
Araja hendak saja keluar dari parkiran jika saja gadis berambut panjang dengan warna gelap itu tidak menghadang dengan kedua tangan yang direntangkan lebar-lebar.
"Mau ke mana lo? Mau kabur dari gue, yah? Pokoknya gue harus pulang sama lo, Araja!" seru Aratha mencuri perhatian beberapa anak di parkiran selatan.
"Nggak, lo udah nembak kepala gue." Araja membalas sewot perlakuan tak mengenakkan yang disebabkan Aratha ketika di lapangan indoor basketball saat berlatih.
"Ah, lo ngambekan, Ja. Gue ikut pokoknya."
"Elo yang ngambekan. Kali-kali mandiri, kek. Nggak usah ikut gue mulu," nasehat Araja yang bermaksud baik malah dibalas sebaliknya oleh Aratha.
"Lo kok jahat, sih, Ja?" Aratha memelas. Mata cokelatnya yang terang terpapar sinar matahari terasa bersinar-sinar. Araja tidak tergoda untuk luluh.
"Biarin. Lo 'kan ada Arizona, minta anter dia aja sana. Gue juga ada perlu, nih."
"Gitu, ah, lo, Ja. Gue mau ikut lo aja." Aratha masih keukeuh saja. Araja pusing meladeninya.
Ada ide yang melintas begitu saja ketika melirik Arizha yang hanya diam di tempatnya dengan kepala menunduk. "Yuk, Zha. Naik," ajaknya.
Arizha mendongak menatap Araja yang menatapnya balik. Tak lama ia mengalihkan tatapan itu dan melirik Aratha yang menganga.
"Hah? Kok, sama Arizha? Lo jangan jadiin temen gue pelarian dikala lo bosan, dong, Ja." Aratha sewot sendiri. Pikiran negatifnya mulai berlarian di kepala.
"Lo geer, ih. Emang urusan gue sama Rizha, kok." Araja berdecak, lalu melirik Arizha di samping Aratha. "ya, kan, Zha?" tanyanya dengan memberikan kode gerlingan mata beberapa kali.
Arizha menjawab pelan, "Iya."
Aratha menepuk bahu temannya. "Ya udah, lo hati-hati, ya, sama Raja. Pukul aja kepalanya kalau nakal." Seakan mempraktekan, cewek itu memukul kepala Araja yang terbalutkan helm. Malah ia sendiri yang kesakitan.
"Ka ... mu gimana?" Arizha bertanya dengan gugup.
"Kalau sama gue tuh santuy aja, Zha. Lagian gue bisa naik bus, kok. Gue khawatirnya sama lo, nanti diapa-apain lagi sama si Raja." Aratha memicingkan mata melirik Araja yang mendengkus disertai decihannya.
"Lo pikir gue cowok apaan?" Araja mendelik penuh emosi.
"Siluman, bwahaha." Aratha kabur dengan tawanya.
"Dasar!" gumam Araja dengam senyum kecilnya. Lalu, ia memberikan helm yang sering dipakai Aratha kepada Arizha yang hanya diam menatap helm yang disodorkan. "pake aja, tapi maaf nih kalau helm Ratha bau."
"Nggak apa, kok." Arizha langsung memasangkan helm itu pada kepalanya. Ia tak mau mencium baunya, nanti pingsan. Tangannya bergerak mengaitkan tali helm yang tak pernah ia coba sebelumnya.
"Eh?" Arizha menjauhkan tangan ketika cowok di atas motor itu membantunya mengaitkan tali helm yang sekali saja cowok itu bisa melakukannya. Tangan Araja yang melambai di depan wajah membuat gadis itu sadar dan segera naik ke atas motor dibantu Araja.
Perlahan motor putih itu melaju meninggalkan Skyline School yang masih terdapat orang-orang. Araja membawa motornya dengan kecepatan sedang saja, di belakangnya ini ada orang baru.
"Rumah lo arah sini bukan, sih, Zha? Kalau bukan arah sini, gue puter balik." Araja bersuara. Sedangkan, Arizha nampak kebingungan karena tak jelas mendengar perkataan Araja. Dengan sedikit keberanian, dirinya mendekat pada Araja.
"Maaf, aku nggak denger suara kamu," katanya terbata. Ia gugup dengan jarak sedekat ini.
Araja agak menoleh sedikit ke belakang untuk bertanya, "Rumah lo arah sini?"
Arizha tertegun sejenak sebelum menjawab, "Jalan ini juga bisa, kok."
"Lo sama Ratha gimana?" Araja kembali bertanya.
"Ratha baik. Dia nawarin satu bangku sama aku," balas Arizha tersenyum manis.
"Bagus kalo gitu. Lo baik-baik aja, yah, sama Ratha. Soalnya dia nggak akan seakrab itu kalau nggak anggap lo temen deketnya."
"Iya, Raja." Arizha mengangguk paham disertai senyuman seperti biasanya. "nanti di depan, kamu belok kiri, yah."
"Siap." Araja mengacungkan ibu jari pada Arizha yang menanggapi dengan senyuman. Setelah itu, tak ada lagi percakapan hingga motor putih cowok itu berhenti di depan rumah yang memiliki taman bunga di halaman.
Arizha yang tak bisa memasang tali helm dan membukanya itu kembali dibantu Araja dengan penuh pengertian. Degup jantung Arizha malah berpacu cepat ketika jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Akhirnya, perempuan manis itu bisa bernapas lega setelah Araja menjauh.
