
Sorry, ya, Zha. Gara-gara gue, lo kena hukum sama Pak Rama. Coba, kalo gue nggak ajak lo bolos tour Skyline. Pasti, deh, lo nggak akan kena hukum." Aratha merasa bersalah ketika dirinya mengelap-elap lantai kamar mandi.
Pak Rama memberikan hukuman pada Aratha dan Arizha untuk membersihkan toilet karena kedua perempuan itu tak ikut mengerjakan tugas kelompok musikalisasi. Hany yang waktu itu ditumpangi nama Aratha dan Arizha memang menuliskannya, tetapi di samping mereka terdapat tulisan 'tidak mengerjakan'. Maka, berujung seperti ini mereka, membersihkan toilet perempuan lantai satu sampai tiga. Baru saja keduanya ada di toilet lantai dua.
"Nggap pa-pa, kok, Ra. Karena kamu aku lumayan hafal sama tempat-tempat di Skyline. Mungkin nanti bisa nyusul untuk musikalisasinya." Arizha tersenyum menanggapi. Kemudian, gadis itu mendapatkan pelukan erat Aratha yang tak lama terurai.
"Ah, lo pengertian banget, sih, Zha. Pasti cowok yang bakal jadi cowok lo beruntung banget punya cewek sepengertian lo." Aratha nyengir menatap Arizha yang hanya tersenyum.
"Kamu juga pasti dapat cowok yang pengertian," balasnya.
Aratha merenggut, tangannya menyilang di dada dan membiarkan lap yang ia pegang jatuh begitu saja. "Apaan! Yang ada cowok-cowok yang gue deketin pada sensi sama gue. Cuma Araja yang rela jadi amuk masa gue, haha." Setelahnya, Aratha tertawa nyaring.
Arizha nampak terkekeh lalu tersenyum kecil. "Araja baik banget, ya, Ra."
"Baik-baik gitu orangnya nyebelin tau, Zha. Masa dia bangunin gue pake ikan yang dijiin sumpelan mulut gue, sih." Aratha kembali kesal. Ia kembali mengambil lap di lantai lalu mengepelnya dengan penuh penjiwaan emosi. Arizha terkekeh melihat tingkah laku temannya yang ekspresif.
"Eh, hati-hati. Lantainya baru dipel." Arizha memperingati ketika kedua siswi yang masuk ke dalam kamar mandi. Siswi itu nampak tersenyum. Sedangkan, Aratha mendengkus karena lantainya kembali kotor diinjaki keduanya.
Aratha memilih membersihkan bilik toilet sehingga memunggungi kedua siswi tersebut yang tengah bercermin.
"Di kantin ada yang berantem, yah." Perempuan yang membenarkan rambut itu berkata.
Perempuan di sebelahnya menyahut, "Iya, tuh, Ca. Kalau nggak salah si Araja sama murid baru yang tadi pagi main basket, deh."
"Ribut kenapa?"
"Gara-gara cewek katanya. Si Araja emosi gara-gara temennya dijelek-jelekkin. Kalau nggak salah orangnya yang tadi pagi main basket sama si murid baru itu." Kakak kelas itu nampak tersenyum smirk setelah rambutnya tertata rapi.
"Oh, si cewek **** itu. Araja **** banget, sih, mau temenan sama cewek kayak gitu." Keduanya terdengar tertawa meledek, lalu keduanya melenggang pergi meninggalkan toilet.
Aratha yang melihat kedua kakak kelasnya ke luar itu langsung membanting lap pel yang ia pegangi tak tentu arah. Arizha nampak terkejut, lalu ia melihat Aratha yang berjalan ke luar dari toilet. Ia segera mengikuti.
Bahu Aratha naik turun dengan napas menggebu di sepanjang koridor yang mulai padat ketika bel istirahat berdering. Ia menyingkirkan orang-orang yang menghalangi. Secepatnya, ia harus memberikan pelajaran pada Araja.
Ketika di kantin utama lantai dua, matanya menyapu seleruh kantin. Sedetik kemudian alisnya menaut ketika melihat seisi kantin yang nampak tak ada keributan sedikit pun. Hanya ramai dengan berbagai siswa yang mengantre di stand-stand makanan.
"Nggak ada Raja atau Ar di sini, Zha," katanya pada Arizha yang baru saja datang dengan napas ngos-ngosan di ambang pintu kaca kantin.
Setelah napasnya lumayan teratur. Arizha menduga. "Mungkin di ruang BK."
"Oke, kita ke sana." Aratha hendak mengambil langkah jika saja gadis di belakangnya ini tak menarik pergelangan tangannya.
