FIDUCIA

FIDUCIA
1



“In joy or sadness, flowers are our constant friends.” - Okakura Kakuzo


.


.


.


.


SEMERBAK bunga tercium. Hidungnya menangkap satu-persatu dari sekian bunga yang terjajar rapi dan bersih.  Tiang berbentuk seperti tanda tanya terpajang pojok lemari es. Warnanya putih dan salah satu kesukaan si pemilik. Lampu-lampu kecil berwarna oranye dibiarkan menyala. Ada tangga menuju lantai dua yang terhubung langsung ruang pribadi. Matahari tertutup awan mendung walau hanya sedikit, terlihat dari daun-daun kecil yang mengikuti kemana arah angin membawanya melalui kaca bening yang hampir tertutupi bunga Lily.


Berbagai macam bucket bunga pun berjejer menghiasi dinding lembut berwarna ungu. Sungguh menyejukan. Ia menghela napas sambil menghirup hasil karyanya yang memang harum. Hari ini memang ada pesanan satu bucket bunga untuk pengantin. Setelah mengikat rangkaian bunga tersebut, lantas ia berjalan menuju pintu.


Semoga wangi dari bunga-bungaku ini bisa terhirup oleh mereka yang datang untuk membeli. batinnya.


Papan bertuliskan close, ia ganti dengan sebaliknya. Belum sempat kembali, namanya sudah terpanggil.


"Allera!"


Gadis bernama Allera menyelipkan rambut panjang yang hampir menutupi pandangan sejenak. Dia tersenyum sambil merentangkan tangan bermaksud untuk melingkarkan kedua tangannya yang mungil itu pada si pemanggil. Senyumnya merekah secerah cuaca hari ini yang sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Bagaimana penjualan hari ini?"


"Penjualan apanya, Bunda?" Allera berujar diiringi nada manja pada Bunda. "Lera 'kan baru buka toko ini, tadi juga Bunda lihat sendiri, kan?"


Bunda terkekeh kecil, lantas mengusap puncak kepala Allera. "Anak Bunda sekarang sudah besar, yah?"


"Maksudnya?"


"Lera sudah bisa buka toko bunga ini sendiri, terus bisa ngerangkai bucket juga." Matanya mengerling menggoda Allera sejenak. "Dan sekarang anak Bunda sudah bisa pakai bedak, blush on, dan lipstik juga."


"Ih ... apa sih, Bunda! Kulit Lera 'kan memang putih jadi wajar saja kalau pipi Lera jadi semerah kepiting rebus gini."


"Terus, yang merah-merah di bibir kamu itu apa dong?"


"Hehe, tadi Lera cobain lipstik punya Bunda sebelum Lera pergi kesini."


"Dasar, yasudah. Apa bucket pesanan itu sudah dibuat?"


"Yes, mam!"


"Bagus, sekarang kita kasih kesegaran buat bunga-bunga yang ada disini."


Allera menurut, lalu mengambil penyemprot untuk bunga-bunga yang ada di tokonya. Sedang Bunda sibuk menata pot-pot yang sedikit tidak beraturan kembali ke bentuk semula. Sesuai warna pipinya yang semerah tomat, bunga berwarna merah itu Allera semprotkan dengan air. Memotong bagian-bagian untuk mencegah bunga tersebut mati.


Seperti yang banyak orang bicarakan. Bunga mawar hanya bisa dinikmati tapi tidak bisa disentuh karena duri yang menghalangi. Seolah mengatakan bahwa mawar itu memanglah yang paling berharga dan tentu saja indah. Tapi tidak dengan Allera, mawar itu bisa dia sentuh. Jika menggunakan pengaman. Lalu mawar tidak ada apa-apanya bagi Allera. Duri itu bisa Allera hilangkan dengan cepat dan menjadi salah satu benda sebagai perwujudan cinta seseorang kepada yang dicintainya.


Pemyemprot itu Allera simpan pinggir pot. Kemudian mengambil hasil dari potongan mawar yang sudah Allera kumpulkan. Jadi hasilnya akan Allera jual di depan toko nanti. Biasanya bunga mawar memang salah satu yang paling laku. Pasalnya, tepat di hari valentine. Banyak pria maupun wanita yang berebut untuk mendapatkan mawar itu dan didampingi sepotong cokelat. Allera kembali menghirup aroma alami yang dikeluarkan bunga itu.


Bunda memanggil kembali. Katanya pot bunga carnelion harus diangkat bersamaan karena pot bunga itu sendiri yang paling berat.


"Berat banget! Kayak, Bunda."


"Husssh! Bunda kurus begini kok dibilang berat."


"Kurus kelingkingnya 'kan, Bund?"


