
"Maaf, Kak. Boleh saya tanya sesuatu?"
Araja, Kalvian, dan Malik yang kala itu sedang nongkrong di koridor kelas sepuluh nampak menoleh berbarengan pada perempuan dengan perlengkapan MOS yang berdiri di hadapan mereka. Tidak hanya satu dua orang yang mendatangi mereka karena mereka datang satu kelompok yang terdiri dari tujuh orang setelah Malik hitung dengan jari.
"Nanya apaan, nih? Kalau pacar, gue nggak punya. Masih cari yang pas." Malik berceloteh. Kalvian menoyor temannya itu.
"Nih, dia nawarin diri. Barangkali lo-lo semua mau." Kalvian mempromosikan Malik diakhiri tawanya yang geli.
"Mau nanya apa?" Araja muncul dari balik punggung kedua sahabatnya. Memisahkan jarak antara keduanya hingga membuat Araja sendiri berada di tengah kedua sahabatnya.
"Ini, Kak. Kami dapat tugas untuk mencaritahu tempat Skyline dengan teka-teki ini. Barangkali Kakak tau dan kami harus segera ke sana sebelum waktu habis." Cewek dengan name tag dari karton bertuliskan Silmi itu memberikan secarik kertas petunjuk pada Araja yang menerimanya.
Kedua temannya mendekat membaca tulisan rapi di kertas. Tak lama, mereka kembali menjauh menjaga jarak. "Terus?" tanya Araja setelahnya.
"Kami menunggu jawaban Kakak." Latifa menyahut gemas.
"Apa keutungannya buat gue sama temen-temen gue?" tanya Malik dengan tangan menyilang di dada. Cowok itu mulai deh. "kalau gue dapet jodoh, sih, ya nggak apa-apa gue kasih tau." Malik pura-pura memainkan rambutnya yang tebal itu.
"Kalau gue bisa pinter, sih, gue kasih tau jawabannya." Kalvian ikut-ikutan. Cowok itu menyenderkan tubuhnya pada jendela kelas yang kosong dengan santuy. Sementara, Araja tersenyum miring melihat tingkah kedua temannya. Ia hanya berdiam diri memerhatikan peserta MOS setelah memberikan kertas itu pada sang pemilik.
Dari belakang, siswa laki-laki yang memiliki nama Aksen itu menyahut melihat teman-temannya yang hanya diam. Ia menyeletuk, "Kakak kalau mau dapet jodoh, ya, usaha, Kak. Jodoh itu bukan ditunggu, nanti kesambet sama yang lain terus kalau nggak ada usahanya."
Peserta MOS yang lain menyetujui. Dasar, mereka mainnya keroyokan kalau udah ada yang ngomong.
"Kalau memang Kakak nggak mau usaha, Kakak bisa minta Ibu-Bapak untuk dijodohkan." Siswa di samping Aksen tadi memberikan saran yang membuat peserta MOS dan Kalvian juga Araja tertawa. Malik nampak mendecih tak suka.
"Anjirr, kejam nih junior gue," pungkas Malik menurunkan lengannya dari dada. Biasanya jika cowok itu sudah berlagak seperti itu, maka siswa yang terutama perempuan tidak akan membalas ucapannya. Lha, ini bocah berani juga.
Peserta MOS bergilir menatap Kalvian yang masih kalm pada posisinya. "Nah, kalau Kakak yang mau pinter. Kakak harus mau belajar dan terus belajar. Mau pinter tanpa usaha, ya, percuma aja." Silmi yang angkat suara.
"Betul, tuh, Kak." Yang lainnya menyutujui. Apesnya Araja dan Malik juga menyetujui disertai perintah agar tidak sering tidur setiap jam pelajaran.
"Sungguh kejam bocah jaman sekarang." Kalvian geleng-geleng kepala.
"Kami benar, bukan kejam, Kak." Latifa mengoreksi.
"Sekarang, jawabannya apa, Kak?" Aksen bertanya menatap Araja untuk meminta jawaban.
Tangan Araja mengibas di depan wajah dengan tampang sok jijik. "Nggaklah, lo pikir gue mau jadi cowok lo?" katanya.
