
Layar persegi di depan meja nampaknya sama sekali tak diperhatikan Aratha yang bermain ular tangga bersama adik kecilnya ---Saka. Aratha berteriak girang kala kuda biru miliknya menyingkirkan kuda kuning milk Adiknya.
"Apaan, sih, Kakak. Kuda Saka itu nggak keluar, Kakak salah ngitung dan harusnya kuda Kakak itu di sini." Adik kecil yang berambut rapi itu berceramah disertai tangan kecilnya memindahkan kuda milik Aratha satu langkah di hadapan kuda kuning miliknya.
"Yah, kok, gitu, sih, Jamur." Aratha merenggut.
"Jangan panggil aku Jamur, Kakak." Saka nampak cemberut.
"Nggak apa, ih. Rambut kamu lucu, kayak Jamur." Aratha terkikik dan mengusap rambut Adiknya gemas.
"Sakaa, main basket, kuyy!" teriakan dari luar yang seperti anak kecil itu membuat Saka langsung berdiri.
"Itu, Kak Raja. Aku main, yah, Kakak." Saka berlarian hingga menghilang di balik pintu yang kembali ditutup anak kecil itu. Aratha terkekeh melihat tingkah lucu Adiknya.
Aratha mengambil mangkuk mi di meja, lalu kembali memakannya sebab tertunda. Karena bosan menonton televisi yang menanyakan si spons kuning. Aratha beralih mengambil ponselnya di meja dan menarik-ulur laman Instagram yang hanya menampilkan foto-foto artis dan para pengikutnya.
"Stalker, Ar, ah," gumamnya pelan disertai cekikikan kecil mirip hantu Indonesia.
Setelah mengetikkan nama Arizona di laman pencarian, orang yang ia cari ada di barisan pertama. Buru-buru ia pencet dan menscroll foto-foto Arizona di luar negeri. Ternyata cowok itu bersekolah di Tokyo, tapi mengapa juga cowok itu kembali ke sini.
"ASTAGA, NGGAK SENGAJA GUE LOVE POSTINGAN, AR, YA RABB. GIMANA INI, GIMANA? ADUH, ******! NANTI GUE KETAHUAN STALKER AR, TERUS DIA MAKIN PEDE AJA BUAT LEDEK GUE GAGAL MOVE ON. ASTAGA, DASAR ARATHA CEROBOH. DASAR. DASAR." Aratha heboh sendiri sampai melompat di sofa dan memukul kepala dengan tangannya.
Tak lama setelah ia menyerocos panjang. Satu notif membuatnya kembali berteriak, "ASTAGA NAGAAA, AR DM GUE. GUE HARUS NGAPAIN?" Aratha bertanya pada dirinya sendiri sampai mengangkat kedua tangannya meminta hidayah pada yang di atas.
Aratha mengembuskan napas panjang mereda kehebohannya yang tak terkendali. Kemudian ia mendudukkan dirinya kembali di sofa dan membaca pesan yang dikirimkan pemuda itu.
ar.zonaprimaputra
Ngapain lo stalker gue?
"GUE JAWAB APA, YA RABB? GUE KECYDUK, INI!" Meski sempat reda hebohnya. Tetap saja bahwa Aratha tak bisa bersikap kalm.
ratha.anandhika
Haha, gue pikir yang lewat diberanda gue bukan elo.
Alasan apa ini?! Aratha menepuk jidatnya sendiri karena merasa **** sekali menulis pesan seperti itu. Jelas-jelas Aratha mencari nama Arizona di laman pencariannya karena penasaran akan kehidupan cowok itu.
ar.zonaprimaputra
Gue gk follow lo dan lo gk follow gue juga.
Lo stalker gue, ya?
"Dia tau kalau gue stalker, ya rabb. Astaga."
ratha.anandhika
Tuh, udh gue follow.
Sekali lagi Aratha meneput jidatnya frustasi. Ibu jari nakalnya kenapa harus mengetikkan hal bodoh seperti itu. Aratha frustasi membaca dua pesannya yang terkesan .... Ah, Aratha tak mau menjelaskannya.
ar.zonaprimaputra
Lo gk usah kejar gue.
Udh gue bilang kalau lo bukan tipe gue.
