
"Araja?"
Araja menguap menutup mulutnya. Ia tak peduli jika wajahnya masih terlihat mengantuk. Matanya menilik Arizha dengan baju rapinya. Ada teman-teman Aratha juga di belakangnya.
"Bukannya ini rumahnya Ratha, yah, Ja?" tanya Arizha keheranan. Alamat yang diberikan teman Araja memang benar di sini.
"Iya." Araja menggaruk belakang kepalanya. Sekali lagi, cowok itu menguap lebar. Kemudian ia berbalik ke dalam rumah. "Ratha, ada temen-temen lo, nih," teriaknya.
"Kalau gitu gue ke rumah dulu," pamit Araja. Cowok itu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan pekarangan rumah Aratha yang ia tumpungi untuk tidur tadi malam.
Arizha mengedipkan matanya melihat Araja yang masuk pada rumah di sebelah rumah Aratha. "Mereka ... tetangga?" tanya Arizha pada empat orang yang yang berdiam diri di belakannya.
Fira mengangguk. "Iya, Zha. Emangnya lo nggak tau?" Perempuan berambut pendek itu bertanya balik.
"Padahal Ratha sebangku sama lo." Malia ikut menyahuti. Ia kembali melanjutkan, "dan nggak mungkin juga cewek itu nggak cerita soal Araja sama lo."
"Ratha cerita kalau Araja itu nyebelin, tapi ... Araja baik menurutku." Arizha mengeluarkan pendapatnya. Araja baik setelah beberapa kali ia mengobrol dengan Araja meski tak terlalu penting dan Araja juga pernah mengantarkannya pulang beberapa kali.
Putri memicingkan matanya menatap Arizha dengan curiga. "Lo ... suka sama Araja, yah? Hayoo, ngaku?" desaknya.
Arizha menggeleng cepat. Tangannya menhibas-ngibas di depan wajah. "Ng ... nggak," jawabnya terbata.
"Jawabannya nggak berarti iya, nih. Cieee," goda Malia yang diikuti sorakan cie dari temannya yang lain. Hany yang sedaritadi diam juga ikut-ikutan menggoda.
"Nggak, kok, nggak." Arizha tetap saja meyakinkan teman-temannya agar tidak terpedaya. Hingga decitan pintu membuat mereka kembali berfokus pada tuan rumah yang masih memakai piyama tidurnya.
"ASTAGA! NGAPAIN KALIAN DI RUMAH GUE?" tanya Aratha tak kalm. Aratha memang tak menduga bahwa teman-temannya datang ke rumahnya. Ia tak pernah membawa temen sekelas datang ke rumahnya. Lagipula yang sering main ke rumah hanya Araja, Kalvian, dan Malik. Hanya mereka bertiga.
"Kita ada kerja kelompok hari ini." Hany menjawab seraya membenarkan letak kacamatanya.
Aratha menganga. Ia siap kembali bertanya, "KELOMPOK APA DAN KENAPA KALIAN TAU RUMAH GUE?" Terlalu histeris. Cewek itu ngos-ngosan karenanya.
"Pak Rama ngasih tugas lagi dan kami dapat alamat lo dari Malik." Fira menjawab disertai bukti chatingan di ponselnya ia acungkan pada Aratha.
"ASTAGAA, KENAPA KALIAN NGGAK KASIH TAU GUE HARI INI?" Aratha masih heboh dengan ketidak percayaannya itu.
"Lo yang sepakatin hari ini. Tadi malam gue hubungin lo, tapi lo nggak angkat-angkat." Malia mendengkus mengingat Aratha tak kunjung mengangkat teleponnya ketika malam tadi. Malam tadi 'kan Aratha konser menyanyi. Ia mana mendengar dering ponselnya.
"ASTAGAA. KALIAN TUNGGU DI SINI." Aratha menutup pintunya dengan cepat hingga membuat gebrakan yang mengagetkan.
"Ratha kenapa?" Hany keheranan.
"Males banget sama Ratha yang suka teriak-teriak. Nggak bisa kalm tuh cewek." Putri mengeluh mendapati kerusuhan sang tuan rumah.
"Heran juga sih. Kenapa Ratha suka numpang sama kelompok kita dari kelas satu. Terus, tiba-tiba nawarin rumah buat dijadiin tempat kerkom juga," jelas Fira. Memang, Aratha sering menumpang pada kelompok ini. Sudah tak terkira jasa mereka berempat yang selalu memaklumi Aratha yang datang hanya membuat mereka berempat bingung. Hanya merusuh dan malah ngajakin main ular tangga.
Tak lama kemudian pintu bercat putih itu kembali terbuka yang menampilkan Aratha dengan jeans pendek serta hoddie putih kebesarannya. Aratha dengan rambut basahnya itu nyengir mendapati teman-temannya yang berkedip berbarengan.
"Maaf, yah, gue lama. Ayo, masuk, masuk." Aratha mempersilakan kelima temannya masuk, tetapi teman-temannya itu malah diam tak bergerak.
"Lo ... tadi ngapain di dalem?" tanya Malia tak percaya.
"Mandi," balas Aratha pendek.
"MASA MANDI SECEPET ITU? Gue aja mandi paling cepet satu jam." Sekarang Putri yang heboh sendiri. Gadis yang rambutnya bergelombang sedikit itu menatap teman-temannya satu persatu. Pasti mereka tidak sepercaya dirinya juga.
