Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
22° | DI MOBIL ARIZONA



Ratha." Araja segera masuk ke kamar mandi setelah pintu kamar mandi dibuka oleh kunci yang dipinjamnya dari penjaga sekolah. Pemuda bersurai hitam itu menepuk-nepuk pipi Aratha yang pucat pasi berulang kali untuk menyadarkan Aratha yang memejamkan matanya.


"Ra, bangun." Araja kembali menepuk pipi Aratha berharap bahwa gadis naas ini tersadar dan harapannya terkabul ketika Aratha menggumamkan nama Araja dan mengeluh ketakutan dengan suara yang parau.


"Kita pulang, oke?" Araja berkata dengan lembut. Pelan-pelan ia menyampirkan kedua tangan Aratha di kedua bahunya sehingga melingkar di leher. "lo pegangan, Ra." Araja memerintah dan Aratha menurut saja. Ada senyum kecil di wajah pucat Aratha.


Arizona yang diambang pintu hanya memerhatikan dengan senyum kecutnya ketika Araja membopong Aratha hingga membuatnya menyingkir untuk tidak menghalagi. Arizona membuntuti Araja dari belakang. Tak ada yang ia lakukan selain mendengkus kasar.


"Ratha biar gue aja yang anter. Lo pulang aja sana." Araja secara tak langsung mengusirnya.


"Biar gue aja yang bawa Ratha pulang. Nggak mungkin juga lo bawa Ratha pake motor." Arizona menawarkan dirinya.


"Mungkin kalau gue yang lakuin," tegas Araja yang keras kepala. Di dekat Arizona sungguh membawa sisi negatif Araja berkoar untuk keluar.


Arizona bertanya, "Lo mau bahayain Ratha?"


"Ambil mobil lo sana," titah Araja yang membuat Arizona menyunggingkan senyum kemenangan. Kemudian Arizona berlalu pergi menuju mobilnya yang terparkir dan kembali dengan mobil merahnya yang kemudian ia buka pintunya. Mempersilakan Araja membiarkan Aratha bersama dengannya.


"Gue nggak akan segan-segan buat tonjok lo lagi, Ar." Araja memperingati untuk terakhir kali setelah mendudukkan Aratha di samping kemudi. Tak lama kemudian, cowok itu pergi ke parkiran mengambil motornya yang masih terparkir.


Arizona menutup pintu kaca mobil dengan menekan satu tombol. Cowok itu melepas seatbelt yang melingkar di tubuh dan menyerongkan tubuhnya pada Aratha untuk memasangkan sabuk pengaman pada gadis yang menutup matanya ini.


Dari jarak satu jengkal ini membuat Arizona menatap wajah damai Aratha dengan lekat-lekat. Kulit putih yang cukup pucat ini menariknya untuk semakin mendekat ketika matanya menatap bibir merah muda alami Aratha yang tipis. Jika saja klakson motor di luar tak membuat bising, mungkin bibirnya dengan milik Aratha sudah bersentuhan.


Araja menganggu momennya.


Arizona kembali pada posisi duduknya dengan seatbelt yang udah terpasang. Cowok itu segera menjalankan mobilnya ke luar dari area Skyline School. Ia bisa melihat Araja mengikuti dari belakang mobil dengan motornya. Cowok itu kentara sekali bahwa mimik wajahnya begitu khawatir terjadi apa-apa pada Aratha.


Arizona menarik sudut bibirnya dan melirik Aratha yang terlelap di samping kemudi sebentar sebelum kembali berfokus pada jalanan. Gerak-gerik gadis di sebelahnya ini menyita perhatian dan ia paham lalu menyodorkan sebotol air mineral yang sudah ia buka tutupnya pada Aratha.


"Lo bisa 'kan minum sendiri?" tanya Arizona melirik Aratha yang dengan susah payah untuk segera minum.


