
"Ada di lantai dua, Ja."
Araja segera berlari menuju lantai dua setelah diarahkan oleh Malik yang ada di sana. Pemuda itu menaiki anak tangga dengan rusuh nan tak sabaran. "Pelan-pelan, nyet. Banyak yang jaga." Malik memperingati. Araja tak bisa pelan-pelan, ia tak ingin sesuatu terjadi pada Aratha.
"Lo di mana, Kal?" Malik bersuara dan digantikan dengan suara Kalvian yang menjawab, "Otw, ke sana. Gue masuk lewat belakang."
"Ada dua yang jaga di arah lo masuk, Kal." Malik memberi intruksi untuk hati-hati. Pemuda itu ada di balik pilar besar mengawasi orang-orang yang menjaga di setiap sudutnya. "Ja, pintu utama ada satu orang," lanjutnya.
"Laga lo, Mal, udah kayak spy kids." Kalvian merecoki dan Malik menyahut, "Gue dah gede, nyet."
Suara gaduh di arah pintu utama membuat Malik mendengkus kasar. "Lo main serang-serang aja, Ja. Bangke lo."
"Banyak bacot lo," ketus Araja setelah membuat penjaga yang dikatan Malik tak sadarkan diri di lantai.
"Kurang ajar lo, Ja. Nggak tau balas budi," cibir Malik. Cowok itu kembali mendengkus untuk mengomel pada Kalvian. "Lo juga, Kal. Sama aja, syaiton." Malik emosi mendengar kegaduhan yang dibuat Kalvian.
"Lo banyak cincong, kena pukul 'kan gue," komentar Kalvian dan kembali terdengar kerusuhan di wilayah masuk Kalvian.
"Oke, orang waras mah diem." Malik terdengar merajuk.
"Ratha di mana, Mal?" Araja kembali bersuara. Nyatanya, meski sebal Malik tetap menimbrungi, "Kayaknya ada di ruangan yang semua penjaga kumpul di sana. Ada enam orang."
"Sikat, Ja." Kalvian merasuki Araja yang langsung memgangguki. Astaga, Malik ingin sekali menerkam kedua temannya.
"Orang suruhan gue bentar lagi sampe." Sebelum memantapkan langkah, Kalvian memberi tau sebelum mulai beraksi kembali.
"Periksa ruangan, jangan sampai masuk ke ruangan bos." Suara di antara mereka terdengar kala ponsel milik Kalvian berdering. Ketiga cowok itu tak segan menunjukkan diri mereka tepat di hadapan ruangan yang diyakini tempat Aratha.
"Gue alihin mereka, lo masuk ke sana, Ja." Malik memberi intruksi sebelum mulai melawan empat orang yang maju terlebih dahulu.
Araja mencari celah untuk menghindar dan masuk ke dalam ruangan yang terpaut beberapa meter di depannya. Araja segera melangkah dan memberikan bogemannya pada orang-orang yang menghalangi setiap langkahnya. Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan darah ketika pukulan telak mengenai wajahnya berkali-kali.
Araja mengumpat sekali lagi melihat pemandangan yang membuat emosinya memucak. Di ujung sana, Aratha tampak menangis ketika cowok yang ia kenali menciuminya. Araja cepat-cepat menghampirinya dan memberikan pukulan hingga wajah Arizona tersungkur.
Perkiraan Kalvian mengenai Arizona memang benar. Sekali berengsek tetap saja berengsek. Sedangkan, Araja sendiri menatap gadis di belakangnya dan mengusap pelan pipi Aratha yang basah. Matanya menatap sendu sosok perempuan yang kian meluruh ke lantai.
"Maafin gue, Ja," katanya serak. Araja menatap Aratha lembut, ia kembali mengusap pipi Aratha. "Nggak pa-pa. Sekarang ada gue, lo pasti baik-baik aja." Araja mencoba menenangkan meski hasilnya Aratha semakin dibuat menangis olehnya.
