
Taman belakang gedung basket ini cukup ramai dengan beberapa murid Skyline yang tengah beristirahat ataupun mengerjakan tugas yang memang taman ini disediakan meja khusus untuk belajar dengan bentuk melingkar di bawah pohon rindang.
"Bukannya lo itu dari Yogya, bukan dari Tokyo, kan?" Aratha yang ada di sebelah gedung selatan di bawah pohon rindang berbicara pada cowok di sampingnya. "gue liat postingan lo beberapa hari sebelum ke sini. Di Tokyo ada salju, masa iya di Yogja ada salju juga. Sebego-begonya gue, di Indonesia cuma ada tiga musim," cerocos Aratha yang mengundang rasa penasaran Arizona di sampingnya.
"Tiga musim?" cengo Arizona. Lalu, ia membenarkan, "dua musim yang benar."
"Tiga, lha. Ada musim hujan, kemarau, dan musim ditinggal pas lagi sayang-sayangnya." Aratha tertawa setelahnya. Padahal tidak ada yang lucu. Arizona saja tidak menarik sudut bibir untuk terkekeh karena musim abal-abal itu.
"Lo ngaco. Mana ada musim abal-abal kayak gitu," elak Arizona agak sewot. Mungkin hanya pola pikir Aratha saja yang abal-abal.
"Ada. Pas waktu kelas sembilan gue pernah ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya sama seseorang." Aratha berlagak sok sedih. Berdrama sedikit tidak apa-apa untuk menyindir kisah lalu dirinya dan Arizona.
"Siapa?" Arizona bertanya dengan iseng. Pura-pura tak paham.
"Cowok di sebelah gue." Aratha memperjelas dengan decakan. Kesal sekali bahwa Arizona ternyata masih saja tak peka seperti dua tahun lalu.
"Gue?" Arizona mengulang disertai telunjuknya yang menunjuk dirinya sendiri.
"Mikir sendiri aja. 'Kan punya otak," judes Aratha ngambek. Tangannya disilangkan di dada dengan wajahnya yang ditekuk marah.
Arizona yang melihat itu terkekeh geli. Ia menyenderkan tubuhnya ke belakang. "Lo masih dendam sama gue?" tanyanya penasaran akan respon gadis yang tak lama ini sering sekali membuat bising telinganya.
Gadis berambut panjang ini menatap Arizona tajam. Bahunya naik turun seirama dengan napasnya yang menggebu. "Ya, dendam, lha. Gimana nggak, gue masih nanggung malu sama temen angkatan yang juga sekolah di sini."
"Jadi, gue harus gimana buat hilangin rasa malu lo itu?" Arizona bertanya dengan santai. Matanya menatap serius pada Aratha yang menatapnya balik tanpa kedip.
Sejurus kemudian ia berseru, "JADI PACAR GUE."
Arizona mengaduh terkejut meski pelan. Kemudian mengangguk dengan seulas senyum tipis. "Boleh aja." Melihat senyum mengembang gadis di sampingnya membuat Arizona mendekatkan wajahnya. Tampak jelas sekali bahwa pipi Aratha bersemu merah ketika ia menghapus jarak antara keduanya.
"Tapi setelah lo menang tantangan dari gue." Arizona tersenyum menang setelah membisikkan hal itu di telinga Aratha. Cowok itu melambaikan tangan sekali ketika menjauh dari Aratha yang menahan napasnya dan kemudian menjerit keras setelah Arizona terlihat menghilang dari pandangan.
"KASIH GUE SATU MINGGU. GUE PASTI MENANG. LIAT A---" Aratha menghentikkan jetitan senangnya ketika sesuatu mendarat di kepala. Ranting kecil.
"DASAR LO. SIAPA YANG LEMPARIN RANTING KE GUE?!" Aratha berteriak menyita perhatian beberapa pelajar di sana. Tak mendapatkan jawaban, Aratha malah kembali mendapatkan ranting yang mendarat di kepalanya. Secepat kilat ia menengadahkan kepalanya dan mendapati Araja di atas pohon.
"LO SEJAK KAPAN DI SANA? LO NGUPING GUE NGOMONG SAMA AR, YAH?" Aratha menduganya. Masih menyita perhatian, gadis itu naik ke bangku yang duduki dan melompat-lompat untuk meraih kaki Araja yang menjuntai.
"TURUN LO, JA. TURUN!" Aratha menarik sepatu cowok itu yang dapat ia gapai. Ia terus saja menarik paksa Araja agar segera turun.
"Diem lo. Nanti gue jatuh." Araja mencoba melepaskan sepatu yang ditarik Aratha. Mencoba memberontak agar dirinya tak jatuh dari dahan pohon yang cukup besar.
"***! Pinggang cantik gue." Araja mengaduh kesakitan ketika Aratha berhasil membuatnya terjatuh menyentuh tanah yang tertutupi rumput hijau. Ketika Araja mengusap-usap punggungnya, Aratha tampak beberapa meter di depannya yang dengan lidah terjulur meledek Araja yang segera bangkit untuk menangkap gadis nakal itu.
"GUE NGGAK AKAN BIARIN LO RATHA." Araja berteriak. Ia ingin balas dendam. Mengejar Aratha yang kian jauh dan terus saja berkeliling taman mengganggu kenyamanan pelajar lain membuat Araja gemas untuk segera menggiring sahabatnya pergi dari sini.
✖﹏✖
Gadis itu menghela napas panjang menatap atap gedung basket yang jauh dari posisi terlentangnya. Helaan napas kembali dibuangnya sebab latihan hari tak ada Araja yang menemani. Cowok itu katanya mau bolos nongkrong di warung deket sekolah.
