Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
24° | SUDAH TAK BUTUH



Prang!


Prak!


Prang!


Pemuda bersurai hitam dengan peluh sebesar biji jagung yang memenuhi kening itu sama sekali tak mempedulikan peluh yang terus merosot ke area wajahnya. Cowok itu terus menerus melakukan shoot berulang kali tak mengenal lelah.


Araja melakukan long shoot dan kemudian ia menelantangkan tubuhnya di lapangan mini belakang rumah. Ia menatap langit dengan senja yang cerah dengan awan yang menggumpal di beberapa sudutnya.


Cowok yang memiliki iris mata hitam itu mengatur napasnya setelah beberapa jam terakhir ia latihan basket di rumahnya sendiri. Ditemani dengan lagu yang terputar di dalam rumah membuatnya semakin betah berlama-lama.


Araja masih memandangi langit yang perlahan meninggalkan warna jingga. Ia memejamkan matanya dan mengembuskan napas pelan. Latihan basket ia lakukan untuk meredakan amarahnya yang sempat memuncak sore tadi, tetapi sepertinya hanya membuahkan hasil yang sia-sia.


Araja berdecak dan membuka matanya karena bayangan beberapa jam yang lalu di kamar tetangganya masih terbayang di kepala. Kenapa juga ia harus memikirkan hal yang tak seharusnya ia pikirkan.


Jika Aratha lebih memilih berpacaran dengan Arizona biarakan saja. Mereka yang menjalani hubungan, bukan dirinya yang malah berkelimpungan dengan hubungan mereka.


Tetap saja. Araja kembali berdecak malas dengan kenyataan Aratha menerima dengan senang hati kehadiran Arizona yang akan menyelami hidup gadis cewek heboh itu. Meski mencoba untuk tak peduli, nyatanya Araja masih peduli.


Astaga, kenapa sesusah ini dan apa yang harus gue lupain?


Tiba-tiba saja sosok yang mirip sekali dengannya itu muncul dengan jubah hitam serta tanduknya yang khas. Sosok itu lebih kecil dari tubuhnya.


"Kau ini seharusnya tidak membiarkan mereka berdua berpacaran. Kau ini bodoh sekali," katanya dengan api yang menyala di tongkat hitam yang ia bawa.


"Apa yang harus gue lakuin kalau gitu?" tanyanya seolah meminta pendapat pada halusinasi yang tak dapat tersentuh itu.


"Lo harus memisahkan mereka berdua biar putus. Lakuin hal-hal yang tidak disukai Arizona dan tunjukkan pada Aratha biar gadis itu tak menyukai Arizona dan memilih lo," jelas si hitam itu dengan senyum mematikannya.


Araja mangut-mangut paham. Saran itu bisa ia lakukan, tapi tunggu sebentar. Jika ia melakukan saran tersebut pasti juga berpotensi membuat Aratha tak menyukai dirinya juga.


"Kalau Ratha nanti juga ilfeel sama gue gimana?" tanyanya lagi.


"Ya udah, lo tiru aja adegan sinetron-sinetron yang sering Aratha tonton. Kayak semisal lo tabrak Arizona sampai mati dan cowok itu pasti bakal kasih Aratha sama lo biar bisa dijagain." Si Hitam itu terlihat marah. Kobaran api yang tadinya hanya di tongkat itu ikut menyulut di tanduknya.


"Terlampau sadis," ujar Araja menggelengkan kepalanya tak sanggup ia melakukan itu. Ia tak rela wajah setampan ini viral untuk mendekam di balik jeruji besi yang dibayangkan saja menyeramkan.


"Bodo amat. Lo susah dibilangin." Kemudian Si Hitam itu menghilang di depan wajahnya digantikan dengan wajah yang sama dengan jubah putih dengan bulatan yang bersinar di atas kepala.


