Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
17° | MUSTAHIL JADI JODOH



Gadis dengan seragam lengkapnya itu memutar knop pintu dan terkesiap begitu matanya melihat sosok tinggi yang masih terpejam dengan handuk tersampir di pundak serta wadah di tangannya.


"Araja?" tanyanya.


Araja yang mendengar namanya disebutkan membuka matanya meski sedikit dan kembali menutup setelah mengetahui siapa orang di depannya.


"Pasti gue masih mimpi," katanya serak. "salah ketuk rumah," gumamnya tak jelas meski Arizha mendengarnya samar.


Arizha segera mencekal pergelangan tangan Araja yang hendak berbalik. Meski tak lama kemudian dilepaskannya dengan gugup ketika Araja menagih ucapannya dengan mata setengah terbuka.


"Ini rumah Ratha. Kamu nggak salah rumah karena semalam aku menginap di sini." Arizha menjelaskan dengan pelan hingga cowok dengan wajah bantalnya itu menganggukan kepalanya perlahan.


Araja menguap dengan tangan menutupi mulutnya dan bertanya setelahnya, "Ratha mana?"


Arizha sedikit tersenyum kecut mendengarnya. Kemudian tersenyum ramah dan menjawab, "Ratha ada di atas siapin Saka buat sekolah."


"Oh, oke, oke." Araja mangut-mangut dengan mata terpejamnya. Cowok itu menguap lalu masuk begitu saja ke rumah setelah menjelaskan secara singkat tujuannya yang ternyata cowok itu numpang mandi sebab keran di rumahnya kembali rusak.


"Ra, gue ikut mandi." Araja berseru cukup keras ketika langkah kakinya yang malas menuju kamar mandi yang sudah sangat ia hafal.


"Lo kenapa nggak benerin dari kemarin, Ja. Panggil Kang Huto, kek." Aratha yang berada di lantai dua menyahuti dengan keras serta nada-nada gemas ingin menerkam siapa pun lawan bicaranya.


"Kang Huto ngambil cuti. Anaknya mau nikah," balas Araja yang kemarin dapat kabar dari Mamanya bahwa tukang kebun rumahnya mengambil cuti.


Aratha menuruni anak tangga dengan Saka digendongannya dengan baju khas anak Sekolah Dasar. "Wahh, beneran? Si Bang Krut anakanya Kang Huto itu mau nikah sama siapa?" Aratha bertanya dengan antusias. Namun, ia keheranan dan mengutarakannya, "masa iya, Bang Krut yang udah umuran bisa dapet jodoh juga."


"Jodoh mana ada yang tau." Araja menyahut malas dan segera masuk ke dalam kamar mandi dekat dapur.


"Iya, juga, sih. Bisa aja lo jadi jodoh gue." Aratha menganggukan kepalanya paham. "tapi, mustahil, sih, haha." Tawa Aratha bagaikan petir yang menyambar kepercayaan diri Araja yang baru saja dijunjung tinggi.


"Oke, Saka. Absen dulu, yah, Sayang." Aratha menurunkan adiknya di kursi meja makan. Ia mengacak poni adiknya dengan gemas. "alat tulis, buku pelajaran hari ini, tugas kemarin." Saka mengiyakan semua kata yang dilontarkan Aratha.


"Bekal sama air minum belum, Kakak." Saka dengan baiknya mengingatkan. Aratha sendiri langsung menyalakan kompor untuk memasak bekal Saka dan untuk sarapan pagi ini.


"Kamu sendiri udah diabsen, Ra?" tanya Arizha dengan jahil. Iseng. "hari ini kita susulan musikalisasi sama Pak Rama. Kamu udah buat puisinya?"


Seakan diingatkan. Aratha menyengir pada Arizha yang terkekeh di sebelah Saka. "Kemarin gue mau kerjain, tapi karena lo datang ke rumah gue. Jadi, gue nggak jadi ngerjain." Aratha membuat alasan klisenya.


"Ya udah nanti aku bantu bikin puisinya di kelas." Arizha memberikan keringanan. Ini juga dikarenakan olehnya. Sedangkan, Aratha langsung memeluk Arizha yang terkesiap atas ulahnya. Beribu terima kasih ia ucapkan dan pujian yang membust Arizha melayang terbang ia lontarkan.


