
Latihan selalu dilakukan saat pagi hari. Tadi pagi Allera memakan kue dari Bunda. Semoga saja kualitas suaranya tidak berkurang, bersama dengan yang lain. Allera duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh panitia, ia menunggu giliran setelah Icha. Salah satu teman setimnya dan termasuk lawan juga, karena di babak ini mereka harus menyanyikan lagu yang dikasih oleh sang coach yaitu Mami Vivi yang sedang berdiri di antara para pemain orchestra. Dia berjalan menghampiri Icha sambil bertepuk tangan. GR dilakukan dengan sangar khidmat, Allera pun merasa masih belum puas dengan latihannya. Jadi sebisa mungkin untuk tampil nanti Allera jangan sampai melakukan kesalahan sedikit pun.
Mami Vivi mengucapkan kata syukur karena bisa berjalan dengan lancar walau hanya GR. Penampilan Allera akan tampil sore nanti, karena biasanya akan ditayangkan keesokkan harinya dan tidak secara langsung.
Para penonton mulai memasuki ruangan acara. Allera masih disibukkan oleh make up artist yang membubuhkan foundation dan dilapisi oleh bedak lagi. Belum lagi bulu mata, dan maskara yang sangat menempel di kelopak mata Allera. Jujur saja, baru kali ini Allera berdandan penuh seperti ini. Paling hanya pelembab dan lipbalm yang Allera pakai untuk sehari-hari.
Semua peserta dari masing-masing tim sudah menampilkan seluruh suaranya, tinggal tim Mami Vivi berikutnya. Seperti yang diintruksikan oleh Mami Vivi tentang penguasaan panggung berikut dengan teknik sederhana bernyanyi, Icha bernyanyi dengan teratur dan rapi. Tanpa cacat sedikitpun. Mami Vivi beserta coaches yang lain sangat menikmati. Bahkan tidak ada hentinya Mami Vivi terkagum pada Icha.
Allera menyadari hal tersebut. Ada perkembangan yang Icha tunjukkan dalam nyanyiannya. Dia semakin lihai mengatur napas serta improvisasi yang sangat pas takarannya, dia semakin tidak tenang dengan menggoyangkan kursi ke kanan dan kiri. Sambil meremas kerasnya mic untuk meluapkan semua kegugupannya. Icha tampil cantik kali ini dengan dress berwarna kuning ditaburi glitter di bagian bawahnya, heels setinggi dua centi membuat gadis tersebut terlihat anggun dan tampak mewah. Berbeda dengan Allera. Dia berpenampilan sangat sederhana dengan pakaian berwarna ungu yang dipadukan dengan rok jinnya. Kaki tersebut dibalut oleh sepatu boots. Rambutnya tergerai hingga sepinggang, dibiarkan mengurai dengan indah dan sebagian dibiarkan dicepol tinggi dengan aksen bunga yang mekar.
Kalung melingkar di leher Allera, membuat gadis itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Suara tepuk tangan terdengar sangat keras, terutama Mami Vivi yang tak henti terkagum sampai menitihkan air matanya.
Setelah selesai mendengar komentar yang bagus dari Kido beserta Monica, Sang host kembali mengambil alih acara dengan lihainya.
"Wah, penampilan Icha memang sangat luar biasa," Anash si pembawa acara berkomentar. "Yang satu ini juga tidak kalah hebatnya, sempat bingung karena sudah mengambil hati dua juri yang akhirnya luluh oleh penawaran Mami Vivi. Kita sambut Allera dari Jakarta."
Allera maju ke depan, di mulai dari lantunan lembut piano yang langsung membawa penonton hening menikmatinya. Mereka bungkam sebelum Allera masuk setelah intro. Ia berjalan ke depan, berjalan ke arah kanan sambil menarik para penonton untuk mengikuti alunannya. Menyanyikan salah satu lagu Indonesia, entahlah. Akhir-akhir ini ia sering mendapat lagu lokal, membuat Allera kembali dirundung oleh beberapa memori tentangnya.
Cintaku bukan di atas kertas
Cintaku getaran yang sama
Tak perlu di paksa
Tak perlu di cari
Kerna ku yakin ada jawabnya... ohhh
Andai ku bisa merubah semua
Hingga tiada orang terluka
Tapi tak mungkin
Ku tak berdaya
Hanya yakin menunggu
Jawabnya...
***
Menghipnotis para penonton dan dewan juri sepertinya bakat alami yang sudah Allera miliki. Buktinya rentetan pujian dan segala bentuk kekaguman yang diberikan Mimi Vivi membuat Allera tidak bisa mengontrol ingin segera berjungkir balik di atas panggung. Terutama saat coach Monica yang mengibaratkan suara Allera dengan salah satu aplikasi Instagram.
