
Tangannya lelah terus menerus menggosok-gosokkan lap pada meja yang semula putih bersih menjadi tak karuan dengan tulisan tangan beserta cat yang susah dihilangkan dengan hanya menggunakan air dan lap.
"Gue cape. Biarin aja, ah." Gadis dengan rambut panjangnya itu menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan pada meja.
Aratha sudah gemas untuk menghajar orang yang membuatnya muak dengan teka-teki teror yang menyusahkannya belakangan ini. Teman kelasnya sama sekali tak tau siapa pelakunya. Kasus mejanya sudah dua kali dan ini lebih parah dengan coretan persis seperti di loker waktu itu. Hanya saja, kotak hitam dengan surat kembali ada di bawah mejanya.
Bagaimana kejutannya dariku, Aratha?
--- double A
Aratha berdecak malas membacanya. Mata beriris cokelatnya menatap lamat-lamat tulisan putih di kertas hitam. Dirinya rasa bahwa tulisan ini seperti dikenalinya. Merasa tak asing. Namun, Aratha tak ingat siapa yang menulisnya.
Gadis itu mengembuskan napasnya berat. Jika begini, Aratha bisa mati penasaran jika tidak mencari tahu, tetapi ia tak tau harus melakukan apa tanpa otak-otak cerdas seperti teman-temannya. Namun, dari sisi lain ia tak ingin memberitahu Araja. Sudah cukup ia menyusahkan cowok itu.
Cepat-cepat Aratha menyimpan kembali surat itu ketika bel berbunyi nyaring dan Arizha masih tak kunjung datang dari ruang guru atas urusannya. Tak lama dari bel berbunyi, guru Bahasa Indonesia terlihat memasuki kelas bersamaan dengan Arizha di belakang beliau.
Arizha duduk di bangkunya dan Bu Navy memberikan pengumuman sebentar sebelum memulai pelajaran. "Teman kalian Arizha akan mewakili sekolah untuk perlombaan puisi tingkat nasional dua minggu ke depan."
"Teman gue ini." Aratha membanggakan teman satu bangkunya. Ia betertepuk tangan paling keras daripada teman kelas yang lain. Arizha tersenyum memaklumi Aratha.
"Mari mulai belajarnya. Kemarin pembahasan kita sampai mana?" Bu Navy membuka buku yang dibawanya. Setelah mendapatkan jawaban dari beberapa murid, ia menjelaskan seraya berjalan mengelilingi bangku murid-muridnya.
Aratha menyimpan wajah di tangan yang terlipat di meja untuk menutupi coretan-coretan yang akan membuatnya kena hukum. Guru yang menyukai kebersihan ini tak segan memberi hukuman meski dikenal baik nan ramah.
Aratha memang mendengar penjelasan Bu Navy, tetapi tidak sesungguhnya masuk ke otak. Ia sendiri lebih was-was ketahuan mejanya yang berlukiskan abstrak. Bisa-bisa ia tidak akan masuk kelas, tapi meski Aratha tak suka belajar bukan berati ia suka membantu penjaga perpustakaan membereskan buku.
"Ini masih pagi untuk kamu tertidur Aratha," tegur Bu Navy memergoki Aratha. Langkah kakinya ia bawa untuk mendekati murid yang tak pernah mengerjakan tugas dengan lengkap.
"Ratha nggak tidur, Bu." Aratha bersuara. Masih pada posisinya menelungkup pada meja.
"Kalau begitu bangun dan duduk dengan benar," titah Bu Navy. Aratha menggeleng, matanya melihat guru Bahasanya dengan bulir-bulir keringat di dahi. Astaga, Aratha tak mau dikirim ke perpustakaan.
"Apa yang kamu sembunyikan, Ratha?" tanya Bu Navy penuh kecurigaan. Aratha menggeleng tanda tak ada. Namun, Bu Navy menyingkirkan tangan Aratha.
Aratha tak pandai menyembunyikan sesuatu meski sudah berusaha keras.
