
2A6 alias XI IPA 6 yang dikenal rusuh dengan murid-muridnya yang abstrak itu tak ada guru yang masuk pada dua jam terakhir. Beberapa siswa ada yang main kejar-kejaran di kelas sampai main salto di depan kelas. Bagaikan bioskop, anak-anak perempuan nampak menonton dengan snack di masinh-masing meja.
Tampak lain dengan di belakang kelas. Di mana cowok yang selalu bertiga itu menggelar karpet di lantai dengan laptop pinjeman tapi maksa yang menayangkan film aksi di layar. Sementara, ketiga cowok itu rebahan dengan bantal yang dibawa Kalvian dari UKS ke kelasnya.
"Ini makanannya," ucap gadis culun yang pintar menggambar di kelasnya. Gadis itu menyimpan keresek di hadapan ketiga cowok yang langsung memgambilnya dan membukanya.
Araja merogoh kertas biru satu lembar di saku kemeja putih yang tak terbalutkan jas, lalu menyodorkannya pada Ilona yang masih berdiri di bangku belakangnya. "Nih, Ilona, duit lo gue ganti," kata Araja karena teman-temannya tampak tak acuh untuk mengganti uang gadis dari panti asuhan itu.
Ilona menggeleng pelan. "Nggak usah, Araja. Makasih," katanya lembut. Lalu, gadis itu berlalu dan duduk di kursi belakang dekat kacanya setelah Araja mengucapkan terima kasih.
Araja merapalkan syukur sebab uangnya selamat dan kembali dimasukkan kembali uang tersebut ke saku baju. Selanjutnya, cowok itu mengambil satu bungkus snack dan memakannya setelah terbuka. Kalvian dan Malik ikut mencomoti miliknya, padahal kedua cowok itu sudah mendapatkan jatahnya masing-masing.
"RAJAA, HAMBA BUTUH BANTUANMU, RAJA. YUHUU, RAJA. HAMBA MENCARIMU."
Araja menepuk jidatnya mendengar suara tak asing masuk ke indra pendengaran. Pemuda yang tengkurap di karpet itu mendengkus melihat sosok gadis yang sudah berdiam diri di sampingnya. Matanya melirik layar laptop yang menayangkan adegan berkelahi.
"Ayo, latih gue, Ja." Aratha menarik lengan Araja. Cowok itu memberontak untuk minta dilepaskan.
"Males, ah, Ra. Gue lagi nonton, nih." Araja menunjuk-nunjuk laptop. Kalvian dan Malik anteng saja seperti tak terusik. Araja menyingkirkan lengan Aratha dari tangannya. Ia memilih tak peduli saja ada Aratha di sisinya, nanti gadis itu juga akan diam.
Aratha mendengkus kasar, bujukannya tak dipedulikan oleh Araja yang anteng-anteng saja menonton. Sebab malas kembali ke kelas dan menemani Arizha berlatih di auditorium, maka Aratha memilih ikut tengkurap di sisi Araja dan ikut menonton film yang diputar.
"******," seru Aratha ketika melihat tokoh yang dikiranya jahat itu terbanting ke tanah oleh si tokoh utama. "hajar aja hajar sampe ******. Mati aja sekalian biar edan." Aratha tertawa menang.
Araja, Kalvian, dan Malik menoleh berbarengan pada Aratha yang langsung nyengir ditatap seperti itu. Araja mengisyaratkan Aratha agar diam ketika menonton dengan mata. Karena kodrat Aratha tak peka membuat Araja gemas untuk tidak menoyor kepala Aratha.
"Lo diem kalo nonton, jangan berisik. Nanti gue usir lo kalau nggak diem-diem," ancam Araja yang dengan patuhnya Aratha menganggukkan kepalanya dan bertingkah seakan menutup mulutnya seperti resleting.
Film yang terputar seakan menyirnakan waktu secara perlahan. Araja, Kalvian, Malik, dan juga Aratha yang masih tak membuka resleting bibirnya masih damai untuk menonton yang beberapa menit lagi akan berakhir. Namun, Aratha segera berdiri ketika dirasa ingin pergi ke kamar kecil.