"*****, gue cowok, Kak. Gue normal." Aksen menjawab emosi.
"Ayo, dong, Kak. Jawabannya apa? Nanti kami kena hukum kalau terlalu lama." Latifa mulai emosi, sedaritadi perempuan itu menahan emosi yang bisa saja meledak kapan saja.
"Lha, emang itu urusan gue." Araja berkata cuek tanpa melihat wajah juniornya yang menganga tak percaya. Dalam hati Araja berkata, ****** gue kerjain, hwahaha.
"Kakkk, beneran, dong, ini? Nanti kami harus keliling lapang kalau nggak selesai lima belas menit lagi." Latifa memohon dengan melas. Araja semakin tertawa kencang dalam hatinya.
"Kak, jawabannya, dong?!" Yang lainnya mendesak meminta jawaban ketiga kakak kelas mereka.
"Belakang gedung IPA."
"Gedung utama."
"Belakang gedung IPS."
Ketiga cowok ganteng itu saling pandang sebab jawaban mereka berbeda-beda dan tak lama kemudian mereka tertawa geli serta memberikan sinyal-sinyal kejahilan dengan menggerlingkan mata mereka.
"Hee, yang bener yang mana, Kak?" tanya mereka ngegas.
"Kita nggak tau, karena cowok selalu salah di mata cewek." Araja mewakili kedua sahabatnya. Kemudian dengan tanpa banyak cincong, ketiga cowok itu kabur dengan tawa mereka.
"KAMPRET!"
"BUANG-BUANG WAKTU AJA!"
"DASAR, KAKEL STRESS."
✖﹏✖
"Gue kesel, Raja! Kesel sama Arizona yang nggak kenal siapa gue yang cantik ini, Ya Rabb!" Aratha memulai perannya sebagai putri drama. Perempuan berambut panjang itu melemparkan bola oren di tangannya menuju ring yang hasilnya bahkan tidak mengenai papan sedikitpun.
Mengingat Arizona yang baru saja resmi menjadi murid Skyline School saja membuat kepala Aratha mengeluarkan asap hitam yang penuh akan emosi.
"Sorry, sorry, gue nggak sengaja."
Aratha mengaduh setelah seseorang menubruknya hingga terjatuh menyentuh lantai dingin ini. "MAKANYA, KALAU JA---" Kalimatnya mengambang di udara setelah kedua matanya melihat sosok tampan yang menatapnya heran.
"Kenapa?" tanya cowok itu bingung.
Aratha cepat-cepat berdiri dan menepuk-nepuk celana olahraganya asal tanpa melihat bagian mana yang kotor. "ASTAGAA, LO ARIZONA, YAA? KOK, MAKIN GANTENG, SIH?!" Aratha deg-degan hingga memegang dadanya yang seperti ingin melompat ke luar.
"Hah? Lo kenal gue?" Cowok yang dipanggil Arizona itu bertanya balik.
"IYALAH, AR." Masih percaya diri, Aratha tak menanggapi mimik wajah Arizona yang kebingungan.
"Tapi, gue nggak kenal siapa lo." Meski pelan, telinga Aratha masih jeli untuk mendengar.
Tangannya yang memegang dada seakan tak bernyawa dan memilih pada posisi semula di samping badannya. "HAH? LO NGGAK KENAL GUE?" tanyanya histeris bahkan hingga bibirnya menganga tak percaya.
"Sorry, aja. Gue memang nggak kenal siapa lo. Gue baru aja ke Jakarta lagi setelah dua tahun nggak di sini," jelas Arizona agar tak terjadi kesalah pahaman pada orang yang mengaku mengenali dirinya.
"Memangnya lo ke mana sampai nggak kenal gue lagi?" Suara Aratha memelan bersamaan dengan hatinya yang mencelos.
"Tokyo."
Aratha mengibaskan tangan di wajah, tatapan matanya mengalih ke arah lain. "Iyalah, di sana pasti banyak cewek cakep yang lebih dari gue, 'kan? Pastilah, yah, lo 'kan tipenya yang harus bisa main basket. Sedangkan gue hanya dianggap plankton yang terlalu kecil untuk lo liat." Aratha mulai kacau. Memberi kesan tak baik untuk pertama kali pada Arizona yang tak mengenalinya.