"Pagi, Kakak," sapa Saka yang berjalan menuju Aratha yang menyapa balik. "wah, ada banyak temen Kakak," lanjutnya mendapati teman-teman Kakaknya sebanyak ini. Anak kecil yang masih mengenakan baju tidur itu menyalami punggung tangan dari mereka ketika Aratha menyuruh Adiknya.
"Namanya siapa, Ra?" tanya Arizha yang berjongkok di hadapan Saka dan mencubiti pipi gembul Adik Aratha.
"Namanya Saka," balas Aratha. "kalian tau dong yang sering gue sebut-sebut Jamur itu," sambungnya menatap teman-temannya mengangguk menyetujui.
"Jauh banget lo ngasih panggilan, Ra. Mirip Jamur dari mananya, sih?" Putri menyahuti dengan sewot pada Aratha.
"Iya, Kakak emang sering aneh sama Saka." Saka berkata dengan polosnya.
"Saka ...," panggil Aratha lembut disertai senyuman manisnya. "sana mandi, habis itu pake baju. Di kamar kamu ada Kak Kalvian yang lagi tidur. Jangan dijahilin, yah," titahnya.
"Aku nggak jail kayak, Kakak, kok." Sekali lagi Saka membuat Aratha tersenyum canggung seperti ini. Kemudian, gadis itu menyuruh Saka untuk masuk ke rumah.
"Ayo, masuk, dong," ajak Aratha pada teman-temannya yang masih berdiri di teras rumah.
"Rumah lo kok ada Kalvian sama Araja, sih? Cogan semua lagi," sahut Putri ketika dirinya duduk di sofa setelah dipersilakan.
"Kalvian kebetulan aja main di rumah Araja dan kebetulan aja dia ke rumah gue. Gitu," jelasnya dengan raut aneh. Aratha tak paham dengan apa yang ia bicarakan. "gue bikinin dulu minum, yah."
"Jangan diracunin, Ra," amanah Putri. Jaga-jaga saja.
Tak lama kemudian, Aratha kembali dengan baki yang berisikan beberapa gelas sirup. Perempuan itu meletakkannya di atas meja yang semula terdapat buku-buku yang begitu saja disingkirkan oleh teman-temannya. Aratha terus mengucapkan syukur alhamdulillah karena minuman yang ia bawa tak tumpah seperti waktu ia menyuguhi tamu-tamu kedua orang tuanya.
"Pinjem buku musik, dong." Fira mengulurkan tangan pada Aratha meminta buku itu.
"Fir, Ratha mana mungkin nulis, lha." Putri menyahut sewot mendapati wajah Aratha yang cengo.
"Eh, iya, nggak mungkin, dong, ya." Fira mengangguk paham.
Sudah dua jam mereka berkutik dengan buku-buku dan laptop. Sedangkan Aratha hanya berceloteh mengenai apa saja di kelas, seperti mengosipkan Galuh yang kembali menyatakan cinta pada Malia yang langsung dengan galaknya menoyor Aratha. Menceritakan Fira yang gosipnya perempuan itu bisa membalikkan telur mata sapi dengan benar dan sang pemilik nama ikut menoyor cewek itu.
Bagaimana bisa Aratha bergosip ketika orangnya ada di hadapannya saat ini? Iya, ini memang Aratha.
Fira, Hany, Malia, dan Putri pamit pulang setelah tugas selesai dikerjakan. Sementara Arizha masih di sini untuk menunggu jemputannya. Aratha hanya membereskan gelas dan camilan yang sudah ia suguhkan untuk disimpan kembali ke dapur dan kembali ke ruang televisi.
"Ini ...." Kalimat Arizha menggantung ketika ia menunjuk salah satu foto berbingkai yang mencuri perhatian Arizha sedaritadi.
"Itu Ayah gue. Ayah nggak ada di sini karena Ayah dipenjara," lirihnya. "gue cerita ini cuma ke lo, Zha. Lo temen baik gue di sekolah," sambungnya dengan senyum khas Aratha.
"Ayah gue dipenjara enam bulan lalu dan lo bisa liat wanita yang gendong anak, 'kan? Itu Ibu gue, yang tiga bulan lalu meninggal karena kecelakaan. Gue nggak tau siapa yang tabrak karena dia nggak bertanggung jawab atas kematian Ibu gue. Tak lama dari itu, kasusnya ditutup entah karena apa," cerita Aratha pada Arizha yang memeluk Aratha dari samping untuk menguatkan.
Aratha tak seperti biasanya, gadis itu nampak murung menceritakan kisah pendek yang memeluk dirinya pada kesedihan kembali. Aratha tak bisa berlarut-larut dalam kesedihan, apalagi ketika ada temannya. Karena itu ia menarik sudut bibirnya lebar-lebar. Lalu, tangannya menunjuk anak berkisaran delapan tahun yang menyengir di foto.
"Ini gue. Lucu banget gue pas kecil. Udah delapan tahun, tapi masih ompong." Aratha tertawa melihat foto kecilnya di sana. Astaga, gadis itu sampai memegangi perutnya.
Arizha ikut terkekeh meski beberapa detik lalu ia ikut sendu mendengar cerita Aratha. Namun, Aratha nampaknya baik-baik saja.
✖﹏✖
instagram penulis : @ismimd_
instagram series : @monthprojectseries.ofc