
Gadis dengan kompresan di dahinya itu menggerang kesakitan kala kepalanya terasa sakit dirasa. Aratha mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk pada indra penglihatannya. Ini sudah pagi dengan cuaca di luar sana yang cukup cerah.
Aratha bergerak untuk menyandar pada kepala kasurnya. Sedikit kekusahan ia dibantu oleh Araja yang baru saja datang ke kamar dengan mangkuk berisikan bubur yang sudah ia siapkan. Aratha mengucapkan terima kasih dan sedikit meringis ketika kepalanya masih berdenyut meski tak separah kemarin malam.
"Lo makan buburnya, nanti nyokap gue bakal periksa lo," tutur Araja yang duduk di bibir kasur yang langsung menghadap pada Aratha. "mau gue suapin?" tanya Araja kala gadis yang hanya diam menatapnya ia tak bergerak ingin mengambil mangkuk bubur di atas nakas.
Cowok dengan balutan kemeja putih yang dikeluarkan itu bergerak mengambil mangkuk dan mengambil satu sendok bubur yang langsung ia tiupi sebab masih mengeluarkan asap panas. Aratha memerhatikan, terasa geli melihat Araja merawatnya seperti ini.
Aratha mengunyah buburnya dengan pelan setelah disuapi Araja. Gadis itu kembali menatap Araja dengan teliti, ada sesuatu yang ia cari di wajah cowok yang memiliki alis tebal ini. Tak menemukan yang ia cari, Aratha menelan buburnya dengan susah payah.
"Jam berapa, Ja?" tanya Aratha masih dengan suara serak. Araja kembali menyuapkan bubur pada Aratha. Cowok itu kembali menyiapkan suapan selanjutnya.
"Jam tujuh kurang limabelas menit," jawab Araja. Cowok itu menyuapkan bubur pada Aratha melihat Aratha yang menganga ingin berbicara. Ia tau gelagat Aratha. "telen dulu, baru lo bisa ngomong," titah Araja dengan usil melihat Aratha yang mencebik sebal atas ulahnya.
Aratha tersadar sesuatu. "Gue pasti dihukum sama bu Ladda kalau telat, nih." Aratha hendak turun dari ranjangnya, tetapi ia memegangi kepala yang tiba-tiba saja membuatnya meringis sakit. "kepala gue nyeri, Ja," adunya. Aratha kembali pada posisi semula.
"Lo nggak perlu sekolah hari ini. Lo istirahat aja di rumah," papar Araja.
"Lo ... telat datang ke sekolah, dong, gara-gara ngurusin gue?" Aratha sedikit tak tenang akan hal itu.
"Bukan gara-gara lo, gue aja yang mau," jelas Araja. "lagian kalau telat udah biasa buat gue," lanjutnya yang terkesan santai.
"Iyalah, lo 'kan bar-bar." Aratha menyeletuk dengan kekehan kecilnya. Ia belum bisa tertawa sekencang nenek sihir yang bisa membuat retak tanah.
"Kayak lo nggak bar-bar aja," bela Araja menuding Aratha yang bahkan suka bolos pelajaran.
Aratha mendelik mendengarnya yang kemudian ia berdalih, "Gue 'kan cuma bolos pelajaran bukan telat masuk sekolah."
"Sama aja," cibir Araja. Cowok itu kembali menyuapkan Aratha bubur hingga sisa separuh dari mangkuk. Ia menyimpannya di nakas dan memberikan minum pada Aratha dengan telaten.
Tak lama kemudian, Mama Araja datang dengan setelan jas putih layaknya dokter pada umumnya. Wanita paruh baya itu menyapa Aratha dengan senyum menawannya. Garis bibirnya mirip sekali dengan Araja, anaknya. Mama Araja duduk di tepi kasur setelah Araja menyingkir dan berdiri memerhatikan Mama dan sahabatnya itu.
