Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
16° | TO DO LIST ARATHA



To do list from Ibu :


✔ Selalu beribadah dan doakan Ayah-Ibu


✔ Selalu ceria dan terlihat bahagia


✔ Jangan terlalu banyak bersedih dan mengeluh


✔ Lakukan apa yang kamu suka


✔ Belajar memasak dan buat Saka senang


Belajar mandiri dan jangan bergantung terus pada keluarga Araja


Cari pasangan yang bisa bikin kamu bahagia dan menerima kamu apa adanya


Aratha memandang tulisan dicatatan yang sering ia bawa. Peninggalan dari Ibunya masih belum terlaksana semua. Tinggal dua dan ia akan melakukannya sebisa mungkin. Matanya beralih memandang gundukan tanah yang agak basah setelah disirami air dan bunga olehnya.


Aratha mengerjapkan mata ketika tangis dalam diamnya tak dapat dibendung. Agak terisak mengingat masa lampau ketika keluarganya masih utuh dan begitu bahagia. Tangan Araja yang mengelus pundak Aratha semakin membuat gadis ini tak bisa berhenti menangis.


Pilu seakan berkabung dan berkumpul menjadi satu. Goresan luka yang tertutup seakan mencari celah untuk masuk. Kesedihan seakan kembali memeluknya. Hanya di sini, Aratha bisa menangis dan mengeluh pada Ibu dan Ayahnya yang tak dapat dilihat.


"Hanya dua lagi yang belum Ratha lakukan, Bu," katanya serak. Tenggorokannya serasa tercekat. Araja masih mencoba menguatkan. Hatinya cukup teriris melihat teman dekatnya seperti ini. Sudah ia bilang bahwa Araja lebih suka melihat Aratha berbuat aneh daripada keadaannya seperti ini.


Aratha mengelap pipinya yang basah dan hidungnya yang mengeluarkan ingus. "Ratha masih suka repotin Raja, Bu. Rasanya seneng ketika Raja kesusahan gara-gara Ratha, tapi Ratha nggak repotin Mama-Papa Raja, kok, Bu." Aratha menceritakan semaunya. Agak terkekeh dan kemudian kembali berucap, "sama anaknya aja udah cukup." Kepalanya sedikit tertoleh pada Araja yang menyunggingkan senyumnya.


"Anak Tante emang repotin." Araja juga mengadu dan mengacak rambut panjang Aratha gemas.


"Satu lagi untuk pasangan, sih kayaknya Ratha masih bingung, Bu. Masih kecil." Aratha seolah masih kecil. Araja di sampingnya memutar bola mata malas dan berkata penuh kesinisan pada sahabatnya. "Kecil pala lo. Kemaren ngapain sok-sokan mau cium gue."


Aratha tertawa kecil untuk merendam sedihnya yang tak harus berkepanjangan. Ibunya tak suka. "Itu yang namanya akting pura-pura," belanya.


"Raja nggak berubah, lho, Bu. Ibu inget nggak, sih pas waktu Araja pingsan gara-gara ditembak temen Ratha?" Aratha berkisah. Seolah Ibunya memang ada di depannya. Ia melirik geli pada Araja yang berwajah masam, lalu ia melanjutkan, "Minggu lalu Raja juga ditembak. Terus, terus, Ratha bantuin buat nolak dengan embel-embel Ratha itu pacarnya. Ratha ikutin adegan yang ada difilm yang Ratha tonton kemarin-kemarin."


"Pantes aja akting lo sempurna." Araja mencibir.


"Hebat, 'kan gue?" Aratha berusaha menyombongkan bakat tertundanya. "bentar, yah, Bu. Ratha ke Ayah dulu." Kemudian, gadis itu mengubah posisinya ke sebelah kanan di mana makam sang Ayahnya.


Aratha membuka lembar baru yang ditulis Ayahnya. Ia tersenyum, hanya setengah yang ia perbuat.


To do list from Ayah :


½ Lakukan apa yang Ibu kamu berikan


½ Cari teman seperti Araja dan jika perlu jadikan Araja sebegai teman hidup kamu. Ayah merestuinya.


