Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
27° | JARAK YANG RENGGANG



Tobat lo jangan lanjutin ke club," teriak Araja ketika motor Malik berbelok di persimpangan jalan yang bukan arahnya pulang. Mendapatkan kode oke dari tangan Malik membuat Araja berdecak.


Araja melajukan motornya di jalanan yang masih cukup ramai oleh kendaraan. Matanya menatap fokus pada satu titik di sebuah toko ice cream yang cukup lenggang. Ia tak salah lihat jika di toko itu ada maskot kelinci tak memakai penutup kepalanya.


Araja menepikan motornya sebentar untuk memastikan bahwa perempuan yang tengah mengobrol dengan wanita dewasa itu adalah Aratha. Pemuda itu semakin memicingkan mata dan itu benar Aratha. Ia benci mengetahui fakta ini.


Selama ini Aratha membohonginya ternyata. Begitu apik hingga ia tak mengetahuinya. Ini alasan Aratha bahwa gadis itu sering pulang malam dengan alasan membeli makan.


Araja segera melajukan kembali motornya dengan perasaan yang bisa meluap kapan saja. Ia memukul stir dengan kesal, kenapa pula gadis itu tak memberitahunya perihal ini? Ia seharusnya tau jika Aratha bekerja di kafe itu. Bahkan jaraknya tak begitu jauh dengan rumah. Kenapa ia tak mencari tahu alasan Aratha selalu pulang malam dan ia menyadari bahwa dirinya bodoh sekali.


Araja merasa gagal untuk amanah atas mendiang ibu Aratha agar menjaga gadis itu.


"Sialan," umpatnya setelah motor yang ia kendarai berhenti di depan rumah. Ia menunggu Aratha pulang. Tak membutuhkan waktu lama, gadis yang ia tunggu akhirnya datang dengan sepeda yang ia kayuh. Gadis itu melemparkan senyum lebarnya, sedangkan Araja menatap datar dan menghampiri Aratha.


"Lo mau makan bareng gue sama Saka, Ja? Lumayan nih gue bawa banyak makan." Aratha menawarkan dan memerkan keresek yang ia bawa.


"Lo kenapa bohong sama gue?" tanya Araja yang langsung pada intinya. Ia menatap Aratha lurus.


"Bohong apa, Ja. Gue nggak ngerti arah pembicaraan lo. Sumpah." Aratha memalingkan wajahnya, ada senyum terpaksa di wajahnya.


"Kenapa lo bohong kalau lo kerja, Ra?"


"Ah, gue nggak ngerti apa yanglo bicarain." Aratha berbalik badan hendak melangkah ke rumah jika saja Araja tak kembali bicara.


"Gue lagi ngomong sama lo, Ra," tegas Araja merasa tak suka dengan sikap Aratha yang terkesan menghindar.


Aratha menoleh sebentar pada Araja. "Gue harus ke rumah. Saka pasti nunggu."


"Gue bilang gue lagi bicara." Araja mempertegas. Ia mencekal lengan Aratha agar perempuan itu menghadap padanya untuk berbicara. "lo nggak sopan ketika gue bicara. Lo harus tatap gue, Ra."


Aratha mendongak menatap wajah merah padam Araja. "Lo mau apa?" tanyanya.


"Lo kenapa kerja?" tanya balik Araja.


"Memangnya salah kalau gue kerja?"


"Nggak salah, cuma lo yang salah," tutur Araja.


"Gue salah? Gue cuma mau mandiri dan nggak mau susahin keluarga lo terus. Gue juga sadar diri, Ja. Gue sama Saka tak nggak mungkin bakalan bergantung terus sama keluarga lo dan minta seenak jidat. Gue juga punya malu," ungkap Aratha dan mengempaskan kasar tangan Araja. Gadis itu menatap Araja serius.


Araja memegang pundak Aratha. Tatapan matanya meneduh."Gue ngerti, tapi bukan gini caranya."


"Gimana, Ja? Jelasin sama gue dan gue harus ngapain," racau Aratha memyingkirkan kedua tangan Araja di pundaknya. "terus ngemis-ngemis sama bokap lo buat biaya keseharian gue, gitu?" serunya nyalang. Aratha tak bisa mengontrol emosinya saat ini.


