
Maskot berbentuk kelinci berwarna putih itu menyebarkan brosur-brosur yang ada pada saku perutnya kepada orang-orang yang berlalu lalang di sisi jalan. Kelinci putih itu nampak terlihat senang seperti orang yang mengenakannya.
Perempuan yang mengenakan kostum kelinci lucu itu mulai menghentikkan kegiatannya dan masuk ke kafe ice cream tempatnya bekerja. Ketika di ruang belakang kafe, kepala kelinci tersebut dilepaskan dan disimpannya di meja.
Aratha sudah berganti pakaian seperti biasa. Hanya celana jeans selutut dengan baju putih polosnya. Gadis itu tengah merapikan rambutnya di depan cermin, sengaja rambut cokwlat gelapnya ia uraikan seperti biasa. Lalu, tersenyum bangga mendapati dirinya di cermin.
"Udah beres lo, Ra?" Dalla yang tengah bersiap pulang waktu itu bertanya. Gadis seusia Aratha itu tampak tengah mengenakan lipstik di bibirnya.
"Udahlah. Emang lo nggak bisa liat?" Aratha balik bertanya dengan sewotnya. Teman seusianya ini memangnya tidak bisa melihat. Dalla nampak terkekeh mendengar balasan dari Aratha yang baru bekerja di sini.
"Haha, lo langsung pulang, Ra? Mau ikut gue main, nggak, nih?" tawar Dalla menoleh pada Aratha yang menggeleng.
"Gue harus pulang ke rumah, kasian adek gue nungguin," balas Aratha halus.
Khody ---bos mereka--- datang ke ruangan pegawai. Perempuan kuliahan itu memberikan amplop pada ketiga pegawainya di sini. "Ini gaji kalian seminggu, yah," katanya disertai senyuman.
"Makasih, yah, Kak." Aratha tersenyum setelah menerima amplop cokelat yang berisikan beberapa lembar uang setelah satu minggu ia bekerja di sebuah toko es krim yang tak jauh dari rumah.
"Besok jangan lupa datang lagi semua," amanah Khody dengan ceria.
"Kalau gitu, Ratha pamit pulang dulu, Kak. Kasian Saka nunggu." Aratha pamit pulang pada bosnya yang masih kuliah, tapi sudah merintis toko yang cukup ramai dikunjungi pelanggan.
"Hati-hati pulangnya," titah Khody ramah.
"Gue duluan yah, manteman. Kalau rindu chat aja." Aratha mengedip genit pada Dalla dan Syfa yang masih di sana.
Aratha keluar dari toko dan menaiki sepedanya yang terparkir di parkiran khusus pegawai. Perlahan dirinya mengayuh sepeda. Sebelum menapakan kaki di rumah, ia membeli dulu ayam goreng di salah satu toko untuk adik dan dirinya makan malam ini.
Sesampainya di rumah, Aratha menyimpan sepedanya di depan rumah. Ketika hendak membuka pintu utama, ia berjongkok ketika mendapati kotak hitam di atas keset depan rumah. Ia hanya mengedikkan bahu dan membawanya masuk.
"Wihh, Saka rajin." Aratha berseru senang ketika melihat adiknya tengah belajar di ruang televisi. "nih, kita makan ayam, Sa. Ambil dulu piring, gih." Aratha memamerkan apa yang ia bawa pada adiknya yang langsung kegirangan hendak mengambilnya.
Tak lama, Adik berambut hitam berponi itu kembali dengan dua piring di tangan kecilnya. Saka tak sabar ingin makan. Anak kecil itu merenggut ketika dengan jahil Aratha menggigit satu ayam yang seharusnya milik Saka. Tak tega, Aratha memberikan ayam yang baru pada Adiknya.
"Kakak dapat ayam dari mana?" Saka bertanya dengan mulut penuh makanan. Terlihat gemas sekali.
"Ini ayamnya tok Dalang. Dia nakal ambil sandal Kakak." Aratha tertawa atas ucapannya barusan.
"Di sini mana ada rembo, Kakak." Saka tak bisa dibodohi ternyata. "oh, iya, Kakak. Saka dapet seratus lagi Matematika," tutur Saka.
"Wah, bagus, dong." Aratha mengacak rambut berponi Adiknya. "tingkatin lagi, yah, adekku yang pinter," ujar Aratha tersenyum bangga.
"Ditingkatin apanya, Kakak? 'Kan Saka udah dapat seratus." Saka malah terheran-heran dibuat Kakaknya.
"Tingkatin itunya, itunya ... belajarnya." Aratha menjawab kikuk. Lalu, tertawa setelahnya. Saka nampak menggeleng.
"Eh? Kotak hitam itu apa, Kak?" tanya Saka menunjuk kotak hitam di sofa. Aratha melirik kotak itu sebentar. Kemudian berkata, "Tadi Kakak nemu di teras. Mungkin orang Araja yang nyimpen." Aratha cuek saja. Ia kembali makan makanan miliknya.
"Kalau udah makan, kamu belajar lagi, Sa. Kakak mau ke atas dulu. Kalau udah belajarnya, tidur." Aratha berkata. Gadis itu berdiri dari duduk bersilanya di karpet, kemudian pergi ke kamar atasnya dengan kotak hitam yang tergeletak di sofa.
Aratha melemparkan kotak itu pada kasur dan dirinya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan setelah banyak berkegiatan di luar. Di kamar mandi, Aratha tak bisa diam untuk bernyanyi dan menari. Suaranya seanggun ini di kamar mandi. Jika, di luar mungkin ia akan dilempari panci oleh ibu-ibu komplek.
