Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
12° | MEREKA BERDUA PACARAN



Araja dihantui bayang-bayang kejadian sewaktu pulang sekolah ketika di taman. Ia masih ingat ketika perempuan dari kelas lain datang menemui dirinya dan mengutarakan perasaannya saat itu juga disertai dengan kotak hadiah, tetapi tak Araja terima.


Saat itu juga Araja langsung menyuruh kedua temannya untuk datang dan membawanya untuk menjauh dari gadis satu angkatan tersebut. Setelah sampai di rumah saja, Araja nampak masih dihantui oleh gadis bernama Sella itu. Masih ingat pula dengan tawaran gadis itu untuk besok bertemu dengan jawaban Araja.


Ketika bulan berada dipuncaknya dan menyinari bumi dengan terang. Araja menutupi matanya dengan lengan dan mengembuskan napas gusar. Matanya kembali terbuka, ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus terulang. Astaga, kenapa ia sesulit ini hanya untuk menolak seorang gadis.


"Ke rumah Ratha aja, takut depresi," katanya beberapa detik kemudian. Ia langsung bangkit dari tidurnya di kasur untuk menuju rumah sebelah. Ketika menuruni anak tangga, ia melihat kedua orang tuanya tengah menonton acara telivisi.


"Mau ke mana, Ja?" tanya Papanya yang kala itu menoleh menatap Araja yang menghentikan langkah.


"Ke rumah Ratha," balasnya. "aku pergi, yah," sambungnya. Cowok itu ke luar dan masuk begitu saja ke rumah Aratha yang tak dikunci sebelum tidur. Ia tau betul kebiasaan di rumah Aratha.


Sesuai dugaan, gadis dengan mangkuk berisikan mi itu nampak anteng menonton film favoritnya tayang di televisi. Araja mengambil posisi duduk di samping Aratha yang nampak tak terusik dengan kehadirannya. Ah, ia malah diabaikan.


Menunggu iklan di televisi adalah cara satu-satunya untuk mengalihkan fokus Aratha. Gadis yang rambutnya berantakan ini jika diganggu ketika menonton pasti akan melempari sang peganggu dengan apa saja yang berada didekatnya. Jangan sampai, Araja kena lempar meja yang ada di hadapan Aratha.


Araja menimang-nimang kata yang akan ia ucapkan pada Aratha ketika ia bercerita tentang Sella yang menyatakan perasaan padanya. Ia mengacak rambutnya frustasi. Sella yang menghantui pikirannya tak membiarkan Araja berpikir tenang untuk sejenak.


"Ngapain lo ke sini, Ja?" tanya Aratha menyuapkan mi dan duduk tenang ketika iklan mengambil alih tayangan televisi.


Araja menggaruk tengkuknya dengan senyum aneh di wajah. Pemuda bersurai hitam itu mulai berkisah, "Ra, temen gue ada yang nembak dan terus ... dia nggak tau harus ngapain. Makanya dia nyuruh gue buat minta saran lo." Meski terbata dibeberapa kalimat. Araja tetap melanjutkan, ia langsung memalingkan wajah ketika gadis ini menatapnya.


Aratha tersenyum menyeringai mendengarnya. Dengan otak liciknya, gadis itu bertanya, "Siapa temen lo?" Aratha mengunyah mi dan dengan cepat menelannya. Ia kembali melanjutkan, "temen lo 'kan cuma si Malik sama Kalvian."


"Malik." Araja menjawab seceplosnya.


Aratha menganggukkan kepalanya dengan ujung sumpit mengetuk dagu seolah berpikir keras. "Setau gue ... Malik itu cowok yang pinter banget nembak atau nolak cewek. Jadi, nggak mungkin itu Malik," katanya menatap balik Araja yang sedaritadi memerhatikan.


"Kalvian kalau gitu," cetusnya. Ia menepuk bibirnya yang melafalkan nama dengan spontan.


"Kalvian pasti nggak mungkin deket sama banyak cewek karena dia sukanya tidur. Ya, bangun cuma buat makan atau main sama lo juga Malik. Jadi, nggak mungkin Kalvian yang minta saran gue," jelas Aratha panjang lebar. Gadis itu kembali menyuapkan minya.


