Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
28° | KEDUANYA TERLUKA



"Aratha mendongakkan kepalanya merasa pening seharian di sekolah hanya digunakan tidur dan bolos pelajaran. Hatinya sedang tak baik bahkan untuk berbicara dan melangkah merusuhi kelas 2A6 yang selalu menjadi tempat pelampiasannya.


Empat jam terakhir sebelum bel istirahat berdering, Aratha hanya diam di kelas dengan tak semangatnya. Pikiran gadis itu hanya berpusat pada hubungannya dengan Araja beberapa hari yang lalu. Bahkan sebelum mengucapkan maaf, Araja malah menemukan apa yang ia sembunyikan.


Cowok itu memang benar bahwa dirinya tak akan bisa. Bahkan sebelum sesuatu terjadi ke depannya saja, Aratha sudah kehilangan penerangnya. Ia tak yakin bahwa ia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan Araja.


Hidupnya terasa kabur tanpa Araja. Aratha tau kalau dirinya masih butuh Araja. Pada akhirnya, Aratha hanya bisa menyalahkan dirinya sebab ia juga yang membuat Araja semakin jauh dari jangkauannya.


Aratha mendongakkan kepalanya merasa pegal dengan lehernya yang beberapa jam belakang ini hanya tertunduk di lipatan tangan atas meja. Gadis itu menyeka air mata yabg sempat membasahi pipi. Mata beriris cokelatnya mengedarkan pandangan ke semua penjuru kelas. Hanya terdapat Hany dan kelompoknya di baris ketiga.


"Lo nggak kayak biasanya, Ra," sahut Fira dari bangkunya. Aratha mencoba tersenyum lebar meski pada nyatanya cewek sok kuat itu hanya menyunggingkan senyum kecil.


Malia mengangguki dan berseru, "Hm, bener. Lo baik-baik aja?" Aratha malad berbicara, maka gadis itu hanya menggunakan bahasa internasional dengan kedua jarinya membentuk huruf o.


"*****, gue curiga lo putus sama si itu yang anak basket itu. Yang ganteng." Putri ikut menimbrung dengan riweh. Cewek berambut curly itu mencoba mengingat nama pacar teman kelasnya.


"Kalvian?" tanya Hany membeo. Kepala gadis berkacamata itu bergerak miring.


"Lo masih keukeuh yah suka sama si tukang molor itu. Udah gue bilangin jangan," omel Fira pada Hany yang kembali pada posisi semula dengan cemberut.


"Oh, pacar lo si Araja, yah?" tebak Putri yang sontak membuat mata Aratha membulat. Bagaimana bisa teman kelasnya menebak bahwa cowok itu adalah pacarnya. "ah, pasti si Araja. Tiap hari nempel gitu, masa kagak pacaran, sih. Bagi gue, anak basket yang ganteng itu Araja. Soalnya dia 'kan tim inti yang suka cetak poin kalau lagi tanding," sambungnya panjang lebar.


"Milendi nggak kalah keren," timbrung Malia. Membanggakan idolanya.


"Awas aja nanti gampar si Barbie." Fira memperingati.


"Eh, eh, lo mau ke mana?" tanya Putri melihat Aratha berdiri dari duduknya.


"Toilet," jawab Aratha. Gadis itu segera membawa langkahnya ke luar kelas menuju lantai bawah. Mendengar kalimat Putri sebelumnya membuat Aratha terkekeh perihal pacarnya adalah Araja.


Mengingat pacar, Aratha jadi ingat bahwa Arizona tak menghubungi sama sekali hari ini. Mungkin cowok itu sibuk bermain basket yang beberapa minggu lagi akan dimulai.


Aratha menghentikkan langkahnya ketika telinganya mendengar beberapa omongan siswa-siswi perihal dirinya di koridor utama lantai bawah. Ia mengedarkan padangan ketika orang-orang yang ia lalui tampak mememerhatikan. Entah itu hanya perasaannya, tapi ia merasa risi jika diperhatikan oleh pelajar sebanyak ini.


