Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
11° | PERSYARATAN DARI ARAJA



Aratha membuang sampah dengan sebal pada tempat sampah di depan kelasnya. Entah siapa yang melakukan ini pada loker mejanya yang ketika ia datang ke kelas terdapat tumpukan sampah di loker serta mejanya. Teman-teman kelas yang datang pagi nampaknya tak tau siapa yang melakukan itu pada Aratha. Aratha geram sekali.


Aratha berjongkok menatap loker mejanya yang meninggalkan beberapa sampah. Ketika ia merogoh loker dengan tak sengaja ia memegang sesuatu yang sepertinya adalah sebuah kotak. Benar saja, matanya tak salah melihat bahwa kotak ini sama hitamnya dengan kotak yang ia temui di depan rumah.


"Kenapa ada di sini?" gumamnya pelan. Lalu, ia membukannya. Ada surat hitam juga di dalamnya. Aratha mendengkus kasar mendapati itu, tetapi gadis itu tetap membacanya.


Aku akan memulai hidupmu seperti di neraka.


---double A.


Tulisan yang Aratha duga adalah tulisan laki-laki itu Aratha simpan kembali di dalam kotak dan mengambil tulisan yang lebih rapi dari surat tadi. Tulisan perempuan, sepertinya.


Tak apa, kamu akan bertemu Ibumu dengan perlahan.


---double A.


"Cih, dis is may lip, gue bilang. Nggak usah urus hidup gue. Lagian kalian nggak kenal gue." Aratha bergumam tak jelas. Ia memasukkan kembali kotak itu pada loker mejanya ketika suara Arizha terdengar buru-buru.


"Kamu nggak dengar bel upacara bunyi, Ra?" tanya Arizha yang sudah siap melenggang ke luar untuk menuju lapang utama.


Aratha membeo, "Udah bel?" Perlahan kepalanya ia tolehkan ke kanan-kiri dan kelasnya begitu sunyi tak berpenghuni. Ternyata, ia terlalu fokus membaca surat misterius yang menyebalkan.


"Iya, aku duluan, yah, Ra." Arizha duluan untuk menyusul teman kelasnya yang baru ke luar.


Aratha menepuk jidatnya ketika ia memegang seragamnya yang tak terbalutkan jas sekolah yang wajib dipakai ketika upacara hari senin. Ia berkali-kali merutuki dirinya yang ceroboh, ia selalu saja lupa membawa jas ketika hari senin. Pikirannya bergerak cepat untuk segera menemui Araja di kelas 2A6. Namun, ketika ia memacu langkah untuk keluar lewat pintu belakang kelas. Kepalanya terbentur seseorang yang menghalanginya.


"Udah gue duga kalau lo nggak akan bawa jas lagi," kata Araja terkekeh. Dugaannya tepat sekali. Langsung saja ia membuka jas biru tuanya dan melemparkannya pada wajah Aratha yang mendengkus, tapi tetap memakaikannya. "eh, lencana gue, Ra." Araja hendak mengambil lencana kelasnya setelah Aratha memakai rapi jas sekolah yang cukup besar ditubuhnya.


"Heh!" Aratha melemparkan tatapan tajam pada Araja yang tak paham ditepis kasar oleh tangan gadis galak ini. "nih, lencana payah lo." Gadis itu memberikannya dengan cepat yang kemudian dia berlari meninggalkan Araja dengan Malik serta Kalvian yang tak berceloteh sedikitpun di belakang tubuh jangkung Araja.


Ketika hendak berbalik ke lorong kelas 2A6. Araja, Malik, dan Kalvian dikejutkan dengan sosok Bu Ladda yang membawa tongkat tipisnya. Tatapan tajam guru BP itu nampak menyorot dan mengintimidasi pada ketiga cowok dari kelas yang sama.


"Araja, kenapa kamu ke sekolah?" tanya Bu Ladda ketika wanita tirus itu tepat berhadapan dengan Araja yang menggaruk belakang kepalanya. "kamu itu sudah saya kasih skorsing dua hari. Lalu, kenapa kamu masih sekolah?" tanya Bu Ladda galak.


"Saya udah di rumah dua hari dan nggak masuk sekolah, Bu. Hari sabtu dan minggu. Saya nggak salah, lho, Bu." Araja membela diri. Pemikirannya memang benar. Dua hari libur sekolah dan tak datang ke sekolah sama saja dengan skorsing yang mengharuskan cowok itu berdiam diri di rumah.


"Kamu masih di skorsing, Araja. Kamu harus merenungkan kesalahan kamu sendiri. Patuhi peraturan untuk tidak membuat kerusuhan di sekolah," jelas Bu Ladda menekankan untuk membuat Araja mengerti.


"Saya udah renungi, Bu," cetus Araja begitu saja.


Bu Ladda bersedekap dada dan bertanya, "Apa yang kamu dapat?"


"Emm ... Araja salah udah nggak patuhi peraturan sekolah dan saya juga salah udah tonjoki si berengsek, eh, si Arizona, Bu." Araja nyegir setelah menjelaskannya, cengirannya semakin lebar saja ketika Bu Ladda nampak curiga memerhatikan.


"Bagus, kalau begitu," ujar Bu Ladda terdengar tenang. Kepalanya ia tolehkan pada kedua pemuda yang setia di belakang Araja. Bersembunyi. "contoh temen kamu ini Kalvian, Malik," tegurnya lembut.


Ketika ada jeda di antara mereka. Bu Ladda meneliti pakaian anak kelas sebelas ini. Matanya yang tajam menyoriti Araja yang kembali menampilkan gigi rapinya. "Sekarang jas sekolah kamu mana Araja?"