Araja merutuki kebodohannya. Jika menyangkut perihal teman pasti Aratha tahu, karena temannya adalah teman Aratha juga. Jadi, tak mungkin ia memberikan alasan teman untuk hal ini. Mungkin temannya teman Malik bisa membantu. Tepat ketika ia melirik Aratha, ia memilih bungkam melihat Aratha menutup mulutnya.


"Huftt ...." Tawa Aratha siap meledak kapan saja. Lihat saja saat ini Aratha memegangi perutnya sendiri dan tangannya menepuk-nepuk Araja. "ASTAGA, LO NGGAK BISA BOHONG SAMA GUE, ARAJA!" Aratha kembali tertawa.


"Aduh, perut gue sakit," adunya dengan ringisan. Tangannya mengusap ujung mata yang berair.


"Coba, coba, cerita sama gue. Siapa yang nembak lo, Ja? Kelas sebelas atau kakel atau anak MOS juga? Terus, ceweknya dari kelas mana? IPA atau IPS? Ceweknya gimana, cantik nggak? Masih imut, nggak? Pinter, nggak? Anak eskul mana? Mama-Papa dia namanya siapa? Mamanya kerja apa? Papanya ke---" Pertanyaan panjang Aratha dipotong begitu saja oleh Araja yang membekap mulut cewek di hadapannya ini. Aratha mengembungkan kedua pipinya dengan bibirnya mengerucut layaknya bebek.


"Yang jelas dia anak IPA kelas sebelas. Cantik, sih, tapi---"


"Iya, gue tahu. Pasti cantikan gue," celetuk Aratha dengan penuh kepercayaan diri. Bahkan gadis itu menyibakkan rambutnya ke belakang dengan gaya angkuhnya. Lalu, keangkuhannya itu lenyap ketika tawanya kembeli menggema.


Araja memutar bola mata malas. Jelas malas sekali ketika Aratha terus saja menertawakan dirinya yang sama sekali tak lucu. Araja mencebik.


"Bantuin gue nolak Sella, dong, Ra!"


"Mau ngasih apa sama gue?" tanya Aratha setelah tawanya reda. "bantuin gue deket sama Ar aja, yah, Ja. Nanti gue bantuin lo nolak Sella," serunya.


Araja hanya bisa mendumel dalam hati. Meski begitu, ia mengiyakan tolongan Aratha yang selalu harus dibalas dengan bantuan juga.


"Lo pasti kenal Ar dari SMP dan lo tau dong apa kesukaan Ar?"


✖﹏✖


Siang ini di atap sekolah gedung IPA nampak sekali Araja dan Aratha berhadapan dengan gadis yang bernama Sella itu. Gadis dari kelas 2A1 itu nampak membawa cokelat yang dililit dengan pita berwarna merah.


"Jadi ... gimana Raja?" tanyanya malu-malu. Gadis itu nampak meremas kedua tangannya.


Araja tersenyum kaku. Ia menyenggol lengan Aratha yang ada di sampingnya berulang kali kala gadis ini terlihat pura-pura tak merasakan apa pun di lengannya. Araja ingin sekali langsung mencabik Aratha jika saja Sella tak ada di sini.


"Gini, lho, Sel. Raja itu nggak suka tipe cewek yang suka ngasih cokelat ataupun benda-benda romantis lainnya," ungkap Aratha. Ia mendekat ke arah Sella yang nampak semakin cemas. Aratha menyukai kegelisahan gadis ini. Dalam hati ia tertawa jahat bak plankton yang berhasil mencuri resep rahasia.


"Raja itu suka cewek yang rambutnya panjang." Aratha menyentuh rambut hitam Sella yang hanya sebatas bahu. "Raja juga nggak suka cewek yang sok manis karena dia sukanya cewek yang natural," sambungnya. Ia sudah kembali pada posisi semulanya ---di sebelah Araja yang hanya diam memerhatikan.