"Bisa, kok." Aratha menjawabnya sebelum ia meneguk air di dalam botol sedikit lalu menyimpannya setelah ditutup agar tak tumpah. Ia kembali menerima roti yang disodorkan Arizona. Aratha menatap Arizona dengan kagum, meski badannya lesu gadis itu tetap memaksa untuk memakannya. Ia butuh energi.


"Lo makan aja. Gue nggak racunin, lho." Arizona tertawa hambar.


"Percaya gue," ucap Aratha tertawa pelan. Cewek itu melahap roti pemberian Arizona. Aratha tak henti-henti memerhatikan cowok di sampingnya yang serius menyetir. Gadis yang menyenderkan badannya pada kursi itu semakin dibuat suka saja dengan Arizona yang seperti ini, wajahnya yang serius seperti ini membuat Aratha jatuh hati berulang kali.


Aratha mengembuskan napasnya perlahan. Pikirannya menerawang ke depan mengenai hubungannya dengan Arizona. Gadis itu pikir sikap Arizona padanya cukup baik akhir-akhir ini. Aratha berpikir, mungkin saja cowok berbadan tegap ini sudah menyukainya atau bahkan mencintainya.


Aratha menggeleng melenyapkan pikiran yang bisa saja membuatnya patah hati di kemudian hari. Maka, Aratha hanya akan melakukan sesuatu hari ini. Apa yang dipikirkannya belum tentu terjadi di kemudian hari.


Arizona menepikan mobilnya ketika sampai di rumah Aratha. Sebelum turun, Aratha menoleh pada Arizona dan mengucapkan terima kasih telah mengantarkannya pulang.


Pintu mobil terbuka ketika Araja membukanya dari luar. Aratha segera turun dengan satu tangannya menyampir di bahu Araja.


"Lo nggak mau mampir dulu, Ar?" tawar Aratha setelah ke luar dari mobil dengan Araja di sampingnya.


"Nanti gue mampir, tapi bukan hari ini," jawab Arizona. "kalau gitu, gue pulang dulu, Ra. Lo jaga kesehatan." Kemudian, Arizona menutup kaca mobil dan memutar kemudi untuk pulang.


"Gue nggak yakin lo sakit kayak orang sekarat, Ra," tutur Araja merasa tak benar dengan wajah pasi dan tawa milik Aratha.


"Siapa yang bilang kalau gue sakit?" tanya Aratha. Gadia itu dengan semangat berdiri tegap di samping Araja. "gue sehat bahkan lebih sehat dari kemarin," ujar Aratha dengan percaya diri.


Araja mendelik mendengar Aratha berceloteh. "Idih, terus siapa yang bikin lo kekunci di kamar mandi sampe kayak orang yang sekarat, hah?" tanyanya emosi, tapi tidak membentak.


"Kalau gue tahu. Gue juga pasti masuk tv dan jadi topik utama dengan kasus pembunuhan paling sadis sedunia." Aratha tertawa bak nenek sihir yang akan merencanakan sesuatu yang jahat untuk membunuh tuan putri kerajaaan.


Araja bergidik ngeri dan kemudian cowok bersurai hitam itu lebih memilih meninggalkan Aratha di halaman rumah dan dirinya lebih memilih masuk ke rumahnya sendiri daripada menemani Aratha yang entah dimasuki hantu sejenis apa kali ini.


✖﹏✖


"Kamu pulang aja, Ra. Nggak usah kerja hari ini kalau kamu sakit." Kak Khody memberikan perhatiannya ketika salah satu pekerja di kafenya tampak tak sehat dengan bibir pucat tak seperti biasanya.


"Ratha sehat, kok, Kak. Jangan khawatir," ujar Aratha yang keras kepala karena sudah datang ke tempat kerjanya. Aratha meyakinkan Kak Khody dengan senyuman dan berkata, "Ratha nggak akan susahin, kok. Kak Khody tenang aja, oke."