½ Jangan seperti Ayah dan jangan melakukan hal buruk yang Ayah lakukan, terutama egois


½ Harus selalu sayangi Saka dan jangan jahilin Saka terus


½ Jangan makan terlalu banyak mi


"Poin satu sih Ratha belum bisa memenuhinya. Poin lainnya juga iya. Apalagi poin dua, nggak deh, Yah. Kasian sama turunan, nanti anaknya gila kayak Ratha, gimana?" Aratha berceloteh sendiri. Araja yang tak tau apa yang dibicarakan hanya memerhatikan. Lagipula, Aratha tak membiarkannya tahu to do list yang diberikan kedua orang tua gadis ini.


"Ratha masih mentingin diri sendiri. Ratha juga sering jahilin Saka dan ini salah Ayah juga punya anak lucu kayak Saka. Terus, Ratha juga masih suka makan banyak mi. Apalagi mi Bang Maul yang menunya makin banyak." Aratha bercerita. Sementara, Araja tampak menyimak. Membiarkan gadis itu punya waktu. Meski sedih, Aratha tetap bisa berbicara seceria ini. Ini yang Araja suka.


"Kayaknya Ratha harus pamit pulang, Yah, Bu. Saka pasti nunggu," ucapnya setelah memandang langit yang perlahan menampilkan senja.


Gadis berambut panjang itu menyimpan bunga di makam sang Ibu. "Ini bunga kesukaan Ibu. Nanti Ratha belikan lagi dan nggak make uang Raja, Bu." Aratha menyengir. Memang, Aratha dengan paksa mengambil uang saku Araja dan nanti menggantinya. Kalau ingat.


Aratha beralih pada makam Ayahnya dan menyimpan setangkai bunga seperti pada Ibunya. "Ini buat Ayah. Ayah selalu suka memberi Ibu bunga seperti ini," tuturnya tersenyum tulus. Bagaimana ia lupa dengan adegan romantis Ayahnya yang setiap pulang pasti akan memberi Ibunya bunga.


"Ratha sama Raja pamit pulang, Bu, Yah. Assalamualaikum." Aratha bangkit dari jongkoknya setelah mendoakan keduanya. Kemudian melenggang pergi yang tak lama disusul Araja yang juga berpamitan pulang.


"Lo baik-baik aja, Ra?" tanya Araja ketika ada di depan motor miliknya. Tak sengaja melihat bahu Aratha yang kembali bergetar. "Ra," panggilnya pelan.


Aratha menghapus ingusnya dengan punggung tangan dan mengusapkannya pada baju Araja. Jorok sekali, tapi ia ingin sekali mencakar-cakar Araja jika ia tak punya hati.


"Gue pengen beli mi Bang Maul, Ja." Aratha merengek.


"Ayo, makan mi." Araja memasangkan helm pada Aratha. Ia sendiri segera menyalakan mesin motor setelah gadis dengan senyum cerianya naik di belakang. Araja hanya tersenyum melihat Aratha seperti itu.


"Ayo, Bang. Kita ke Warung Tuman." Aratha dengan semangatnya selalu membuat Araja tersenyum tanpa tau arti. Persis seperti tukang ojek, tangan Aratha disimpan di pundak.


Meski ngeselin. Araja menyahuti, "Oke, Mbak. Sesuai aplikasi, yah."


✖﹏✖


Di ruang televisi yang menayangkan sinetron azab ini terdapat dua orang yang sama-ssma duduk di lantai beralaskan karpet berbulu. Keduanya terlihat senang mengunyah mi kenyal dari wadah masing-masing. Terutama bocah berambut lucu itu---Saka.


"Mi Bang Maul enak, Kak. Kakak harus ajak Saka ke sana." Saka berceloteh dengan mulut penuh minya itu.


"Kapan-kapan aja kalau Kakak punya uang banyak," balas Aratha yang sama sekali menatap adiknya di depan. Mata cokelatnya fokus menatap layar perseginya.


"Kakak beli ini pake uang siapa, dong?" tanya Saka menyodorkan mi miliknya yang sudah tandas ditelan.


"Araja," balas Aratha singkat. Acara menontonnya tak harus terganggu karena Saka terus bertanya.


Bocah kecil itu menuangkan air pada gelasnya. Lantas, merenggut setelahnya. "Ih, Kakak minjem uang dari Kak Raja terus."