Aratha menggandeng lengan cowok di sampingnya. "Sorry, yah, Sel. Raja nggak suka sama lo," tuturnya santai. "karena Araja itu cowok gue," lanjutnya santai. Lengannya masih bergelayut di lengan Araja dengan mesra.


"Ka .... kalian pacaran?" Sella menunjuk Araja dan Aratha tak percaya. Tatapan matanya yang seakan ingin keluar dari tempatnya itu menyorot penuh pada Aratha dan Araja yang saling melemparkan senyum.


"Iya.  Apa perlu gue kasih buktinya?" Aratha memancing rasa penasaran gadis di hadapannya. Sella terlihat masih tak percaya.


Aratha menolehkan kepalanya pada Araja, ia mendongak menatap wajah cowok kebingungan ini. Ada senyum kecil di bibir sebelum ia berjingjit mendekatkan wajahnya pada Araja yang seakan membeku. Matanya memejam  ketika jaraknya hanya tinggal beberapa senti saja untuk bibir mereka bersentuhan.


"Gue nggak percaya, yah, Ja." Sella membantingkan cokelatnya dengan emosi. Gadis itu berlari ke ujung rooftop dan menghilang di balik pintu dan terdengar sekali teriakan Sella yang tak terima.


"BWAHAHAHA, DIA PERCAYA." Aratha yang sudah menjauh dari posisinya dengan Araja memegangi perutnya yang kesakitan. Ia merintih sakit dan sesekali mengusap sudut matanya yang berair. Walaupun begitu, Aratha masih saja tertawa puas. Sementara, Araja yang masih pada posisi kaku itu akhirnya menepuk jidat dan berjongkok frustasi karena sudah terpedaya untuk meminta bantuan Aratha.


"DIA PERCAYA KITA PACARAN, JA. ASTAGAA!" Aratha masih saja menertawakan itu. Araja mendecih, lebih baik ia kembali ke kelas saja dan memejamkan mata. Berharap ini semua hanya mimpi.


"ARAJA, LO BELUM BANTU GUE BIAR AR BISA MAKAN BARENG SAMA GUE, ARAJAA!" teriak Aratha ketika Araja baru saja menutup pintu atap sekolah. Aratha nampak sudah berada di sampingnya saat kakinya menuruni tangga. Astaga, anak ini cepet banget.


"AYO, NANTI KEBURU BEL." Aratha menarik pergelangan Araja untuk segera menuruni anak tangga secepat mungkin. Cowok tinggi itu hanya berdecak berulang kali, tapi ia hanya bisa pasrah saja untuk digusur ke mana pun Aratha akan membawanya.


"Tuh, Ar," kata Araja ketika punggung tegap yang diyakini orang yang dicari Aratha tengah berjalan di koridor kelas sebelas.


"Wah, pas banget." Aratha senang melihat mangsa yang ditunjuk Araja. "lo tunggu di sini, Ja. Biar gue yang beraksi." Aratha mengempaskan lengan Araja begitu saja. Kakinya bersiap berlari untuk menemui Arizona dan mengajak cowok itu makan siang di kantin nanti.


"Liat gue menaklukan hati, nih," perintah Aratha agar cowok yang saat ini menyender pada pembatas koridor. Aratha nampak berlari mengejar punggung tegap itu. Sedangkan, Araja menyembunyikan wajahnya ketika tak sengaja melihat Sella ke luar dari kelas. Cowok itu menghela napas ketika Sella tampak tak melihat kehadiran dirinya.


Araja nampak memerhatikan Aratha yang tengah menepuk pundak cowok itu. Ketika berbalik, Araja tertawa puas. Akhirnya, ia bisa membalas perbuatan gadis itu.


"ARAJAA, TUNGGU PEMBALASAN GUE," teriakan Aratha mampu membuat orang-orang di koridor kelas menutup telinganya. Aratha dibuat malu sebab cowok yang ditunjuk bukan Arizona melainkan anak kaku dari 2A1.


Terjadilah aksi kejar-kejaran antara keduanya.


✖﹏✖


instagram penulis : @ismimd_


instagram kata : @katamd_


instagram series : @monthprojectseries.ofc