Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
30° | BALAS DENDAM



10.28 p.m


Ketiga pemuda di salah satu kamar itu masih terjaga meski jam sudah menunjukkan waktu malam. Tidak, hanya Araja dan Malik saja yang terjaga sementara Kalvian sudah tertidur menguasai kasur dengan tidurnya yang tak bisa diam.


"Rumah si Ar sejauh itu?" tanya Araja menatap oayar persegi di depannya yabg menunjukkan jarak yang cukup jauh dari rumahnya.


"Mereka ke resto yang udah ditutup?" Malik bergumam ketika sudah memperbesar gambar pada layar. Matanya melirik pada Araja yang fokus pada layar. "Ratha pasti tau pelakunya, Ja. Gue yakin itu," katanya dengan pasti.


"Arizona pelakunya," seruan dari belakang membuat mereka berdua terlonjak. Sebenarnya hanya Malik saja yang terlonjak. "Gue kaget, *******!" maki Malik refleks ketika Kalvian tiba-tiba saja duduk di sampingnya.


Araja melirik Kalvian. "Kenapa lo nyimpulin kalau Ar pelakunya, Kal?" tanyanya meminta pendapat.


"Seperti yang dikatakan bang Malik, Ratha tau sendiri pelakunya. Gini, lha, Ja, kalau Ratha tau pelakunya dia pasti udah bisa tangkep sendiri, kan?" Kalvian menjelaskan sebagai pembukaan yang langsung diangguki kedua temannya.


"Buktinya sekarang Ratha nggak pernah nangkep pelaku teror, kan?" Sekali lagi, Araja dan Malik memgangguk kompak. Kalvian melanjutkan, "gue bisa aja langsung tangkep orangnya jika gue ada di posisi Ratha. Sedangkan, Ratha mau cari sesuatu sama si pelaku. Simpel."


"*****, otak kecil lo kepake ternyata." Malik menyenggol cowok di sisinya hinga terjengkang dan ia menertawakannya.


"Gue susul Ratha." Araja langsung berdiri dan mengambil kunci motor di nakas dekat televisi. Kalvian dan Malik ikut berdiri.


"Ini udah malem, Ja. Nyokap lo marah nanti." Kalvian memperingati sebentar ketika menyusul Araja yang sudah berada di depan ujung tangga.


"Gue nggak akan biarin Ratha disentuh, Ar, Kal. Lo tau dia berengsek!" Araja kembali melangkahkan kakinya disusul Kalvian yang manggut-manggut.


Malik merangkul Kalvian. "Temen lo sok berani, padahal cuma nembak aja nggak pernah berani." Malik menyunggingkan senyuman memerhatikan Araja yang sudah berada di atas motornya.


"Nyalinya gede, cuma sama Ratha aja ciut." Kalvian terkekeh menaggapi.


"Pake nih, Ja. Buat cari Ratha, resto ada tiga lantai dan lumayan gede. Gue tau tempat itu." Malik memberikan earphone tanpa kabelnya pada Araja yang langsung memasangkannya. Tak luput juga ia berikan pada Kalvian yang sudah duduk di boncengan Malik.


Kedua motor itu melaju di jalanan yang cukup lenggang dengan kendaraan yang hilir mudik. Araja yang memimpin mengikuti arahan yang diberitahukan Malik dari earphone yang terpasang di telinga.


✖﹏✖


Matanya mengedarkan pandangan yang buram dan menyesuaikan cahaya minim di ruangan yang terasa pengap hanya untuk menghirup udara yang sepertinya begitu kotor.


Aratha meringis sakit kala ia mencoba berdiri. Matanya menatap tangan dan kakinya yang dililit tali hingga ia kesusahan untuk berdiri. Pikirannya berputar pada kejadian sebelumnya. Seingatnya, Aratha tengah berada di mobil menuju rumah Arizona, tapi kenapa ia berakhir di tempat gelap nan kumuh seperti ini.


"Ar," panggilnya serak. Ia butuh minum. Aratha masih merasa lemas. Entah apa yang terjadi, ia masih tak paham jika ia sudah ada di sini dengan keadaan yang mengenaskan.


