
"Anjirr, siapa sih yang nulis beginian?" Malik melemparkan kertas hitam yang baru saja ia baca ke atas kasur yang terdapat Kalvian tengah tengkurap. "Emosi gue, nih," katanya menyenderkan punggungnya pada kasur.
"Ratha sembunyiin ini semua dari lo?" Kalvian bertanya ketika cowok itu membolak-balikkan kertas. Matanya menyorot pada Araja yang baru saja duduk di sampingnya.
"Lo tau dia sembunyiin ini semua, gimana caranya?" Malik ikut bertanya.
"Gue ke rumah Ratha buat nganterin kue bikinan nyokap," katanya yang langsung dipotong Malik dengan pertanyaan, "Tumben nyokap lo bikin kue. Ada acara apaan?"
"Nggak ada acara, sih. Cuma mau ngunjungin nenek sama kakek doang."
"Ilih, gimana, gimana, di sana?" Kalvian bertanya dengan kikikan gelinya. Pasalnya, kakek dan nenek Araja sangat mencintai kebersihan dan pasti akan melarang Araja menyentuh apa pun. Maka, Araja hanya menanggapi dengan decakan malas. "Lo pasti tau."
"Lanjutin jawaban dari pertanyaan gue, Ja."
"Lo ngomong udah kayak Najwa Sihab," celetuk Kalvian. Cowok yang dihakimi hanya cuek saja meminta penjelasan pada Araja.
"Gue nemu kotak ini di depan rumah." Araja mengcungkan kotak yang ia pegangi. "gue pernah nanya, katanya kotak itu paket dari kampungnya," sambungnya.
"*****, sejak kapan si Ratha punya orang kampung?" tanya Kalvian heboh hingga memukul-mukul bahu Araja.
Malik mengangguk. "Iya, juga, sih. Lo **** nggak sadar dari awal." Malik menepuk kepala Araja.
"Gue baru disadarin kemarin," balas Araja cuek dan menyingkirkan tangan Kalvian yang masih menggebuki dirinya.
"Gue harus ngapain nih?" Kalvian membeo.
"Nyari tersangka ****," judes Malik melemparkan guling yang ada di depannya.
"Gue mending nyari jodoh, lha." Kalvian berseloroh. Ia menatap Malik. "Ya, nggak, Mal?"
"Wehh, bener banget. Kuy, lha." Malik malah ikut-ikutan. Sedangkan, Araja menepuk jidatnya sendiri. Sadar bahwa hanya ia yang waras di sini.
"Kalm dong, Bang Raja. Gue udah siapin buat cari tau siapa yang neror jodoh lo." Malik menyunggingkan senyumannya membuat kedua manusia yang ada di atas kasur itu menatapnya meminta penjelasan. "sini gue tunjukin," ucap Malik yang kemudian mengambil laptop dari tasnya.
"Lo ngapain bawa laptop?" tanya Kalvian. Cowok itu menongolkan kepalanya di bahu kanan Malik di bawah kasur.
"Lacak jodoh si Araja. Nih, lo berdua pake. Takut-takut ngilang di muka bumi." Malik melemparkan dua gelang pada kedua temannya di belakang.
Kalvian melihat gelang hitam di tangannya. "Buat apaan?"
"Buat masak, Kal. Masak daging lo," jelas Malik sewot. Menahan amarahnya pada cowok uang banyak cincong ini.
"Dalam rangka apaan?" tanya Araja. Tumben banget si pelit yang cuma ridho uangnya habis gara-gara cewek ini memberikan sesuatu seperti ini.
"Dalih hari persahabatan dan gue kasih juga ke Ratha." Malik menjelaskan. "nih, nih, posisi si Ratha." Malik menunjuk-nunjuk layar yang sudah ia otak-atik hingga menampilkan posisi Aratha di daerah mana.
"Makam?" ucap mereka bertiga keheranan. Mereka saling padang yang kemudian tertawa karenanya.
"Pasti dia ngunjukin bokap-nyokapnya," ujar Araja setelah menghentikkan tawanya. "berarti gelang yang lo kasih ada alat palacaknya, dong, Mal?" tanya Araja memastikan.
