Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
02° | GARA-GARA SI JAMUR



Ribut di kantin yang ramai memang sudah biasa. Namun, Aratha serta kedua teman Araja yang berkumpul di satu meja itu mengundang perhatian yang membuat geleng-geleng kepala bagi yang melihatnya.


Aratha yang kena olesan bedak dari ketiga cowok yang main dengannya membuat perempuan itu cemberut. Lalu, menantang teman-temannya untuk kembali main ular tangga dari awal. Ketika giliran dirinya yang mengocok dadu dan merapalkan doa agar mendapat poin empat untuk bisa mengeluarkan Araja dari tempatnya.


"WUUU, GUE DAPET LIMA! SIAP-SIAP GUE SERANG RAJAAAA!" Heboh. Aratha memang selalu heboh. Berteriak nyaring yang mengundang perhatian anak-anak di kantin dan mulai menghitung kudanya pada kotak-kotak di kertas tipis bergambarkan tangga dan ular.


"Kok, bisa di sini?!" tanyanya karena kudanya berhenti tepat di belakang kuda merah milik Araja. Lantas, cewek itu kembali menghitung dari awal dan masih berhenti pada posisi yang sama. Gadis berambut gelap itu merenggut tak terima karena gagal menyingkirkan Araja, tak peduli ketiga teman cowoknya itu menertawakan.


"BWAHAHAHA. MAKANYA BELAJAR, ******!" Malik memang kasar, cowok itu memegang perutnya kesakitan sampai mengelap sudut matanya yang mengeluarkan air.


"KAYAK LO SUKA BELAJAR AJA, ****!" murka Aratha pada Malik yang saat itu masih saja tertawa, padahal Kalvian dan Araja sudah berhenti sedaritadi. Memang stress tuh cowok. Aratha nggak sadar diri, sih.


"Giliran gue, nih, giliran gue." Kalvian mengocok dadu. "moga dapet empat, ya gusti."


"Jahat lo, Kal, mau nyingkirin gue." Aratha mencebik kesal. Dalam hati ia berdoa agar kata Kalvian tak terkabul. Namun, doanya tak terpenuhi. Maka, dengan dramatis kuda birunya itu diusir dengan kasar hingga keluar dari meja.


"Ih, lo tuh main yang bener, kek. Ngusir dengan cara hormat, dong! Awas aja, nanti gue bales dendam sama lo, Kal." Aratha menyalakan api dendamnya di dada. Ia tak akan berhenti bermain jika Kalvian masih belum kena usiran dirinya. Awas saja.


Mata cokelat perempuan itu meneliti setiap sudut untuk mencari kuda kesayangannnya. Tepat saat melihat kudanya, matanya membelalak lebar mendapati kudanya terinjak sepatu seseorang. Dramatis, cewek itu mengusir sepatu yang membunuh kudanya tanpa melihat siapa pemilik sepatu yang kebingungan.


"RAJA, KUDA GUE MATI!" adu Aratha memperlihatkan kuda birunya yang sudah remuk tak berbentuk. "GUE MAU KUDA BIRU GUE BALIK LAGI," sambungnya yang mirip dengan rengekan anak kecil.


"Nih, kuda lo masih banyak, ****." Malik memberikan kotak kardus kecil yang berisikan semua yang berhubungan dengan ular tangga. "Jangan kek anak kecil. Nggak suka gue," cibirnya dengan bola mata memutar malas.


"WAHH, LO PENYELAMAT GUE MALAIKAT MALIK!" Aratha menyeru senang dan kembali duduk di sebelah Araja. Perempuan itu menyimpan kuda dengan warna yang sama di garis start. Ia masih harus balas dendam pada Kalvian yang membuat kudanya meninggal.


"GUE AKAN MENJEMPUT AJAL LO HIJAU, HAHA."


"Lo kalau ngomong, nggak usah teriak-teriak, bisa?" tanya Araja yang sudah tak tahan dengan suara bak toa milik perempuan di sebelahnya. Telinganya sudah berdengung karenanya.