"Kamu seharusnya melakukan sesuatu yang membuat Aratha senang bukan merusak hubungan seseorang. Kamu tau itu tidak baik." Si Putih menceramahi tanpa diminta.


Araja jelas tau bahwa merusak hubungan orang lain adalah salah satu cara kotor. Bukan berarti ia akan melakukan. Si Putih dan Si Hitam sama sekali tak berguna untuk apa pun. Araja melambaikan tangannya di atas wajah untuk menyingkar Si Putih yang kemudian kembali berwujud layaknya udara yang tak terlihat.


"Kak Raja."


Araja cepat-cepat menoleh dan mendapati adik Aratha ada di depan pintu masuk untuk menuju halaman belakang rumah. Araja segera duduk bersila menghadap pada bocah kecil yang memiliki rambut lebat nan hitam ini.


"Ajarin Saka main basket, dong, Kak. Saka mau keren kayak Kakak." Anak kecil itu berceloteh meminta.


"Boleh, lha. Sini Kakak ajarin mainnya." Araja dengan senang hati menerima. Ia segera berdiri dan mengambil bola oren yang lebih pas untuk seukuran anak kecil seperti Saka.


Araja mengajari Saka sesekali mengobrol ringan mengenai sekolah Saka yang katanya anak kecil itu memiliki teman anak perempuan yang sering dirinya usili. Tidak jauh berbeda dengan Aratha yang waktu kecilnya juga melakukan hal yang sama, hanya saja Aratha lebih bermodalkan tekad hingga bisa bergelut dengan anak laki-laki karena diganggu bermain ular tangga. Aratha tak banyak berubah hingga sekarang.


"Kakak kenapa belum pulang, Kak?" tanya Saka. Cowok kecil itu melakukan catching dan Araja menangkapnya dari jarak yang tidak jauh, lalu cowok itu melakukan passing dan ditangkap dengan sigap oleh Saka.


"Mungkin lagi kesenengan main," jawab Araja datar.


"Den, Raja. Makan malam sudah siap." Dari arah pintu Bang Krut alias asisten rumah itu memanggil dan kemudian berlalu setelah diangguki oleh Araja.


"Kita makan aja, yuk, Sa. Kamu pasti lapar belum makan," ajak Araja yang kemudian menggendong Saka di belakang  punggungnya. Ia membawa Saka seakan terbang layaknya pesawat dengan berlarian menuju ruang makan yang sudah terdapat kedua orang tuanya.


"Kakak kamu nggak ke sini juga, Sa?" Mama Araja bertanya saat menyimpan nasi pada piring Saka.


"Kakak lagi ke luar, Tante," jawab Saka.


"Kondisi  Ratha gimana, Kru? Udah sehat?" tanya Mama Araja pada Bang Krut yang baru saja datang menyimpan buah-buahan di meja makan.


"Udah, Nyonya. Tadi saat masak sama saya, Non Ratha sudah baik-baik aja dan tidak mengeluh apa-apa," jelasnya.


"Ya sudah, makasih yah, Kru."


"Siap, Nyonya." Bang Krut segera berlalu dari meja untuk kembali ke dapur.


"Tumben ke luarnya nggak sama kamu, Ja?" Papa Araja yang selesai dengan urusan tabnya bertanya pada anak semata wayangnya yang terlihat sama sekali tidak bersemangat.


"Males, ah, Pa." Araja menjawab dengan malas. Cowok itu mulai sibuk dengan makanannya setelah berdoa.


"Kamu lagi marahan sama Ratha atau cuma kamu yang marah sendirian?" tanya Sang Papa. Iseng.


"Papa apaan, sih." Araja menyahut dengan risi.


"Alah, muka anak kamu itu, yah, Ma, suka sekali marah nggak tentu arah," celetuk Papa pada istrinya di samping.


"Mama nggak ngerti kamu ngomong apa," jawab Mama dengan gelengan kepala.


Papa berdecak dan menjelaskan, "Maksudnya, Araja masih aja suka berjuang sendiri tanpa ngajak berjuang bareng."