"Ngeselin, nih, anak. Gue dibikin **** gara-gara dia, nih," cibir Aratha. Secepat kilat ia mengetikkan balasan.
ratha.anandhika
Udah gue bilangin juga lo.
Gue pasti bisa main basket ngalahin lo, Ar.
Gue pasti jadi cewek lo juga kalau jago basket.
ar.zonaprimaputra
Sana lo. Ngimpi dulu.
Gue kasih tantangan aja sama lo.
Kalau lo bisa cetak skor 50 dlm 30 menit, gue mau jadi cowok lo. Tapi kalau lo gk bisa, lo gk usah ganggu gue lagi.
ratha.anandhika
Siapa takut?
Apa pun tantangan lo, gue pasti bisa lewatin.
Aratha bersedekap dada dengan percaya diri dengan kepala mengangguk-angguk pasti setelah mengirimkan pesan itu. Namun, tak lama kemudian posisi tegapnya melorot dan segera memeluk bantal sofa.
"Ar, mau bunuh gue dalam 30 menit, yah?" keluhnya nelangsa.
✖﹏✖
Aratha tak berangkat bersama dengan tetangganya pagi ini. Tekadnya sudah bulat untuk bisa bermain basket karena pesan Arizona semalam. Maka, pagi ini ia sudah berada di lapangan outdoor basket mencoba melemparkan bola pada ring berulang kali.
Sekolah yang baru saja menampakkan beberapa orang berlalu lalang di koridor nampak tak dipedulikan Aratha jika mereka menertawakan atau menatapnya heran bermain basket sendirian.
"Yos, masuk juga." Aratha bergumam senang melihat bolanya masuk setelah lima belas menit ia mencobanya gagal berulang kali.
"Gue pasti bisa menang dari tantangan lo. Lo jangan ngeremehin gue."
"Oh, ya?" Arizona memasang wajah menyebalkannya. Jika, Aratha tak suka pada cowok ini, pasti sudah ia tonjoki. "dari cara main lo yang nggak becus aja, gue tau lo nggak punya potensi untuk menang." Arizona tertawa mengejek. Aratha semakin gemas pada omongan Arizona. Untung ganteng.
"Gue pasti menang, gue pasti latihan lagi sama pelatih jagoan gue." Ingatannya terbesit pada Araja yang membuatnya bisa memasukkan bola pada ring meski hanya sekali.
"Yang ngajarin lo pasti nggak becus juga," ujarnya.
"Dia pasti bisa ngalahin lo dan gue pasti bisa ngalahin lo, Ar. Jangan sombong dulu." Aratha menyimpan kedua tangannya di pinggang. Mata cokelatnya menatap angkuh pada Arizona, meski jatuhnya tatapan itu malah menyebalkan di mata Arizona.
Arizona mengambil bola oren di tangan Aratha. "Kalau bisa, sekarang kalahin gue," tawar cowok itu.
"Siapa takut." Aratha membusungkan dada menantang. Tak takut tantangan Arizona saat ini.
"Okey." Arizona tersenyum picik lalu ia menjelaskan wilayahnya dan wilayah gadis di depannya. Kemudian, permainan di mulai dengan Arizona yang memegang bola. Aratha mencoba menghadang pergerakan cowok itu. Sempat beradu tatap dengan mata Arizona yang menghipnotisnya hingga suara bola masuk pada ring membuyarkan lamunannya.
"Gue mempesona, kan, Ra?" Arizona tertawa menatap Aratha yang diam. Hati cewek itu meleleh karenanya. Telinganya juga tak salah dengan bahwa Arizona menyebutkan namanya. Fokusnya malah buyar.
Aratha mendriblle bola dan segera menyerang wilayah Arizona yang sudah siap dengan posisinya. Aratha tak boleh terhipnotis senyum ataupun tatapan mata Arizona, ia harus menang meski tak mengerti teknis menghitung poin atau peraturan bermain.
Karena yang jelas, di sisi lapangan atau koridor nampak banyak orang menyoraki di setiap Arizona mencetak angka. Sedangkan, Aratha sama sekali belum mencetak angka. Astaga, ia malu sekali.
"Ra, praktekin teknik kemarin yang gue ajarin." Dari sisi lapangan Araja nampak berteriak. Di sana, ada juga Kalvian, Malik, serta Arizha juga yang memberikan senyuman serta dukungan.
"Oh, dia yang latih lo?" Arizona menduga setelah melihat cowok di sisi lapangan itu.
