Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
09° | ARAJA HANYA SAHABATNYA



Decitan pintu terdengar samar. Hingga suara anak kecil terdengar maka Araja menoleh pada pintu kamarnya. Cowok itu mengernyit heran menyadari Saka berdiri dengan baju tidur bermotif bulan di ambang pintu sembari mengucek matanya.


"Kakak, Saka nggak bisa tidur," adunya lemas seraya menghampiri Araja yang masih bermain Play Station.


"Ya udah sini. Kamu tidur di kamar Kakak aja. Nanti Kakak bikin mulut Kakak kamu diem." Araja mendorong Kalvian agar menyingkir dari kasurnya hingga terjatuh ke lantai untuk memberikan tempat pada Saka yang sudah terlentang.


"Makasih, Kakak." Saka mulai menguap dan tak lama kemudian ia terlelap diselimuti Araja yang setelahnya berjalan ke luar kamar.


"Ke mana lo?" tanya Kalvian sewot setelah berdiri tegap dari lantai dan mendapati temannya berhenti di dekat pintu.


"Ratha pasti kena amuk tetangga lain kalau nggak disuruh diem," jawab Araja dan kembali melanjutkan langkah.


Kalvian mendecih disertai kekehan kecilnya. "Dasar, pahlawan tanpa tanda jasa," cibir cowok berjaket yang sekarang membawa langkahnya untuk menyusul Araja ke rumah sebelah. Rumah yang beberapa menit lalu mengganggu ketentramannya bermain PS.


Araja dan Kalvian menapaki tangga satu persatu anak tangga menuju kamar Aratha yang bising. Araja membuka pintu yang terdapat nama cewek itu dengan nama belakangnya cantik. Kalvian seketika ingin muntah membacanya.


Kamar yang didominasi warna biru muda itu sudah tak berupa bentuk. Barang berserakan di lantai bahkan hingga baju menggantung di kipas angin mampu membuat Araja berdecak sebal karenanya. Ini bukan kamar seorang gadis normal yang pastinya akan rapi. Ini persis seperti kandang hewan yang tak pernah diurus.


Lihat saja si pemilik kamar yang melompat-lompat di atas kasur dengan baju di tangan yang ia putar-putarkan serta mikrofon mainan di tangan. Suara Aratha yang semakin memekik telinga membuat Araja naik darah dan bergerak mematikan sepiker milik gadis itu.


"LO NGAPAIN MATIIN, SIH, JA?!" Aratha berteriak kesal mendapati Araja ada di kamarnya. Serta Kalvian yang mulai terlihat biasa saja mendapati kamar Aratha yang melebihi berantakan kamarnya sendiri.


"Lo berisik, Aratha. Adek lo nggak bisa tidur tau," tutur Araja menyilangkan tangan di dada. Sekarang ia persis seperti Ayah dari anak gadis nakal seperti Aratha.


Aratha melirik kanan-kiri. "Saka? Sekarang Saka di mana?" tanyanya pada Araja.


"Di rumah gue." Araja berkata.


"Astaga, Kakaknya siapa, ngadunya ke siapa juga." Aratha mendumel mengetahui faktanya sang adik yang memilih mengadu pada tetangganya dibandingkan dirinya yang bahkan tinggal pada atap rumah yang sama.


"Saka nggak berani sama lo yang berisiknya minta ampun. Nggak tahan." Kalvian menyahuti jahil di ambang pintu. Melihat Aratha yang siap menerkam, ia berlari menuju Araja agar terhindar dari amukan gadis itu.


"Sembarangan lo ngomong, Kal." Aratha ingin memukul kepala Kalvian di balik punggung Araja yang menatapnya penuh intimidasi. Ia tak peduli, ia ingin menghabisi Kalvian dengan mikrofon mainan miliknya.


"Itu fakta," ujar Kalvian iseng.


"NGGAK. GUE NGGAK BERISIK, CUMA NYANYI SAMBIL TERIAK-TERIAK AJA!" dalih perempuan itu sewot


"Sama aja, ****!" tukas Kalvian malas.


Aratha berucap sinis, "Lo yang ****."


"LO!" Kalvian menoyor kening cewek itu.