Mama mengangguk paham. "Araja 'kan sukanya mendem sendiri, kayak kamu dulu suka sama Mama, Pa."


"Idih, Mama kali yang suka Papa duluan, bukan Papa yang mendem," dalih Papa.


"Terus, siapa yang tiap hari suka nyimpen bunga sama cokelat di bangku Mama?"


Araja menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran kecil kedua orang tuanya yang mungkin terdengar manis, tidak untuk Araja. Hal itu begitu klise dan buang-buang uang. Mendingan ia membelikan setoko mi untuk Aratha biar kenyang. Eh, kok ia malah berpikiran pada Aratha, sih. Tidak, tidak, ia sedang marah.


Setelah makan malam usai, Mama dan Papa Araja kembali ke rumah sakit secara mendadak. Sementara, Araja menuju kamarnya dengan Saka yang sudah tertidur setelah menonton acara televisi.


Araja menyibak sedikit gorden kamar yang tertutupi untuk melihat kamar Aratha yang masih gelap ---sang pemilik belum pulang meski waktu sudah menunjukkan sembilan malam. Kemudian Araja menutupnya kembali dan nelirik Saka yang sudah tertidur pulas di kasurnya.


Tak berapa lama, ia mendengar suara mobil dan melihatnya dari balik kaca kamarnya. Ia segera ke luar rumah setelah mendapati Aratha baru saja pulang. Ia memanggil Aratha ketika gadis dengan senyum mengembang di wajah itu hendak membuka pintu.


"Lo tau nggak, Ja, kalau gue tadi---" Kalimat Aratha terpotong begitu saja ketika cowok yang sudah berada di depannya saat ini memotong dengan nada sinis. "Gue nggak tau, karena yang gue tau lo dengan cerobohnya tinggalin Saka di rumah sendirian," katanya.


Aratha teringat dengan adik kecilnya. Ia menundukkan kepalanya merasa salah meninggalkan Saka sendirian. "Gue ... lupa, Ja."


"Lo mikir nggak kalau nanti Saka kenapa-napa di rumah sendirian, nggak ada yang jagain." Araja emosi. Ia tak bisa menahannya. "dan lo dengan seenaknya seneng-seneng di luaran sana tanpa mikirin adek lo sendiri? Lo mikir nggak, sih, Ra?" Araja sedikit menyentak tak suka sebab yang ia lakukan saat ini juga berpengaruh untuk Aratha ke depannya.


"Gue mikir kok, Ja." Aratha balik menyentak. Gadis berambut panjang ini mendongak membalas tatapan Araja. "kalau ada apa-apa sama Saka, gue juga kok yang pasti urus Saka. Nggak perlu lo juga," lanjutnya.


Pemuda di depan Aratha mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Aratha yang tak membutuhkannya itu. Kemudian, Araja mendecih pelan dan menatap Aratha tak percaya.


"Lo nggak butuh gue, 'kan?" tanyanya untuk membuktikan.


Aratha mengangguk kemudian. "Iya, gue nggak butuh," jawabnya emosi.


"Oke, Ra. Gue pergi." Araja membalikkan tubuhnya untuk kembali ke rumahnya. Sedangkan, tidak Aratha sendiri menatap Araja sendu. Entah mengapa, mendengar kata terakhir Araja membuat dadanya sesak.


Tak mau memikirkan hal yang sudah terjadi, Aratha memilih masuk ke rumah dengan perasaan ambyar. Tadinya, ia akan menceritakan semua yang dilakukannya dengan Arizona di stadion. Bagaimana cowok itu memperlakukannya dengan manis dan romantis ia sering sekali dibuat luluh hingga badanya lemas.


Namun, melihat Araja seperti itu membuat perasaannya tak suka. Hanya satu solusi untuk melupakannya, hanya dengan tidur Aratha bisa tenang.