Gadis itu segera berlalu setelah diberikan izin untuk bekerja hari ini. Aratha memang merasa sedikit pusing, tapi itu bukan hal yang perlu ia keluhkan. Maka, Aratha sudah siap dengan maskot kelinci putih dengan beberapa lembaran brosur yang mempromosikan kafe tempatnya bekerja.


Aratha sudah berdiri di depan kafe, teman-temannya yang lain sibuk melayani pengunjung yang hilir mudik datang. Aratha tersenyum di balik kostum yang menutupi wajahnya ketika matanya menangkap orang-orang asing yang tak pernah ia temui sebelumnya.


"Boleh minta foto, yah, Kak." Seseorang yang lebih muda dari Aratha tampak memeluk kelinci yang lebih besar dari ukuran tubuhnya. Sedangkan, laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah itu memotret mereka berdua dengan kamera ponsel.


Cowok itu memberikan ponselnya setelah memotret temannya. "Giliran gue, Naz. Pasti Juli suka sama kelinci kayak gini. Gara-gara kelinci mungkin Juli suka sama gue." Cowok itu tertawa sumbang dan segera berpose di sebelah Aratha yang mengacungkan tangannya.


"Lo tuh jangan berharap sama yang nggak pasti lo miliki. Ini gue yang dari tahun kemarin di depan lo, nggak pernah dilirik. Nganggur." Gadis yang memotret itu tampak merenggut kesal.


"Hati gue milih Juli daripada lo, Naz." Cowok itu mengambil ponselnya lalu berlari meninggalkan gadis yang tak lama kemudian menyusul. "Dasar lo, Raf," katanya sebal.


Aratha terkekeh pelan. Melihat mereka berdua mengingatkannya pada Araja yang sama-sama bersahabat. Hanya saja saat ini posisi Aratha persis seperti cowok tadi ---mengejar Arizona. Sedangkan posisi Araja sama seperti gadis tadi, hanya saja gadis itu menyukai cowok tadi. Sementara, Araja sendiri tak mungkin menyukai dirinya, tapi perlakuan Araja beberapa jam yang lalu membuatnya yakin bahwa cowok itu ---. Ah, tidak mungkin Araja menyukai dirinya. Tidak mungkin.


Waktu seakan cepat berlalu dan tak terasa jam kerja Aratha telah usai. Aratha segera bersiap pulang dengan sepedanya setelah berpamitan pada Kak Khody dan teman kerja lainnya. Aratha menggantungkan tali keresek pada stang sepeda, makanan pemberian Kak Khody sebelum pulang.


Gadis itu memegang kepalanya yang berdenyut sakit, ringisan kecil keluar dari bibirnya. Semenjak daritadi ia terus saja memaksa untuk bekerja meski kesehatannya sedikit terganggu. Tak mungkin juga Aratha meninggalkan pekerjaan yang berpengaruh pada kehidupannya.


Aratha segera turun dari sepeda setelah sampai di rumah. Langkahnya terhenti ketika matanya tak jelas menangkap sosok pemuda di samping rumah. Kepalanya saja terasa berputar disertai kakinya yang lemas ingin segera duduk.


"Lo habis dari mana, Ra?" tanyanya.


Pemandangan kaburnya memang menganggu bahwa yang bertanya adalah Araja. Gadis itu mencari alasan agar Araja tak curiga dan seolah melintas di benak ketika melihat kantong keresek di tangan. Lalu, Aratha hanya menjawab, "Nyari makan buat Saka."


"Lo 'kan kurang sehat, Ra, kenapa nggak nyuruh gue buat beliin aja." Araja terlihat tak suka.


"Gue mau mandiri, Ja." Aratha menjawab dengan lemas. Tangannya berpegangan dengan kuat pada knop pintu ketika dunia yang pijaki seolah berputar membuatnya ambruk seketika.


Araja yang melihat hal itu sontak segera berlari pada Aratha. Ia menepuk berulang kali pipi gadis yang tak sadarkan diri, cepat-cepat Araja membopong tubuh Aratha untuk masuk dan membaringkannya di sofa.