
"Saya nikahkan Allera Navulia binti Alavendra Bramantyo kepada Haysel Rayshiva Gunadhaya bin . Dengan maskawin berupa emas logam seberat 21gram dengan uang Rp. 2.114.218 Tunai," ujar seorang pria paruh baya dengan wajah terlihat serius.
Sang mempelai pria menelan salivanya perlahan. "Saya terima nikahnya dan kawinnya Allera Navulia binti Alavendra Bramantyo. Dengan maskawinnya tersebut, tunai!"
Setelah mengamini proses pernikahan. Sorak sorai mengelilingi mereka, ada tawa dan tangis menyertai acara pernikahan yang diadakan di Plataran Cilandak, Jakarta Selatan. Dimana venue yang mampu menampung enam ratus orang tamu udangan ini masih kental dengan nuansa Jawa.
Acaranya tidak begitu mewah, hanya beberapa kerabat dan teman terdekat yang mereka undang diacara penikahan antara Allera. Masih tersimpan beberapa kamera dari sudut ke sudut. Penikahan antara Green dan Allera menjadi hal paling mencengangkan di dunia pergosipan. Banyak orang yang tidak diundang pun hadir melihat sumpah sehidup semati yang Green ucapkan barusan.
Gaun bermodel off shoulder dan ball gown melekat pada tubuh mungil Allera, ditambah dengan mahkota berwarna silver dengan sedikit taburan kristal di bagian atasnya serta buket yang berada di tangannya menghiasi penampilan Allera hari ini. Tidak seperti kebanyakan pengantin pada umumnya, Allera hanya menggunakan riasan yang begitu sederhana. Hanya sedikit goresan berwarna coral berada pada bibirnya, perona merah menghiasi pipinya, bulu mata yang dipertebal, serta eyeshadow berwarna nude, kecantikan Allera semakin diperjelas dengan softlens berwarna biru. Sang pedandan pun tidak perlu repot-repot menambah kecantikan customernya ini karena gadis yang ia dandani sudah memiliki kecantikan diatas rata-rata.
Di sisi lain, mempelai wanita terlihat begitu gugup. Walaupun ia sudah tersenyum menyapa beberapa tamu tak membuatnya menjadi tenang, tangan Allera menjadi berkeringat dingin di tambah dengan angin yang berhembus sedikit kencang membuat keadaan semakin dingin. Bahkan pria yang sudah sah menjadi suaminya pun tak menyadari itu, padahal sejak awal resepsi mereka tak pernah melepaskan tangannya sama sekali.
***
Langit cerah tak berawan memberikan nuansa yang sangat biru, matahari pun kian meninggi. Karena pernikahan Allera dengan Green menggunakan tema outdoor, mereka bisa merasakan teriknya matahari. Walaupun sudah dinaungi oleh tenda paflon, panasnya tetap menembus hingga ke kulit. Allera mulai terheran. Entah kenapa hari ini sangat lama, kakinya yang terbalut heels pun mulai lecet dan membuatnya tidak nyaman. Hembusan napas kasar terus-menerus keluar melalui rongga hidungnya, ia sudah tidak tahan berdiri terlalu lama lagi. Bukannya tidak ada kursi atau apa, tapi saat ia hendak duduk secara bersamaan, tamu berdatangan yang membuat sang pengantin tidak bisa beristirahat sejenak.
Green dengan setia menenangkan istrinya agar lebih bersabar lagi, tangannya mengelus pelan punggung tangan Allera. Hingga si yang punya menjadi nyaman berada disekitar pria tersebut.
"Sebentar lagi kok, semangat ya!"
Beberapa ucapan selamat terlontar dari tamu undangan, entah dari kerabat atau teman dekat. Acara seakan semakin lama saat satu per satu dari mereka meminta foto bersama. Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang begitu keras memanggil nama Allera, ia hafal siapa pemilik dari suara yang menggelegar itu.
"Alle!" teriak seorang gadis dari ujung ruangan.
Semua orang menoleh kearah sumber suara yang berisik tadi. Mereka mendelik dengan tatapan yang sinis, dan ada beberapa juga yang menyindir. Ia mencebik tapi karena ini hari bahagia salah satu temannya, dia melupakan apa yang dikatakan oleh orang-orang sekitar. Ia berlari kecil menuju altar pengantin diiringi dengan senyum yang merekah.
