
ar.zonaprimaputra
Ra, sorry gue nggak bisa balik bareng lo.
Gue lupa ada latihan hari ini.
Aratha membaca pesan masuk di instagramnya. Cepat-cepat ia mengetikkan balasan.
ratha.anandhika
Oh, gapapa, Ar.
Lain kali bisa gak?
Astaga. Aratha tak berpikiran seperti ini. Pikiran patrick yang masih betah berdiam diri seakan mengambil alih otaknya yang tak jauh berbeda. Aratha menatap ponselnya dengan gemuruh di dada yang semakin berpacu cepat kala nama Arizona terlihat tengah mengetik.
ar.zonaprimaputra
Boleh aja.
Mendapatkan pesan bak lampu hijau itu membuat hati Aratha lega. Akhirnya, ia tak mempermalukan dirinya lagi.
"Kamu chatting sama siapa?" Arizha yang duduk di sampingnya mencuri perhatian pada telepon genggam Aratha yang menampilkan roomchat gadis itu.
"Siapa hayoo?" Aratha benar-benar menganggap Arizha layaknya anak kecil. Aratha bersikap seolah dirinya akan memberikan permen sebagai hadiah ketika Arizha menebak.
"Orang yang bisa bikin kamu senyum, yah, Ra?" Arizha menduga dengan senyum manisnya. Matanya sampai terpejam karenanya. "em ... Araja?" tanyanya memastikan.
"Mana ada gue senyum-senyum gara-gara Araja. Yang ada dia bikin gue ngakak kayak kuntilanak." Aratha tertawa atas kalimatnya. Merasa lucu. Sementara, Arizha hanya tertawa geli menutupi mulutnya.
Arizha berujar, "Sama aja, dong, Ra. Sama-sama senyum."
"Kalau senyum itu gini," katanya seraya mempraktikan. "nah, kalau ini ketawa," sambungnya yang kemudian tertawa lepas yang berkepanjangan. Teman sekelas mereka berdua melirik sekilas ke meja belakang yang mereka tempati dan kembali pada aktivitasnya masing-masing.
"Oh ... Arizona yang bikin kamu senyum," celetuk Arizha setelah ekor matanya melirik nama pada layar ponsel milik Aratha.
"Ah, gitu, ah. Main curang lo. Nggak jadi gue kasih permen." Aratha mengacungkan permen tak kasat matanya dan memasukkannya pada loker meja. Seperti anak kecil, Aratha terlihat menggemaskan, pikir Arizha.
"Eh, lo kayaknya kenal sama Ar, Zha. Lo beneran kenal?" tanya Aratha tersadar kejadian beberapa hari lalu ketika tak sengaja melihat temannya dan Arizona bercakap tak jauh dari gerbang sekolah.
"Waktu itu kebetulan aku ada urusan klub sama Ar," jawab Arizha yang kemudian bertanya, "kenapa memangnya?"
"Gue pikir lo kenal. Jadi, lebih gampang buat gue deket sama Ar, hee." Aratha nyengir pada kalimatnya. Arizha hanya tersenyum menanggapi.
Tak lama kemudian bel khas piano fur elise terdengar di setiap penjuru kelas yang memiliki speaker. Aratha langsung merapikan bukunya dan mengucapkan berjumpa kembali pada Arizha yang masih membereskan peralatan menulisanya. Ketika dirinya berjalan melewati pintu belakang kelas, tasnya kembali ditarik ke belakang dan mendapati Araja yang memegang tasnya erat.
"NGAPAIN LO TARIK-TARIK TAS GUE?!" tanya Aratha penuh dengan kebencian. Tangannya membenarkan letak tasnya yang sempat berpindah. Mata cokelatnya menyorot tajam pada Araja yang berdecak sebal.
"Lo ikut gue latihan basket, Ra." Araja menggusur tas biru gadis ini untuk mengikuti langkah lebarnya menuju lapang basket.
"NGGAK MAU, ARAJA. GUE MAU REBAHAN DI RUMAH," jerit Aratha dengan jelas menolak ajakan cowok yang menarik Aratha yang memberontak ingin melarikan diri.