Mama Araja yang berprofesi sebagai dokter itu memeriksa keadaan Aratha dengan alat kedokterannya. "Keadaan kamu semakin baik daripada semalaman yang demam. Mungkin ini berkat Araja yang rawat kamu semalam sampai ketiduran di sini." Mama Araja tertawa pelan dan melirik anaknya dan Aratha secara bergantian.
Melihat kedua remaja itu hanya saling tatap membuat Mama Araja gemas dan kembali memusatkan perhatiannya pada Aratha. "Kamu jika lelah, istirahat saja, Ra. Jangan memaksakan seperti kemarin malam hingga demam tinggi. Jangan membuat Tante khawatir, apalagi Araja yang nggak tenang liat kondisi kamu kemarin."
"Apaan, sih, Ma." Araja menyahut risi. Mamanya itu malah membocorkan apa yang semalaman ia lakukan. Iya, Araja memang tak bisa diam mendapati Aratha tak kunjung bangun dari tidurnya dengan suhu tubuh yang tinggi.
"Araja berangkat sekolah aja, Ma." Cowok itu menyampirkan tasnya pada sebelah bahu dan menyalami punggung tangan Mamanya. Cowok itu menarik sudut bibir dan menepuk puncak kepala Aratha. "Cepet sembuh lo. Nggak usah nyusahin gue," katanya yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Mama dan Aratha di kamar.
"Nanti anaknya Kang Huto ke sini buat jaga kamu. Kalau ada apa-apa panggil aja dia. Tante pergi dulu ke rumah sakit. Kamu cepat sembuh, biar bisa main lagi sama Araja."
Setelah kepergian Mama Araja. Aratha memikirkan kalimat wanita paruh baya yang terlontar menyangkut Araja yang terjaga semalaman. Memikirnya membuat Aratha tersenyum geli. Araja manis sekali.
✖﹏✖
"Lo ... dateng, Ar? Gue nggak mimpi?" tanya Aratha menepuk pipinya dengan kedua tangan dan mengucek matanya bahwa cowok yang tengah berjalan mendekatinya hanyalah ilusi semata. Namun, sosoknya seakan terasa lebih nyata ketika cowok itu memegang pipinya yang seketika seperti kepiting rebus.
"Gue dateng dan sekali lagi lo nggak mimpi," ujar Arizona masih dengan tangannya memegang pipi Aratha yang bersemu merah. Arizona mengangkat bingkisan buah dan menyimpannya di nakas. "gue bawa buah, lo makan, yah," ucapnya.
"Makasih, Ar." Aratha tersenyum setelah beberapa detik terdiam tak menjawab. Ia mempersilakan Arizona duduk dengan kursi belajarnya. Aratha masih tidak bisa mempekerjakan otaknya dengan benar untuk berbicara seperti pada Arizona yang membuatnya seperti saat ini. Gara-gara tangan Arizona, sih.
Arizona menarik sudut bibirnya dan menatap Aratha teduh yang kemudian ia berkata, "Ra, maafin gue."
"Atas semua sikap jelek gue sama lo. Gue selama ini ngerasa nggak baik sama lo. Maafin gue, yah, Ra."
"Lo cukup baik, kok. Santuy aja," jawab Aratha tenang. Gadis itu mengupas kulit jeruk yang ia ambil di nakas.
"Sini biar gue kupasin." Arizona mengambil jeruk di tangan Aratha dan mengupasnya untuk gadis itu. Aratha hanya diam saja memerhatikan dan memakan jeruknya setelah dikupas oleh Arizona.
"Lo udah mendingan?" tanya cowok bersurai cokelat itu. Aratha mengangguk semangat, sakit beberapa jam lalu sudah tak dirasa.
"Gue udah sehat wal'afiat. Udah bisa karokean lagi, makan mi lagi, terus bisa main basket lagi biar jadi pacar lo." Aratha tersenyum lebar. Sudah bukan menjadi rahasia lagi jika Arizona mengetahui hal ini yang pasti sudah berulang kali cowok itu dengar.