"Kamu bagus," katanya. "Kalau kamu ada di instastory. Pasti ada efek-efek hati yang sering muncul disana. Apa tuh namanya?"
"Kayak love parameter ya, Mami." Kido ikut menimpal.
Monica menjentikkan jarinya. "Betul! Pasti ada simbol-simbol hati yang muncul dari samping terus sret-sret itu pasti sudah dapat banget."
Allera tersanjung. "Hehe, terima kasih. Kak Monica."
"Tapi yang sangat disayangkan, sebenarnya saya ingin kamu membuat sesuatu yang lebih dari Siti Nurhaliza. Ya, kan? Karena ... eee ... kalau membawakan sebuah lagu yang sangat populer seperti ini samanya sudah dapat. Tapi apakah kamu akan menjadi Siti Nurhaliza terus? Ya, kan? Nah, tantangan selanjutnya adalah kamu lepas dari itu."
"Setuju banget," imbuh yang lain.
Memang masih banyak kekurangan dari nyanyiaannya, karena Allera tahu semua manusia tidak bisa sempurna seperti apa yang mereka inginkan. Intinya dia hanya berusaha lebih baik lagi dan harus menerima tantangan yang diberikan oleh Monica. Ia tersenyum, lantas kembali mengucapkan terima kasih kepada seluruh coaches.
Allera menggenggam tangan Icha. Tinggal Mami Vivi yang belum memberikan komentarnya tentang penampilan mereka. Jujur saja, jantung Allera setiap berada di panggung ini rasanya seperti jatuh ke bawah. Membuat hidungnya menjadi kembang-kempis karena terlalu gugup.
"Grup ini susah banget sih menurutku. Kalian mempunyai karakter yang sama-sama kuat. Jadi siapapun yang terpilih bukan berarti kalian lebih buruk ... lebih buruk dari yang lainnya ... tidak, yang namanya seorang coach pasti punya yang namanya strateginya tersendiri. Jangan pernah berhenti bernyanyi. Jalan kalian mungkin ada di jalan yang lebih baik lagi. Jadi semua tepuk tangan untuk mereka," instruksi Mami Vivi.
Riuh penonton mengiringi seluruh ruangan, tak jarang pula Allera mendengar dari sebagian para pemain orchestra yang mengikutinya. Allera merasakan tangan Icha yang bergetar sambil mengeratkan pegangan. Sebenarnya telapak tangan Allera basah, jadi ia sedikit tidak enak saat Icha semakin erat dan pasti gugup mendengar ucapan dari Mami Vivi berikutnya.
"Aduh, saya jadi bingung ... sumpah benar-benar bingung loh! Mereka tuh salah satu yang paling they best banget menurutku."
"Dan saatnyalah coach yang akan menentukan," imbuh sang pembawa acara, mensegerakan untuk Mami Vivi memilih satu di antara mereka.
Mami vivi melihat kembali kertas yang ia tulis tentang poin-poin yang harus Icha dan Allera perbaiki. Walau hanya sedikit sebenarnya. Ia merasa sangat bingung.
"Haaahhh," Mami menghela napas. "Pokoknya siapapun yang tidak lolos bukan berarti kamu lebih buruk."
"Iya, Mi. Iya," ucap Vino yang sepertinya tidak sabar untuk Mami Vivi menyelesaikan ucapannya.
"Allera mohon maaf," Mami Vivi berujar membuat pundak Allera runtuh. "Kamu lanjut ke babak berikutnya!"
What? batin Allera. Ia menutup mulutnya tak percaya. Menoleh ke arah Icha sambil berlinang air mata. Saking tidak tahannya ia memeluk perempuan itu. Antara senang dan sedih bercampur aduk. Dia tidak menyangka bisa sejauh ini, dan harus kehilang seorang teman seperjuangan yang selalu bersamanya. Icha mengucapkan selamat, lantas Allera menghampiri Mami Vivi dan kembali memeluk wanita tersebut dengan sangat eratnya.
***
Hari demi hari sampai bulan Allera lalui bersama dengan pejuang lainnya. Seperti menaiki gunung dan melewati lembah. Penuh jalan yang berliku serta terkadang di beberapa kesempatan Allera pernah mendapati komentar tentang turunnya kualitas suara Allera. Waktu itu rasanya sangat memalukan sekali. Keberuntungan Allera mungkin berakhir sampai disana. Saat dia sempat memasuki zona tidak aman. Ketahuilah, setelah dua babak. Babak tersebut ditentukan oleh para coach ... istilahnya, mereka hanya memiliki dua nyawa untuk memikat hati masing-masing dari pembimbingnya. Setelah itu, bagai badai yang mengahantam sebuah kota. Kesempatan tersebut hilang saat sistem diubah menjadi voting.
