
Warung Tuman.
Merupakan tempat makan di dekat Skyline School. Ketika hujan lebat mengguyur kota Jakarta, beberapa siswa dari sekolah elit tersebut nampak memenuhi warung untuk sekadar menongkrong, menunggu hujan reda, dan makan yang menunya serba mi dengan nama yang terkesan nyesek.
Aratha yang tengah membaca tulisan di meja itu menyebutkan pesanannya pada pelayan yang berdiri dengan celemek serta note di tangan. Lalu, Aratha berpesan, "Bang, pengen mi temen rasa pacar, yah. Terus mi bertepuk sebelah tangan. Sama ... mi cuma dianggap temen, yah." Aratha memesan tiga menu mi. Makanan favorit Aratha yang selalu ada di rumah. Paling simpel untuk dimasak.
Setelah menyatat pesanan gadis belia ini, cowok yang usianya hanya berkisaran 22 itu kembali bertanya, "Minumannya, Neng?"
Aratha mengetuk-ngetuk dagu dengan mata yang membaca deretan nama minuman di meja. "Es gebetan aja, deh," cetus Aratha yang kemudian cewek itu menyenderkan punggung pada kursi.
"Aa, Mau pesen apa, A?" Bang Maul mengalihkan pandangannya pada Araja.
"Mi bertepuk sebelah tangan aja. Minumannya sama aja kayak dia." Araja memesan. Nama-nama aneh yang bikin nyesek itu adalah ciri khas warung ini. Selain itu, nama Tuman yang diambil dari desanya Bang Maul ikut serta menjadi nama warung yang dikenal anak-anak sekolah dekat sini. Skyline School contohnya.
Memang, sih. Araja memberikan acungan jempol untuk kekreatifan Ibu Bang Maul dan Bang Maul sendiri, tapi masalahnya ia merasa terwakili dengan nama-nama menu minya.
"Oke, ditunggu dengan santuy, yah." Bang Maul nampak tersenyum dan segera mengambil langkah menuju dapur yang disengaja adegan masak Ibu Bang Maul dapat ditonton.
"Nggak pake lama, yah, Bang." Aratha berteriak yang langsung dihadiahi teriakan santuy dari Bang Maul.
Araja memicingkan mata menatap gerak-gerik Aratha yang mengundang curiga. "Lo pesen sebanyak itu, siapa yang bayar?" tanyanya menyelidiki.
"Elo, lha." Seperti tanpa beban hidup. Perempuan beriris mata cokelat itu tertawa. Sama sekali tidak lucu, pikir Araja mendelik.
"Gue kena kanker lagi, deh, ini. Motor gue juga belum diisi lagi." Araja mengeluh. Habis sudah uang saku yang diberikan Ibunya.
Aratha tak tau diri. Dengan terbahak ia menepuk-nepuk meja dengan berkata, "******."
"Nggak tau diri amat lo." Araja mencebik. "nggak pa-pa, nanti kalau berhenti di tengah jalan, lo yang dorong. 'Kan ******, haha." Araja tak ingin kalah. Dirinya juga meledek balik Aratha yang menghentikkan tawannya itu.
Dengan wajah songong, Aratha mengibaskan tangan di depan wajah. Layaknya seorang putri bangsawan ia berucap, "Heh, Putri mana mau dorong motor lo. Seharusnya Putri naik kuda dengan Pangerannya."
"Putri?! Mata lo keluar yang ada!" ketus Araja mendorong jidat Araja seenaknya. Tujuannya untuk menyadarkan Aratha dari dunia khayalan penuh tipu dayanya.
"Makin ****, deh, kalau gue deket-deket lo terus." Aratha mencibir mengusap-usap keningnya yang sudah didorong oleh cowok di depannya. Bibirnya nampak maju dengan pipi mengembung marah. Nampak jelek dimata Araja.
"Lo udah jelek, nggak usah diperjelek," ejek Araja tanpa beban.