"Sebentar, Ra. Aku haus," keluh Arizha.
Aratha mendengkus. "Ah, lo, mah." Meski sebal. Perempuan yang rambutnya tergerai itu menarik lengan Arizha masuk ke kantin. "ya udah, ayo," ajaknya semangat.
Arizha tak habis pikir dengan pola pikir Aratha yang berubah-ubah. Arizha menurut ketika tangannya dituntun menunju stand minuman, lalu ia dibiarkan mengantre sementara gadis yang menariknya itu memesan mi cup di stand lain. Arizha hanya menggelengkan kepalanya.
✖﹏✖
Aratha menekan sapu tangan pada lebam di wajah temannya. Tak peduli ringisan serta aduhan dari Araja. Ia kesal mengetahui fakta bahwa Araja di skorsing dua hari karena berkelahi dengan Arizona. Namun, ia bukan mengkhawatirkan kondisi Araja. Pikirannya lebih mengkhawatirkan dirinya yang nanti tak bisa berangkat atau pulang sekolah secara gratis. Apalagi traktiran makan dari Araja.
"LO NURUT DONG KALAU BUNDA LO BILANG JANGAN BERANTEM DI SEKOLAH. DI HUTAN AJA SANA BIAR LO NGGAK DAPAT SKORSING KAYAK GINI." Aratha nyerocos panjang. Tangannya kembali menekan lebam berwarna ungu kebiruan di jidat Araja yang meringis di bangkar.
"APALAGI SEKARANG LIBATIN GUE YANG MESTI OBATIN LUKA MEMAR DI WAJAH JELEK LO! GUE OGAH, NIH!" Aratha mencibir. Tangannya
"Meski ogah-ogah, lo tetep aja obatin gue," dengkus Araja mendecih.
"KARENA BUNDA LO, GUE LAKUIN KAYAK GINI. BUNDANYA KHAWATIR, LONYA MALAH BAR-BAR DI SEKOLAH," geram Aratha yang mendorong jidat cowok ini.
Araja menatap wajah Aratha yang terlihat serius mengobati luka di wajahnya. "Gue berantem gara-gara lo, Ra."
"GUE NGGAK MINTA LO BERANTEM, JA!" sentak Aratha dengan cepat. Sorot matanya seakan menghipnotis mata Araja yang tak lama kemudian memalingkan wajahnya yang hanya beberapa jengkal dari wajah Aratha.
"Gue berantem karena kemauan diri gue sendiri," kata Araja memperjelas.
"KENAPA?" Aratha bertanya dengan nyolot. Gadis itu sama sekali tak bisa tenang. Ia memegang wajah Araja agar menatapnya.
Araja diam saja menatap gadis ini pada jarak satu jengkal saja. "Gue nggak suka lo dijelek-jelekin." Araja serius mengatakannya. Sedangkan, Aratha berdecak dan mendorong wajah Araja ke belakang. "Ja, gue nggak suka alasan lo berantem gara-gara gue," katanya yang mengambil plester di meja tak jauh dari tempatnya.
"Udah gue bilang, Ra. Gue berantem karena kemauan gue sendiri." Araja masih keukeuh pada perkataannya.
Araja menghela napas dengan kepala menunduk. "Faktanya, lo selalu nggak suka gue, Ra."
"GUE EMANG NGGAK SUKA SIKAP-SIKAP JELEK LO. GUE PALING NGGAK SUKA ALASAN YANG LO BUAT DEMI GUE." Aratha menekankan. Kemudian gadis itu pergi meninggalkan Araja di UKS sendirian.
Araja mengangkat bahunya lalu tertawa entah apa maksud dari tawanya. Kemudian ia lebih memilih menidurkan badannya di bangkar dan langsung memejamkan matanya. Ia masih ingat bagaimana Arizona menjelek-jelekkan Aratha di samping meja kantin yang tengah ditempati. Bagaimana cowok itu tertawa meledek Aratha yang seolah Arizona tau semuanya.
Araja mendecih memikirkannya. Matanya terbuka ketika decitan pintu terdengar indra pendengarannya. Ternyata, Kalvian dan Malik yang datang dengan makanan di tangan.
Araja menyender pada bangkar dan bersila. Malik duduk di bangkar yang ditempati dirinya, sedanhkan Kalvian memilih rebahan di bangkar lain. "Wah, lo pada perhatian banget sama gue." Araja ingin mengambil makanan di tangan malik, tapi cowok itu menjauhkan makanan miliknya.