"Apa masalahnya sama kamu, Jamur?" Sedikit gencel Aratha ngegas untuk bertanya.


"Masalahnya Kakak nggak bayar," ungkap Saka. Anak kecil tak tau apa-apa itu ikut mengurusi hidupnya yang tak terkalu penting ini.


"Bayar, kok." Aratha membela diri. "Kalau dia makan di sini, berarti udah lunas. Kalau Raja minjemin Kakak uang, nanti Kakak bayar sama jasa," lanjutnya menjelaskan. Semoga saja Saka mengerti dan mengangguk patuh terhadapnya.


Saka dengan kepolosannya itu bertanya, "Emang ada?"


"Ada, lha." Arata menjawab enteng.


Aratha berdecak ketika ketukan pintu terdengar. "Siapa, sih yang malem-malem ketuk pintu? Ganggu gue nonton aja." Aratha merutuki si pengetuk pintu dengan sebal. Namun, gadis itu tetap berdiri dan menyimpan mangkuk mi di meja lalu segera menghampiri pintu dan akan memberikan omelan khas ibu-ibu tetangganya.


Aratha terkejut ketika pintu baru saja dibukanya seseorang yang ternyata Arizha memeluknya. Ia heran sendiri mengapa gadis lugu ini langsung mendekapnya dan terisak. Aratha mengusap-usap punggung Arizha yang basah ---di luar tengah hujan--- untuk sekadar memberikan kekuatan.


"Aku nggak suka keluarga aku terus bertengkar, Ra. Aku nggak betah di rumah," katanya masih dengan isakan tangisnya yang kian terdengar nyaring. Arizha mengelap pipinya yang basah ketika pelukannya terurai.


Aratha paham, kemudian ia mengajak Arizha masuk dan menyuruh Arizha duduk di ruang televisinya yang langsung Aratha rapikan sebab berantakan.


"Gue bikinin dulu minum, yah, Zha." Aratha melenggang pergi ke dapur meski Arizha sempat menolak untuk tidak dibuatkan. Tak lama kemudian, Aratha kembali dengan cokelat hangat dan baju ganti untuk Arizha yang bajunya basah terguyur hujan.


"Sebaiknya lo ganti baju dulu biar nggak masuk angin. Gue mau ganti juga, nih." Aratha menyodorkan bajunya yang mungkin muat pada tubuh Arizha yang kecil. Ia nyengir untuk suasana yang dikiranya canggung. Bukan saatnya ia bercanda.


"Maaf, yah, Ra. Baju kamu basah gara-gara aku peluk." Arizha merasa bersalah.


"Lo tahu 'kan kalau sama gue itu harus ...." Aratha menjeda seperti mengajarkan anak Tadika yang mengharuskan murid-muridnya menebak.


"Santuy," sambung Arizha yang paham dengan kode mimik wajah Aratha yang bergerak. Gadis itu tertawa karenanya. Aratha bertingkah lucu sekali.


"Eh, Kak Rizha kenapa?" Saka tiba-tiba muncul begitu saja di dekat Arizha yang langsung menoleh pada anak kecil ini.


"Saka tidur sana. Gosok gigi, cuci muka, cuci tangan sama kaki, terus berdoa buat tidur. Sana, sana." Aratha memberikan perintah yang langsung diangguki anak kecil itu. Setelah mengucapkan selamat malam pada Aratha, Saka langsung pergi ke kamar.


Arizha masuk ke kamar mandi setelah mengetahui di mana letaknya. Aratha melakukan hal yang sama hanya saja kamar mandi kamar miliknya. Tak membutuhkan waktu lama untuk dirinya mengganti baju dan kembali ke lantai bawah menemui Arizha yang juga sudah duduk di sofa.


"Aku cerita sama kamu boleh?" tanya Arizha.


"Boleh, boleh." Aratha menyiapkan telingnya untuk menjadi pendengar yang baik meski tak sampai sepuluh menit saja Aratha sudah menguap dan beberapa kali ia terlelap dan kembali terbangun.


✖﹏✖


instagram penulis : @ismimd_


instagram kata : @katamd_


instagram series : @monthprojectseries.ofc