
Aratha memasukkan bekalnya pada tas milik Saka yang sudah siap pergi ke sekolah. Gadis itu menitipkan Saka pada tetangga sebelah untuk berangkat bersama, sedangkan dirinya kembali masuk ke dalam rumah untuk membereskan dapurnya sebelum berangkat dan sekalian menunggu pacarnya menjemput.
Gadis itu menaiki anak tangga menuju kamar untuk mengambil tas sekolah. Ia menyibakkan gorden yang menghalangi cahaya masuk pada kamar bernuansa cerah ini. Mata beriris cokelatnya menatap orang di kamar sebelah yang masih saja tertidur.
Aratha menghela napas gusar memandang pemuda itu. Memorinya kembali pada waktu malam kemarin, mungkin ia cukup berlebihan jika tidak membutuhkan Araja yang selama ini selalu ada untuknya.
Gadis berambut hitam itu segera memalingkan wajahnya ketika tak sengaja melihat Araja menatapnya. Dengan salah tingkah, gadis itu menyambar tasnya lalu berlari ke luar rumah dan bertepatan dengan mobil merah milik Arizona terparkir di depan rumah.
"Pagi," sapa Aratha ketika masuk dan duduk manis di samping kemudi.
"Pagi juga." Arizona menyapa balik dan kembali melajukan mobilnya. "lo kenapa? Kayak panik gitu?" tanyanya setelah melirik sekilas gadis di sampingnya.
"Gue baik-baik aja, kok." Aratha memberikan senyum lebarnya agar terlihat tak mencurigakan. Ia masih ingat tatapan datar Araja padanya. Cowok itu benar-benar ... susah menjelaskannya.
Aratha mengambil kotak makannya di tas. "Mau nggak?" tawarnya pada Arizona yang mengangkat alisnya bingung. "nih, gue bikin sarapan dan nggak sarapan tadi. Lo mau?"
"Kok sarapan mi?" tanya Arizona melihat isi kotak makan merah milik gadis di sebelahnya ini. "sarapannya yang sehat, dong," sambungnya merasa selera sarapan Aratha salah.
Aratha meringis pelan mendengar Arizona menasehati. Dirinya merasa geli mendengar Arizona peduli, di sisi lain ia juga geli pada dirinya sendiri yang berlebihan mengenai sikap Arizona padanya. Padahal itu hal yang biasa saja. Mungkin, Aratha terlalu lebay.
"Buat lo sandwich, buat gue mi." Aratha menunjukkan bekal satunya lagi di dalam tas dan segera membukannya.
"Kemarin 'kan baru sembuh, Ra. Jangan makan mi, makan sandwich aja biar sehat. Nggak baik pagi-pagi makan mi." Arizona berceloteh. Cowok ini jadi agak cerewet setelah lama-lama bersama Aratha. Ia jadi tertular virus Aratha yang tak mau diam.
Sementara Aratha meleleh mendengar Arizona berceramah mengomeli. Ia tidak marah, dirinya malah senyum-senyum membuat kesan horor pada Arizona yang mendengarkan.
"Terus, apa hubungannya sama kesembuhan gue?" Aratha bertanya sok polos. "Kemarin cuma sakit demam biasa, gue udah sering dapet," sambungnya.
"Terserah lo aja, Ra. Bandel kalo dibilangin," ujar Arizona pasrah.
"Idih, ngambek lo." Aratha tertawa geli melihat cowoknya ini merajuk sebab tak ia turuti. Dirinya menyuapkan mi dengan rakus dan cepat-cepat menelannya.
"Ngapain ngambek sama lo?" tanya Arizona judes. "Lo cuma bandel aja dan nggak mau nurut sama gue, itu aja," jelasnya seperti tak acuh.
Aratha tertawa. Cowok berambut cokelat di sampingnya tak bisa mengelak jika merajuk. Aratha dengan iseng mencubiti pipi Arizona gemas. "Ihh, ngambek lo lucu bingits. Nambah sayang, deh," katanya masih mencubit gemas pipi cowok ini.
"Apaan, sih, Ra." Arizona mencoba melepaskan cubitan tangan Aratha pada pipinya, meski Aratha kembali mencubitinya setelah terlepas. "Nanti mati nih kalau lo ganggu gue nyetir," katanya yang kembali memegang stir.