"Apa yang kamu lakukan? Merusak fasilitas sekolah saja." Meski intonasinya tak naik, nada sinisnya mampu membunuh Aratha saat itu juga. Jika begini, Aratha ingin pura-pura mati saja. Seperti sinetron yang kemarin ia tonton.
"Ratha nggak coret-coret meja Ratha sendiri. Kalau Ratha niat coret-coret, pasti meja Rizha juga kena. Lha ini mah nggak, Bu. Kalau seandainya Ratha yang lakuin, buat apa juga, apa manfaaynya buat Ratha coba, Bu?" Aratha menjelaskan. Melihat Bu Navy tak percaya atas perkataannya membuat Aratha ingin segera mengeluarkan semua yang ada dipikirannya jika saja Bu Navy tak langsung berbicara.
"Kamu ke perpustakaan saja bantu Bu Nadine," perintah Bu Navy yang kemudian kembali pada pembahasan materi. Membiarkan Aratha mandiri untuk mengakui kesalahannya.
Aratha mendengkus. Keinginan Bu Navy tak dapat diganggu gugat yang pada akhirnya Aratha ke luar lewat pintu belakang kelas menuju gedung utama di mana perpustakaan ada di sana.
"Malesin, malesin, malesin, malesin, malesin." Aratha terus saja bergumam seperti itu untuk segera menuruni tangga yang dekat dengan gedung utama.
Lorong kelas tampak lenggang ketika belajar mengajar sedang terlaksanakan. Hanya kelas 2A2 yang tak berisi siapa pun. Aratha tak mau ribet memikirkan ke mana penghuninya, lebih baik ia ke perpustakaan merapikan buku-buku selama satu jam setengah.
Aratha membuka mata lebar-lebar mendengarkannya. Mana bisa ia membereskan buku dan membersihkan rak sebanyak itu. Rak buku di sini saja lebih tinggi dari ukuran tubuhnya.
"Saya peringatkan kamu untuk tidak tertidur ketika masa hukuman berlaku. Saya tau kamu sering tidur di perpustakaan ketika saya lengah menjaga. Dan kamu jangan membawa makanan ke perpustakaan. Di depan pintu sudah ada aturan yang tertera ketika memasuki perpustakaan. Paham, kamu?" Bu Nadine menjelaskan dengan sedikit gertakan agar muridnya paham.
Aratha menguap pelan. "Paham, Bu, Paham." Aratha mengangguk malas mendengar ocehan Bu Nadine yang suka sekali menceramahi dirinya setiap berjumpa. Mungkin faktor Aratha sering sekali ke perpustkaan dengan niat yang melenceng dari peraturan perpustakaan.
Mendengar ocehan Bu Nadine membuat Aratha mengantuk dan berulang kali menguap ketika melangkah menuju rak yang akan ia bersihkan dan bereskan. Gadis itu meluhat sekeliling yang terdapat anak-anak kelas sebelas yang belajar di perpustakaan. Pantas saja 2A2 terlihat sepi pikirnya.
Terlalu asik memerhatikan yang lain, Aratha menubruk dada bidang seseorang hingga dirinya terjatuh sebab kehilangan keseimbangan. Gadis berambut panjang itu mengaduh kesakitan sambil mengusap keningnya yang sempat berbenturan dengan dada bidang cowok.
"Sorry, gue nggak sengaja."
Aratha merasa familier dengan suara cowok itu dan Aratha mengurungkan niatnya untuk mengomel atau memarahi orang yang membuatnya terjatuh seperti ini ketika tau bahwa sang pelaku adalah Arizona. Melihat senyum cowok itu saja membuat hati Aratha meleleh dibuatnya dan lututnya seakan lemas untuk berdiri.
Arizona mengajak Aratha untuk duduk di bangku dekat kaca transparan perpustakan yang menampilkan halaman depan sekolah. Cowok itu memerhatikan Aratha yang memiliki rona merah di pipinya. Terlihat salah tingkah hanya karena tangannya dipegang oleh Arizona.
"Lo baik-baik aja, kan?" tanyanya merssa bersalah. Padahal Aratha lah yang ceroboh tak melihat langkahnya hingga menubruk Arizona.
