
"Ada banyak alasan di balik penolakan, aku tahu sangat sulit bagiku untuk bisa meraihmu."
ㅡHaysel Rayshiva Gunadhaya
.
.
.
.
.
Awalnya merasa sempat kecewa waktu Green menolak Jeje untuk menemaninya di toko buku. Dia merasa asing jika berjalan sendirian walaupun hanya sekadar mampir ke toko buku. Kalau bukan untuk riset dalam karya tulisnya, Jeje malas sekali keluar rumah. Lebih baik berdiam diri di kamar dengan buku dan cemilan yang kerap gadis itu lakukan. Tapi karena ini demi hobi barunya dan sudah lama Jeje ingin sekali mendalami dunia literasi. Akhirnya Jeje berusaha untuk mencari riset sampai ke toko buku.
Tadinya Jeje sempat kebingungan mencari dimana letak buku tersebut, sebelum pegawai laki-laki yang dengan baik hatinya mau membantu Jeje.
"Jadi, apa bukunya sudah cukup untuk riset kamu?"
Jeje mengusap dagu seraya berpikir, mungkin sudah cukup. Jeje merasa sangat terbantu oleh pegawai tersebut. Bahkan kalau bukan karena dia, mungkin sampai matahari sejajar dengan tubuh. Jeje tidak akan pernah menemukan buku itu. Gadis dengan kuncir kudanya membungkuk sambil mengucapkan terimakasih. Lantas ia segera menuju kasir untuk membayar semua yang sudah Jeje beli.
Tas kecil yang Jeje bawa ia rogoh mengambil ponsel. Saat dicari, Jeje tidak menemukan benda tersebut.
"Apa ketinggalan yah?" gumam Jeje.
Jeje kembali mengulang pencarian ponselnya di tas berwarna biru laut. Namun tetap saja tidak kunjung ia temui. Jeje berniat untuk meminta jemput ke Green, karena ponselnya tertinggal. Jadi Jeje berjalan kaki dari toko buku sampai taman. Siapa tahu saja Green masih ada disana.
Terik matahari menyengat sampai ubun-ubun Jeje. Ia merasakan tenggorokan yang mulai kering saat berjalan. Jeje bukanlah tipe anak yang sering keluar rumah, kalaupun keluar juga paling hanya sekitaran mal atau kafe saja. Selebihnya Jeje hanya melakukan aktifitas lain di dalam rumah. Untung saja Jeje membawa masker, jadi hari ini tidak banyak polusi yang mencemari hidungnya. Saat di taman, Jeje sedikit menangkap seseorang yang mirip Green dengan gestur tubuhnya. Jeje yakin kalau itu Green.
Jeje melihat kakaknya sedang berbincang dengan seorang perempuan. Tapi entah mengapa, Jeje malah mendekatkan diri kemudian bersembunyi di balik semak-semak samping kursi taman dan mulai melihat Green. Ia memicingkan matanya guna memperjelas penglihatan.
Sepertinya lagi berantem deh, wih! Bakal seru nih. batin Jeje yang mulai asik melihat perbincangan Green dengan orang yang tidak ia kenal. Jeje mulai memperhatikan lawan bicara Green. Baru kali ini Jeje melihat orang yang cantiknya di atas rata-rata. Surai hitam yang bergelombang seperti ombak tertiup angin. Mungkin dia salah satu model iklan sampo yang sering Jeje lihat di televisi. Ketegasan terlihat dari sudut mata yang tertarik keatas. Terlihat jelas kalau perempuan itu pasti memiliki sifat yang jutek dan tidak peduli. Ditambah bibir tipisnya yang entah mengapa, Jeje sangat suka bentuk bibir kecilnya.
eh ... eh? Kok malah pergi sih? batin Jeje kembali.
Perempuan cantik tersebut marah sambil berteriak saat Green menarik tangan kanannya. Tapi Jeje tidak melihat dengan jelas, jadi ia hanya menyimpulkan bahwa Green memang sedang bertengkar dengan kekasihnya. Masih samar-samar terlihat, soalnya jarak Jeje dengan kedua orang itu lima meter yang membuat Jeje harus lebih menyipitkan matanya kembali. Green terduduk dan wajahnya nampak seperti orang yang sedang menyesal. Akhirnya Jeje memutuskan untuk pergi menghampiri Green.
***
"Cewek banyak di luaran sana, Kak. Gak usah galau gitu. Cinta pertama memang selalu tidak berhasil kok."
Kali ini giliran Green yang merasa terkejut dan sangat mengenali suara cempreng ini.
"Jeje? Ngapain kamu disini?"
"Habis lihatin Kakak putus sama cewek, hehe."
"Cewek? Cewek mana?"
"Yang tadi lah."
"Allera?"
"Oh, jadi namanya Allera toh." Jeje menyingkap rok bagian belakangnya kemudian duduk samping Green. "Kenapa Kakak berantem sama dia? Padahal itu cewek cantik banget," lanjutnya.
Green menengok kearah Jeje. "Je. napas, Je! Napas!"
"Hah?"