Araja mendecih ketika sebuah pukulan mengenai wajahnya. Cowok itu segera bangkit dan menangkis semua pukulan yang dilayangkan Arizona meski beberapa kali mengenai bagian tubuhnya. Araja membalas pukulan Arizona, ia tak akan mengampuninya setelah melakukan hal yang tak ia sukai pada Aratha. Mencium gadisnya begitu saja. Eh, lupa belum nembak.
Araja mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangan kala dirasa cairan kental asin itu terkecap olehnya. Ia menatap Arizona yang sudah tak berdaya di lantai ambamg pintu. Ia mengangkat kerah baju Arizona hingga cowok itu berdiri.
"Lo tetep aja pengecut, Ja." Meski wajahnya sudah tak berbentuk, cowok itu masih berani berbicara. Araja memberikan pukulannya hingga Arizona kembali tersungkur menubruk orang-orang yang sudah ditahan oleh suruhan Kalvian yang datang.
"Dan lo tetep aja berengsek," maki Araja hendak kembali memberikan pukulannya, tetapi ditahan oleh Kalvian.
"Udah, Ja. Lo mau bunuh anak orang." Kalvian menetralkan emosi Araja. Bisa-bisa, cowok yang ditangani Malik saat ini bisa mati sebab Araja tonjoki berulang kali.
Brak!
Mendengar gebrakan itu membuat Araja, Kalvian, Malik, dan orang-orang di sana menoleh pada sumber suara di belakang Araja. Ketiga pemuda itu nampak membelalakkan matanya tak percaya.
"Anjing lo semua, kagak becus bunuh satu orang aja." Arizha menggebrakkan pintu kuat-kuat dan mengunci pintu rapat-rapat. Urusannya dengan Aratha baru saja dimulai.
"Ada hubungan apa lo sama Arizha?" tanyanya mengintimidasi. Arizona di depannya terlihat lunglai hampir tak sadarkan diri. Memang benar kata Kalvian bahwa ia nyaris membunuh seseorang.
"Apa salahnya kalau gue lakuin ini semua buat adek gue," jawabnya terbata dan balas menatap Araja yang tampak terkejut.
"Jadi, double A itu lo sama Arizha?" Malik menimbrungi dan mengangguk mesti tak mendapatkan jawaban dari Arizona. Ia paham sekarang. "Sayang lo sama Arizha emang gede, tapi nggak gini juga, nyet."
"Lo semua nggak akan ngerti kalau Rizha depresi berat gara-gara kelakuan bejat bokap Ratha," racau Arizona berontak agar terlepas dari borgol dan tali yang melilit tubuhnya.
Sementara, di dalam ruangan pengap itu Aratha tampak terkejut dengan kehadiran Arizha di hadapannya. Perempuan yang ia kenal mempunya sikap manis itu berubah mengerikan di mata Aratha, apalagi dengan sebilah pisau di tangan yang ia cabut dari dinding.
Aratha seketika berdiri bersitatap dengan Arizha. "Zha, lo temen gue," lirihnya hendak memeluk Arizha, tetapi dirinya malah didorong kasar oleh Arizha.
"Gue bukan temen lo!" jawan Arizha menatap tajam Aratha yang semakin tak percaya. "Gara-gara bokap lo, gue depresi dan hampir mati jika Ar nggak tau pelaku yang hamili gue, Ra." Arizha berkisah pelan-pelan seraya menunduk dan tak lama kemudian ia menunjuk Aratha dan menjerit, "DAN ITU KELUARGA LO! GUE BENCI LO, RA!"
"Yang ngerusak meja, loker, dan kotak hitam itu gue yang lakuin dan lo sama sekali nggak sadar, haha, **** banget." Arizha tertawa sumbang dan melanjutkan, "dan yang ngunci lo di kamar mandi itu gue juga."
Gadis yang dikenal Aratha sebagai perempuan yang paling lembut yang pernah ia temui ternyata salah besar. Bahwasannya, Arizha seakan bukan yang selama ini ia kenal. Sosok lain seperti mendiami Arizha untuk saat ini.
"Dan asal tau, Aratha ..." Arizha sengaja menggantung kalimatnya dan tersenyum miring. "... yang nabrak nyokap lo sampe mati itu gue, Arizha Arfagusti."
