Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
13° | BONEKA KELINCI DARI ARIZONA



Aratha tersenyum puas ketika ia sudah membalaskan dendam pada sepeda motor kesayangan tetangganya itu. Ia menepuk-nepuk tangannya yang berdebu, ia tertawa senang dalam hati. Senyumnya tercetak jelas. Senyum devil.


Aratha berjalan santai seolah tak melakukan kesalahan apa pun. Karena Araja ada perkumpulan basket dan ia memilih absen, terpaksa gadis berambut panjang itu pulang sendiri lagi. Jika, ia ikut perkumpulan. Aratha tak ingin menjadi kacang dan diabaikan sendirian. Ngenes.


Gadis bermata terang itu melihat Arizha di depan gerbang dan matanya tak salah lihat jika yang diajak bicara adalah Arizona. Mereka berdua kembali masuk ke area sekolah dengan tujuan berbeda. Arizha nampak berhadapan dengan Aratha ketika gadis itu bertanya.


"Lo ke mana, Zha? Kok, balik lagi ke sekolah?" tanyanya.


Arizha tersenyum sekilas dan menjawab, "Buku tugasku ketinggalan di loker, Ra."


"Hati-hati, lho, Zha. Sore-sore gini si Kalvian sering berubah wujud jadi pocong," ungkap Aratha dengan misterius, matanya melirik ke sana-sini entah apa maksud itu semua.


Arizha terdengar terkekeh. "Mana ada, Ra. Aku duluan, yah," pamitnya yang kemudian berlalu pergi meninggalkan Aratha yang berteriak, "Hati-hati aja, Zha. Jangan pingsan, yah."


"KALM, DONG, WOY!" kejut Aratha ketika klakson mobil terdengar nyaring di indra pendengaran. "eh, ini mobilnya, Ar." Tersadar mobil yang ia halangi itu adalah mobil merah yang dikendarai Arizona kala itu membuat Aratha menyingkir dan mengetuk kaca mobil yang tak lama kemudian terbuka.


"Gue numpang, yah, Ar. Rumah gue deket, kok." Aratha tersenyum lebar berharap agar Arizona memberikannya tumpangan.


"Ya udah, masuk."


Aratha melompat kegirangan sampai lupa seharusnya ia langsung masuk tanpa bersikap kekanak-kanakkan untuk sekadar meninju udara di atasnya. Kali ini, ia harus menjaga imej di depan calon pacarnya. Astaga, membayangkannya membuat pipi Aratha bersemu malu.


Perlahan mobil merah milik Arizona ke luar dari area sekolah. Aratha mengernyit keheranan kala mobil yang ia tumpangi berbelok sebaliknya untuk menuju rumah ternyamannya itu.


"Ini bukan arah rumah gue, Ar," ujar Aratha melihat ke belakang dan kembali pada posisi semula untuk menatap Arizona dari jarak sedekat ini.


"Gue tau," judes Arizona yang fokus menyetir. "gue mau ke mall dulu," lanjutnya.


"Wahh, ngapain?" Aratha kegirangan. Menyadari sikapnya yang terlampau heboh membuat ia membungkam mulutnya. "eh, maksudnya mau ngapain? Ngajak gue segala."


"Heh, lo yang minta tumpangan. Gue nggak ngajak lo, kali." Arizona masih saja menjawab dengan ketus. Cowok itu tak melirik Aratha sama sekali.


Aratha tertawa garing. "Iya, sih. Yaa, gue cuma nanya aja ngapain lo ke mall? Nanti cewek-cewek rebutin lo dari gue gimana?" tanya Aratha masih belum sadar hingga ia menepuk bibirnya. "eh, keceplosan. Seharusnya gue diem aja biar cintanya gue sama lo nggak keliatan." Aratha kembali menepuk bibirnya dan membungkamnya dengan kedua tangan.


Arizona terkekeh mendengar Aratha yang blak-blakkan seperti ini. Walaupun begitu, ia melirik Aratha sebentar yang membungkam mulutnya agar tak berbicara. Matanya fokus menatap ke depan memerhatikan jalanan yang cukup ramai oleh kendaraan.


"Gue mau beli kado buat adik gue yang bakalan ulang tahun nanti," tutur Arizona menjelaskan tujuannya.


