat benda bulat berwarna biru laut yang disimpan di atas meja ruang tamu. Green mendengus kesal dan langsung menyorot Allera yang sudah kembali.


Allera tertegun. "A-apa?"


"Serius deh, Lera. Lo bikin lelucon sama gue sekarang?"


"Harusnya 'kan simpan lilin ini di kamar lo. Kenapa disini sih?"


Allera menaikan alis sebelahnya. "Terus kenapa?"


"Bukan apa-apa sih, tapi gak cocok saja kalau lo simpan disini."


"Suka-suka gue," Allera berujar dengan bokong yang sudah mendarat di sofa.


Pria itu mencoba untuk mengalihkan rasa kesalnya setiap melihat lilin yang terpajang di meja. Kembali melihat senar pada gitarnya, menanyakan pada Allera lagu yang ingin ia pelajari. Tapi ia tidak mendapatkan jawaban karena Allera hanya diam membisu. Baiklah, Green kembali merasa seperti tempo hari yang lalu. Green merogoh ponsel yang berada di sakunya, jarinya menari diatas benda pipih tersebut dan mencari chord. Menyimpan ponsel tersebut setelah menyingkirkan minuman.


Green mencoba untuk lagu yang mudah terlebih dahulu. Pandangan Allera menyapu ponsel yang tertera di meja tersebut. Ia melihat bebrapa tulisan yang sama sekali tidak Allera mengerti. Sebelum Green membuyarkan fokus Allera yang mulai pusing dengan chord selama sesaat.


"Buat jari lo kayak ini," Green berucap dengan tangan yang menunjukan pada Allera dan langsung Allera ikuti. Karena tidak sesuai dengan apa yang dibicarakann Green. Ia menyentuh jari Allera dan memindahkan telunjuknya sedikit lebih maju untuk kunci yang lebih tepat.


"Begini?" Badan Allera sedikit membungkuk menyentuh badan gitar yang membuatnya bisa melihat kedua tangannya yang menghasilkan bunyi sangat sumbang dari punya Green yang sangat merdu.


Green menarik napas. "Bukan gitu, Lera. Coba lihat lagi punya gue." Green memulai aksinya dengan perlahan. Sambil sesekali melirik Allera yang sedang serius melihat Green. "Aku yang lemah tanpamu," Green bernyanyi dengan satu baris.


Selama setengah jam Allera tidak bisa menguasai satu bait sama sekali. Mungkin Greennya saja yang tidak benar-benar mengajarkan Allera dengan baik. Membuat Green pun mengganti teknik mengajarnya. Green menyusun beberapa chord gitar dalam catatan yang ada di ponselnya. Lantas Green memulai untuk mengajarkan Allera dasar-dasar mempelajari chord dengan perlahan.


"Ini, untuk kunci G. Coba lo ikutin kayak gue."


Allera menurut, ada perkembangan sedikit demi sedikit yang Allera tunjukan. Juga nada gitarnya yang sudah tidak sumbang lagi. Untuk kali ini Green cukup kagum karena kecepatan Allera dalam belajar.


"Gue mau nanya sesuatu ke lo."


Tanpa menoleh Allera hanya berdeham.


"Apa lo benci sama gue?"


Sontak membuat Allera pun menghentikan permainannya. "Kenapa?"


"Soalnya lo selalu menghindar dari gue. Dan setiap sama gue, sikap lo selalu berbeda. Gak kayak lo pas bareng Kayla. Itu artinya lo benci gue, kan?"


Allera memeluk gitarnya dengan erat menggunakan tangan kanannya. Membuatnya lebih tertarik dengan gitar daripada lawan bicara Allera, gadis itu tak dapat menjawab pertanyaan Green. Mengalihkan suasana dengan kembali memainkan gitar tersebut.


"Lera, lo belum jawab pertanyaan gue."


"Malam ini cukup sampai sini saja Green. Mending lo pulang sekarang."


Perkataan tersebut membuat Green menaikan alis sebelah. "Kenapa?"


"Gue bilang pergi," lirih Allera.


Denngan terpaksa Green pun merapikan gitar serta memakai jaketnya yang tergantung di sisi sofa. Walau sedikit kecewa, namun Green tetap menghargai privasi Allera sebagai perempuan. Setelah menyelesaikan barang-barang. Green kembali menatap Allera yang terlihat berpura-pura memainkan gitar untuk menghindar darinya.


"Lo ada kertas sama pulpen?"


Allera berpikir sejenak, lantas menyimpan gitar di bawah yang ia sandarkan sisi kursi. Ia pergi ke kamar untuk mengambil kertas dan pulpen yang ada di nakasnya. Lalu memberikan kedua benda tersebut pada Green.


"Gue bakal tulis beberapa kunci buat pelajari lagi. Cari di google mungkin bakal bantu lo." Saran Green yang sambil menulis beberapa kata di dalamnya.


"Lo pelajarin, ya. Memang sedikit susah tapi kalau sudah terbiasa, tangan lo yang melepuh itu bakalan hilang.


Gadis berambut panjang tersebut menerima kertas yang ditulis Green. Ia membaca sedikit beberapa tulisan berantakannya yang sama sekali tidak bisa Allera baca. Bahkan rasanya tulisan kucing Allera lebih bagus daripada milik Green. Pria itu memecah Allera yang sedang membayangkan tulisan Green seperti akan menerkam Allera karena bentuknya hampir sama dengan dinosaurus.


Punggung lebarnya mulai meninggalkan rumah Allera dengan wajah yang memang sedikit kecewa. Jelas Allera sama sekali tidak peduli. Bahkan ia tidak berniat untuk mengucapkan 'selamat tinggal' atau 'sampai jumpa', yang Allera tahu ... kini ia bisa bermain gitar, walau hanya dua chord yang ia pahami.


Allera kembali mengelus jarinya yang sedikit keras dan tidak dapat merasakan apa pun. Rasanya sakit dan perih, tapi ia mencoba untuk mengabaikan hal tersebut. Beberapa hal yang ia tahu tentang belajar gitar untuk pemula adalah tangan yang akan melepuh dan lama-kelamaan akan menjadi keras lalu mengelupas. Hal itu kini Allera alami. Ia jadi teringat pesan yang disampaikan Green, pasti akan terbiasa.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