"Maaf gue baru datang, macet nih, mana tadi mobil pacar gue mogok lagi!" ujarnya yang saat ini tengah mengenggam tangan Allera. Ia sangat bersyukur akhirnya Kayla menemukan tambatan hatinya dan setelah pernikahan Allera. Rekan satu kerjanya akan melangsukan akad juga.
"Hani, jahat banget sih lo. Tau gak, gue pingin banget balik! Nih liat make up gue udah gak karuan gini."
Kayla tergelak, ia memperhatikan make up Allea. Memang benar agak sedikit luntur. "Lo masih cantik kok, tenang aja!"
Pembicaraan mereka yang awalnya hanya membahas soal makeup, merembet sampai masalah barang branded. Lalu gosip tentang ayah Jason yang terjerat korupsi. Keduanya nampak asik dalam dunia mereka sendiri sampai lupa dengan Green yang sedari tadi memperhatikan Allera dan Kayla. Ada sedikit rasa kesal juga karena dirinya merasa terabaikan.
"Alle. Tahu gak! Kalau bukan karena lo, gue gak bakalan bisa bareng sama my baby honey sweety." Kayla mengeluarkan nada manjanya.
Berkat usaha Allera mendekatkan Kayla dengan temannya yang disukai oleh Kayla. Ia menjadi tak henti untuk menjodohkan mereka, soalnya mereka terlihat sangat serasi.
"Gue tunggu undangannya! Oh iya, Brian!" panggil Allera dengan menghujam Brian melalui matanya, membuat pria tersebut berjengit. "Gue titip Kayla ke lo! Awas kalau lo berani sakitin Kayla!"
Mereka kembali duduk pada sofa yang kini menghiasi altar pengantin. Keduanya sangat lega karena para tamu sudah mulai berkurang. Syafira meluruskan kakinya dan sedikit memijat bagian paha serta betisnya yang terasa sangat kaku hari ini, wajahnya pun terlihat sangat lelah.
Allera memijit betisnya.
"Kamu pegal?"
"Iya, heelsnya ketinggian."
"Suruh siapa pendek."
"Apa kamu bilang?"
"Enggak kok enggak, aku bercanda. Sebentar lagi kok."
Allera mengangguk. "Haysel."
Ah! Green selalu menyukai saat Allera sudah menyebut nama aslinya. "Iya, kenapa?"
"Bagaimana dengan Ibumu? Aku lihat dia tidak begitu merestui hubungan kita."
"Ibu merestui kok, semua butuh waktu Lera. Bukan berarti Ibu tidak suka kamu. Bersikaplah sewajarnya."
"Tapi kenapa sekarang Ibu kamu gak begitu terlihat senang melihat kita menikah?"
"Perasaan kamu saja, Ibu pastk senang. Dan lagi dia memang pingin aku untuk segera menikah. Jadi kamu jangan banyak pikiran, ya?"
Allera kembali mengangguk. Dia memang sempat gelisah setelah Green melamarnya di depan Bunda dan Aldi. Allera diboyong oleh Green untuk bertemu dengan Ibunya dan kembali melanjutkan niat baiknya ke Allera. Adiknya pun turut hadir melihat bagaimana Green meminta restu pada sang Ibu.
Terlihat sangat jelas bahwa Ibunya tidak terlalu menyukai Allera. Dari sorot matanya saja sudah bisa dipastikan kalau memang benar ada sesuatu yang tidak Ibu sukai tentang Allera. Tetapi Green terus meyakinkan Allera bahwa Ibu sebenarnya sudah setuju, dan hanya membutuhkan proses yang mungkin sedikit lama.
Karena mendapatkan hati seseorang lebih sulit, dibanding dengan meremukan hati. Butuh perjuangan dan rayuan yang jitu jika ingin mendapat restu.
***
Jadi sesuai kesepakatan, Allera dan Green menginap di villa. Gadis tersebut duduk di sisi kasur. Menimang kembali apakah ini jalan terbaik untuk setiap pasangan? Maksudnya, apa harus mereka melakukan ritual yang sudah menjadi hal wajib? Bisa tidak Allera melewati bagian itu saja, dan memiliki seorang anak tanpa melakukan hal tersebut?
Pintu terkuak, Allera kaget bukan main ketika mendapati Green yang terlanjang setengah dada. Ada sekita enam kotak yang menghiasi perutnya. Untuk sejenak dia tidak berkedip sama sekali.
Apa ini yang dinamakan roti sobeknya para oppa? batin Allera membuat dia kembali menggeleng keras.