Jelas Jeje langsung menarik udara masuk melalui hidungnya. Padahal Jeje tidak menahan napas, melainkan sedang berpikir untuk kebaikan Kakaknya yang saat ini benar-benar sedang dilanda kegalauan seperti ABG yang telat pubertas.
Dia berdehem. "Jadi gini, Kak. Coba Kakak beli bunga buat cewek cantik tadi. Terus tambahin cokelat deh biar kelihatan sweet banget!" jelas Jeje yang setara dengan kereta api.
"Kamu ngomong apa sih?"
"Loh? 'Kan Kakak lagi berantem sama cewek tadi. Jadi Jeje saranin Kakak buat lakuin itu. Oh, oh! Atau enggak gini saja nih, Kakak dengar baik-baik." Jeje kembali menjeda kalimatnya membuat Green pun ikut terdiam sejenak. "Gimana kalau Kakak nyanyiin dia pakai lagu romantis saja? Dijamin dia bakalan klepek-klepek!"
"Jangan ngaco deh! Sudah pulang saja."
"Issh, Kak! Ini tuh saran paling the best yang pernah ada!
Green meninggalkan Jeje sambil mengusap dada agar lebih bersabar lagi menghadapi adiknya yang super cerewet itu. Akhirnya Green pulang bersama dengan Jeje dibalut rasa tidak nyaman dalam hatinya.
***
Selepas melewati hiruk-pikuk kota Jakarta yang semakin tidak wajar. Green sampai depan rumah, yang di daun pintu tersebut sudah ada seseorang yang menunggu Green dengan tangan ia lipatkan di dada. Green tersenyum sambil meringis. Berbeda dengan Jeje yang berhambur sambil berlari merentangkan tangan dan memeluk wanita setengah baya dengan rambut yang digelung ke atas, dan masih berpakaian kebaya.
Setelah puas Jeje menghirup aroma yang sudah lama tidak tercium di tubuh itu. Jeje melepaskan pelukan dan menggenggam tangannya. Lantas perempuan tersebut mengalihkan pandangan ke arah Green.
Merasa tertindas oleh tatapan sangar layak singa sedang kelaparan. Green menyapa perempuan itu, "Sampai jam berapa? Kok Ibu gak ngasih tahu aku kalau sudah sampai?"
Bukan jawaban yang Ibu berikan, melainkan kaki yang terus ia adukan dengan lantai membuat Green semakin kalap dan tidak tahu harus berbuat apa. Green melihat Ibu melayangkan satu tangan, dan refleks Green menutup matanya. Pasti Ibu marah, walau Green tidak tahu apa kesalahannya kali ini. Ia tak merasakan apapun yang perih pada pipi. Mata yang terpejam perlahan ia buka sedikit mengintip apa yang akan Ibu lakukan dan ...
Matanya terbeliak saat ia menepuk punggung Green sambil memeluknya. "Astaga! Apa Ibu begitu tidak pentingnya sampai kamu tidak mengangkat telepon untuk menjemput Ibu di bandara?"
Telepon? Perasaan dari tadi di taman Green tidak mendapat panggilan sama sekali. Bahkan ponselnya pun sudah seperti bangkai karena memang sengaja mematikan telepon untuk menghindari Karrel dan juga menghemat daya. Green memundurkan langkah seraya melepas Ibu yang mengalungkan tangannya di tengkuk Green. Kemudian mengambil ponsel, dan mengecek pemberitahuan.
"Hape Green batereinya habis, Bu. Nih lihat," Green berujar sambil memperlihatkan benda tersebut yang memang sudah mati total.
Ibu berkacak pinggang. Saat itu pulalah perasaan Green semakin tidak enak kalau Ibu sudah melakukan hal itu. Green menggosok kedua tangan, meminta ampun agar Ibu tidak marah lebih lanjut.
Di sisi lain, terlihat satu penonton yang sedang asik melihat adegan dramatis ala-ala sinetron yang sampai ribuan episode tidak tamat juga. Jeje mentertawakan Green, sambil mengatakan hal yang membuat Green semakin kesal pada Jeje.
"Tadi Kakak habis pacaran tuh, Bu."
Green mendelik. "Jeje, jangan sebar gosip gadungan!"
"Jeje gak bohong, Ibu. 'Kan tahu sendiri kalau Jeje itu orangnya baik, ramah, jujur dan tidak sombong. Oh iya! Sama rajin nabung juga." Jeje semakin geli melihat ekspresi Green yang wajahnya setara dengan kepiting rebus. "Tadi Jeje lihat pakai kedua mata ini. Kak Green lagi marahan sama ceweknya."
"Jeje!"
"Apa sih, Kak? Emang benar, kan?"
Ibu mengangkat satu tangan dengan jari-jari yang ia lebarkan. Keduanya berhenti berbicara. Ibu langsung masuk ke dalam rumah dan itu tanda kalau keduanya harus mengikuti Ibu juga. Green kembali menghela napas. Dasar Jeje, mulutnya kayak mercon kalau sudah ngomong! batin Green memaki adiknya sendiri.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