Aku memang manusia biasa
Yang tak sempurna dan kadang salah
Namun dihatiku hanya satu
Cinta untukmu luar biasa
Aratha keluar dari kamar mandi setelah nyanyiannya selesai. Sedang berganti pakaian saja, gadis itu bernyanyi dengan lagu berbeda. Jika begini terus, Aratha bisa-bisa masuk final The Voice Kids, nih.
Awas nanti jatuh cinta
Cinta kepada diriku
Jangan-jangan kujodohmu
Membenci diriku ini
Awas nanti jatuh cinta padaku
"Awas lo Ar kalau lo jatuh cinta sama gue," gumam Aratha sedikit sebal, tetapi seperkian detik gadis yang sudah memakai piama itu tersenyum. "eh, tapi nggak pa-pa, sih. Yang ada gue beruntung milikin, Ar." Aratha senyum-senyum sendiri atas pemikirannya.
Teringat ada sesuatu hal yang ia lupa. Aratha meloncat ke atas kasur dan membuka kotak hitam itu. Isinya hanya dua kertas hitam yang memiliki tulisan pendek. Aratha membacanya satu persatu.
Aku akan membuatmu menyusul ibumu.
---double A.
Aratha paham maksudnya untuk seperkian detik ia baca ulang. Aratha masih cukup tenang untuk membaca tulisan kedua pada kertas berbeda.
Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka.
---double A.
Aratha mengembuskan napas berat. Ia tak paham apa maksud surat yang ditulis ini tertuju untuknya. Selama ini hidupnya cukup baik meski kedua orang tuanya tak ada di sini. Ayahnya dipenjara atas kasus yang membuat Aratha muak dan kecewa pada pria yang memberikan hidup seperti ini padanya.
Terkadang, Aratha merasa hidupnya tak beruntung dan kadang iri hati selalu menggerogoti ketika melihat para Ibu menggendong anaknya. Ia kasihan pada adiknya yang baru saja masuk kelas satu Sekolah Dasar tak dapat diantar kedua orangtuanya. Saka lebih tak beruntung dibandingkan dengan dirinya.
Aratha menarik sudut bibir sekilas dan terkekeh. "Gue harus selalu semangat. Saka selalu menjadi penyemangat gue." Aratha meninju udara di atas kepalanya. Dengan sembarang ia melemparkan kotak dengan suratnya. Lalu mengambil mikrofon mainan sewaktu kecilnya dan mulai bernyanyi ketika lagu berhasil ia putar.
Di sisi lain yang tepatnya di rumah Araja itu nampak cowok berpostur tegap tersebut memainkan PS bersama Kalvian yang bermain seraya tengkurap di kasurnya. Padahal, sang pemilik saja lebih memilih di lantai beralaskan karpet berbulu dengan gambar bola basketnya.
"Nyokap-bokap lo ke mana, Ja? Tumben banget nggak di rumah." Kalvian menyeletuk menanyakan keberadaan kedua orang tuanya yang selalu ada di rumah ketika dirinya mampir.
"Ke rumah nenek gue. Katanya ada reuni keluarga," jawab Araja tetap fokus pada permainan yang tengah dimainkan.
"Terus, kenapa lo nggak ikut?" Sedikit rasa kepo, Kalvian bertanya kembali.
"Males, lha. Lagian ada lo juga yang mau nginep." Araja menjawab tenang. Matanya tetap menyorot pada layar persegi di hadapannya.
"So sweet, deh, lo, Ja." Kalvian tertawa geli.
Araja mendecih, lantas mencibir, "Lo kelamaan jomlo jadi kayak gini, Kal?"
"Mana ada. Gue 'kan bercanda, Ja." Kalvian mendengkus. Cowok itu kemudian berkata, "lagian kalau gue belok, gue nggak bakal milih lo yang **** untuk mertahanin orang yang nggak peka-peka," sindir Kalvian tepat pada hubungan asmara temannya.
"Kalau udah cinta, mikir realistis itu udah nggak guna." Araja tertawa geli atas kalimatnya yang persis yang sering dikatakan Malik. Cowok itu tak datang main, katanya ada makan malam dengan gadis barunya yang beberapa hari lalu mengutarakan perasaannya pada Malik.
Kalvian mencibir, "Dih, kuman si Malik kayaknya nempel sama lo, Ja."
Araja tak membalas. Ia menggerakkan kedua ibu jarinya dengan lincah, cowok itu sebentar lagi akan menang jika saja teriakan yang melengking tidak membuatnya terkejut hingga mobil di layar persegi itu memutar tak tentu arah.
"Sialan," umpatnya.
"Tetangga lo kayaknya kesurupan band rock, deh, Ja," terang Kalvian mendengar teriakan-teriakan nyaring seperti vokalis band yang menggila.
"Biarin, lha. Mungkin dia lagi bahagia." Araja tak acuh dengan mengangkat bahunya. "udah lama juga Ratha nggak nyanyi-nyanyi," lanjutnya sedikit melirik kaca jendela Aratha yang menampilkan siluet Aratha yang tengah bernyanyi.
"Ya itu nggak masalah buat lo," ketus Kalvian. "tapi kuping gue mau lari cari pemilik baru," sambungnya asal.
"Mana ada lo, Kal." Araja tertawa.
✖﹏✖
instagram penulis : @ismimd_
instagram kata : @katamd_
instagram series : @monthprojectseries.ofc