"Nggak boleh. Ini peringatan terakhir. Kalau nggak kumpul lo kena sanksi dari sekolah dan dapat surat panggilan ortu. Siapa yang mau datang ke sekolah?" Araja memberikan penjelasan. Tangannya masih menarik tas Aratha yang masih tak mau kalah. Cewek ini tak selemah perempuan lainnya yang langsung bisa Araja tarik begitu saja.
Aratha menjawab sewot, "MAMA LO, LHA."
"Idih, yang disuruh nyokap pasti gue juga. Mending sekarang lo kumpul sama gue, Ra. Ayo, jangan bandel." Araja tetap bersikukuh menari Aratha. Tak peduli Aratha yang menberontak, merengek, bahkan hingga menyita perhatian publik yang memerhatikan.
"NGGAK MAU, ARAJA. GUE NGGAK MAU." Aratha menjerit dengan tak karuan. Ia tak mau diajak berlatih basket dan menemui orang-orang yang pasti akan mengejeknya atas kejadian tempo hari bertanding dengan Arizona. Apalagi jika ia bertemu dengan pelatih basket, mungkin ia pasti mati kutu dan dimarahi habis-habisan oleh Pak Javier.
"Ya udah, ayo, latihan." Aratha tiba-tiba saja bersuara. Araja menghentikkan acaranya menggusur tas Aratha, kemudian ia berbalik untuk memerhatikan Aratha. Tangannya memegang erat lengan Aratha, jaga-jaga agar Aratha tidak menipunya. Cara untuk melarikan diri yang klise.
"Lo nggak nipu gue?" tanya Araja.
"Ngapain nipu. Lo aja pegang tangan gue kayak gini," judes Aratha. Ia menggoyangkan lengannya yang dipegang erat oleh Araja.
"Biar lo nggak kabur," balas Araja cepat.
Dari arah belakang tubuh Araja. Malik datang dan menyahuti, "Araja modus kali, Ra. Tendang aja tendang," titah Malik dengan semangat. Ingin sekali melihat temannya menderita gara-gara Aratha.
"Wuu, pedas." Kalvian menyahut tak jelas. Persis seperti iklan di televisi. Lalu, cowok itu melenggang pergi diikuti Malik. "kuy, Ja. Yang lain udah kumpul di bawah," ajaknya.
Araja masih saja memegang lengan Aratha meski kedua kakinya mengikuti kedua temannya dari belakang. Aratha di samping cowok tinggi ini hanya diam saja memerhatikan kelas yang hanya meninggalkan beberapa orang.
Mengingat pertanyaan simpel dari Araja yang menyangkut siapa yang datang ke sekolah jika ia tak ikut kegiatan di sekolah membuat mood dirinya sedikit mendung. Perasaan yang diselimuti kesedihan terasa nyata dibarengi dengan bayang-bayang Ibunya semasa masih hidup mengelilingi pikirannya.
"Lo kenapa?" bisik Araja di sebelahnya. Gurat di wajah Aratha tampak jelas bahwa gadis ini tengah sedih. "lo mikirin Ibu?" tanya Araja pelan. Ia harus hati-hati karena beliau adalah hal yang paling sensitif untuk ditanyakan pada Aratha.
"Gue pengen ketemu Ibu, Ja. Rindu," balas Aratha sama pelannya seperti Araja barusan.
"Nanti kita kunjungi Ibu," tutur Araja dan sebelah tangannya mengacak rambut Aratha gemas. Jarang sekali ia melakukannya dan semoga kali ini memberikan energi positif pada Aratha.
"Woy, jangan pacaran, dong. Yang jomlo iri, nih." Malik sepertinya tak bisa diam untuk tidak mengganggu. Namun, itu berefek baik pada Aratha yang langsung berteriak dan mengejar cowok yang memiliki mantan bejibun itu.
"Kenapa lo senyum-senyum?" Kalvian bertanya pada temannya yang tersenyum melihat kedua temannya yang sudah sampai lantai bawah dan menuju lapang hijau.