"H-hei!" teriaknya. "Apa yang kamu lakukan!"
"Lakukan apa?" Green selalu memasangkan wajah tanpa dosanya.
"Kenapa pakai tanya segala sih!" Allera kalap, dengan tangan yang menutupi seluruh wajahnya.
Green menyeringai, sepertinya dia tahu apa maksud dari Allera. Lantas ia pun berjalan, mempersempit jarak di antara mereka dan mulai mengambil tangan Allera yang menutupi wajahnya. Menuntunnya ke dada yang selalu Green banggakan.
"Kamu bisa rasakan gimana perang dalam dadaku ini terus terpacu saat bersamamu?"
Allera terhenyak. Fokus pada tangan yang memang bisa merasakan jantung Green yang bisa saja keluar dari tubuhnya. Mata Allera terpejam tanpa tahu apa sebabnya, ketika Green mulai memiringkan kepala. Mengecup Allera sangat lembut.
"Stop!"
Green melepas tautannya. "Kenapa?"
"Jangan!"
Penolakkan yang diberi oleh Allera tidak ia hiraukan. Bibir tipis Allera kembali ia kecup menarik tengkuknya sambil memperdalam permainan yang Green berikan. Tubuhnya semakin maju, membuat kedua tangan Allera berpindah memeluk leher Green. Gadis tersebut memberikan ruang untuk Green menjelajahi apa yang ada di dalam mulutnya. Terkadang Allera pun membalas ciuman Green.
***
Malam tadi menjadi hal yang sangat asing untuk Allera. Terutama untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang panjang dan besar bisa memasuki tubuh Allera. Lubang kelinci pun rasanya tidak sebesar itu. Sangat kecil sampai Allera pun tidak yakin apakah benda tersebut akan muat atau tidak. Rasa ngilu menggerayangi tubuh Allera terutama di area reproduksi. Ia bahkan tidak mampu untuk berjalan.
Green mengecup dahi Allera. "Apa masih sakit?"
"Lain kali pelan-pelan, dan jangan keluar di dalam!" Allera berujar dengan kesal, padahal sudah diperingatkan olehnya untuk tidak melakukan pelepasan di dalam.
"Aku hanya tidak tahan, lagian aku pingin cepat punya sesuatu dari rahim kamu itu."
"Sudahlah," Allera berujar berusaha untum membersihkan diri walau sakit masih mengintai di bawahnya.
Sekitar pukul tujuh pagi Allera menyiapkan sarapan. Kalau untuk mengerjakan hal itu sih sangat mudah, Allera tidak ingin bermanja saat sudah memiliki seorang suami yang sangat sempurna. Allera meminta cuti ke pihak agensi, begitu juga dengan Green. Menghabiskan waktu bersama.
Menikmati pemandangan yang selalu memuaskan hasratnya. Mereka memang sengaja memesan villa yang jauh dari Ibu Kota. Suasana pegunungan memang destinasi yang paling tepat, apalagi bersama dengan orang yang kita cintai.
Setelah melakukan sarapan, Green mengajak Allera untuk pergi ke balkon yang menyuguhkan perbukitan dengan embun menutupi permukiman. Membuat Green semakin menempel untuk menghangatkan tubuhnya dari suhu dingin yang sedari tadi menyapa.
"Aku senang akhirnya bisa menikah denganmu."
Allera menoleh. "Bukannya kamu lebih senang ada di New York, kan?"
"Jangan suudzon. Mana mungkin aku begitu, walau waktu itu ada yang pernah mengajakku untuk tidur bersama."
"Apa? Coba bilang sekali lagi!"
Green terkekeh. "Tepatnya cewek di depanku yang ngajak aku duluan untuk tidur bersama."
"Cih," Allera berdecak. "Padahal kamu duluan yang bilang gak tahan. Terus langsung nyosor."
Meskipun begitu, Allera berharap semoga pernikahan mereka berlangsung hingga kakek dan nenek. Atau bila perlu sampai ajal menjemput salah satu di antara mereka. Allera tidak memiliki apa pun untuk ia berikan pada Green, bahkan kecantikan pun rasanya masih kurang. Tapi setidaknya Allera masih bisa memberikan seluruh cinta dan pengabdiannya sebagai istri untuk Green seorang.
TAMAT
Huwaaaaa, akhirnya.
Terimakasih sudah mengikuti cerita Green&Allera. Semoga kalian masih syukaaa aku dan mereka.
Papai~~