"Lo masak banyak, nggak, Ra?" tanya Araja ketika cowok itu keluar dengan berpakaian. Rambutnya yang masih basah dan berantakan terlihat ditutupi handuk kecil di kepala.


"Lumayan," ujar Aratha. Kemudian kepanya ia tolehkan kepada Araja yang sudah memakai kemeja putih sekolahnya. Dengan galak, ia bertanya, "Apa?! Lo mau minta?!"


"Iya, lha. Mama pagi perginya, jadi Mama nggak sempet masak." Araja membalas dengan santai. Ia menyampirkan handuknya di punggung kursi setelah mengeringkan rambutnya yang masih berantakan. Mungkin bagi orang yang baru melihat Araja selesai mandi mungkin akan dibuat meleleh, sedang bagi Aratha melihat Araja seperti ini membuat Aratha gemas untuk menggunduli kepala cowok ini.


"Pagi, Saka Wiradhika." Araja menyapa bocah di hadapannya dengan mencubit pipi gembul Saka yang semakin melar. "dan pagi juga Arizha," sambungnya menatap Arizha yang tampak salah tingkah ketika ditatapnya.


"Sama gue nggak?!" Bagaikan istri yang ngambek sebab diabaikan suami yang mendapatkan istri baru, Aratha bertanya dengan sewot dan menyimpan satu piring menu sarapan di depan Araja dengan penuh penekanan.


"Pagi, Aratha Anandhika yang cantik dan ceria, tapi sedikit tidak waras." Araja memuji meski akhirnya sebuah ejekan.


"Makasih," kata Aratha dengan senyumnya.


"Itu bukan pujian." Araja mengelak.


"Cepetan, yah, makannya, Zha. Gue harus anterin Saka ke sekolah." Aratha agak pengertian pada Arizha dan mengabaikan Araja yang mencibir tanpa suara.


Usai sarapan. Aratha mengunci pintu dan mengajak Saka untuk segera naik pada jok sepedanya. Perihal Arizha, gadis itu menunggu Araja yang mengambil sepeda juga.


"Idih, lo emang kere, Ja. Isi bensin motor aja minta nyokap." Aratha mengejek Araja yang baru saja mengerem di sebelah sepedanya.


"Gue bisa isi bensin kalau kemarin lo nggak minta dibeliin mi. Dasar, nggak tau diri." Araja membalas dengan judes. Itu faktanya. Bukannya Aratha sadar diri dan meminta maaf, gadis itu kembali mencibir dengan dalih bahwa Araja yang sukarela membelikannya.


"Zha, lo dibonceng si Raja, yah." Sebelum mengayuh sepeda dengan kekuatan super secepat kilat, Aratha sempat memberitahukan pada Arizha lalu melesat pergi meninggalkan Arizha dengan pipi merah meronanya.


"Zha, ayo cepetan."


"Aku ... di mana?" Arizha bertanya dengan bingung. Pipinya terasa panas. Salah tingkah sendiri.


Perlahan sepeda yang dinaiki keduanya melaju. Arizha hanya diam saja untuk mengatur degup jantungnya yang berdebar cepat. Apalagi ketika tak sengaja matanya memandang Araja pada jarak sedekat ini. Pipinya panas saat ini juga.


"Bang Raja nyusul di belakang, Kak." Saka yang ada di belakang Aratha dan memeluk Kakaknya itu berseru setelah kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati Araja serta Arizha beberapa meter lagi menyusul sepeda yang ditumpanginya.


"Kakak nggak akan kalah dari Araja, Saka!" teriak Aratha di jalanan yang membuat beberapa pengguna jalan memerhatikan sekilas dan kembali pada aktivitas masing-masing.


Aratha semakin semangat mengayuh sepeda dengan kedua kakinya. Hingga tak terasa sampai juga di depan gerbang sekolah Saka yang ramai. Setelah mengingatkan Saka agar pulangnya langsunh mengerjakan tugas sekolah, Aratha kembali mengayuh sepedanya dan segera menyusul Araja juga Arizha yang melewati dirinya begitu saja.


