Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
14° | HATI YANG MEMILIH



Araja mendribble bola oren di tangan ketika menyusuri koridor kelas yang cukup ramai sewaktu pagi kali ini. "Lo harus ikut latihan basket hari ini, Ra." Cowok itu melirik sebentar temannya yang sibuk dengan permen karet yang tak lama pecah ketika digelembungkan.


"Males banget. Mendingan gue rebahan di kamar sambil karokean," balas Aratha cuek. Ia masih santai-santai dengan permen karet di mulutnya itu.


"Idih, bisa-bisa lo kena sanksi gara-gara nggak ikut eskul apa pun." Araja mendelik mendapatkan respon tak acuh Aratha. "untung aja Bang Javier masih bisa toleransi lo biar nggak kena sanksi sekolah. Dia pengertian dan lo nggak kasian gitu?" Araja menghentikkan gerakan tangannya ketika mulai melangkah menaiki anak tangga. "minimal kasian sama diri lo sendiri, Ra," sambungnya.


"Aduh, lo tuh jadi bawel gini, sih, Ja." Aratha mengacak rambutnya dengan frustasi yang seolah-olah gadis itu terkena masalah besar.


"Demi lo, Ra." Araja menyeru cepat ketika matanya melirik cewek di sampingnya ini. "jangan sampai lo kena sanksi sekolah. Inget kata Mama lo, Ra," jelas cowok bersurai hitam itu.


Araja kembali mendribble bola ketika sampai di lantai dua kelas sebelas IPA. Cowok tinggi itu nampak berbalik badan dan kembali menuruni anak tangga dengan bolanya. Sementara, Aratha mengedikkan bahunya tak peduli melihat tingkah Araja yang tak biasa. Namun, mata beriris cokelatnya dengan jelas melihat Sella di depan kelas 2A1.


Aratha tertawa nyaring melihatnya. Tak peduli kalau orang-orang satu angkatannya menatap dirinya horor bak melihat mbak kunti yang nyasar untuk bersekolah kembali. Aratha masih tak peduli dan memilih terus berjalan meski tawanya agak mereda tidak senyaring beberapa waktu lalu.


Aratha memerhatikan sekelompok orang yang mengerumuni loker kelasnya. Ia nampak mencoba melihat apa yang mereka perhatikan. "Minggir, minggir, woy," teriaknya seraya menyingkirkan orang-orang yang perlahan membukakan dirinya jalan. Aratha hanya merasa heran ketika orang-orang menatapnya dengan sorot tak dapat dijelaskan.


Aratha meneliti lokernya yang terdapat tulisan abstrak dari cat yang sudah mengering. Siapa pun yang melakukannya, Aratha tak akan membiarkan dia lolos dari genggaman.


"SIAPA YANG CORET-CORET LOKER GUE?!" tanyanya pada semua orang. Tak mendapatkan jawaban, ia memukul loker yang penuh coretan hingga siswa di sana mengerjap kaget. Bukannya memberikan Aratha jawaban, mereka perlahan membubarkan diri dan hanya menyisakkan beberapa orang.


"Siapa lagi, sih, ini?" gumamnya penuh emosi. Ia membuka loker namun tulisan kecil di ujungnya menyita perhatian. Ia mendecih tak kala mata beriris cokelat itu membaca tulisan yang kembali mengancam dirinya. Seakan ia harus lenyap saat itu juga.


Selamat menikmati hidup di neraka, Aratha.


---double A


Hanya satu pesan yang tertera di sana. Tak ada tulisan lain seperti pada surat-surat sebelumnya. Otak udangnya berpikir keras untuk itu dan mendapatkan petunjuk kecil yang mungkin hanya satu orang saja yang menerornya seperti ini. Hah, Aratha bangga sekali dengan pemikiran dirinya yang pada akhirnya masuk akal juga.


Aratha membuka loker untuk mengecek barang yang ia simpan. Namun, ketika loker terbuka sampah seakan bertaburan ke luar dari tempatnya. Aratha menatap sampah itu dengan kesal. Tangannya mengepal. Aratha bisa marah karena ini.