Dimana Allera harus sering-sering mempromosikan dirinya dan harus memikat seluruh hati berjuta manusia yang ada di Indonesia. Ayolah! Indonesia tidak sesempit itu, presentase yang dimiliki Allera setidaknya harus aman dan bisa sampai di babak semifinal. Berlatih dengan giat lagi. Tak jarang saking semangatnya Allera sempat jatuh sakit. Padahal sudah memasuki semifinal. Dimana peserta sudah mulai surut.
"Jangan paksakan diri kamu, Lera. Istirahat dulu, Bunda yakin Mami Vivi bakalan mengerti walau libur sehari juga."
"Gak apa-apa, Bun. Allera hari ini harus latihan buat live show nanti. Lagian tadi aku sudah minum obat, jadi aku berangkat dulu ya, Bunda!" pamitnya.
Bunda tidak tahu harus bagaimana lagi mengingatkan Allera untuk menjaga kesehatannya. Hanya doa yang selalu tersematkan setiap Bunda beribadah. Tak lupa juga dukungan yang paling penting dibutuhkan oleh anaknya itu.
Perjalanan dari Tebet menuju stasiun telivisi yang berada di Kebon Jeruk, memakan waktu sekitar setengah jam. Tak henti-hentinya Allera mengusap peluh yang membanjiri jidatnya. Rasanya ia jadi menyesal menolak permintaan Aldi waktu itu untuk mengantarnya kesana.
Saat sampai ia disambut oleh coach dan anak-anaknya. Allera sempat bersedih ketika satu-persatu temannya mulai berguguran. Live show jelas memiliki sensasi yang berbeda. Satu kesalahan sedikit saja, seluruh masyarakat Indonesia bisa mengatahui semuanya.
"Lera, bisa kamu nanti setelah bagian ini. Berbagi takdir kita selalu, kecuali ... kecuali, kasih sedikit perbedaan disitu. Menjadi, kecuali." Mami Vivi mencontohkan ornamen kecil dan sedikit tambahan.
Malamnya. Suasana lebih ramai dan sangat berbeda dari biasanya, sensasi seperti ini yang membuat Allera semakin tidak karuan. Melalui televisi yang berada di belakang panggung, Allera bisa melihat penampilan yang lain termasuk para komentarnya. Tahu tidak, perut Allera mendadak sakit.
"Lera, semangat!"
***
Setiap minggunya acara tersebut selalu ditayangkan. Allera benar-benar merasakan persahabatan yang sangat berharga, jadi rasanya sangat tidak adil jika salah satu dari sahabatnya harus pergi dan pulang. Allera hari ini bertemu dengan teman setimnya. Tempat pertemuaannya di kafe yang sering Allera tampil setiap harinya. Membahas hal-hal yang sangat menarik.
"Lera, lo biasa tampil disini?" Catlin salah satu anak kesayangan Mami Vivi.
"Iya gitu deh."
"Keren, kafe ini berbeda dari yang lain."
Gilang mengambil kursinya dan duduk. "Gue gak nyangka kita bertiga bakalan masuk ke semifinal, lo dengar gosip kali ini gak?"
Catlin yang sering bergosip tersebut langsung mengalihkan perhatiannya, hanya tertuju ke Gilang. "Gosip apaan?"
"Katanya, nanti di grand final nanti bakalan ada bintang tamu yang menangin Let's Singing! di Amrik! Gue dengar sendiri dari beberapa crew itu pun gak sengaja haha."
"Seriusan lo?"
Dasar Gilang, pendengarannya setajam anjing. Mampu melacak segala hal. Tapi tidak tahu siapa yang akan menjadi bintang tamu. Allera pun sedikit penasaran dengan siapapun dia yang akan datang nanti, walau ia yakin apa mungkin Allera bisa memasuki babak grandfinal? Semoga saja ia bisa lolos.
***
Setelah memenangkan Let's Sing. Green mendapatkan banyak tawaran, termasuk kontrak selama setahun yang disediakan oleh mereka. Belum lagi hadiah lainnya berupa uang jutaan dollar yang terhitung sangat besar jika diubah menjadi rupiah. Mendengar hal itu Green tidak menyangka kalau Ibu mengirimkan hadiah ucapan selamat padanya.