"AWAS LO ARAJA! GUE NGGAK AKAN AMPUNI LO KALAU LO MENANG!" Aratha berteriak hingga meninju udara di atas kepala. Matanya yang menyipit memerhatikan sepeda Araja membuat ia semakin bersemangat mengayuh hingga bisa menyeimbangi Araja yang kembali memimpin.


Meski Aratha dengan semua semangat itu kalah untuk masuk gerbang Skyline School. Cewek itu tetap saja membawa sepedanya hingga memasuki gedung dan Araja ikut melakukan hal serupa.


"MINGGIR WOY MINGGIR!" teriak Aratha pada semua orang di koridor yang ia lalui. Gadis itu kemudian berhenti tepat di tangga gedung bagian selatan ---gedung jurusan IPA. "parkirin mobil gue, Mal." Bertikah so boosy pada Malik yang nongkrong di tangga dan dengan penuh penjiwaan ia seakan melemparkan kunci mobil pada cowok itu.


"Kalau si Bumbum ---sepeda Aratha--- sampe lecet, gue gebukin lo sampe mati, Mal," peringat Aratha dengan horor sebelum menghilang di anak tangga bersama dengan Arizha.


Araja yang juga membawa sepedanya masuk gedung dengan iseng membuat ricuh sekolah dengan bersepeda di koridor hingga berakhir ke lapangan bersama Malik yang ikut-ikutan membuat onar hingga bel berbunyi dan Bu Ladda memberikan hukuman pada keduanya.


Sementara di kelas Aratha, Pak Rama terlihat sudah siap mengajar. Beliau menyerukkan nama Aratha dan Arizha agar segera memenuhi nilai susulan.


"Gue belum bikin puisinya, Zha. Gimana, dong, gimana? Kalau sampai gue kena hukum lagi ya enggak apa. Kalau lo, ya, jangan sampai, lha." Aratha bergerak tak nyaman di tempat duduknya.


"Aku sudah bikin pas tadi kamu masak. Kamu tenang aja," balas Arizha tenang seraya menyodorkan satu lembar kertas yang berisi tulisan rapinya.


Jika tak sadar Pak Rama tak memerhatikan, mungkin Aratha sudah berteriak kencang dan memeluk Arizha senang.


"Lo memang penyelamat yang dikirim Tuhan buat gue," ujar Aratha menatap kertas yang disodorkan Arizha padanya.


"Arizha, Aratha, jika kalian masih belum siap, saya tidak akan mentoleransi lagi." Suara Pak Rama kembali terdengar. Aratha serta Arizha segera menghadap pada Pak Rama dan segera menuntaskan tugasnya.


Aratha berdeham beberapa kali untuk mengetes suara. Bukannya mendapatkan suara yang lebih bagus, gadis itu malah disoraki teman-temannya.


"Tenang-tenang, guys. Gue pasti baca." Dengan penuh percaya diri Aratha berlaku bagaikan artis ternama dan menenangkan para penggemar agar tak ricuh menunggunya mengeluarkan suara emasnya.


"Sudah, sudah. Arizha, Aratha, silakan mulai." Pak Rama mempersilakan yang tak lama kemudian alunan melodi dari keyboard yang Arizha mainkan mengalun perlahan.


Malam begitu sunyi


Rindu seakan menggerogoti hati


Sapa seakan hanya perantara yang tak nyata


Terlalu senyap untuk kudekap


"Kamu membaca puisi apa, Aratha?"


Aratha menoleh pada Pak Rama dengan bingung. Melodi yang dimainkan Arizha juga perlahan memudar.


"Baca puisi, lha, Pak." Aratha menyahut.


"Memangnya tema yang kamu angkat itu kemerdekaan?" tanya Pak Rama mengetes. "Aratha, tema dan intonasi kamu berbicara bertolak belakang," jelas Pak Rama prihatin.


Tawa teman sekelas mengundang perhatian Aratha. Meski agak malu, cewek itu tetap membela diri.


"Suara lo kek mau melawan penjajah."


"Suaranya gila sampe ngalahin speaker sekolah."


"Belanda langsung kabur kalo ada prajurit kayak lo, Ra."


Suara teman-temannya membuat Aratha mendelik.


**✖﹏✖


follow instagram : @ismimd_ // @katamd_ // @monthprojectseries.ofc**