"Siapa lagi ini?" tanyanya gemas ingin menguliti orang yang membuat lokernya berantakan seperti ini. Meski berat hati, Aratha berjongkok memunguti sampah yang berceceran di lantai. Ada anak tetangga 2A3 yang ikut memunguti. Aratha kenal cewek tak berekspresi yang warna jasnya berbeda ---warna hitam yang mencirikan dia utusan dari OSIS.


"Makasih, lho, udah bantuin gue." Aratha berterima kasih ketika jaraknya cukup dekat dengan gadis datar bak tembok ini. Lihat saja, Aratha hanya dibalas dehaman singkat. Aratha baik, jadi ia sabar saja.


"Eh, Ar, lo ngapain di sini?" Aratha terkejut bukan main ketika kepalanya menoleh ke samping kanan dan mendapatkan Arizona ikut memunguti sampah. "nggak usah bantu, Ar. Gue bisa, kok." Aratha hendak mengambil kertas di tangan Arizona, tetapi cowok itu sigap menjauhkannya.


"Biarin gue bantu. Tanda terima kasih gue yang kemarin." Arizona tersenyum manis pada Aratha. Cowok itu membiarkan Aratha meleleh melihat senyumnya. Sedangkan, ia memilih membuang kertas yang sudah ia punguti tadi.


"Gue dibutuhin, nggak? Kalau nggak gue balik ke kalas." Ismi dari 2A3 ini nampak menyorot datar pada Aratha yang mimpinya baru saja rubuh ketika suara tetangga kelasnya memecah lamunan.


Bingung. Aratha menatap lawan bicaranya bingung akan mengatakan apa. Ia hanya membeo, "Eh? Butuh, kok, butuh." Melihat tetangga kelasnya yang hanya berdecak membuat Aratha mengerucutkan bibirnya dan kembali meengambil sampah di lantai.


"Lo panggil aja Pak Budhy buat benerin loker," titah Ismi ketika kertas dan plastik sudah ia berserta Aratha dan Arizona bersihkan. Gadis datar yang ingin Aratha cabik itu berlalu begitu saja setelah mengatakan hal barusan. Aratha harus bersikap baik pada orang yang menolongnya.


"Yuk, gue temenin," ajak Arizona pada gadis di sampingnya yang kembali diam. "Ra, lo baik-baik aja?" tanyanya kemudian.


"Jantung gue nggak baik-baik aja gara-gara lo." Aratha menyeletuk dengan refleks. Arizona paham maksudnya. Ia malah terkikik geli melihat Aratha yang langsung shock begitu saja. Gadis ini terlalu tiba-tiba untuk sesuatu hal yang sepele seperti ini.


Aratha juga Arizona segera berlalu untuk mencari penjaga sekolah dan kawannya untuk membenarkan loker yang penuh coretan yang tak disukai Aratha. Untuk sekarang, yang terpenting Araja tak mengetahui hal ini. Ia tak ingin lagi membuat Araja cemas karenanya.


Aratha tersenyum lebar atas pemikiran manusiawinya itu. Kapan lagi ia akan berpikiran baik bak dewi seperti ini pada Araja?


✖﹏✖


"Lo tau siapa yang bikin teror kayak gitu ke lo?" tanya Arizona setelah menandaskan isi mangkuk di depannya.


Aratha menelan makanannya cepat. Ia menatap Arizona yang terlihat tampan seperti biasanya. Namun, ia berdecak ketika menyadari pertanyaan Arizona. "Kalau gue tau pelakunya. Gue pasti udah bikin orangnya mati duluan, lha, Ar." Aratha menjawab ketus sekali. "lo aneh, sih, nanyanya," ujarnya disertai kekehan hambar.


Arizona menarik sudut bibir dan berucap, "Lo sadis ternyata." Cowok itu menyeruput minuman kaleng yang dipesannya. Matanya yang jernih memerhatikan Aratha yang makan dengan lahapnya. Sama seperti ketika ia mengajak makan Aratha di mall kala itu.