Setelah menggunakan bus sekitar sepuluh menit, Green sampai. Bertemu dengan kawannya serta beberapa pihak agensi yang sudah terikat kontrak dengannya. Hanya ada empat orang dan beberapa orang yang diundang untuk hadir disana. Sebenarnya Green cukup lelah setelah melakukan rekaman lagu untuk single pertamanya, belum lagi dengan undangan lainnya. Tapi sesuatu yang dijalankan dengan ikhlas pasti akan terasa sangat menyenangkan, jelas Green sangat menyukai hal tersebut.
"Ah! Inilah juara kita. Selamat datang Haysel!"
Green melambaikan tangan. "Jangan berlebihan."
"Tapi juara dua pun tidak masalah."
"Kau memang terhebat, Jack."
"Tidak, tidak. Justru kau lah yang paling hebat. Aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu."
"Sudahlah, kita sama-sama hebat kok," Jessie ikut menimpal mereka tertawa sebelum pembawa acara membungkam seluruh tamu.
Selama sekitar dua jam Green terduduk disana dan akhirnya bisa mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum pulang Green mendapat tawaran kembali. Ia tidak segan-segan untuk menerima tawaran tersebut.
"Haysel, bisa bicara sebentar di ruanganku?"
Waktu itu rasanya sangat mendebarkan, Green tidak tahu apa yang akan dilakukan orang tersebut. Dia mengundang Green untuk ke ruangannya.
"Kau mendapat tawaran untuk hadir dia acara Let's Sing di Indonesia."
"Indonesia?"
"Ya, apa kau sesenang itu?"
Green termenung. "A-ah saya hanya sedikit tidak mempercayainya."
"Jadi, disana sudah melewati babak grandfinal dan pihak sana mengirim email kepadaku untuk menjadikanmu bintang tamu disana." Ia membuka lembaran dokumen yang menumpuk. "Kau tidak keberatan, kan? Aku yakin kau pasti akan sangat senang jika pulang ke tempat asalmu."
Tentu saja Green tidak menolak sama sekali. Sudah berapa bulan dia tidak pulang kampung? Green menyiapkan beberapa yang akan dibawa olehnya. Perjalanan akan dimulai minggu depan. Mungkin Green memang sangat tidak sabar untuk menginjakkan kakinya di tanah air. Akhir-akhir ini pun Green menjadi bulan-bulanan masyarakat disana. Bahkan instagram dia menjadi ramai oleh notifikasi banyak orang yang bangga akan dirinya.
Ia semakin tidak sabar, terutama bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak ia jumpai. Semoga dia tidak melabuhkan hatinya untuk orang lain.
***
Betapa terkejut Green saat pagi hari dengan suara yang sangat bising. Jessie salah satu teman sekaligu tetangganya memasuki appartement Green. Dia mendapatkan tempat tinggal setelah memenangkan audisi. Tidak lagi berbagi kamar dengan teman asramanya, tapi dia harus menghadapi tetangganya yang sangat berisik. Ia jadi menyesal memberitahu pin apartementnya.
"Haysel! Cepatlah bangun!"
"Tigapuluh menit lagi," Green menginggau.
"Apa kau bilang? Tigapuluh menit? Bangun tidak! Bangun!" pekik gadis tersebut sambil memukul tubuh Green.
"Diamlah."
"Lihat jam! Ini sudah jam berapa? Kau bilang, kau akan pergi ke Indonesia?"
Matanya terbelalak. Hal penting saja dia sulit bangun tidur? Bagaimana nasib perempuan yang sudah menunggunya berbulan-bulan? Tapi ia juga tidak yakin sih apakah dia juga merindukan Green atau tidak, yang jelas saat ini merupakan kesalaham terbesar Green. Ia langsung bangun, hanya menatap Jessie sekilas lantas pergi menuju kamar mandi. Untung saja semuanya sudah dipersiapkan, jadi Green tinggal berangkatnya saja.
Semerbak sampo begitu melekat di rambut Green. Ia sangat wangi sekali, bahkan wangi sabunnya sangat kentara. Seperti pakai selusin sabun hanya untuk mandi. Jessie saja rasanya ingin muntah mencium parfum Green yang hampir menyemprotkan ke seluruh ruangan.
"Hey! Kau gila?" pekik Jessie.
"Kenapa?"
Jessie menunjuk ke arah meja dengan jenis makanan yang sudah ia sediakan. "Kau mau bunuh diri? Atau mau membunuhku?"
"Kutanya ... memangnya kenapa?"