"Mau ke mana?" tanya Araja tanpa menoleh pada Aratha yang sudah berdiri merapikan sedikit roknya yang kusut.
"Oh." Araja menyahut datar. Cowok itu kembali menatap layar setelah Aratha menghilang dari pintu belakang kelasnya.
Aratha melangkah menyusuri lorong kelas yang beberapa siswa IPA memilih nonkrong di depan kelas masing-masing ketika guru-guru mengadakan rapat mendadak dengan adanya kegiatan yang akan digelar beberapa minggu ke depan. Mendapatkan jam kosong adalah surga dunia bagi murid-murid bertipe seperti Aratha. Meski jam kosong, di beberapa kelas diberi tugas oleh guru masing-masing.
Aratha menuruni anak tangga untuk menuju lantai bawah di mana toilet gedung IPA ada di sana. Di tangga juga tak ayal untuk menemui anak-anak IPA yang bar-bar melebihi anak IPS dan masalahnya mereka yang berjejer di tangga main tiktok membuat Aratha mau tak mau menubruk mereka satu-satu.
Ketika hendak berbelok di ujung tangga dari arah berlawanan seorang perempuan dengan buku di dekapan memanggil nama Aratha hingga gadis itu memabalikkan badan dan menemukan Arizha yang menghampiri dengan senyumnya.
"Kamu mau ke mana, Ra?" tanya Arizha ketika tepat ada di hadapan temannya itu.
"Mau ke toilet, nih," balas Aratha singkat yang kemudian bertanya, "lo udah latihannya bareng yang lain?"
"Wihh, keren lo, keren. Nanti kalau menang bagi gue, tapi gue minta snack aja, deh. Snack yang lomba-lomba gitu 'kan pada enak-enak." Aratha membasahi atas bibirnya karena di dalam pikirannya terbayang kue enak ketika di perlombaan seperti di perlombaan Saka ketika masih Tadika.
"Kamu ikut lomba aja kalau gitu," cetus Arizha dengan senyum yang membuat matanya ikut memejam.
"Mustahil atuh, Zha. Otak gue nggak ada isinya buat apa ikut lomba. Yang ada gue langsung gagal dibabak penyelisihan. Yang ada juga guru yang daftarin gue yang nanggung malu. Kalau gue sih nggak malu, santuy aja." Aratha berceloteh dengan senang. Seusai kalimat yang diucapkan selalu merasa lucu bagi Aratha yang langsung tertawa.
"Aduh, gue gila kali, yah." Aratha bermonolog."astaga, Zha. Gue kebelet, nih, gue duluan, yah. Papay." Aratha segera berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya berpijak. Sementara, Arizha terkekeh hambar sebelum matanya melihat Aratha menghilang di tikungan. Arizha menarik sebelah sudut bibirnya.
Aratha membasuh tangannya ketika masih di bilik kamar mandi dengan air. Dirinya memutar kunci di knop lalu membukannya. Aratha kembali memutar knop pintu ketika pintu tak kunjung terbuka meski berulang kali ia mencobanya.
"Ini nggak lucu. Buka, dong, gue mau ke luar." Aratha berteriak meski di luaran sana tak balik bersuara. Kemudian, gadis dengan kemeja putih sekolahnya itu menggedor pintu dan sama sekali tak mendapatkan respon apa pun.
Aratha semakin panik saja ketika bel pertanda pulang sudah berdering nyaring di setiap penjuru sekolah. Dengan tak tenang ia merogoh saku baju untuk mengambil ponsel, lalu Aratha merutuki dirinya sendiri bahwa gadis berambut panjang itu meninggalkan ponselnya di loker meja.
Setelah sepuluh menit berlalu tak ada satupun orang yang membukakan pintu bahkan untuk membalas perkataannya yang seperti angin lalu saja. Seakan percuma ia menghabiskan tenaga dengan sia-sia, tak membuahkan hasil apa pun. Ia lemas dan terduduk di lantai yang lembab oleh air. Kepalanya ia telungkupkan di atas lipatan tangan yang bertumpu pada kedua kakinya yang ditekuk.