Gadis berusia 22 tahun itu tertawa kencang, sedangkan Bunda hanya menggelengkan kepalanya. Mereka memindahkan pot itu keluar toko dan menyimpan ke bagian yang terkena matahari. Sudah beberapa hari ini bunga itu tidak terpapar matahari.


Setelah selesai. Allera membersihkan tangan, lantas kembali masuk lagi. Toko memang lengang, kadang ramai. Kadang juga membludak seperti pasar minggu. Tapi Allera cukup bersyukur dengan hal itu. Dimana dia masih berkesempatan untuk menikmati keindahan yang walaupun tidak harus pergi keluar negeri. Saat di sekitar sudah terlihat indah, kenapa harus cari yang lain, bukan?


Allera mengangguk-angguk, membuat Bunda terheran dengan tingkah anak gadisnya ini. Allera berjalan menuju tangga, dan duduk di antara meja yang berada di pinggir. Beberapa buku Allera rapikan, dan satu bucket yang akan Allera bungkus nantinya. Bolpoin merah dia ambil, lalu mencoret tanggal berangka tigapuluh.


"Mau ada acara apa di tanggal itu?"


"Ada deh."


"Oh, jadi anak Bunda sekarang mau main rahasia-rahasiaan, yah?"


Allera langsung memeluk perut Bunda begitu eratnya. Sambil sesekali parfume yang Bunda pakai itu tercium. Allera menjadi nyaman memeluk Bunda seperti itu.


***


Terdengar bunyi antara lantai dan sepatu yang beradu. Allera yang sedang fokus menulis sesuatu pun langsung menyimpan dan menyambut pelanggan yang baru saja datang. Ada Ibu muda, dengan tangan mungil sekali terpaut di jari-jemarinya. Anak itu terlihat baru saja menangis dan minta dibelikan mainan, namun sang Ibu hanya bisa menenangkan anaknya. Bahkan meminta maaf pada Allera kalau mengganggu aktifitasnya.


Allera sendiri tidak merasa risih dengan rengekan anaknya. Ide cemerlang muncul dari otak Allera. Ia berjinjit mengambil pot kecil yang berada di samping tiang tanda tanya itu. Batang berbentuk pipih tanpa duri, lalu warnanya yang merah muda itu pasti akan sangat disukai apalagi anak perempuan.


"Ini namanya kaktus udang, Bu. Tapi tenang saja, jenis tanaman ini tidak berduri dan aman buat adek yang lucu ini," Allera berucap diiringi tangan yang mengusap pipi anak kecil itu. "Oh iya, satu lagi. Kaktus ini gak usah Ibu bayar, jadi Ibu cukup bayar yang saat ini Ibu beli saja."


"Benarkah?"


Allerah mengangguk, sepersekian detik ia tersenyum lebar.


"Jadi, Ibu mau beli bunga apa?"


Allera mengusap dagu seraya berpikir.  "Gimana kalau bunga Garbera? Hm ... kalau boleh tahu, usia pernikahan Ibu berapa?"


"Sekitar lima tahun, dan baru dikaruniai puteri cantik ini."


"Wah," Allera berdecak kagum melihat puteri Ibu itu, kemudian memberikan kaktus udang kepada sang anak. "Jadi, bunga Garbera ini mengandung makna untuk seseorang yang menjalin kasih sangat lama. Mungkin ini bisa mengekspresikan rasa cinta Ibu ke suami."


Pandangan Allera teralihkan anak kecil yang sedang asik memainkan bunga kaktus udang. Sepertinya dia senang mendapat bunga seindah itu. Lalu Allera berjongkok mensejajarkan tubuhnya. Gadis itu mengacak rambut si kecil. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Allera berlari kecil menuju lemari pendingin dan mengambil makanan yang tersimpan olehnya. Setelah itu ia kembali ke anak itu.


"Adek namanya siapa?"


"Lala, tante."


Mata yang sipit membulat. Sedetik kemudian Allera tertawa renyah dan mengacak rambutnya kembali. Sebetulnya baru kali ini ada yang memanggil Allera dengan sebutan seperti itu. Allera tidak memiliki ponakan, walaupun ada hanya sepupu dari saudara-saudara Allera yang jaraknya sangat jauh.


Bunda memilih untuk tinggal di Jakarta tanpa sanak saudara. Usaha toko bunganya berkembang dari tahun ke tahun membuat Bunda menjadi jarang pulang ke kampung halaman. Allera sendiri lebih nyaman berada disini, apalagi kalau sudah anak kecil yang menyapanya walaupun dengan sebutan seperti itu.


"Jangan tante, sayang," ujar Ibunya. "Namanya Rara, dia emang sedikit cadel."


"Gak apa-apa, Bu. Memang sudah pantas disebut tante kok."


"Mbaknya sudah punya suami?"


Suami? batin Allera.


"Tidak, Bu. Saya masih sendiri."