"Ra, setidaknya lo kasih tau gue kalau lo mau kerja. Jangan sembunyi-sembunyi dari gue. Gue bukan orang asing bagi lo." Araja mengingatkan sahabatnya itu.


"Lo pikir lo siapa bisa gue kasih tau?" tanya Aratha dingin. Untuk kesekian kalinya Aratha menatap Araja serius.


Araja tak percaya gadis di depannya ini mengatakan hal yang membuatnya tersenyum meremehkan. Ternyata, semudah itu Aratha melupakan apa yang sudah ia lakukan selama ini.


"Asal lo tau, kalau gue orang yang bakal jagain lo, apa pun yang terjadi." Araja mendorong bahu Aratha beberapa kali untuk memperingati. "amanah ibu lo selalu gue lakukan ..." Araja menggantungkan kalimatnya dan menatap Aratha tepat di mata dengan lamat-lamat. "karena lo orangnya gegabah, Ra. Gue tau lo."


Kemudian, Araja membalikkan badanya dan mendecih saat itu juga. Sementara, Aratha juga melakukan hal yang sama meski hatinya sedikit mencelos.


✖﹏✖


Hari libur adalah waktu Aratha untuk membersihkan tempat ternyamannya ---kamar. Suasana kamar yang diiringi dengan lagu Dia Milikku milik Yovie Nino ditambah dengan lantunan semangat dari Aratha mampu membuat bising tetangga sekitarnya. Namanya juga Aratha yang harus bahagia, tak peduli amukan masa para tetangga.


Gadis yang rambutnya terikat acak-acakan itu menyimpan kotak-kotak hitam di atas meja belajar. Ada sepuluh kotak setelah ia hitung seluruhnya, mungkin beberapa hari ke depan akan ada lagi kotak tambahan, pikirnya.


"Lumayan, buat bungkus kado ultah temennya Saka." Aratha terkekeh dan kembali mengambil sapu di samping meja.


Dia milikku, bukan untukmu


Dia milikku, bukan milikmu


Pergilah kamu jangan menganggu


Biarkan aku mendekatinya


karena dia berikan aku pertanda cinta


Janganlah kamu banyak bermimpi


"Terima kasih, terima kasih." Aratha membukukkan tubuhnya anggun selayaknya artis-artis yang sudah bernyanyi di atas panggung besar. Hanya saja, Aratha masih di kasurnya dengan mik dari sapu. Masih bermimpi.


"Kakak, Saka mau main sama temen-temen di lapang." Saka yang muncul di ambang pintu dengan sekumpulan anak-anak komplek muncul. Aratha segera melompat dari kasur. Malu diliatin bocah.


"Siap, jangan main yang macem-macem, yah," serunya menatap satu persatu teman komplek Saka.


Aratha kembali pada aktivitas beres-beresnya. Ia mengambil kemoceng untuk membersihkan barang-barangnya dan mengintip dari balik gorden untuk memastikan bahwa cowok yang membuat hatinya gundah itu tak ada. Kemudian, ia membuka lebar-lebar gorden hingga cahaya masuk ke kamarnya setelah dipastikan Araja tak ada.


Sedangkan di kediaman Araja sendiri. Cowok itu menerima kotak kue dari Mamanya yang baru saja selesai dari dapur. Araja menolak ke rumah sebelah ketika Mamanya menyuruh dirinya memberikan kue. Jelas, Araja malas bersitatap dengan Aratha.


Pasrah saja untuk tidak mendapatkan omelan lebih banyak dari sang mama. Araja segera melangkahkan kaki menuju rumah Aratha. Sesampainya di depan pintu bercat putih, cowok berkulit putih itu berjongkok mengambil kotak hitam yang seingatnya ini adalah paket yang ditemukan Aratha waktu malam beberapa hari yang silam. Namun, setelah ia bolak-balikkan tak ada alamat yang tertera.


Penasaran, Araja membukannya dan mendapatkan suratan hitam di dalamnya. Araja menatap ke depan setelah membaca surat yang berisikan ancaman kematian dan balasan dendam pada kertas lainnya.


"Gue **** banget. Aratha nggak punya saudara di kampung," gumamnya sadar kalimat yang dilontarkan Aratha ketika ia bertanya kotak hitam ini dari siapa. Araja masih tak percaya, selama ini Aratha membohonginya.