Peralahan, pelupuk matanya basah hingga buliran bening semakin bercucuran kala ucapan serak Aratha tak mendapatkan respon apa pun. Aratha rasa ia ketakutan ketika seseorang yang berdiri di pilar dengan cahaya redup menerangi sosoknya membuat Aratha semakin terisak. Pasalnya, suara gesekan benda tajam yang saling beradu membuat Aratha ingin bebas dari sini.


"Ar," panggilnya pelan untuk memastikan. Aratha masih menatap bayangan yang bertahan pada posisinya.


"Gue minta maaf, Ja. Plis, dateng." Aratha melirih dalam hati. Ia masih merasa bersalah, di kepalanya hanya terbayang wajah Araja yang beberapa hari yang lalu memarahinya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya ketika matanya melihat bayangan gelap itu mendekat dengan suara benda tajam yang bergesekan membuat Aratha berpikir bahwa ia tamat hari ini. Tidak, tidak, Aratha tak ingin mati sebab masih ada hal-hal yang perlu ia selesaikan. Ia tak mau jadi hantu penasaran.


"Ar, bantu gue." Mendapatkan Arizona yang mendekat membuat hati Aratha sedikit tenang. Ia memerhatikan Arizona yang tampak menatapnya dinging. "lo kenapa?" tanya gadis itu keheranan melihat tingkah Arizona yang hanya diam tak berminat membuka tali yang melilit tubuhnya.


"LO YANG KENAPA, ANJING!"


Aratha menahan napasnya ketika benda tajam tepat di hadapan wajahnya. Ia meneguk salivanya susah payah dan buliran bening kembali lolos dari pelupuk mata. Matanya susah payah untuk menatap Arizona yang menatapnya dingin bak ingin menerkam Aratha.


"Lo ... kenapa, Ar?" tanya Aratha dengan suara bergetar setelah Arizona menjauhkan pisau dari wajahnya.


"Gu --- gue nggak tau, Ar." Gadis itu menggeleng. "plis, gue mau pulang," lirihnya. Aratha sudah ketakutan setengah hidup.


"Nggak setelah gue balas perbuatan keji bokap lo sampe bikin adek gue mau bunuh diri."


"Itu bukan urusan gue, Ar. Gue sama sekali nggak tau." Aratha tak paham dengan pembicaraan Arizona. Tentu, Aratha semakin tak mengerti perihal adik Arizona. Ia tak pernah kenal adik Arizona dan ia hanya tau bahwa Arizona mempunyai adik perempuan. Hanya itu.


"Lo nggak usah pura-pura, Ratha." Ucapan Arizona yang terdengar lebih menyeramkan membuat Aratha semakin ketakutan. Ia terus merapalkan nama Araja di hatinya. Ia butuh cowok itu.


"Gue nggak nyangka lo kayak gini, Ar." Aratha tersendat-sendat. Gadis itu tak bisa menghentikkan tangisnya.


"Lo itu bodoh." Arizona mendorong kening Aratha ke belakang. Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aratha. Tangannya menarik dagu Aratha agar menatapnya. "bodoh udah percaya sama gue yang cuma jadiin lo mainan," sambungnya dengan senyum smirk dan mengempaskan dagu Aratha.


Aratha menahan tangisnya. Ia kecewa pada Arizona yang selama ini ia pikir tulus mencintainya juga. Namun, malah sebaliknya. Rasa sukanya bahkan tak dibalas sama sekali. Akhirnya, ia menanggung sakit sendiri. Sebenar-benarnya kecewa Aratha adalah dikhianati.


"Lo cuma main-main sama gue, Ar? Terus, selama ini lo ngapain deket sama gue?!" tanya Aratha memberontak. Ia ingin lepas dari kukungan tali yang mengikat semua pergerakannya. Mungkin, jika lepas Aratha sudah menendang Arizona sampai ke antartika.


"Ratha, Ratha. Lo tuh emang ****." Tak perlu diingatkan saja Aratha sudah tau bahwa dirinya ****. Malik sering mengatakannya.