Aratha menolehkan kepalanya pada Arizona. "Uwahh, lo punya adik?" Aratha kembali membungkam mulutnya lagi ketika ia bersuara kesenangan. Hah, ini begitu melelahkan untuk Aratha yang suka sekali berbicara.


"Iya." Ada jeda sebentar dan ketika Arizona melirik Aratha yang menatapnya tanpa kedip membuat perutnya tergilitik geli. "lo kalau mau ngomong, ngomong aja," katanya.


"Beneran? Lo nggak bakal marahin gue, 'kan?" tanya Aratha memastikan. Takut-takut nanti Arizona bisa saja marah karena ia terlalu banyak berceloteh tanpa kenal waktu. Bahkan suaranya bisa membuat orang di sebelahnya pingsan karena tak tahan.


"Hm." Arizona hanya mendeham untuk menjawab.


"Janji, yah, lo? Nggak bakal marahin gue?" Aratha menagih dengan jari kelingkingnya mengacung pada Arizona yang menatapnya dengan sorot bingung.


Arizona mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Aratha. Ada senyum kecil dibibirnya. "Oke, janji."


Setelah tautan jari itu terlepas. Aratha bersikap santai tak setegang tadi yang mengubur hasratnya agar bisa diam. "Jadi, gini, lho, Ar." Aratha memulai kisahnya. "eh, tapi gue mau cerita apa, ya?" tanyanya kebingungan. Seakan kehabisan ide untuk memulai percakapan, gadis itu nampak berpikir dengan jadi telunjuknya mengetuk dagu.


Arizona menyunggingkan senyuman. Gadis di sebelahnya cukup lucu, meski payah. Ia turun dari mobil ketika mobilnya sudah terparkir rapi di parkiran mall. Ia mengajak Aratha turun karena cewek itu tak kunjung juga membuka pintu. Arizona membukakannya. Terpaksa, garis bawahi.


"Ah, lo so sweet banget, Ar. Masih sama kayak tahun lalu." Aratha menyengir mengingat sikap cowok tegap itu tak berubah.


"Gue mikir selama itu, yah, Ar?" tanya Aratha mengubah topik karena tak mendapatkan respon pada obrolan pertama. Padahal, Aratha hanya ingin mengulang kisah masa lalu yang manis daripada sekarang yang begitu tragis.


"Mungkin," balas Arizona yang melangkah duluan masuk ke dalam area pusat pembelanjaan disusul Aratha yang cepat mengekor.


Sudah Aratha duga, bahwa para perempuan terlihat memerhatikan Arizona dengan kagum dan meliriknya sinis kemudian. Aratha melayangkan peringatan-peringatan pada perempuan yang sok mencuri perhatian Arizona.


Arizona nampak tak risi diperhatikan seperti itu, sudah terbiasa. Namun, Aratha yang menatap mereka tajam menyita perhatian dirinya. Ia hanya berdecak dan menggelengkan kepalanya. Lalu, tanpa perintah. Cowok itu menarik pergelangan Aratha agar segera masuk ke dalam lift dan membawa gadis itu masuk ke salah satu toko boneka.


"Astaga, lucu banget." Ia mencubit boneka kelinci putih seperti kostum yang ia kenakan ketika bekerja. Hanya saja, ukurannya pas sekali untuk dipeluk.


Aratha mengalihkan perhatiannya pada Arizona yang nampak memerhatikan boneka panda besar di depannya. "Lo mau beli yang itu, Ar?" tanyanya penasaran. Ia menghampiri cowok itu.


"Kayaknya adek gue suka. Dia suka peluk boneka yang gede. Apalagi panda." Arizona menjelaskan.


"Beli yang beda aja kali, Ar. Bisa aja adek lo bosen peluk yang gede dan berpaling dari yang biasa," saran Aratha. Ia juga punya adik seperti Arizona.


"Kalau lo mau, boleh ambil satu," ucap Arizona enteng. Ia mengambil salah satu boneka berukuran sedang di rak.


"Gratis?" Aratha memastikan. Matanya sudah berbinar-binar menyilaukan.


"Iya." Arizona mengangguk.