"Gue lebih suka liat Ratha gila-gilaan kayak gitu daripada murung kayak tadi," kata Araja.
"Iya dan yang gila itu cewek lo."
"Sahabat kali," sahut Araja membenarkan.
"Naif lo, Ja." Kalvian menyunggingkan senyumnya.
Araja segera berlari untuk mendekati Aratha dan Malik yang berhadapan dengan pelatihnya ---Javier. Segera mungkin ia menjelaskan bahwa ia berhasil membawa Aratha kembali pada eskul ini dengan bangga.
"Nanti saya latihan lagi, kok. Janji, saya bakal rajin kumpul." Aratha mdngacungkan tangannya sebagai janjinya.
"Bagus, tapi tolong lo buktiin dengan nyata," kata Bang Javier yang usianya masih sekitaran 25. Masih muda dan beliau juga alumni Skyline, bakatnya dalam bidang basket dapat diacungi jempol setelah melatih murid-muridnya dan kemenangannya hampir memenuhi lemari penghargaan Skyline School.
"Untuk yang belum ganti, silakan ganti dulu. Setelahnya kita baru pemanasan," titah Bang Javier pada semuanya. Begitu pula dengan Aratha, Araja, Malik, dan Kalvian yang bergegas menuju ruang ganti. Aratha sempat kena marah Araja karena memasuki ruang ganti laki-laki.
"Lari 10 keliling lapang basket. Habisnya kumpul buat diskusi bentar untuk pertandingan dipimpin sama Jeno. Gue mau ketemu Pak Kepala Sekolah dulu." Bang Javier pamit sebentar setelah meninggalkan perintah yang harus diambil alih oleh kapten basket ---Jeno.
"Mulai lari semuanya," perintah Jeno, sang Kapten Basket. Cowok kelas dua belas itu mendahului dan diikuti yang lain. Aratha ikut berlari sendiri karena sahabatnya belum juga datang. Cukup malu setelah sekian lama tak berkumpul dengan anak basket seperti ini dan Aratha masih ingat terakhir ia berkumpul ketika satu minggu sebelum ujian akhir semester.
"Oh, lo ikut basket?" Suara dari belakang Aratha terdengar. Kepalanya ia tolehkan ke samping dan mendapati Arizona dengan kaos biru basketnya yang bernomor punggung satu.
Aratha tersadar. Ia terlalu bodoh dan meninggalkan secuil info bagaimana Arizona ikut basket, tentu saja cowok itu pasti akan ikut eskul ini. Aratha tak menjawab pertanyaan Arizona sebelumnya. Ia memilih untuk bungkam sejenak meski hatinya tetap berdentum karena ia satu kegiatan dengan cowok ini. Ini peluang yang besar untuk semakin dekat.
"Lo ikut basket buat apa?" tanya Arizona begitu saja.
"Biar lo nyesel nolak gue dan bisa nerima gue yang bisa basket saat ini," celetuk Aratha refleks. Tak bisa menyembunyikan tujuan, memang.
"Terus, tantangan gue apa kabar?"
"Gue pasti bisa. Apa pun buat lo gua bisa lakuin." Aratha tak menyadati senyum penuh arti dari Arizona. Kemudian cowok itu berlari meninggalkan Aratha setelah mengatakan dia akan menunggu hasilnya.
Tak lama untuk lari sendiri, Araja datang.
"Ngomong apa lo sama dia?" tanya Araja sedikit ketus.
"Kenapa lo nggak bilang kalau Ar ikut basket juga? Kalau tau gini, gua bisa kumpul tiap hari juga." Aratha malah memarahi Araja karena tak memberitahunya.
Araja bertanya, "Apa untungnya buat gue?"
"Untung, lha. Kalau nggak, udah gue tau si Sella tentang hubungan gue sama lo." Aratha mengancam.
"Iya, lo pacar gue, Ratha."
✖﹏✖
instagram penulis : @ismimd_
instagram kata : @katamd_
instagram series : @monthprojectseries.ofc