"IYA, KENAPA?" tanya Aratha nyolot. Lalu, ia merebut bola dari tangan Arizona dan menyerang wilayah yang dikira itu milik Arizona. Dengan fokus, ia melakukan hal yang kemarin dilakukan bersama Araja.
Prang!
"WHOAAA, MASUK!" Aratha berteriak senang. Namun, tak ada sorakan yang terdengar. Ia melirik Araja di sisi lapang yang menepuk jidatnya. Sedetik kemudian suara tawa menggema.
"Itu wilayah lo." Arizona berkata.
"Terus? Gue nggak dapat poin, dong?" tanyanya polos.
"Lo liat aja," kata Arizona. Cowok itu menyuruh Aratha melirik papan skor.
25-0.
Astaga. Aratha sepayah itu ternyata.
"Gue menang."
"Lo belum menang," sahut Araja yang berjalan mendekat ke arah mereja berdua. "gue nantang lo main."
Sorakan-sorakan terdengar begitu Araja mengatakan hal tersebut. Aratha yang ada di antara keduanya cengo menatap cowok yang saling adu pandang seakan bermusuhan. Aratha yang ditarik ke sebelah Araja nampak diam saja tak banyak berceloteh seperti biasa.
"Dua lawan satu?" tanya Arizona. "it's okay. Dia payah dan lo juga ... pasti payah." Arizona nampak mengejek.
Araja mendengkus dan berkata, "Lo nggak tau siapa gue."
"Dari SMP aja lo payah. Nggak bisa saingan sama gue." Arizona meremehkan.
Memang ada benarnya, Araja dan Arizona memang ada pada satu sekolah yang sama semasa putih-biru serta mereka ada pada satu eskul selama tiga tahun. Tak mungkin Araja melupakan Arizona yang pernah menjadi ketua eskul basket.
"Oke, gue akan tunjukkan kemampuan gue sama lo." Araja meraih bola dari Aratha. Kemudian, ketiga orang itu mulai bersiap untuk kembali memulai.
"Fokus, Ra. Itu wilayah si Ar, ini wilayah kita. Lo jangan sekali lagi masukin bola sama wilayah kita. Lo bunuh diri dan poinnya masuk ke tim lawan. Lo ngerti, kan?"
Aratha mengangguk cengo. Padahal ia tak mengerti sama sekali, hanya mengerti tempat yang pijaki ada wilayahnya. Meski begitu, Aratha tetap menatap Araja yang masih berkata.
"Fokus denger suara gue aja, Ra. Cuma gue." Araja menekankan agar cewek ini mengerti. Setelah melihat Aratha mengangguk, Araja bersiap merebut bola dari Arizona. Aratha tak tau harus berbuat apa ketika kedua cowok itu saling berebutan bola. Ia layaknya patung di tengah lapangan.
"Ra, tangkep."
Suara Araja terdengar, ia akhirnya bergerak mencoba mengambil bola yang dilemparkan cowok itu padanya. Kemudian, dirinya menggiring bola pada wilayah yang diyakininya bahwa itu benar wilayah Arizona.
"Ra, shoot!"
Meski tak masuk dilempar asal olehnya. Araja mampu mencetak poin dua untuk pertama.
Aratha tersenyum melihatnya. Astaga, dia baru bisa melihat kalau Araja keren kalau main basket. Namun, Arizona keren juga.
"Ra, balik ke daerah kita." Aratha tak mengerti. Maka, ia diam saja dan bergerak ketika Araja menarik lengannya.
"Inget, yah, Ra. Main kayak tadi bagus, tapi jangan pake dua tangan. Terus, shoot-nya jangan ngasal kayak tadi. Pelan-pelan aja, tapi fokus. Ngerti, kan, lo?"
"Lo nyerocos gitu percuma, gue kagak ngarti," balas Aratha.
"Ya udah, inget suara gue aja. Cuma gue, oke?" Araja menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk. Matanya menatap lurus pada Aratha yang menurut seperti anak ayam.
"Oke."
"Bagus, lo ngerti." Araja menepuk kepala Aratha. Aratha tak melawan, ia sedang malas. Energinya hampir habis karena bermain basket.
✖﹏✖
Follow Instagram : @ismimd_ // @katamd_ // @monthprojectseries.ofc