"Oh, itu, anaknya narapidana yang bokapnya bunuh diri duluan."


"Anak napi nggak pantes sekolah di Skyline soalnya Skyline bukan tempat yang nampung anak miskin kayak dia."


"Ayahnya nggak mau dipenjara, makanya tuh bunuh diri duluan sebelum ketangkep."


"Berengsek banget. Pasti anaknya nggak jauh beda sama bokapnya."


Aratha jengah mendengar sekumpulan anak-anak yang duduk di koridor kelas itu bersikap seolah tau bagaimana dia saat ini. Perempuan itu kembali melanjutkan langkahnya dengan terburu hingga tak sengaja menubruk sekumpulan orang yang berkerumun di depan mading utama.


Aratha penasaran, ia melangkah semakin dekat dengan mading yang menjadi pusat perhatian kali ini. Mereka menyingkir perlahan ketika ia mengambil langkah, seolah mempersilakan dirinya dengan leluasa. Biasanya ia akan berteriak dan menerobos orang-orang di mading jika ia kepo akut dengan berita yang jadi trending topic sekolah.


ARATHA ANANDHIKA DARI KELAS 2A4 ADALAH


ANAK DARI NARAPIDANA YANG BUNUH


DIRI SEBELUM TERTANGKAP.


Aratha mengepalkan kedua tangannya di sisi badan setelah membaca kalimat yang menempel di kaca mading. Jelas sekali ini tak diperbolehkan jika menempel di luar kaca. Aratha hendak mencabutnya hanya saja sebuah tangan menghalangi. Ia menoleh ke samping dan mendapati perempuan yang selalu diagung-agungkan di sekolah. Lebih tepatnya ditakuti.


"Lo anak napi, mending lo nggak usah sekolah di tempat elit yang isinya anak-anak berpendidik," ucapnya menyentuh rambut Aratha.


Aratha berdecih dalam hati. Michael, kakak kelasnya ia tanggapi dengan senyum miring yang tercetak di wajahnya. "Lo pikir lo berpendidikan, Kak?"


Aratha memaki ketika pipinya mendapatkan tamparan keras dari Michael yang menatapnya memperingati.


✖﹏✖


Bola oren sedang pada kuasanya dan ia mencari tempat untuk ia menerobos pertahanan lawan. Badanya terus bergerak untuk mencari celah. Tak ada pilihan lain, ia melompat setinggi-tingginya dan melemparkan bola pada ring hingga membuat suara nyaring menggema di ruangan.


"Lumayan three point. Unggul satu sama tim lawan." Asta bertos dengan Araja yang baru saja berlari ke arahnya. Araja hanya mengangguk dan memberikan senyuman tipis.


Perhatiannya teralihkan ketika Malik membuat decitan nyaring pada pintu utama ruang basket indoor. Ia mengangkat alisnya keheranan melihat Malik menarik napas berulang kali.


"Ja, si Ratha, Ja," teriak Malik hingga membuat Araja mengernyit meminta penjelasan lebih lanjut. "aduh, bangke lo. Ikut gue buruan," perintah Malik yang kemudian cowok itu menghilang kembali di belokan koridor.


Araja sempat tak paham, tapi ia izin sebentar pada Javier yang ada di sana diikuti Kalvian yang saat itu juga latihan. Kedua pemuda itu segera menyusul Malik yang hanya beberapa meter di depan mereka.


"Lagian si Ratha kenapa, sih?" tanya Kalvian yang bahkan cowok di sampingnya ini tak tau apa-apa.


Araja mengedikkan bahu tak tau dan berkata, "Lo seharusnya nanya si Malik, bukan gue," sewot Araja disertai toyoran pada kepala Kalvian.