Padahal Aratha harus menyiapkan diri untuk bisa bermain semaksimal mungkin minggu depan. Sempat merutuki dirinya yang menantang akan menunjukkan kemampuan pada Arizona dalam jangka waktu yang dekat. Namun, Aratha tak akan menarik kata-katanya karena ia mengikuti jalan ninja Naruto.
Tak ada Araja sama sekali tidak ada efeknya untuk latihan, tetapi Aratha belajar bahwa ia cukup mandiri untuk bisa seperti ini. Buktinya ia bisa mencetak skor dua puluh enam dalam satu jam. Jika harus lima puluh poin dalam setengah jam, Aratha mungkin tak bisa. Tapi tetap berusaha, ia akan mencetak poin lima puluh meski melewati batas waktu yang ditentukan.
Tekadnya sudah bulat. Maka jika sudah begitu, Aratha yakin bahwa ia pasti bisa meski realita memaksa untuk tidak. Kali ini, gadis dengan rambut yang disengaja terikat berantakan itu mengembuskan napasnya dengan pasti.
Aratha mengerjapkan matanya berulang kali, kemudian menguceknya perlahan. Tak mungkin ia salah melihat bahwa kepala Arizona menyembul di depan wajahnya.
"Gue nggak mimpi?" tanyanya pada diri sendiri. Namun, ia yakin ini bukan mimpi ketika sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.
"Lo nggak mimpi. Lo bisa liat gue buktinya." Arizona bersuara. Cowok itu menyelonjorkan kakinya di samping Aratha yang mengambil duduk bersila dengan rusuh di samping Arizona yang menyodorkan minuman kaleng pada Aratha yang langsung menerimanya dengan senyum lebar yang tak dapat disembunyikan lagi ketika hatinya membuncah senang dengan perhatian kecil Arizona.
"Lo ngapain di sini?" tanya Aratha setelah meneguk minumannya dengan rakus. Dirinya haus setelah satu jam berlatih dan melewatkan jam pelajaran. Tak apa, di kelasnya sedang tak ada guru. Meski ada guru, Aratha akan bolos saja. Ia tak suka belajar.
"Cuma mau main basket aja dan ternyata ada lo yang tiduran di tengah lapang," jelas Arizona yang merasa geli dengan ekspresi Aratha ketika ia memasuki ruang luas ini. Apalagi tingkah lucu gadis di sampingnya yang mengerjap tak percaya atas kehadirannya.
"Di kelas lo emangnya nggak ada guru?" tanya Aratha berbasa-basi. Topiknya merasa asing dengan Aratha yang semestinya tak menanyakan hal yang bersangkutan dengan pelajaran, guru, apalagi tugas. Bukan Aratha banget.
"Nggak, Pak Eddie katanya ada keperluan. Lo sendiri?" Arizona balik bertanya setelah menjawab pertanyaan Aratha.
Aratha berdecak malas. "Gue nggak mau bahas guru, ah. Apalagi Pak Eddie yang suka banget ngasih tugas, tapi nggak nerangin sama sekali." Aratha menjelaskan dengan malas guru senior di sekolahnya.
"Terus, lo kerjain tugasnya?" tanya Arizona ikut berdiri mengikuti Aratha yang mengambil bola basket di bawah ring.
"Ya enggak, lha. Ngapain ngerjain tugas, mendingan gue kabur aja ke kantin kalau nggak ya rebahan di taman atau perpus. Lebih mantul." Aratha tertawa atas kalimat yang ia lontarkan. Tersadar ia tengah berbicara dengan Arizona, Aratha membekap mulut dan merutuki dirinya bodoh telah membuka celah kelakuan buruknya.
"Hei, Zha. Ngapain ke mari? Nyamperin gue, ya? Kangen, nih?" Aratha mengalihkan topik ketika pintu gedung berdecit dan terlihatlah Arizha yang perlahan melangkah mendekati Aratha yang denga iya over kepercayaan diri bertanya bahwa gadis itu rindu setelah satu jam berlalu tak bertemu.
"Hai, Ratha. Nggak ada temen di kelas, jadi aku ke sini nyamperin kamu." Arizha menjelaskan ketika tepat di hadapan Aratha dengan bola basket di pelukannya. Melihat Aratha yang mengerucutkan bibirnya membuat Arizha terkekeh dan tersenyum.
"Eh, Zha. Kenalin, nih. Ar yang kayaknya sering gue sebut-sebut, deh." Melihat mereka menjabat tangan dan melempar senyum membuat Aratha senang. "Dan, Ar. Ini Rizha, temen terbaik gue yang gue punya," lanjutnya memperkenalkan Arizha pada Arizona.
"Mau main, Zha?" ajak Aratha mengangkat bola oren di pelukannya. Aratha merajuk ketika melihat gelengan kepala Arizha dan gadis itu memilih duduk di tribun untuk menyaksikan.
"Gue ajarin," ucap Arizona dan mengambil bola basket di tangan Aratha. Aratha sendiri bengong untuk sekian detik sebelum suara Arizona menyuruhnya mendekat.
"Gue harusnya latihan sendiri aja. Nggak usah diajarin lo. Ini 'kan syarat dari lo juga," tutur Aratha dengan otak lobsternya yang berubah normal saat itu juga.
"Biar lo lebih gampang jadi cewek gue."
Apa Aratha tak salah dengar? Arizona memberikan sebuncah harapan untuk ia lebih cepat menjadi pacarnya. Astaga, Aratha ingin pingsan saja dan bermimpi ia akan menjadi sang istri dari Arizona Prima Putra.