"Gue nggak ngerti lo ngomong apa. Maaf." Arizona menggeleng pelan. Ia tak ingin melihat Aratha bertingkah seolah begitu dekat dengan dirinya.
"Halah, gue pasti akan dapetin hati lo, Ar," sanggah Aratha tak peduli pada tatapan Arizona yang tak dapat didefinisikan.
"Sorry, tapi bisa nggak lo anterin gue ke ruang Tata Usaha. Gue harus tau di mana kelas gue."
Aratha menutup mulutnya menahan tawa mendengar bantuan Arizona. "Huftt, lo nggak tau di mana Tata Usaha?"
Arizona menjawab, "Makanya gue nanya."
"Lo masuk lewat sana, tapi nggak tau Tata Usaha?" Aratha tertawa geli menunjuk gedung utama sebelah barat. "padahal ada di sebelah UKS, haha," lanjut cewek itu. Tanpa dosa ia tertawa kencang di hadapan Arizona.
Araja yang mendengarkan cerita penuh emosi dan tawa itu membuat Araja ikut terbahak karenanya. Tak habis pikir dengan tingkah laku Aratha yang terlalu ekspresif pada siapa saja. Jika Araja ada pada posisi Aratha waktu itu, mungkin ia memilih bertingkah seolah juga salah mengenal orang.
"Lo lebih cakep kali, jadi si Ar nggak kenal sama lo atau memang dia nggak mau berhubungan sama lo lagi, bwahaha." Araja mengejek. Apesnya, cowok itu dilempari bola basket hingga mengenai kepala.
"Dasar lo. Kepala gue jadi sasaran aja bisa kena, masa kena ring sedikit aja nggak bisa," terang Araja dengan ketus. Cowok itu mengambil bola oren itu dan mendriblle bola tersebut dan melakukan lay up hingga masuk dengan mulus pada ring.
Melihat Araja yang bisa memasukkan bola dengan penuh gaya itu membuat Aratha berlari mengambil bola itu. Hari ini tak ada sekeranjang bola oren, hanya ada satu. Kata Araja agar dirinya tak disusahkan oleh cewek bermata cokelat itu.
"Liat, nih, Ja. Gue pasti bisa masukin, nih." Aratha bersiap dengan ancang-ancangnya untuk melemparkan bola.
Melihat posisi Aratha yang tak bisa diandalkan. Cowok tinggi itu mengoreksi, "Kaki kanan lo maju dan ditekuk dikit."
Aratha melirik cowok itu sekilas dan berdecak. Meski tak suka diperintah, perempuan itu tetap melakukan apa yang dikatakan Araja. Lalu, ia segera melemparkannya, tetapi tertahan ketika suara Araja kembalu terdengar.
"Tangan kanan lo ada di samping kanan bola, tangan kiri lo juga harus ada di bawahnya bola. Dan posisi bola ada di depan pundak lo."
"Ngomong apaan lo, Ja?" tanya Aratha yang tak bisa melakukan apa yang dikatakan cowok itu padanya. Cowok berambut hitam tersebut hanya bisa mengoceh tanpa mengajarkannya secara langsung.
"Ra, ra, **** kok dipelihara." Araja tekekeh pelan.
"Kalo nggak niat bantuin, nggak usah ngoceh." Aratha mencibir. Gadis itu kembali pada posisinya, tapi tak melakukan langkah berikutnya yang barusan dikatakan Araja.
Dari belakang tubuh Aratha yang tingginya hanya sedagu itu Araja membenarkan posisi lengan Aratha pada bola. Sementara, perempuan itu hanya diam dibenarkan seperti itu. Merasa aneh.
"Tatapan lo harus fokus sama ring. Sekarang coba lo shoot," perintah Araja dan pindah posisi pada sebelah gadis itu. Memerhatikan Aratha yang serius dan mulai menembakkan bola pada ring.
Prang.
"GILAA, MASUK TUH, JAA."
✖﹏✖
follow instagram :
@ismimd_ // @katamd_ // @monthprojectseries.ofc