"Wahh, makasih, Ar. Lo cowok paling baik sedunia." Aratha memeluk sekilas Arizona yang diam dan kembali ke tempat ia melihat boneka kelinci putih di salah satu rak. Senyumnya tak pernah pudar meski dirinya sudah ke luar dari toko. Ia berterima kasih juga pada Arizona.


Arizona menunjuk salah satu tempat makan tak jauh dari tempatnya. "Gue laper, makan dulu, yah, Ra," ajaknya.


"ASTAGAA, LO PANGGIL NAMA GUE?" Aratha heboh menunjuk dirinya sendiri hingga tak jarang orang memerhatikan dirinya meski tak lama kemudian kembali pada aktivitas masing-masing.


"Iya, emang salah. Nama lo Aratha, kan?" Arizona mempertanyakan dengan bingung.


"Iya, sih, tapi ini pertama kalinya lo sebut nama gue, Ar. Aduh, gue terbang, nih." Aratha tak mampu membendung kebahagiannya sendiri.


Setelah makan. Arizona mengantarkan Aratha pulang. Cewek itu nampak anteng-anteng saja duduk di belakangnya dengan senandungan kecil yang tak dapat didengar jelas oleh telinga.


"Lo tau rumah gue, Ar?" tanya Aratha ketika motor cowok itu berbelok ke arah perumahan yang ia tempati.


"Gue pernah liat lo masuk sini," balas Arizona cepat.


✖﹏✖


"ARAJAAA!" panggil Aratha di depan pintu putih kamar milik Araja. Cowok itu tak kunjung membuka pintu yang membuat Aratha terus saja menggedor tak sabaran. Untung saja ia tak menggunakan seluruh kekuatannya, pasti pintu ini sudah rubuh karenanya. "Araja anterin gue belanja bulanan, dong. Saka nggak mau makan mi lagi. Dia lapar, buruan, Araja Antha Nugraha." Aratha kembali menggedor pintu dengan bising hingga ia memukul kepala seseorang. Aratha menyengir lebar.


"Kalau bukan karena Saka, gue nggak mau anter lo," judes Araja menuruni anak tangga yang disusuli Aratha yang cengegesan di belakangnya.


"Tante, minjem anaknya, yah, bentar." Aratha menyalami punggung tangan Ibu Araja sebelum pamit ke luar dan Ayah Araja di meja makan.


"Nggak pake motor, Ja?" tanya Aratha ketika Araja mengeluarkan mobil Ayahnya dari garasi rumah.


"Motor gue di bengkel gara-gara lo," ketus Araja masih kesal. Karena Aratha mengempeskan ban motornya membuat Araja kewalahan mendorongnya sampai bengkel.


"Iya, sih. Itu juga karena lo kali. Coba kalau lo nggak sok-sokan nunjuk orang yang padahal bukan Ar. Gue nggak mungkin kempesin ban motor lo." Aratha memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri.


"Gue juga nggak mungkin nunjuk Ar kalau lo nggak ngaku-ngaku pacar gue." Araja masih sewot meski saat ini tengah mengendarai mobilnya.


"Alasan klise nolak cewek itu ya gitu, lha, Ja. Mana ada lo bilang 'maaf, gue udah punya cowok' kalau gitu lo homo, dong. Nggak normal, nggak suka perempuan, nggak suka gue," cerocos Aratha. Ia selalu saja tertawa diakhir cerocosannya yang panjang itu.


Tak membutuhkan waktu lama untuk menuju supermarket. Araja memarkirkan mobilnya dan segera turun dari sana dengan Aratha yang langsung ngacir meninggalkannya berjalan sendirian.


"Dorong, dong, Ja," suruh Aratha. Gadis itu naik pada troli dan meminta Araja yang di belakangnya untuk mendorong troli ketika menyusuri setiap rak toko. Araja nampak tak acuh saja. "ih, pacar gue kok gitu. Nggak peka," singgung Aratha jail. Sesuai dugaannya bahwa Araja akan tersinggung dan mau tak mau mendorong troli yang ditumpanginya sesuai arahan yang diberikan Aratha.


✖﹏✖


instagram penulis : @ismimd_


instagram kata : @katamd_


instagram series : @monthprojectseries.ofc