Araja yang berada di tengah-tengah mereka berdua membuat cowok tinggi itu menutup kedua telinga menggunakan telapak tangan. "Astaga, telinga gue mau cari pemilik baru," keluhnya seperti yang dikatakan Kalvian ketika di rumahnya.


"Heh, lo nggak kreatif banget, sih!" Kalvian menoyor kepala sahabatnya dari belakang. Araja nampak menatapnya sinis. "Diem, dah, lo, Kal," ketusnya.


"Disalahin, kan, gue," cibir Kalvian disertai dengkusan. Ia segera menghindar dari kedua tangan Aratha yang ingin menjambaki rambutnya. Jangan sampai kena, nanti bisa-bisa ia seperti upin-ipin.


Aratha masih mencoba untuk memberi pelajaran pada Kalvian. Ia tak peduli ketika tangannya berkali-kali mengapit leher Araja yang menjadi penghalang jarak Kalvian dengan dirinya. Merasa lelah, ia menunduk menyender pada dada bidang cowok di depannya.


"Kalah, lo, Ra," ejek Kalvian dengan tawanya. Kemudian cowok itu memilih ke luar dari sarang harimau yang sudah mengamuk.


Aratha mendongakkan kepalanya. Matanya mendapati wajah Araja yang begitu dekat hingga hembusan napas hangat Araja menerpa wajah.


Araja yang menatap balik tingkah aneh Aratha tersenyum simpul. "Kenapa? Masih mau peluk gue?" tanyanya tak bergerak sedikitpun.


"Eh, sejak kapan gue meluk lo?" Aratha tersadar dari terpesonanya pada Araja untuk seperkian detik. Lengannya sudah tak ada di pundak Araja.


"Daritadi," balas Araja singkat.


"ASTAGA. GUE UDAH NGGAK SUCI LAGI!" Aratha berseloroh. Ia mengusap badan-badannya seolah menyingkirkan apa saja yang menempel di tubuh.


"Sembarangan lo!" Araja mendorong kening Aratha sebal. Kebiasaan berbicara sembarangan. "beresin kandang lo, Ra." Araja memberikan perintah yang harus dijalani Aratha saat ini juga.


"Kandang lo bilang?" tanya Aratha dengan mata yang seperti ingin keluar dari tenpatnya. "iya, nanti, Ja," katanya setelah mendapatkan tatapan elang dari Araja. Kalau sudah begini, Araja tak mau dibantah.


"Mau gue yang beresin, hah?" sindir Araja nyolot.


"Ya udah, makanya beresin," titah Araja sekali lagi. Mendengar dengkusan Aratha, cowok yang berjalan ke luar kamar itu menoleh ke belakang melihat gadis yang rambutnya berantakan itu. "lo udah makan, Ra?" tanyanya.


Mendengar makan, Aratha bersenandung ria. Jika sudah ditanyai seperti ini, Araja sudah tak seperti tadi. "Udah, tapi masih lapar." Aratha nyengir menatap Araja.


"Iya, iya, gue peka. Nggak kayak lo," dengkus Araja.


"Gue peka cuma pura-pura nggak tau aja." Gadis itu tertawa. Setelah mendengar pintu ditutup, Aratha mendekatkan mikrofonnya pada bibir. Ia mulai bernyanyi meski tanpa musik.


"Jangan nyanyi Aratha."


Cih, ternyata cowok itu belum beranjak juga.


"DASAR ARAJA KAMPRET. GUE NGGAK MAU DIPERINTAH," teriak Aratha nyaring.


Araja balas berteriak, "Kalau gitu gue juga nggak jadi masak."


"IYA, RAJA, IYA." Aratha mendengkus kasar mendapati ucapan Araja dari luar kamar. Tak lama, ia kembali menghela napas pelan lalu menatap kamarnya yang berantakan sekali. Apa tadi ia kesurupan hingga kamarnya seperti kapal pecah hingga dikatai kandang hewan oleh Araja.


"Demi makanan," gumam gadis itu. Aratha menggelungkan rambut panjangnya jadi satu kemudian mulai membersihkan kamar dimulai dari barang-barang yang tergeletak di lantai.