"Sayang sekali, kalau begitu semoga Mbak bisa bertemu laki-laki yang sayang dan setia sama Mbak, yah."


Allera hanya tersenyum, tidak mengaminkan doa yang tersampaikan Ibu itu.


***


Terik matahari sangat menyengat. Bulir air mengalir di setiap jari Allera. Mulutnya sibuk menyesap segelas cokelat dingin sambil berjalan menuju Cafe tempat Allera biasa mengisi hobi lamanya dan juga salah satu yang paling Allera sukai. Para pejalan kaki seperti Allera diselimuti peluh di dahi, muka, serta seluruh tubuh yang sangat basah. Ada dari beberapa wanita yang mengenakan kipas portable, bahkan tak segan-segan memakai payung untuk menutupi panasnya hari ini. Allera sendiri merasakan panas yang sama, tapi menyesap sedikit demi sedikit minuman yang dipegang membuatnya sedikit sejuk. Walau hanya sejenak. Tapi itu sudah lebih dari cukup.


Langkahnya sedikit terhalang oleh sekelompok pemuda yang keluar dari Cafe  bertuliskan papan di atas dengan huruf yang membentuk kalimat; Cafe D'Love. Allera langsung memperdalam pandangannya ke arah sepatu kets berwarna navy itu. Tangannya mengepal kuat tak berani menatap sekelompok itu.


Padahal ... pada kenyataannya, sekelompok pemuda itu pun tidak memperhatikan Allera. Mereka terlalu asik dengan dunianya terutama membicarakan tentang sepak bola.


Allera mundur perlahan. Menjaga jarak untuk tidak terlalu dekat saat kelompok itu sudah pergi, baru Allera akan melangkah masuk. Kepalanya masih tertunduk. Perlahan es yang Allera pegang mulai mencair. Meneteskan embun yang menjadi air, terjun ke bawah sepatu Allera hingga basah.


"Alle? Lo ngapain? Gak masuk?"


Dia tersentak saat sapaan itu terdengar, lantas meluruskan pandangan ke arah si pemanggil. Allera berdehem. Sedetik kemudian ia tersenyum ramah sambil berjalan masuk.


"Masuk kok, tadi gue cuma liat ada uang terus terbang dibawa angin."


"Bercanda lo garing, ***. Oh iya, lo bisa tampil sekarang, kan?"


Allera mengangguk, terus membungkuk sedikit. Mengarahkan mulutnya ke telinga si lawan bicara.


"Tenang saja, soal itu aman kok." Dia membulatkan jari-jemarinya antara jempol dan telunjuk yang disatukan. "Lo gak usah takut, ada gue disini yang bakal selalu di samping lo."


"Thanks, Kayla."


Kayla menggandeng tangan Allera untuk masuk ke dalam. Iris cokelat Allera menangkap tulisan serta gambar berbentuk cangkir kopi yang khas. Sampingnya terdapat menu-menu yang berjajar. Allera menghirup aroma kopi yang baru saja dibuat oleh seorang barista  berambut panjang yang ia ikat sampai atas. Allera mendekati sang barista yang sudah disuguhkan berbagai macam jenis kopi di belakangnya. Meja itu pun terlihat sangat bersih dan rapi, kecuali celemeknya yang sudah kotor akibat tumpahan kopi.


"Kenapa lama banget?" ia berujar dengan tangan yang masih sibuk dengan mesin kopinya.


"Gue sudah jawab pertanyaan barusan ke Kayla, jadi tanya aja ke dia."


"Yasudah ... cepet sana naik ke panggung, ini Cafe sepi banget! Berasa kayak lagi di kuburan aja."


"Iya, iya. Dasar bawel!"


Panggung setinggi limapuluh sentimeter berada di dekat pajangan foto-foto artis yang sudah pernah datang ke Cafe D'Love. Tersedia piano dan mic disana. Tanpa pikir panjang Allera duduk dan mulai memperhatikan para pengunjung yang kali ini didominasi oleh perempuan. Napas lega berembus begitu saja. Ia mulai mengecek sound dan lainnya.


Warna hitam putih yang menyatu Allera biarkan jari-jarinya menyentuh dan perlahan menekan beberapa tuts menjadi satu nada yang terdengar sangat indah. Saat sudah melewati intro, Allera mendekatkan bibir pada mic-nya.


Baby, I'm the one who put you up there


I don't know why


Thinking you could live without me


Live without me


Baby, I'm the one who put you up there


I don't


Suaranya mengisi seluruh ruangan, bahkan salah satu dari pengunjung pun sangat antusias. Terutama Kayla yang sedari tadi menunggu Allera untuk bernyanyi. Dia terlalu terpesona dengan suaranya. Lalu setelah Allera selesai, ia melanjutkan nada-nada lainnya sebagai pengiring musik di Cafe itu.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