Aratha menangis memikirkan hal-hal yang akan menjadi kemungkinan mengerikan terjadi padanya. Aratha tak mau terkurung semalaman di tempat seperti ini, jika ia boleh menawar maka Aratha memilih terkurung di istana saja dengan banyaknya mi. Namun, di tempat lembab seperti ini tak ada mi. Aratha tau itu.
Aratha menjerit ketika lampu tiba-tiba saja padam. Astaga, Aratha ingin ke luar dari sini secepat mungkin. Jika tenaga Aratha masih banyak, mungkin Aratha sudah mendobrak pintu berkali-kali hingga bisa membuatnya ke luar dari tempat seperti ini. Aratha tak mau bertemu dengan makhluk-makhluk tak kasat mata yang bisa saja menampakkan dirinya di depan Aratha saat itu juga.
✖﹏✖
Pemuda bersurai cokelat itu mencari sumber suara dering ponsel yang ia telepon dan ternyata ia menemukan benda pipih itu di loker meja. Kemudian, ia memasukkannya pada saku celana dan kembali ke luar dari kelas Aratha yang sudah tak terdapat penghuni kelasnya.
"Lo ke mana, sih, Ra?" gumamnya. Mata hitamnya menatap sekeliling sekolah yang hanya terdapat beberapa murid yang mengadakan kegiatan setelah pulang sekolah. Tak mendapati Aratha di koridor atau lapangan membuat cowok itu berpikiran untuk ke kamar mandi teringat ketika gadis heboh itu berpamitan ketika menonton film di kelas.
Araja cepat-cepat berlari menuju lantai bawah ke kamar mandi perempuan. Namun, langkahnya terhenti ketika mendapati cowok yang tak asing berdiri di tembok pembatas kamar mandi perempuan dan laki-laki.
"Lo ngapain di sini?" tanya Araja sedikit emosi. Cowok yang diperhatikannya tampak menunjuk kamar mandi laki-laki dan menjawab, "gue mau ke kamar mandi dan lo mau ngapain juga di sini?" Arizona balas bertanya setelah jawaban Araja terjawab.
"Ke kamar mandi juga," jawab Araja yang kemudian masuk mendahului Arizona yang masih membantu di tempatnya. Araja mendumel dalam hati mengapa juga ia berbohong pada Arizona, padahal Arizona bukan siapa-siapa Aratha. Hanya sebatas target pencapaian Aratha saja. Hanya itu dan dengan kepercayaan diri, ia ke luar dari kamar mandi setelah membasuh wajah dan dengan tergesa masuk ke kamar mandi.
"Lo ngapain di kamar mandi cewek?" Arizona ternyata membuntuti.
"Ini bukan urusan lo," cetus Araja. Cowok itu memanggil nama Aratha yang tak menjawab panggilannya. Anak perempuan yang ada di kamar mandi sontak menjerit ketika kedua cowok yang banyak dibincangkan rakyat sekolah itu masuk ke kamar mandi perempuan. Araja tak mempedulikannya karena prioritasnya saat ini adalah Aratha. Tentu saja Araja khawatir.
"Lo juga nyari Ratha, Ja? Padahal gue daritadi di sini dan nanya cewek katanya nggak ada Ratha," tutur Arizona di belakang Araja.
Araja melayangkan satu hantaman keras pada rahang Arizona yang saat itu juga langsung tersungkur karenanya. "Pengecut lo," maki Araja. "kalau lo tau Ratha ada di sini, kenapa lo nggak samperin langsung aja?" Araja emosi. Dia tak henti-henti membuka bilik kamar mandi yang tak terkunci dan berhenti di satu bilik yang susah untuk ia buka.
Araja menatap tak bedsahabat pada Arizona. "Lo jangan sesekali mainin Aratha, Ar," peringatnya. "gue akan kasih pelajaran ke lo jika lo berbuat itu sama Ratha," sambungnya penuh peringatan.