"Yoi, gelang mahal, nih. Ganti sini, ganti." Malik ternyata masih pelit. "nih, denger-denger. Gue juga taruh penyadap suara di gelang khusus punya Ratha. Tadinya gue mau pakein sama si Jeni yang mencurigakan." Sedikit curhat, cowok itu berdecak malas.
"Berarti bisa denger suara Ratha, dong, Mal?" Kalvian bertanya yang langsung mendapatkan anggukan dari pemilik nama. "wihh, lo keren kagak ngajak-ngajak."
"Ngapain ngajak lo yang punya otak di ibu jempol, hah?" ketus Malik menelempeng kepala Kalvian.
"Mana, gue mau denger?" Araja meminta pembuktian. Tukang php kayak Malik jangan dulu dipercaya jika belum ada bukti nyata. Hati-hati yah para kaum hawa.
"Den, Raja, dipanggil sama Nyonya buat makan. Diajak temen-temennya juga, Den." Bang Krut tampak bersuara di ambang pintu setelah diketuk dan mendapatkan persetujuan dari sang pemilik kamar.
"Nanti aja, deh, Mal. Ke bawah dulu aja, nanti kena amuk Mama gue." Araja mengajak kedua sahabatnya untuk ikut makan di bawah. Dirinya sudah di ambang pintu menghampiri Bang Krut yang masih berdiri di sana. Sebelum Bang Krut diberi kata oke dari Araja, pasti asisten rumah itu tak akan pergi jika belum diperintah.
"Bang, ajak Saka ke sini, gih." Araja meminta bantuan Bang Krut.
"Bukannya ada Non Ratha, Den?"
"Ratha belum pulang. Ajak Saka ke sini aja, Bang." Araja menjelaskan.
"Oke. Saya permisi, Den. Cepet ke bawah, yah, nanti Nyonya marah." Sebelum meninggalkan anak dari majikannya, Bang Krut mengingatkan sebentar.
Araja menggerakkan kepalanya untuk kembali melihat kedua temannya yang sudah saling adu toyor menghampiri dirinya. Ia segera menghindar untuk tidak terkena imbas kedua temannya yang senang sekali cari ribut.
"Lama nggak ketemu, Mal? Ke mana aja?" Pertanyaan Mama Araja menyambut keriganya.
"Kalvian nggak ditanya, Tan?" Kalvian menyahuti menatap wanita paruh baya di depannya.
"Kamu sering ketemu, Tante. Kemarin 'kan baru ketemu di rumah sakit." Mama Araja tampak terkekeh.
"Lo ke rumah sakit ngapain? Kenapa nggak sekalian ke rumah sakit jiwa aja."
"Kemarin Kalvi bawa cewek seumuran Kalvian yang tangannya pake gips," jelas Mama Araja membuat Kalvian uring-uringan untuk tidak membeberkan semua yang terjadi kemarin malam.
"Wuhh, sapa nih yang bisa curi-curi hati abang Kalvi?" Malik menggoda cowok yang seakan menulikan telinga.
✖﹏✖
Gadis dengan mata sembabnya itu mengambil kotak hitam di depan pintu rumah ketika ia baru saja pulang setelah mencurahkan keluhannya pada sang ibu dan ayahnya. Perempuan itu membuka dan membaca kertas hitam di dalamnya.
Hari ini yang terakhir dan berkesan untukmu.
--- double A
Hari ini terakhir bagi hidupmu.
--- double A
Tak terasa cairan bening di pelupuk mata Aratha perlahan mengalir setelah membacanya. Jujur sekali bahwa dirinya lelah terus dipermainkan oleh hal-hal seperti yang tak ia sukai. Tangannya melemparkan asal kotak dan surat yang ia pegangi dengan sembarang arah.
Aratha membuka pintu dan menutupnya dengan kasar. Langkah kakinya tergesa untuk menuju kamarnya di lantai atas dan lagi-lagi gadis itu menutupnya kasar. Aratha mendudukkan dirinya di atas kursi belajar dan menekuk kedua lututnya.
"Sial, kalau lo mau gue mati. Bunuh aja sekalian," racau Aratha menyingkirkan semua barang di meja hingga membuat suara pecahan kaca. Aratha tak peduli sebab ia sedang merasa di bawah kendali otaknya.