"Astaga, gue kayaknya emang kesurupan." Aratha berceloteh sembari memunguti barang-barangnya. "double A," gumamnya ketika mengambil kertas hitam yang beberapa waktu lalu ia baca. "siapa juga yang sok-sokan ngatur hidup gue. Dis is may lip," cetusnya. Aratha kemudian tertawa. Ia memang payah dalam segala hal. Bidang Bahasa Inggris saja ia tidak bisa melafalkannya.


Aratha menuruni anak tangga satu persatu dengan lunglai. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan saat itu juga seharusnya oa sudah terlelap di kasur tercinta. Namun, setelah membereskan kamarnya dan perutnya meminta jatah membuat Aratha sesegera mungkin menghampiri Araja yang sepertinya sudah selesai memasak. Jadi, Aratha tak usah susah payah membantu cowok itu.


Melihat Kalvian yang nampak terlelap di sofa dengan televisi menyala menampilkan film romansa membuat Aratha tergoda untuk melakukan hal yang sama. Karena Aratha tak bisa bergerak santai hanya untuk duduk saja membuat Kalvian terbangun dari mimpi pendeknya.


"Raja belum selesai juga ternyata." Kalvian menguap lebar. Melirik Aratha yang berusaha memejamkan mata. "lo udah selesai, Ra?" tanyanya.


"Udahlah," jawab Aratha singkat.


Aratha tak jadi untuk mengarungi alam bawah sadar ketika indra penciumannya mencium bau masakan yang diprediksi akan enak. Makanan Araja adalah favoritnya karena ia tak perlu susah-susah membuat makanan enak.


"Wah, kebetulan gue lapar, nih." Kalvian bersiap mengambil nasinya jika saja Aratha tak mendahului. "dasar lo tukang tikung," ejeknya. Aratha hanya menatap Kalvian dengan mimik wajah dibuat sejelek mungkin.


"Geser, geser," titah Araja ketika cowok itu kembali dari dapur dengan teko. Aratha harus baik dulu sebentar untuk bisa makan enak, nanti kalau sudah habis. Baru ia bisa semenyebalkan seperti biasa. Aratha tertawa dalam hati setelah bergeser.


"Remot mana?" tanya Araja setelah minum segelas air.


Aratha yang paham bahwa cowok itu tak suka film seperti ini membuat Aratha dengan cepat mengambil remot yang tertutupi kain itu. "Mau apa lo?" tanya Aratha sangar pada Araja.


"Lo 'kan udah nonton film ini berkali-kali. Jadi, pindah channel, deh. Nggak bosen apa lo." Araja bersungut-sungut. Ia tak suka film romansa seperti ini. Ia sudah berulang kali menontonnya dengan Aratha karena terpaksa.


Waktu seakan berlalu begitu cepat menjelang tengah malam. Kalvian di sebelah Aratha nampak sudah tertidur dengan posisi duduknya. Araja masih terjaga. Sedangkan, gadis yang ada di tengah-tengah mereka berusaha terjaga meski berkali-kali ia menguap.


"Lo pindah ke kamar, gih, Ra." Araja memberikan usul melihat Aratha yang berkali-kali terlelap dan terbangun kembali.


"Nanggung, Ja," katanya parau.


Aratha menyenderkan kepalanya pada punggung sofa, lalu memejamkan mata setelah film berakhir. Araja juga malakukan hal yang sama. Cowok itu memijit pangkal hidungnya dan melirik ke samping ketika kepala Aratha terjatuh pada pundaknya.


"Wajar nggak kalau gue sayang, Ratha?" tanyanya pada diri sendiri. Merasa bingung sendiri pada perasaannya.


Malaikat bersayap bertanduk dengan wajah ganteng sepertinya muncul. "Rasa sayang lo nggak wajar buat Ratha. Seharusnya lo ungkapin aja." Araja menggeleng hingga malaikat itu menghilang.


Kemudian sosok lain berpakain putih dengan wajah yang lebih ganteng itu muncul. "Rasa sayangmu itu wajar pada Ratha. Kamu adalah sahabat terbaik Ratha. Gadis itu memerlukan sosok seperti dirimu."


Araja mengangguk setuju dan kemudian ka menyenderkan kepalanya pada Aratha. Cowok itu menarik sudut bibir hingga membuat lengkungan.


"Iya, gue sahabatnya," gumamnya.


✖﹏✖


instagram penulis : @ismimd_


instagram kata : @katamd_


instagram series : @monthprojectseries.ofc