Araja nyengir. "Kali-kali aja, deh, Zha. Maaf."
"Nggak apa, kok." Senyuman itu lagi yang Araja lihat. Persis seperti yang ia lihat di kaca spion ketika berkemudi. Begitu manis.
Deru mobil dari arah berlawanan mencuri perhatian Araja, cowok itu memerhatikan mobil merah yang masuk gerbang rumah Arizha. Penasaran, ia bertanya siapa dia.
"Itu Kakak aku. Kayaknya baru pulang," jawab Arizha singkat.
"Masih sekolah?" tanya Araja.
Arizha mengangguk.
"Kalau gitu, titip salam sama keluarga lo, yah, Zha. Gue pulang dulu." Araja menyalakan mesin motornya untuk pamit pulang.
"Iya. Sekali lagi makasih, yah, Raja."
Setelah memberikan senyuman pada Arizha. Cowok itu mulai melajukan kuda besi kesayangannya meninggalkan Arizha yang masih tersenyum di tempatnya.
"Araja manis banget."
✖﹏✖
Sudah setengah jam Aratha menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang, tetapi yang ditunggu sama sekali tak kunjung datang. Aratha mulai kesal, murid-murid lain yang juga menunggu di halte nampak sudah pergi satu persatu hingga menyisakkan Aratha dengan wajah marahnya.
"Astagaa, tau gini gue mending jalan aja daritadi." Aratha berbicara sendiri. Ia sudah tak bisa menahan kesabarannya. Gadis itu paling tidak suka menunggu selama ini.
Mata gadis itu melihat mobil merah yang baru saja keluar dari gerbang utama Skyline School. Matanya memicing memerhatikan mobil tersebut menepi di depan halte tempat dirinya berdiri. Kaca mobil itu perlahan turun menampilkan sosok pemuda yang saat itu juga menjadi harapan Aratha bisa pulang.
"Hai, Ar. Gimana-gimana? Lo udah kenal gue 'kan?" Aratha langsung bertanya setelah mendekat dan menundukkan kepalanya untuk menatap Arizona. Ia masih penasaran mengapa Arizona dengan mudah melupakannya, sedangkan ia masih mengingatnya dengan jelas setiap keping kenangan yang membuatnya tak lupa-lupa.
"Gue udah kenal." Arizona membuka suara.
Aratha langsung menyahut, "Tuh, kan, udah gue duga. Lo nggak mungkin nggak kenal gue, Ar." Ada senyum lebar di wajah perempuan itu. Dugaannya memang benar, mana mungkin Arizona lupa dengan dirinya yang dulu sering sekali menyimpan surat-surat di loker Arizona dengn sebatang cokelat atau minuman. Mengingatnya saja geli sekali.
Arizona tak perlu tanggapan berlebihan seperti itu. Ia menunjuk Aratha yang nyengir lebar ke arahnya. "Lo yang gue tolak waktu kelulusan SMP, kan?" duganya yang dengan cepat perempuan itu mengangguk.
"IYA. Lo nolak gue dan bikin gue malu karena lo oles muka gue sama kue yang lo makan itu." Wajahnya berubah sangar teringat kejadian yang membuatnya malu seumur hidup itu.
Arizona tertawa. "Lucu banget gue nolak lo," ucapnya dan kembali tertawa.
Aratha tersinggung. "APANYA YANG LUCU?!" Kepalanya mulai mengeluarkan asap abu yang jika saja Arizona membuatnya semakin kesal, maka asap itu berubah menjadi hitam.
"Lo, lha." Arizona menunjuk cewek yang nongol di kaca mobilnya. Lalu, ia tersenyum miring. "mana mungkin gue pacaran sama orang **** yang main basket aja nggak bisa." Arizona tertawa meremehkan.
"IYA, GUE TAU GUE ****. KARENA TIPE LO ITU YANG BISA MAIN BASKET. GUE TAHU, KOK! NGGAK USAH DIPERJELAS." Astaga. Aratha memang tak bisa merendam emosi yang disinggung sedikit saja bisa langsung meledak mengeluarkan asap.
"Nah, lo tau 'kan alasan gue nolak lo?" Arizona mengangkat alisnya. "makanya, lo diem aja dan nggak usah sok-sokan bisa main basket. Dan nggak usah sok-sokan mau ngambil hati gue. Lo nggak akan bisa." Arizona tersenyum smirk. Kemudian jarinya menekan salah satu tombol di mobil hingga kepala Aratha yang menyembul ke dalam itu segera menjauh.
Arizona keterlaluan. "Gue akan buktiin sama lo kalau gue itu bisa main basket dan jadi cewek lo, Ar."
"Gue tunggu." Bertepatan dengan ucapan Arizona. Kaca mobilnya sempurna tertutup. Aratha di luar sana mendengkus sebal.
Perlahan mobil merah itu kembali melaju di jalanan. Aratha kembali sendirian. Tak lama dari itu, ia menepuk jidatnya sebab lupa. Seharusnya ia tadi meminta Arizona agar diberi tumpangan sampai rumah.
"ARIZONAA!" teriaknya menatap nanar mobil merah yang semakin menjauh itu.
✖﹏✖
Follow instagram : @ismimd_ // @katamd_ // @monthprojectseries.ofc