Araja dan Kalvian berhenti ketika Malik juga berhenti. Malik tampak menunjuk sekerumunan orang-orang yang berdiri di depan mading. Dari jarak yang cukup jauh, Araja dapat melihat bahwa ada Aratha yang berhadapan dengan Michael ---kakak kelas sok berkuasa.


"Ada apaan, sih, Mal?" tanya Kalvian setelah napasnya ternetralisir dengan baik. Cowok itu menyender pada pilar koridor dan berkacak pinggang.


"Gue dapet kabar dari anak buah suruhan gue," tutur Malik yang menyita perhatian aneh dari kedua sahabatnya.


"Sejak kapan lo jadi agen FBI?" tanya Araja mendelik jijik.


"Lo punya anak buah? Kayak gimana rupanya? Enak, nggak?" tanya Kalvian yang malah keliatan lapar.


"Anying, ah, lo pada!" cetus Malik emosi dan menjitak kepala kedua temannya yang malah **** disituasi semacam ini dan mereka malah tertawa mendapatkan jitakan dari Malik.


"Ja?" panggil Malik serius yang mendapatkan respon dehaman. "ada yang nempelin kertas di mading dan kasih tau kalau bokap Aratha napi," jelas Malik menatap Araja yang langsung menatap tajam ke arah kerumunan orang di depannya.


Tangannya mengepal di sisi badan. Ia hendak melangkah, hanya saja ia mengurungkan niat ketika dari arah belakangnya dilewati Arizona yang masih menggunakan jersey seraya berlari ke arah kerumunan itu. Menyingkirkan semua orang yang menghalangi dan terlihat sekali bahwa cowok itu membawa Aratha pergi dari sana.


"Cih, berengsek!" desisnya marah.


"Lo tuh kalau nggak bisa marah sama Ratha mendingan jangan sok marah-marah. Akting lo nggak bagus. Ketahuan masih sayang." Bukannya menenangkan, Kalvian justru terkesan menasehati kejadian kemarin yang Araja ceritakan pada kedua sahabatnya.


Kalvian dan Malik malah menertawakannya. Araja jadi mendengkus berulang kali. Hatinya makin memanas saja, wajahnya menatap masam kedua sahabatnya.


"Bener, gue setuju sama si Kal." Malik menyetujui kalimat Kalvian. "lagian, lo kalau marah keliatan lucu dibandingin serem," kekeh Malik menahan tawa.


"Eh, ketek bau. Sebelah mananya yang lucu." Kalvian sewot sendiri meminta penjelasan yang katanya lucu dari Malik.


Malik menunjuk-nunjuk wajah Araja yang masam. "Tuh, tuh, si Araja marah tuh. Mukanya lebih keliatan **** dari pada kita." Malik tertawa diikuti suara tawa kencang dari Kalvian.


Tersadar ucapan Malik terasa janggal. Kalvian menghentikkan tawanya. "Eh, *******. Lo aja kali, gue mah kagak." Kalvian mencibir tak suka.


"Lo berdua ke rumah gue nanti," kata Araja sebelum membawa langkah untuk pergi dari kedua sahabatnya yang langsung sejajar dengan langkahnya.


"Ngapain? Ortu lo ngadain pesta?" tanya Malik.


"Lo berdua harus bantu gue buat tau siapa yang teror Ratha selama ini. Dia sembunyiin dari gue kalau selama ini dia bakal celaka."


"Gue baru tau sekarang. Gimana, dong?" tanya Kalvian hingga mendapatkan cibiran najis dari kedua temannya.


"Lo tau dari mana kalau Ratha diteror?" Malik bertanya lebih waras dari Kalvian.


"Kotak di rumah Ratha. Banyak banget," ungkap Araja. "gue sempet tanya temen-temen kelasnya dan selama ini dia juga bohongin gue kalau dia kena teror di meja sama loker sampe parah," lanjutnya disertai decihan khas.


"Berengsek tuh anak sampe bohongin kite-kite. Kalau kena celaka, ******." Malik menyumpah serapahi Aratha.