"Lo nggak perlu main basket buat jadi cewek gue." Arizona berbicara yang tak dapat dikoneksikan dengan cepat oleh Aratha yang mendengarnya. Gadis itu kicep mendengar Arizona berbicara yang membuatnya terbang setinggi mungkin setelah paham beberapa detik kemudian.
"Gue mau lo jadi cewek gue, tapi lo mau 'kan jadi ... cewek gue?" tanya Arizona yang membuat dada Aratha terasa dihimpit hingga gadis itu menghirup oksigen sebanyak mungkin.
Aratha menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, "Mau banget." Senyum lebarnya tampak kentara di wajah hingga memeluk Arizona sebab terlampau senang. Mata beriris cokelatnya tak sengaja melihat cowok bersurai hitam menatapnya di ambang pintu.
Arizona mengurai pelukannya. Ia tersenyum pada Aratha yang juga melakukan hal yang sama. Cowok berahang tegas itu mengalihkan perhatiannya ke arah pintu dan mendapati Araja yang melangkah mendekat.
"Lo gimana, Ra?" tanya Araja menyender pada meja belajar Aratha. Cowok itu mengalihkan pandangan pada Arizona yang menatapnya. Araja mengedikkan bahu tak peduli.
"Gimana apanya?" tanya Aratha.
"Kondisi lo," kata Araja.
"Gue udah baik. Gue udah bisa loncat-loncat dan juga masak tadi sama Bang Krut, diajarin masak mi resep baru dari kampungnya, lho Ja. Nanti lo cobain masakan gue di bawah, yah." Aratha bercerita. Gadis itu bamgkit dari tidurnya untuk menunu lantai bawah. "Ar juga cobain makasan gue, ya," katanya lalu menarik lengan kedua cowok tersebut untuk mengikutinya.
Aratha memberikan dua piring mi di hadapan kedua cowok yang duduk silih berdampingan. Aratha duduk di hadapan mereka berdua, menatap keduanya yang sama-sama menyuapkan mi pada dirinya masing-masing.
Aratha tersenyum melihat Arizona yang makan. Dirinya masih tak menyangka bahwa hari ini Arizona menembaknya dan ia masih tak percaya bahwa cowok yang selalu ia kagumi itu adalah pacarnya saat ini juga. Ini terasa begitu cepat untuk dekat.
"Ra, lo ikut gue nonton basket, yuk."Arizona menawarkan ajakan pada Aratha yang langsung menyetujui dengan anggukan semangatnya. Namun, Araja menyahut menolak.
"Lo masih butuh istirahat, Ratha." Ada penegasan di kalimat yang Araja lontarkan. Cowok itu harus dituruti saat itu juga.
"Gue udah sehat, kok, Ja. Gue mau nonton basket, pasti seru." Aratha membujuk sahabatnya agar mengizinkan dirinya pergi dengan Arizona.
"Nanti kalau nyokap gue udah balik dan cek kondisi lo. Lo boleh pergi," jelas Araja datar. Cowok itu sudah berhenti makan dan berdiri dari duduknya.
"Mama lo 'kan pasti malem datengnya, Ja. Nanti kalau gue ketinggalan nonton basketnya gimana?" Aratha bertanya dengan melas.
Araja menatap Aratha sebentar. "Masih ada lain kali bareng gue," katanya.
"Ja, gue pengen nontonnya hari ini bareng Ar." Aratha merengek.
Araja mendengkus kasar. "Terserah lo, lha, Ra. Gue cape, mau balik aja." Cowok itu melenggang pergi dengan tasnya yang sudah tersampir di sebelah bahu dan menutup pintu utama.
Arizona yang sedaritadi diam akhirnya bersuara, "Perginya, jadi?" tanya Arizona.
Aratha cukup diam sebentar lalu menjawab, "Jadi, dong."