"Lo itu pengecut yang cuma berani di belakang doang." Aratha kembali meracau. Ia melemparkan apa pun yang ada di dekatnya. Aratha tak peduli jika kamarnya bak kapal pecah dan saat ini ia hanya merasa perlu tenang dengan semua liku hidupnya yang semakin berat. Ia merasa pada titik paling rendah di hidupnya, putus asa.
"Lo pikir lo keren dengan neror gue, hah?!" tanyanya seolah orang yang selama ini menerornya itu ada di depannya. Aratha meluruhkan tubuhnya menyender pada kasur dan menekuk kedua kakinya yang kemudian ia gunakan untuk menelungkupkan wajahnya di sana.
"Ma, Yah, ketemu Mama di sana kayaknya seru," lirihnya di sela-sela tangis yang kian merintih. Di dalam kepala Aratha hanya tergiang kedua orang tuanya yang mendekap dirinya supaya tenang. Hanya saja, Aratha kembali meracau ketika suara sang ibu seakan menolaknya datang. Ilusi itu seakan terasa nyata.
"Ratha itu nyusahin Araja sama keluarganya, Ma. Ratha nggak bisa memenuhi to do list yang mama sama ayah kasih. Nggak senuanya Aratha bisa lakuin," gumam Aratha. Merasa nama Araja disebutkan, gadis itu melirik sebentar jendela yang tertutup gorden menghalangi aksen yang leluasa untuk melihat Araja di kamar sebelahnya.
Ia melihat tangannya yang terdapat gelang pemberian dari Malik. Aratha sedikit mengukir senyuman, memikirkan Malik yang ternyata diam-diam mengakui dirinya itu membuat Aratha terkekeh. Secercah alasan untuk Aratha bangkit tenyata masih ada. Sahabat-sahabatnya masih ada.
Aratha mengusap bekas air mata di wajah ketika ponsel di sakunya berdenting. Aratha membuka ponselnya dan mendapati notif dari Araja dan Arizona.
Rajanya Hamba : Lo baik-baik aja?
Rajanya Hamba : Gue ke rumah lo, yah?
Aratha menyunggingkan senyuman membacanya. Ternyata meski Araja memerahinya kemarin, cowok itu masih menanyakan dirinya baik-baik saja.
Ratha Syantik : nggak usah. Gue baik, kok :)
Rajanya Hamba : beneran? Gue nggak suka lo bohong, Ra.
Ratha Syantik : beneran, beneran. Nggak percayaan banget sih lo.
Lalu, bacaan read terlihat. Cowok itu tak terlihat typing, padahal Aratha menunggu pesan selanjutnya. Aratha segera membuka room chat dirinya dengan Arizona.
Ar tamvan : gue jemput lo, Ra. Gue mau lo ketemu ortu gue.
Sebenarnya Aratha malas bepergian. Ia ingin sendiri, tapi jari lentiknya seakan tak menyetujui dan memilih untuk pergi bersiap. Semoga saja pacarnya itu bisa menghibur dirinya.
Tak lama kemudian klakson mobil terdengar setelah Aratha bersiap dengan bajunya yang tidak mungkin membuat Arizona malu di depan kedua orang tuanya. Gadis itu segera masuk ke dalam mobil dan memberikan senyuman kecilnya ketika Arizona tampak tersenyum.
"Damn. Ratha pergi," kata Araja melihat mobil merah Arizona melaju meninggalkan rumah Aratha. Araja kembali pada posisinya bersila di samping Malik yang sibuk dengan laptopnya.
"Lo sih kagak peka. Cewek kalau bilang nggak pa-pa pasti ada apa-apa." Malik mencibir. Matanya memandang layar persegi depannya yang menunjukkan arah ke mana Aratha pergi serta percakapan Aratha dan Arizona terdengar jelas di telinga.
"Tuh, lo denger 'kan, Ja?" Malik bersuara.
"Nggak ada yang ngomong, Mal," sahut Araja.
"Itu artinya si Ratha nggak baik-baik aja. Ngitung aja pinter, kode cewek kagak ngarti," ketus Malik menjitak kepala sahabatnya.
Mereka berdua membahas hal-hal yang tak faedah meski hasilnya hanya Malik yang sok menasehati harus peka pada perempuan. Sedangkan, Kalvian sudah tepar di kasur. Ketika kedua temannya mengawasi, cowok itu sesuka hati tertidur setelah menghabiskan makanan sendirian.