"Astaga Haysel! Kau bercanda? Lihatlah penampilanmu saat ini! Bahkan wangimu sangat mengganggu hidungku, pergi sana! Kau merusak ruangan ini. Bisa-bisa aku mabuk parfum kalau kau melakukan itu!"
"Melakukan apa?" Ekspresi wajahnya benar-benar membuat Jessie ingin melemparkan teflon panas dengan hidung sebagai sasarannya.
"Apa salahnya dengan minyak wangi? Aku hanya ingin terlihat rapi." Green nampak cuek, mendekati meja dan duduk setelahnya.
"Kau memakai berapa sabun? Apa sampomu kau habiskan?"
"Ada apa denganmu, Jessie. Kau aneh hari ini." Ia mengambil selai lalu membalurkannya di atas roti.
Jessie ikutan duduk, terasa sangat aneh ketika seluruh aroma yang wangi tercampur secara bersamaan. "Justru kau yang aneh, Haysel. Apa ini karena wanitamu sampai kau menghabiskan sampo dan selusin sabun? Wangimu berlebihan."
Lantas Green menghirup aroma tubuhnya sendiri. "Tidak ada yang salah kok, aku memakainya dengan wajar. Hidungmu saja yang sedang flu."
"Apa kau bilang?"
"Sudahlah, cepat sarapan. Kalau tidak, aku akan jadikan sarapanku denganmu menjadi yang terakhir."
"Baiklah, baiklah."
Akhirnya Green dapat tenang menikmati makanan dengan khidmat. Jika tidak dihentikan, Jessie bisa saja menjadi sangat cerewet dibandingkan dengan petasan. Sangat menggelegar. Jika melihat Jessie, dia jadi ingat akan adiknya yang sama-sama sering berbicara lantang tanpa jeda. Apalagi soal berkomentar, dialah ratunya. Green juga heran apa semua perempuan yang berinisal J itu tidak bisa diam? Mungkin, Green menatap Jessie yang sedang sibuk meminum susu. Saat bersitatap, Jeje langsung tersedak.
"Kalau minum pelan-pelan."
"Ini gara-gara kau!"
Alis Green menukik. "Kenapa aku?"
"Habis kau menatapku seperti itu, aku jadi tidak fokus minumnya."
"Hey, apa kau menyukaiku sampai tersedak seperti itu?"
"Apa? Ngomong nih sama pantatku! Suka sama kau bisa-bisa aku masuk rumah sakit jiwa!"
Green tergelak. "Lain kali kalau kau beneran suka padaku, bilang saja. Pasti akan kutolak. Tenang."
"Demi cacing alaska! Menyukaimu adalah hal paling sial di hidupku. Lagipula aku sudah mempunyai tambatan hatiku sendiri. Dan lagi dia lebih tampan dibandingkan dengan kau!"
"Oh ya? Waw, aku tersanjung." Green mulai menyombong. "Aku tidak yakin ketampanan dia melebihiku yang selalu dikerumuni oleh banyak wanita."
"Terserah kau sajalah!"
Entah sudah berapa lama Green tidak merasakan hal seperti ini lagi. Berdebat memang bukanlah bakat Green, tapi ada saja yang selalu mengajaknya untuk berdebat. Walau bukan jenis debat yang sangat berat. Justru menghibur hati kalau sudah meledek mereka. Terutama Kayla yang sering berkomentar, tentang apa pun.
Sebelum berangkat ke bandara. Green terlebih dahulu merekam video untuk warga Indonesia yang pasti akan menanti dia untuk pulang. Ada berbagai macam komentar di instagramnya. Penuh dengan notifikasi yang tidak pernah henti berdering. Green sudah pasti sering mengalami hal ini, ditambah dia juga salah satu selebgram. Jadi dia sudah terbiasa dengan keramaian baik di dunia nyata maupun maya.
"Hai! Saya Haysel Rayshiva Gunadhaya, pemenang Let's Sing Amerika 2019. Nantikan saya di grandfinal Let's Sing Indonesia 2019."
Bagaimanapun juga, saat mengucapkan kata tersebut rasanya Green semakin tidak percaya. Ia melihat kumpulan awan yang menari, berkerumun dan hancur ditabrak oleh pesawat. Saat goncangan terasa Green seolah terhempas langsung ke bawah.
Menjadi pemenang memang harus membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Usaha dan doa selalu diucapkan setiap harinya. Hingga ia terlelap dalam keadaan terduduk dengan kacamata tidur yang selalu ia bawa.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Mohon maaf, part ini sedikit panjang. Karena besok akan menjadi bab terakhir jadi jangan sampai dilewatkan. Oke...
Papai~~