Aratha hanya memasang wajah jeleknya. Sudah biasa kalau Araja mengatainya jelek dan kata-kata yang tak disukai perempuan. Ia sudah kebal. Aratha melirik pintu masuk karena melihat siluet orang yang ia kenal perlahan masuk ke dalam dengan jas sekolah yang basah.
"Rizha, lo kok belum pulang?" tanya Aratha begitu saja ketika Arizha menyadari kehadiran dirinya di sini. Araja juga melirik ke belakang mendapati Arizha yang melangkah ke meja dengan senyum manis ketika tak sengaja beradu tatap dengannya.
"Eh, Ratha." Arizha terlihat kikuk sendiri. "tadi, aku ... dipanggil Pak Rama dulu di sekolah," sambungnya yang kemudian duduk di antara keduanya ketika Araja dengan pengertiannya mengambilkannya satu kursi tak jauh dari sana. Tak lupa, gadis itu tersenyum dan berterima kasih.
"Ngapain si Pak Tua panggil lo, Zha?" Biasanya Aratha tak perlu kepo jika bersangkutan dengan guru-guru. Paling tidak, ia masih mengingat kejadian ketika Pak Rama memberikan hukuman yang menyebalkan.
Arizha yang baru saja menyampirkan jas sekolahnya dikursi menjawab, "Kata Pak Rama, kita boleh susulan untuk tugas musikalnya. Kita satu kelompok, nanti aku bikin instrumen di rumah dan kamu bikin puisinya. Bisa, kan, Ra?" Arizha menjelaskan. Aratha yang bisa menangkap sedikit itu mengangguk. Ia hanya disuruh membuat puisi oleh Arizha.
Araja yang mendengarkan langsung menoleh pada Aratha yang membuat hati cowok itu bekerja. Ada firasat tak mengenakkan ketika gadis berambut panjang itu menggerak-gerakkan alisnya naik turun. Astaga!
"Bisa, Zha. Gue bisa belajar dari sang ahli, kok." Aratha menyengir pada Arizha yang mengangguk. Lalu, mata beriris cokelatnya melirik Araja yang memandang sebal pada Aratha yang tak akan pernah membuat hidupnya tenang.
"Mi versi now udah jadi, nih." Bang Maul datang dengan baki yang terdapat makanan serta minuman yang dipesan. Mata Aratha berbinar tak sabar untuk mencicipi masakan sederhana yang bikin nagih ini. "silakan menikmati dengan santuy, yah." Bang Maul selalu terlihat senang.
"Neng yang baru datang mau pesan mi?" tanya Bang Maul pada Arizha yang tersenyum kaku.
"Lo kok nggak pesan, sih, Zha? Ujan-ujan kayak gini enaknya makan mi yang anget-anget. Mi masakan Ibunya Bang Maul enak tau." Aratha yang sudah menyuapkan mi pada mulutnya itu menawarkan. "nih, punya gue aja makan. Enak, kok." Dengan baik hati yang tiba-tiba merasuki tubuh Aratha itu membuat Araja tersedak jika saja ia tidak langsung meminum minumannya.
"Makasih." Arizha tersenyum dan mengambil mangkuk mi yang disodorkan Aratha padanya. Sebelum makan, gadis itu menatap makanan kenyal di mangkuk dan mengaduknya dengan sumpit sebelum menyuapkannya. Tak lama ketika makanan itu masuk pada mulut, ia tersedak.
Arizha meminum minuman yang disodorkan Araja. Gadis itu sadar jika punggungnya masih diusap-usap Araja, pipinya bersemu merah setelahnya.
"Lo kenapa, Zha? Lo baik-baik aja, kan?" tanya Aratha.
"Aku kaget aja, Ra. Nggak apa, kok." Gadis itu tersenyum meyakinkan. Araja ikut senang, lalu kembali memakan mi miliknya. Begitu juga dengan Aratha yang kembali lahap menyelesaikan kedua mangkuknya yang dalam beberapa menit sudah ludes. Sedangkan, Araja dan Arizha masih menyisakan setengahnya.