"Asal lo tau, gue deketin lo cuma mau mastiin kalau lo adalah anak dari orang yang bikin adek gue depresi," jelas Arizona memutari kursi yang ditempati Aratha. "kotak hitam yang ada di depan rumah lo adalah perbuatan gue. Lo sama sekali nggak sadar itu." Arizona terkekeh meremehkan di belakang Aratha. Sementara, gadis itu membulatkan matanya lebar-lebar. Masih tak percaya jika Arizona adalah pelakunya.


"Gue nggak percaya lo," tukas Aratha masih tak mempercayainya.


Arizona menarik sudut bibirnya. Cowok itu duduk di bangku tepat di hadapan Aratha. Menatap remeh gadis di depannya. "Double A. Lo sadar nama gue punya inisial A dan ada lagi kejutan buat lo setelah gue lakuin sesuatu," sambungnya menyeramkan. Aratha bergidik ngeri melihatnya.


"Lo mau ngapain?" tanya Aratha waswas ketika Arizona kian mendekat dan menatapinya lamat-lamat. "Lakuin sesuatu seperti bokap lo lakuin ke adik gue, Ratha," katanya dengan senyum smirk yang membuat Arizona kian terlihat mengerikan dari pandangan Aratha.


"Lo nggak boleh lakuin itu ke gue. Itu urusan bokap gue bukan gue," lirih Aratha memohon. Ia ingin menjelaskan klasifikasi tentang mendiang sang ayah dengan hubungannya. Jelas, bahwa ia tak ada hubungannya dengan kasus sang ayah yang depsesi sebab ditinggalkan mendiang ibu hingga membuat beliau melakukan hal keji.


"Lo harus rasain apa yang adik gue rasain!" bentak Arizona berdiri dari duduknya dan menggebrak kursinya kuat-kuat. "lo pikir gue nggak menderita gara-gara bokap lo hah? Emangnya lo bisa kayak gue yang hidup tanpa orang tua? Gara-gara lo mereka ninggalin gue sama adik gue, berengsek!" Arizona menendang kursinya keras hingga membuat Aratha terperanjat karenanya.


"Gue nggak tau apa-apa, gue minta maaf." Aratha menjerit. Ia ingin segera ke luar dari tempat tak nyaman ini.


"Maaf lo nggak akan bales semua perbuatan bokap lo, Ratha. Gue nggak terima." Arizona tampak membuka tali yang melilit lengan Aratha. Cowok itu mendekatkan wajahnya pada telinga Aratha dan berbisik, "ayo, main."


"Lo jangan jadi cowok berengsek, Ar. Lo cowok baik."


"Berengsek?" ulang Arizona yang kemudian kembali tersenyum devil masih dengan tangannya bergerak membuka tali-tali yang terpasang. "gue emang berengsek dan lo nggak percaya meski si Araja udah bilang berkali-kali. Letak kebegoan lo itu gampangan," tandas Arizona.


"KARENA GUE PERCAYA LO BAIK, AR." Aratha berteriak dan mendorong dada Arizona ketika kedua tangannya terlepas. Kesempatanya untuk kabur.


"OMONGAN LO BASI!" Arizona mendorong Aratha kasar hingga gadis dengan wajah kusutnya itu tersungkur dan kembali berdiri kemudian mundur berulang kali ketika Arizona kian menipiskan jarak antara keduanya.


"Lo nggak usah sentuh gue, Ar," ujar Aratha ketika punggungnya menubruk tembok. Kedua tangannya mencoba menghalang jarak antara dirinya dengan Arizona.


"Gue mau balas dendam," terang Arizona menyingkirkan kedua tangan Aratha dengan mudah. Cewek di depannya ini terus memberontak kala tangannya memegang wajah Aratha.


"Lo diem atau lo mati di sini," ancam Arizona yang langsung membuat Aratha semakin takut kala sebilah pisau tertancap di sebelah kepalanya.


"Ja," gumamnya dalam hati. Dalam kepalanya hanya ada Araja yang terus berkeliaran di sana.


Aratha menatap Arizona yang kian mendekatkan wajah pada dirinya. Gadis itu memejamkan mata untuk merapalkan doa-doa untuk menjadi penyelamatnya, tetapi beberapa detik kemudian ia memelototkan matanya kala sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. Tak terasa, Aratha kembali mengucurkan air mata ketika Arizona memegang tengkuknya.