Tak mau lama-lama, cowok dengan kotak hitam dan kotak kue yang sudah ia simpan di meja ruang tamu itu segera memijaki tangga satu persatu menuju kamar Aratha dan sang pemilik tampak terkejut dengan kehadirannya.


"Lo bohongi gue lagi, Ra," katanya datar. Ia mendekati Aratha dan menunjukkan kotak hitam di tangannya.


Aratha sempat tertrgun beberapa detik sebelum bertanya, "Kenapa ada di lo?"


"Di depan rumah," jawab Araja. Cowok itu melirik meja belajar ketika beberapa kotak yang serupa mencuri perhatian. Aratha menghalangi ketika Araja hendak mengambil kotak-kotak itu.


"Ngapain lo? Ke luar sana, gue mau beresin kamar," titah Aratha mencoba menyingkirkan Araja yang malah membuat tubuhnya bergeser ketika Araja menyingkirkan dirinya. Aratha menghela napas gusar. Ini akan berakhir tak baik.


"Lo nggak boleh buka barang-barang gue!" seru Aratha ketika satu persatu kotak-kotak di meja Araja jatuhkan ke lantai dengan sengaja setelah membaca hal-hal yang serupa seperti pada kotak yang ia temukan.


"Lo kenapa bohongi gue lagi, Ra? Lo nggak percaya sama gue?" tanya Araja menyentak dan memojokkan Aratha di tembok. Ia menatap lurus tepat dimanik cokelat Aratha.


Aratha tersentak sekejap dan menjawab seraya mengangguk-anggukan kepalanya. "Gue bisa simpen ini sendiri. Gue bisa, kok."


"Ra, ini bukan hal sepele buat lo. Kenapa lo nggak kasih tau, sih?" tanya Araja yang merasa tak berguna untuk menjaga Aratha.


Aratha memutar mata disertai kekehan meremehkan dan kembali menatap Araja. "Karena lo selalu mikir gue nggak bisa, Ja," ungkap Aratha.


"Gue nggak percaya ka---"


Aratha memotong kalimat Araja. "Gimana gue mau percaya sama lo kalau lo sendiri nggak percaya sama gue, Ja!"


"Gue kenal lo, Ra. Ketika lo bilang hari ini lo bisa, setelah kejadian lo nggak akan bisa," tutur Araja menyadarkan. Meski lebih tepatnya bagi Aratha adalah sebuah kalimat yang mematahkan.


"Gue bisa tanpa lo," seru Aratha masih pada pendiriannya. "gue bisa meski tanpa bantuan lo," sambungnya menunjuk-nunjuk dada Araja dengan telunjuk.


Araja mendecih dan menepis tangan Aratha. "Udah, lha. Ngomong sama orang yang keras kepala kayak lo nggak ada gunanya. Gue juga yang cape sendiri," katanya.


"GUE NGGAK NYURUH LO BUAT URUS GUE, JA."


"Terserah, Ra. Gue nggak peduli omongan lo." Araja masih keukeuh sebab merasa kenal dengan sosok cewek di depannya.


"Sana lo pergi, gue nggak butuh," cetus Aratha yang kemudian mendorong dada Araja untuk menyingkir dari hadapannya saat itu juga.


"Tapi gue butuh," ungkap Araja yang kemudian melangkahkan kaki ke luar kamar.


Aratha mengembuskan napasnya pelan melihat punggung tegap Araja menghilang di balik pintu. Ia menutup wajahnya sendiri ketika buliran bening turun dari mata, perlahan juga tubuhnya merosot ke bawah dengan kedua kakinya ditekuk.


Aratha bohong mengenai apa yang ia ucapkan. Ucapannya terkadang sering berbalik dengan apa yang diucapkan sang hati nurani. Aratha tak benar-benar untuk tidak membutuhkan Araja. Bahkan saat ini juga ia membutuhkan perlindungan Araja untuk merengkuhnya dan membisikkan kalimat yang membuatnya tenang.


Aratha keterlaluan sekali pada Araja. Tangisnya semakin menjadi, bahkan gelas yang ada di nakas ia lemparkan sembarang arah dan berteriak nyaring atas ulahnya sendiri.


"Maaf, Ja."