Karena bosan memerhatikan Araja dan Arizha yang makan dan tak ada percakapan membuatnya bosan. Memilih handphone sebagai pelampiasan kebosanan adalah kegiatan Aratha saat ini. Bermain game ular tangga di ponsel. Aratha tak pernah jauh-jauh dengan permainan ular ini.
"Wah, hujannya udah reda, nih. Gue mau pulang, ah." Aratha yang sesekali memerhatikan luar itu berdiri dari duduknya. "lo anterin Arizha pulang, ya, Ja," sambungnya dengan senyum penuh arti.
Arizha mendongak mebatap Aratha. "Eh, nggak pa-pa, Ra. Aku bisa pulang sendiri."
"Nggak pa-pa, Zha. Raja aja yang anterin lo. Gue bisa jalan ke rumah, deket, kok. Santai aja." Aratha tersenyum lebar. Perempuan itu melirik Araja yang sekali lagi mendengkus untuk Aratha kerjai. Cewek itu berbuat jahil agar Araja dipermalukan ketika membonceng Arizha menuju rumah. Otak-otak kejahilannya bekerja keras untuk ini.
"Dadah sayang-sayangku, gue duluan." Aratha melambaikan tangannya di atas ketika berjalan mundur keluar dari warung ini. "Bang Maul yang bayar si Araja, yah, Bang." Aratha memberikan pesan singkat Bang Maul melintas dengan baki di tangannya.
"Siap santuy, Neng." Bang Maul mengacungkan jempolnya.
"Lo mau pulang sekarang aja?" tanya Araja yang telah menghabiskan minumannya.
"Boleh, kok." Arizha tersenyum singkat setelah minum.
"Gue bayar dulu, yah, Zha. Lo tunggu di luar aja." Araja pamit untuk menuju kasir untuk membayar apa yang sudah mereka makan. Tak lama kemudian, ia menghampiri Arizha yang menunggu di luar warung dan mengajaknya pulang.
Di sisi lain, Aratha berlajan kaki menuju rumahnya dengan senandung-senandung kecil yang keluar dari mulut. Aratha memegang kedua tali tasnya, sesekali ia berjalan seperti anak kecil yang sudah dibelikan mainan yang disukainya.
Aratha mengernyit keheranan ketika perasaannya berkata ada yang memerhatikan dirinya. Namun, ketika langkahnya terhenti dan kepalanya menoleh kanan kiri nampak tak ada orang yang mencurigakan di sekitarnya. Gadis itu kembali memacu langkah dengan gembira, seolah tak akan terjadi apa-apa.
"Kayak ada yang ngikutin gue," gumamnya dalam hati. Perlahan langkahnya yang pendek seolah menjadi panjang. Perasaannya sedang tak baik-baik saja. Lalu, dengan cepat ia menoleh ke belakang mendapati seseorang di sana.
Seseorang yang mengenakan jaket hitam serta topi yang menghalangi sebagian wajahnya itu tak dapat Aratha kenali. Namun, Aratha tahu bahwa laki-laki anak seusia dirinya. Lihat saja celana abu-abunya.
"LO NGAPAIN IKUTIN GUE?" tanya Aratha dengan telunjuknya menunjuk cowok itu. Matanya memicing was-was.
"Gue nggak ngikutin lo."
Aratha menganga mendengarnya. Ia semakin cengo saja ketika cowok itu melewati dirinya tanpa melakukan apa pun. Astaga, Aratha selalu saja bersikap kegeeran pada siapapun.
"Astaga, gue malu," lirihnya kecil dengan kedua tangan menutupi wajahnya.
✖﹏✖
instagram penulis : @ismimd_
instagram kata : @katamd_
instagram series : @monthprojectseries.ofc