"Idih, mana ada gue kasih ke lo, kampret!" Malik berbuat pelit. Cowok itu mana mau berbagi, mendingan ia membuat perutnya kenyang dibandingkan membuat perut orang lain kenyang sebelum dirinya.
"Lapar, dong, gue, Mal. Lo nggak mau gitu berbela sungkawa sama anak ganteng kayak gue." Araja semelas mungkin. Astaga, kenapa Araja mengemis kelaparan seperti ini.
Malik maju, menyelidiki bagian mana yang katanya ganteng itu. "Sebelah mana yang ganteng?" tanyanya dengan alis naik-turun dimainkan.
"Nih, nih." Araja berlagak menunjukkan bagian terganteng di wajahnya pada Malik yang mendekat. Malik malah menamparnya.
"Alah, masih gantengan gue. Muka bonyok kayak gitu mana ganteng," sombong Malik. Cowok itu memakan makanan miliknya santai. Ia tak peduli melihat Araja yang mendengkus dan mencebik.
"Nggak ganteng, tapi nambah keren." Araja juga bisa sombong pada Malik yang sok sultan.
Malik mencibir, "Idih, najis."
"Ratha yang obatin lo, Ja?" tanya Malik seraya mengunyah makanannya. Cowok itu masih pelit saja, tak ada niat untuk menawarkan pada Araja.
"Tumben banget si Ratha bisa obatin lo tanpa nambahin lebam di muka lo, Ja." Kalvian menimbrungi percakapan kedua temannya meski matanya terpejam. Tawa Malik mendominasi ruangan.
"Lo apain si Ratha, Ja?" Malik bertanya.
"Lo pasti tau 'kan Ratha nggak suka gue berantem gara-gara dia. Dia ngambek sama gue kayaknya, tuh," balas Araja sok cuek.
"Pantesan, tadi ketemu mukanya minta dipoles." Kalvian menyahut lagi.
"Macem-macem lo, Kal." Araja menggeram menatap Kalvian yang terlihat santai-santai saja.
"Iye, tau Abang tuh cintanya sama Ratha. Mana mau sama Eneng yang bulukan kayak gini."
"Najis lo, Nyet!" Malik menyambut perkataan Kalvian dengan sewot.
Ketukan di pintu menghentikkan aktivitas ketiga pemuda ganteng di dalam UKS. Kemudian, nampaklah Arizha yang dengan malu-malu masuk ke dalam. Ada senyum canggung di wajahnya.
"Emm, Raja." Arizha bersuara pelan.
"Iya, lo kenapa, Zha?" Araja bersuara. Ia merasa bingung dengan Arizha yang nampak kikuk seperti ini.
"Aku ... bawa makanan. Ini untuk kamu." Arizha memberikan sekantong keresek yang sedaritadi disembunyikannya dibalik punggung. "dari Ratha. Katanya kamu harus makan, nanti kalau nggak makan dia nggak akan biarin kamu masuk ke rumahnya," jelas Arizha meski terbata.
Araja mengangguk dan mengambil keresek yang diberikan Arizha padanya. "Kenapa harus lo yang kasih, Zha? Tapi, makasih udah ke sini," ucapnya senang.
"Em ... kamu cepat sembuh, ya, Raja. Aku duluan." Arizha pamit dan kembali menutup pintu UKS. Sementara, Araja membuka keresek dengan beberapa makanan itu. Tangannya mengambil catatan yang ada di sana. Tulisan ceker ayam milik Aratha membuatnya geli.
AWAS AJA KALO LO NGGAK MAKAN! GUE NGGAK AKAN MAAFIN LO, NIH! DAN LO HARUS TRAKTIR GUE MAKAN MI DI WARUNG TUMAN, TUH. INI DUIT SAKU GUE JANGAN HABIS SIA-SIA!
Araja menggelengkan kepala membaca tulisan dengan huruf besar swmua itu. Tak hanya bicara saja yang selalu nyolot, aksaranya juga seperti ini.
"Lo jangan baperin anak orang, Ja. Ditembak, ****** 'kan lo!" Perkataan Malik mengundang tanda tanya di benak Araja.
"Sampe nggak bisa tidur segala," sahut Kalvian geli.
"Siapa yang lo pada maksud?"
"Arizha. Gerak-geriknya bikin gue yakin kalau dia suka sama lo."
"Iya, deh, pakar cinta udah bersabda, Ja." Kalvian mengejek Malik yang baru saja mengutarakan pendapatnya.
✖﹏✖
Follow Instagram : @ismimd_ // @katamd_ // @monthprojectseries.ofc