Aratha nyengir dan berkata dengan riang, "Nggak pa-pa, asal matinya sama lo. Gue ridho."
"Gue nggak mau mati sekarang, urusan gue belum selesai."
"Urusan apa?" Aratha kembali pada posisi semula dan kembali memakan mi miliknya. Tangan kecilnya menyodorkan sepotong sandwich pada Arizona yang langsung menerima. Padahal ia berniat menyuapi. Ah, dasar cowok nggak peka.
"Urusan mencintai gue, ya?" tebak Aratha pede.
"Gue udah mencintai lo," balas Arizona dan menoleh pada Aratha sebelum membuka pintu mobil. "jadi, apa lagi yang harus gue urusin?" tanyanya dan segera ke luar dari mobil diikuti Aratha yang masih memegangi bekalnya.
"Menyayangi gue?" tanya Aratha.
"Udah," balas Arizona menepuk pelan puncak kepala gadis di sebelahnya yang masih menyuapkan mi meski tengah berjalan dan beberapa orang memerhatikan keduanya. Mungkin, semua orang yang mereka lewati.
"Merindukan gue?" tanya Aratha lagi setelah memasukkan kotak bekalnya pada tas.
"Lo selalu ada. Jadi, nggak ada ruang untuk gue rindu sama lo." Arizona mampu membuat Aratha terbang melesat. Aratha kehabisan pertanyaan untuk diajukan, maka Aratha hanya tertawa sebagai akhir percakapan mereka.
"Kenapa nggak masuk kelas?" tanya Aratha ketika mereka berdua melewati kelas 2A2 ---kelas Arizona.
"Nganter lo ke kelas," katanya.
"So sweet." Aratha nyengir mendengar faktanya. Astaga, cowok di sebelahnya memang idaman seperti ftv yang sering ia tonton di rumah. Begini rasanya punya pacar, diperhatiin.
Aratha kembali menatap ke depan setelah merasa puas menatapi Arizona dari jarak dekat. Ia mengernyit heran pada loker di depan kelasnya yang salah satunya tampak tak berbentuk. Aratha menduga, sang teror itu pasti yang melakukannya.
Aratha mendecih menatap lokernya yang rusak dan membuka loker yang sama sekali tak ada sampahnya seperti waktu lalu. Kemudian, Aratha mengambil sesuatu di sana dan segera membaca kertas hitam di dalamnya.
Kau akan jatuh seperti pada neraka setelah kau terperangkap jebakan dariku.
--- double A.
"Ck," decaknya malas.
"Ra, bangku lo rusak," seruan dari anak kelas membuatnya kembali berdecak sebal dan segera melangkahkan kakinya menuju kelas. Arizona masih di belakangnya.
Aku bisa berbuat lebih daripada ini. Tunggu saja.
--- double A.
Aratha memasukan kedua kotak itu pada loker meja dan duduk dengan kesal di bangkunya. Napasnya menggebu seolah pasokan oksigennya semakin menipis dibuatnya. Napasnya menetral kala sebuah tangan mengelus pundaknya dengan maksud menguatkan.
Aratha ingat, masih ada Arizona yang dapat membantunya memecahkan semua teka-teki selama ini.
✖﹏✖
Pemuda itu ke luar dari kelas dan menghampiri perempuan yang membawa beberapa lembar di depan kelasnya. Ia menarik sudut bibir membuat lengkungan tipis yang tercipta dari wajah putihnya untuk membalas senyuman Arizha.
"Di kantin aja, yuk, Zha." Araja melangkahkan kaki menuruni anak tangga. Arizha di sampingnya hanya mengangguk dan berjalan beriringan dengannya. "Sekalian mau makan, lo udah makan?" tanyanya melirik Arizha yang hanya menunduk memerhatikannya langkahnya di setiap anak tangga.
"Belum," balasnya lembut setelah melirik sekilas Araja yang kemudian ia memalingkan wajah ketika matanya bersibobrok dengan iris cokelat Araja.
"Gue traktir kalau gitu," tawarnya. Sebenarnya, Arizha meminta bantuannya untuk membantu gadis lugu ini untuk belajar dan ia tak keberatan sama sekali. Ia senang karena bertepatan dengan Arizha menyusulnya, Aratha datang ke kelas. Ia sedang malas bertatap muka dengan gadis itu.