"Pulang bareng gue, mau?" tanyanya.


"Hah?" Aratha membeo ditempatnya.


"Nanti pulangnya lo bareng gue. Mau, 'kan?" Arizona menjelaskan kembali. Agak gemas dengan pikiran Aratha yang sedikit tertinggal.


"YA JELAS MAU, DONG!" seru Aratha. Gadis ini tak bisa menyembunyikan kebahagiannya, tetapi ia menatap Arizona cemas sampai memegang dahi cowok di depannya. "eh, eh, tapi lo nggak demam ngajakin gue, kok." Aratha menatap Arizona, lalu tertawa setelahnya. Arizona hanya menagangkat alisnya tak mengerti.


"Berarti lo waras yah ngajakin gue pulang bareng?" tanya Aratha memastikan. Jaga-jaga jika saja Arizona meninggalkannya di sekolah.


"Gue cukup waras untuk ini," ketus Arizona. Cowok ini masih sama saja seperti ketika Aratha bertemu dengan Arizona.


Cowok berambut gelap itu berdiri dari duduknya. "Gue ke kelas duluan," katanya. Aratha mengangguki perkataan Arizona yang kemudian berlalu meninggalkannya yang tersenyum penuh kemenangan.


"Ah, tanpa berjuang kayaknya Ar jalan duluan ke gue, haha." Tawanya seakan menjadi pusat perhatian. Hingga terhenti ketika dari belakang ada seseorang yang menoyornya. Aratha melirik Malik dengan emosi dan membalas perbuatan sang pelaku.


"Kenapa lo ketawa-tawa?" tanya Araja menyeruput minumannya ketika duduk dengan benar di hadapan Aratha. Dirinya keheranan saja melihat Aratha yang tertawa di bangkunya hingga menyita perhatian beberapa orang.


"Tanpa bantuan lo buat deketin gue sama Ar. Gue buat kemajuan pesat deket sama Ar. Dia ngajak gue balik bareng, terus traktir gue makan tadi. Dan pas kemarin gue jalan-jalan sama Ar ke mall dan dibeliin hadiah yang lucu banget. Terus, terus, Arizona juga an---"


"Berisik lo!" Kalvian yang memang sedaritadi menelungkupkan wajahnya di meja menyahut risi pada Aratha yang berceloteh tanpa henti. Setelah Aratha berhenti berbicara, Kalvian kembali pada posisinya yang sempat terbangun.


"Cuma ngajak balik bareng aja lo anggap kemajuan. Araja yang tiap hari ngajakin lo aja enggak dianggap kemajuan." Malik mencibir atas kalimat panjang Aratha yang begitu rinci untuk dijelaskan.


"Beda lagi, lha. Araja ngajak gue balik karena rumahnya deket sama gue. Beda sama Ar yang bikin hati gue berdebar tak karuan," dalih Aratha dengan pipinya yang bersemu merah mengingat kejadian yang sudah lalu.


"Lo anak sapa, sih? Pengen banget gue potong-potong badannya, terus gue rebus dan langsung gur makan." Malik menakuti Aratha seolah cowok itu adalah sosok pemakan sesama umat. Garpu yang ia pegang digunakan menunjuk pada Aratha yang langsung bersembunyi di balik tubuh Araja.


"RAJA TOLONGIN HAMBA," jerit Aratha sekeras-kerasnya ketika Malik bangkit dari duduknya. Gadis itu refleks segera berlari ke luar kantin menghindar dari temannya yang bisa memakan dirinya sendiri.


Malik tertawa atas perbuatannya itu. "Lo bisa nggak sih cari cewek yang lebih waras dari Aratha?" tanya Malik di sela-sela tawanya pada Araja yang tampak tertawa.


"Ya mau gimana lagi, Mal. Hati gue yang milih," katanya.


✖﹏✖


instagram penulis : @ismimd_


instagram kata : @katamd_


instagram series : @monthprojectseries.ofc