"Jantung gue yang nggak baik." Aratha berdrama memegangi dadanya yang seolah ingin melompat dari tempatnya. Aratha masih ingat ucapan cowok di depannya ketika di gedung basket indoor.
Arizona tampak terkekeh geli. Cowok itu membuka buku dan membacanya serta mencatat hal-hal yang perlu ditulis di bukunya. Sedangkan, Aratha terpana melihat cowok yang memiliki rambut cokelat di depannya ini.
Aratha memangku dagu menggunakan tangan dan menatap Arizona yang dilihat semakin dekat semakin terlihat tampan saja. Melihatnya seperti ini membuat jantung Aratha memompa darah lebih cepat dari biasanya. Astaga, pikiran Aratha sudah melenceng ke mana-mana. Ia sudah memikirkan pernikahannya dengan Arizona dan memiliki tiga anak lucu.
Aratha cepat-cepat sadar pada halusinasi yang semoga tidak hanya halu saja. Bibirnya membuat lengkungan, ia masih saja tersihir dengan wajah serius Arizona ketika belajar. Kadar ketampanannya semakin meningkat saja membuat tulang Aratha semakin lunak.
"Lo lagi belajar aja ganteng, Ar. Makin meleleh gue liat lo kayak gini," ungkap Aratha dengan jujur. Ia tersenyum ketika Arizona melemparkan senyum padanya. "apalagi kalau senyum kayak gitu. Gue serasa melayang ke bulan," sambungnya dengan halu dipikirannya.
Arizona hanya tersenyum menanggapi Aratha. Pemuda itu kembali berkutik dengan buku-bukunya. Sementara, Aratha kembali pada aktivitasnya memandangi wajah menawan Arizona di depannya. Aratha tak bisa lepas dengan mudah dengan pesona Arizona.
Sedikit kepo akutnya keluar, Aratha bertanya, "Ar, sudut pandang lo ke gue itu gimana, sih? Kayak orang gila, nggak?" Arizona langsung memfokuskan pandangannya pada Aratha yang masih pada posisi yang sama.
"Lo terlalu ekspresif dengan apa yang lo rasaian bukan gila." Arizona mengutarakan pendapatnya dengan kekehan kecil di akhir katanya. Aratha sendiri tertawa mendengar pendapat Arizona. Berarti, hanya Arizona yang berpendapat bahwa ia waras.
Aratha yang salah atau Arizona yang salah memberi pendapat? Bahkan, Araja, Kalvian, dan Malik saja menyebutnya tak waras. Aratha meresa lucu dan berhenti tertawa ketika beberapa pelajar di sana menegur karena terganggu.
"Kalau kesan gue gimana menurut lo?" tanya Arizona yang membuat Aratha menatapnya lamat-lamat dan berpikir sejenak.
"Pas ketemu pertama lo judes, tapi tetep ganteng. Pas ketemu kedua lo masih judes, tapi masih ganteng. Terus lo juga baik nolongin gue dan lo makin ganteng aja. Terus lo juga ngobrol sama gue dan lo membuat gue makin jatuh cinta. Proses move on gue gagal, deh. Terus juga lo main basket sama gue, lo makin tampan aja. Apalagi senyum lo yang membuat lo semakin mempesona di mata gue," tutur Aratha dengan setiap kalimat yang diu-apkan berkali-kali membuat ekspresi yang berbeda membuat Arizona menarik sudut bibirnya.
"Aratha, kenapa kamu malah duduk di sini dan malah asik-asikkan mengobrol. Memangnya saya menyuruh kamu mengobrol sebagai hukuman?" Bu Nadine memergoki Aratha yang langsung berdiri dan menghormat untuk menjalankan hukumannya. Kemudian menyusuri rak setelah berpamitan pada Arizona.
"Gue bantuin, yah. Gara-gara gue juga lo malah ngobrol." Arizona datang membantu merapikan buku di rak.
Aratha senang dan tersenyum lebar. "Lo itu manis tau, Ar." Aratha menyeletuk.