Di sisi lainnya lagi yang lebih tepatnya di kelas 2A6 itu hanya menyisakkan beberapa orang di kelas ketika bel istirahat berdering beberapa menit yang lalu. Di pojok kelas barisan ke dua, Aratha memajukan kuda birunya di atas kertas yang terdapat gambar ular dan beberapa tangga.
"Turun," seru Kalvian heboh dan tertawa karena kuda biru Aratha terus menerus saja turun pada ular yang sama.
"Kesel gue, bambank!" cibirnya menunjuk-nunjuk kudanya yang bahkan tak merespon sama sekali. Aratha berkhayal jika kuda mainannya itu dapat berbicara.
Malik menghitung langkah kuda hijaunya di kotak berwarna-warni pada kertas dan segera menyingkirkan kuda biru milik Aratha ke luar dari zona permainan. Cewek itu berteriak frustasi dan Malik serta Kalvian menertawakan hingga membuat beberapa teman kelas meneriaki ketiga orang itu.
"Gue sial terus perasaan," katanya memprotes.
"Nasib buruk lo deket, tuh, makanya sial terus," cetus Kalvian seraya mengoyang-goyangkan cangkir kecil di tangannya hingga benda di dalamnya bersuara.
"Masa?" Aratha memicingkan matanya curiga menatap Kalvian yang malah tersenyum lebar penuh arti.
"Iya, lha. Sekarang jimat keberuntungan lo 'kan pergi sama cewek lain." Malik menyahuti.
Aratha langsung memusatkan perhatiannya pada cowok di depannya ini. "Siapa? Cowok gue? Arizona?" tanyanya tak sabaran.
Malik tiba-tiba saja menggebrak meja. "Eh, anying, sejak kapan lo jadi ceweknya si sialan itu?" tanya Malik meninggi.
"Siapa yang sialan, hah? Cowok gue yang sialan?!" sumbu kecil emosi Aratha terpancing. Ia langsung tancap gas saja dan bersedekap dada dengan mata yang nyaris keluar dari tempatnya. "heh, upil upin ipin, tolong yah, cowok gue itu nggak sialan, tapi bikin sayang." Aratha seketika meleleh mengucapnya. Masig terbayang sikap Arizona tadi pagi padanya.
"Najis lo," cibir Kalvian yang mendengarnya tak suka.
"Emang bener. Biasa, lha, lo berdua 'kan jomlo, pasti ngiri sama gue," ejek Aratha membanggakan dirinya yang membuat Malik dan Kalvian seketika memegangi perutnya.
"Ih, anying, males banget gue ngiri sama lo, tong." Malik mendengkus sebal.
"Oh, pantesan aja si Araja milih jalan sama si Arizha." Kalvian mangut-mangut mengerti.
"HAH?!" Aratha langsung berteriak yang dihadiahi teriakan anak kelas yang protes karena berisik. "beneran Arizha diajak jalan sama Araja? Awas aja kalau tu anak bikin Arizha baper nggak kepalang. Arizha 'kan suka sama Araja," celoteh Aratha seakan cowok yang ia bicarakan ada di hadapannya.
"Terus masalah lo apa kalau Arizha baper sama Araja?" tanya Malik menatap Aratha.
"Nanti kalau Arizha cintanya sepihak terus Araja nggak tanggung jawab, siapa yang nanggung?" tanya Aratha berceloteh menatap secara bergantian pada kedua pemuda di hadapannya.
"Sok-sokan lo, tong. Gara-gara lo juga Araja berpaling sama Arizha," ujar Malik.
"Idih, mana ada," sanggah Aratha mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Terus, lo sama Araja gimana hari ini?" Kalvian bertanya pada intinya.
Mimik wajah Aratha berubah sendu. "Raja kayaknya marah sama gue."
"Kenapa? Lo bikin masalah, yah?" tebak Malik tepat pada sasaran.
"Ar kemarin nembak gue dan ngajak jalan sampe malem. Sialnya, gue lupa kalau Saka ada di rumah dan Araja tiba-tiba marahin gue," kisah Aratha. Gadis ini menekuk bibirnya ke depan.
"Pantesan aja, lha, Raja kayak beda hari ini."
"Dasar lo kutil kak ros," ejek Malik tak berperasaan.