"Hehe, anu, Bu, anu ...." Araja menunjuk tak tentu arah. Memberikan kode pada kedua temannya dengan mengedipkan mata, Araja langsung saja kabur memghindari hukuman Bu Ladda yang nyatanya ketiga cowok most wanted itu pasti akan kembali bertemu dengan beliau di lapangan utama.


✖﹏✖


Araja yang ditarik Aratha menuju gedung basjet indoor itu hanya bisa mengikuti dan mengeluh malas. "Gue males, yah, Ra." Cowok jangkung itu pasrah saja ketika kedua tangan Aratha mendorong punggungnya untuk masuk.


"Lo harus ajarin gue, Raja." Aratha terdengar merengek ketika berusaha membawa Araja masuk ke ruang luas yang sepi ketika jam istirahat. "gue harus menang tantangan dari Ar biar gue bisa jadi ceweknya. Kesempatan bagus buat gue," sambungnya bersemangat hingga ia malah menubruk punggung Araja yang berhenti mendadak.


"Iya! Makanya lo harus bantu gue." Aratha tertawa senang setelahnya.


Araja mengembuskan napas kasar. Matanya melirik Aratha lewat ekor mata. Sedikit risi, ia bertanya, "Tantangan apa, sih, Ra?"


"Emangnya gue belum cerita ke lo, yah?" Aratha menatap **** pada Araja. "oh iya, gue emang belum cerita sama lo, Ja," jawabnya sendiri. "gini, lho, Ja. Ahh ... nggak kebayang, deh, kalo gue beneran jadi pacarnya Ar," kisahnya dengan senyum malu-malu yang nampak di wajah Aratha yang bersemu.


"Lo bisa cerita yang bener, kan?" tagih Araja karena tak paham dengan pembicaraan gadis di sampingnya ini.


Arata menangkup wajahnya yang panas. "ASTAGA, RAJA, NGERTI DONG KALAU GUE LAGI NGE-PLAY INI," ujarnya semangat.


"Play itu main. Harusnya fly." Araja mengoreksi pelafalan vokal bahasa Aratha yang berantakan.


Aratha terkikik yang dengan malasnya gadis itu berujar, "Iya, deh, seterah lo."


"Terserah," koreksi Araja kemudian.


"LO NIAT NGGAK, SIH, DENGERIN GUE?" Aratha ngegas kalau sudah begini. Seakan murka, ia berkacak pinggang menghadap pada Araja yang memasang wajah datar disertai dengan bola matanya yang memutar.


"Iya, iya," pasrah Araja. Aratha tertawa melihat reaksi seperti itu.


"Gue harus bisa shoot bola limapuluh kali dalam waktu tigapuluh menit," ungkap Aratha dengan mata menatap penuh arti pada cowok yang menatapnya balik dengan datar tanpa ekspresi.


Araja memalingkan wajah. Ia berjalan mengambil bola yang tergeletak didekat ring. "Kenapa lo mau aja, sih, Ra?" tanyanya penasaran. Sesekali cowok itu mendribble bola dan melakukan rebound berulang kali.


"Ini kesempatan bagus buat gue jadian sama Ar, Ja," ungkap Aratha senang. Gadis itu sampai melompat-lompat tak percaya di tempatnya berdiri.


"Lo pikir lo bisa menang tantangan?" Araja melemparkan bola yang ia pegang pada keranjang basket. Selalu masuk dengan mulus seperti biasa meski jarak cukup jauh. Arah sedekat ring saja bahkan Aratha taj bisa memasukkannya.


"Bisa, dong! 'Kan ada lo yang bisa ajarin gue." Aratha tersenyum menatap Araja yang langsung memalingkan muka tak suka.


"Gue juga yang disusahin," desis Araja.


"Ayo, dong, Ja. Lo itu 'kan pelatih terbaik sepanjang masa. Gue yakin lo pasti bisa jadi pemain basket go internasional." Aratha berusaha membujuk teman cowoknya yang seperti menulikan indra pendengarannya itu.


Araja tak dapat luluh jika ia terus merengek seperti bayi. Lantas, ia bergerak mendekati pemuda bersurai hitam yang tengah mengarahkan bidikannya pada ring. Dengan cepat Aratha memeluk Araja dari belakang hingga cowok itu meleset ketika melemparkan bolanya.


"Ya, Ja, yayaya, ajarin gue, ya?" mohonya dengan mata berbinar-binar. Ia menyimpan dagunnya dibahu Araja, ia sedikit berjingjit karenanya. "ya, Ja. Ajarin gue, ya?" rayunya sekali lagi.


Araja mengembuskan napas. Ia melirik sekilas Aratha di pundaknya. "Ada satu syarat," ucapnya.


"Gue bakal lakuin apa pun itu, tapi lo juga harus bantu gue deket sama Ar. Gimana, gimana?" tanya Aratha semangat. Gadis itu memeluk leher Araja.


"Gue nggak dapet manfaatnya juga kalau Ratha kasih syarat juga," katanya dalam hati. Tangannya memegang kedua tangan Aratha yang tak bisa diam untuk membuat napasnya tersenggal.


"Lo nggak usah deket Ar kalau nggak menang tantangan dan nggak usah berharap berlebihan," terang Araja. Mendapat anggukan semangat dari gadis di belakangnya membuat Araja menarik sudut bibir.


✖﹏✖


instagram penulis : @ismimd_


instagram kata : @katamd_


instagram series : @monthprojectseries.ofc