Aratha mencoba tak percaya. Namun, ia rasa ada benarnya. Kepalanya menggeleng memusnahkan apa yang diucapkan Arizha barusan meski pada kenyataannya salah besar. Hati yang belum seluruhnya sembuh oleh luka, seakan kembali dibuka membiarkannya kian menganga lebar.
"Lo bohong, Zha. Lo ... nggak mungkin lakuin hal keji kayak gitu." Aratha masih tak mempercayai omongan Arizha. "lo itu cewek lembut yang gue kenal."
Arizha menyilangkan kedua tangannya di dada. Menatap Aratha datar dari tempatnya. "Haha, lo ketipu sama akting murahan gue," katanya.
"DAN SEKALI LAGI, GUE BENCI SAMA LO!" Arizha mendorong bahu Aratha berulang kali hingga menabrak tembok di belakangnya. "gara-gara lo gue sering down setiap kali lo ngomong kalau Araja nggak bakalan suka cewek kayak gue. Gara-gara lo Araja nggak suka gue. Gara-gara lo juga Araja jadiin gue pelarian saat lo nggak ada. Lo pikir jadi gue enak?!"
Aratha meneguk salivanya susah payah mendengar hal itu. Gadis itu meremas-meras tangannya yang sedaritadi sudah basah oleh keringat. Aratha tak bisa paham jika Arizha menyukai sahabatnya.
"Dan gue makin benci lo ketika Araja bilang suka sama lo dibandingkan gue. Lo itu nggak ada apa-apanya dibandingkan gue. Lo itu bodoh dan nggak bisa ngapa-ngapain kalau nggak dibantu orang lain. Gue lebih baik untuk Araja dibandingkan lo."
Suara pintu yang terbuka membuat Arizha terperanjat dan dengan gesit ia menggaet leher Aratha dan menodongkan pisau di leher gadis yang sudah ada di depannya. Matanya menatap satu Araja dan Kalvian dengan nyalang. Memperingati agar tidak mendekatinya.
Araja menatap bergantian kedua perempuan itu. Ia dapat mendengar percakapan keduanya dari luar. Ia sedikit khawatir melihat Aratha ada dikungkungan Arizha. "Lo nggak ada apa-apanya dibandingkan Ratha, Zha," kata Araja setenang mungkin dan pelan-pelan memajukan langkahnya.
"APA? KENAPA LO NGGAK SUKA GUE RAJA?!" tanya Arizha frustasi. Matanya berkaca-kaca menahan air mata yang bisa meluruh kapan saja.
"Lo nggak cinta diri sendiri," jawab Araja kemudian. "Ratha meski bodoh seperti kata lo, dia tetep cinta dirinya sendiri. Love yourself, Zha. Gue suka lo sebagai teman," sambungnya memberi pengertian agar gadis itu tak malakukan hal yang membahayakan nyawa Aratha.
"Lo maju selangkah lagi, gue bunuh Ratha." Arizha mengancam dan semakin mendekatkan pisaunya pada leher Aratha. Sedangkan, Aratha semakin menahan napasnya, tetapi kenapa tiba-tiba saja tubuh Arizha lunglai.
"Gue kasih obat bius. Banyak bacot, sih." Malik nyengir kuda pada kedua temannya yang cengo menatapnya. "kalau deket gini, Rizha cantik juga, sih. Naksir 'kan gue." Malik malah bercanda di situasi seperti ini.
Araja cepat-cepat menghampiri Aratha dan mendekapnya erat. Aratha juga melakukan hal yang sama. Ia tak ingin mengurai pelukannya. Ia butuh penumpu. Aratha lemas sekali. Ia seakan tak kuat untuk berdiri. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Araja.
Araja mengelus puncak kepala Aratha lembut. Sudut bibirnya sedikit tertarik ketika Aratha memeluknya erat. Namun, tak berselang lama pelukannya mengurai hingga Aratha benar-benar di dekapannya. Cowok itu menatap wajah pucat Aratha yang menutup mata.
Ia tak akan pernah memaafkan Arizona ataupun Arizha.