Aratha dengan wajah dilumuri bedak itu menatap Araja di sampingnya. "WAHHH, BISA BANGET! TAPI KOBARAN API GUE NGGAK MAU PADAM. GIMANA, DONG?" Seolah mempermainkan Araja, cewek itu masih saja bersuara bak toa. Dirinya tak peduli melihat Araja yang menutup telinga.


Tawa yang mirip dengan nenek sihir itu terdengar hingga kedatangan seseorang yang membawa baki berisikan makanan itu menghentikannya.


"Ratha, aku minta maaf." Pemilik suara lembut itu berkata dengan rasa bersalah.


"Hah? Minta maaf? Kena---why?" Aratha menanggapi dengan heran.


"Aku nggak sengaja injak kuda punya kamu."


"Ohhh, jadi lo yang injek kuda kesayangan gue?" Aratha menyimpulkan dugaannya. Perempuan berambut gelap itu menyilangkan tangan di dada dengan tatapan lurus menuju Arizha yang kian menunduk.


"Maaf, aku nggak sengaja," ucapnya pelan.


Setedik kemudian tawa milik Aratha terdengar. Cewek itu ternyata pura-pura sok marah. "Yaa, santuy aja, Zha. Kuda gue masih banyak dari Malik. Jadi, nggak pa-pa." Aratha menjelaskan dan kembali tertawa, hanya saja tak seheboh sebelumnya.


"Sini-sini lo gabung aja sama kita-kita aja." Aratha menarik lengan Arizha agar duduk di sebelahnya. Setelahnya cewek itu memperkenalkan Arizha pada ketiga teman cowoknya yang menyambut baik, meski Malik yang genit malah berulah dengan rayuan-rayuan yang diberikan psda setiap perempuan.


"Muka kamu, kok, putih, Ra?" tanya Arizha yang mengaduk makanan miliknya yang berkuah.


"Iya, nih, gara-gara ketiga cowok ini yang bikin muka cantik gue ternodai." Aratha menepuk-nepuk pipinya berulang kali berharap bedak putih yang menutupi semua wajahnya itu memudar. Namun, tangan Araja nampak menghentikkannya.


"Lo jangan jorok, dong, Ra. Debunya nanti kena makanan Rizha." Araja membuat Aratha langsung menoleh seketika pada Arizha yang nampak ingin bersin dengan menutupi mulutnya itu.


"Haduh, Zha. Kenapa nggak bilang, sih. Nanti lo sakit, gue yang repot."


"Mana ada, bambang. Temen deketnya Rizha juga bukan lo," sewot Malik menanggapi ucapan temannya.


"Iya, lo sok-sokan sok." Kalvian ikut menyahuti sewot meski kalimatnya tak begitu jelas.


"Tau, dah. Gue balik ke kelas, ah, mau molor." Kalvian berdiri dari duduknya dan nyelonong pergi diikuti Malik yang juga pamitan kembali ke kelas. Aratha ikut-ikutan izin sebentar untuk mencuci wajah di kamar mandi kantin. Lalu, meninggalkan Araja juga Arizha yang sama-sama menutup mulut.


"Lo pindahan dari mana, Zha?" tanya Araja karena merasa bosan tak diajak bicara. Apalagi Arizha sibuk dengan makanannya.


"Dari Jogja," balas Arizha singkat. "kamu dari kelas mana, Ja?" tanyanya meski terbata. Agak gugup dekat dengan cowok di sebelahnya ini.


"IPA 6. Lo baik-baik aja 'kan sama Ratha? Kalau itu cewek bikin lo ribet, gusur aja ke kelas gue, biar gue kasih pelajaran."


Arizha tersenyum menanggapi dengan anggukan kecil kepalanya.


✖﹏✖


Gadis berambut panjang itu tak peduli jika bajunya sudah berlumurkan darah karena yang ia lakukan hanya menjerit dan memeluk Ibunya yang terkapar tak berdaya di kelilingi orang-orang yang memandang dengan iba.


"Ka ... mu jaga Saka, Ra." Ibu berkata dengan tak jelas, tetapi membuat Aratha semakin meraung tak terima.


"Kakak," panggil anak kecil berusia enam tahun di balik tubuh Aratha yang ringkih. "Kakak." Sekali lagi anak itu memanggil. Masih tak dihiraukan membuat anak kecil itu gemas dan merengek hingga mencipratkan air ke wajah sang Kakak yang langsung menjerit dan melompat dari kasur saat itu juga.


"Siapa lo?!" tanya Aratha waspada. Cewek itu memasang kuda-kuda dengan kedua tangan mengepal di dada. Siap menerkam siapa saja yang berani membangunkan tidurnya.


"Kakak, Saka lapar."


"Dasar si Jamur ngagetin gue aja." Aratha berdiri tegap mengubah posisinya barusan. Lalu ia mengacak rambut hitam berponi milik Saka---Adiknya. Kemudian kabur ketika renggutan adiknya terdengar.


Aratha yang melihat adiknya memasang kuda-kuda membuat Aratha berteriak, "Kakak nggak mau masak kalau kamu mau mukul Kakak." Aratha mengancam ketika terpojok dikejar adiknya sampai di kolam renang. Jika dirinya mundur beberapa langkah, mungkin dirinya akan tercebur.


"Saka lapar, Kakak." Saka kembali merengek. Ketika langkah pendek Saka perlahan maju, Aratha bergerak mundur hingga tercebur.


"Saka, tolongin!" teriak Aratha yang tak bisa berenang. Cewek itu berkali-kali tenggelam dan muncul kembali ke daratan.


"Aku panggil Kak Raja, Kakak." Saka berlari cepat ke luar dan memanggil teman kakaknya agar bisa menolong Aratha. Tak lama, Araja datang dan segera menceburkan dirinya ke kolam dan membawa Aratha yang tak sadarkan diri.


"Kak Rara, baik-baik aja, 'kan, Kak?" Saka bertanya ketika Araja berusaha mengeluarkan air dari tubuh Aratha dengan menekan berulang kali dada perempuan itu.


"Kenapa Kakak kamu bisa nyebur, Sa?" tanya Araja yang mulai khawatir karena cewek itu yak kunjung sadarkan diri.


Saka bergerak tak nyaman. "Ini gara-gara Saka, Kak. Saka mau makan dan kejar Kakak karena Kakak panggil aku Jamur," jelas Saka. Anak kecil itu mengembungkan pipinya melihat Aratha yang tak kunjung membuka mata. "Kakak nggak akan ninggalin aku, 'kan, Kak?" Nada bicara bocah kecil itu bergetar. Susah payah Saka menahannya agar tak menangis.


"Rara nggak bakal ninggalin kamu, Sa." Araja mengusap bahu anak kecil itu untuk menenangkan. "kalau mau nangis, ya, nangis aja," katanya sebab tak tega melihat mata Saka yang berkaca.


"Kata Kak Rara cowok nggak boleh nangis," ujar anak kecil itu sok benar. Araja terkekeh mendengarnya, jangan sampai kebodohan cewek ini menular juga pada adiknya. Miris.


"Kata Bang Fariz, kalau pingsan nggak bangun-bangun kasih napas buatan, Kak." Saka tiba-tiba saja berceletuk. Alis Araja menaut mendengar kalimat adik Aratha dan matanya bergerak melirik Aratha yang seakan bisu.


"Nggak, nggak, kamu aja, Sa," katanya disertai gelengan kepala membayangkan sesuatu yang akan membunuh dirinya sendiri.


Saka merengek, tangannya itu menggoyang-goyangkan lengan Araja. "Kakakk, nanti kalau Kak Rara tinggalin Saka, gimana?"


Mau bagaimana lagi. Helaan napas berat keluar dari bibir Araja, ia menatap Aratha yang berwajah damai, lalu ia meneguk salivanya susah payah. Pokoknya ini bukan salah gue, salah Saka tuh yang minta.


Araja memejamkan mata ketika menunduk mendekatkan wajahnya pada muka gadis ini. Jaraknya tinggal satu jengkal saja, mata Araja terbuka sedikit dan ia bergumam dalam hati, habis nih gue setelah melihat mata Aratha terbelalak lebar.


"HUAAAAAAAAA, LO APAIN GUE ARAJAAA?!"


follow instagram :


@ismimd_ // @katamd_ // @monthprojectseries.ofc****