Everything I Never Told You

Everything I Never Told You
19° | CINTA KITA BERDUA



Araja mengambil bola yang dilemparkan teman satu timnya. Kemudian ia langsung membidikkan bola digenggamannya pada ring. Cowok tinggi itu memperoleh poin tiga dari jarak biasanya. Araja bertos dengan kawan-kawan satu timnya.


"Makin sini, lo makin mantep aja mainnya. Mau saingan jadi kapten sama gue, Ja?" Milendi yang memang sudah dikandidatkan menjadi kapten tim putra merasa tersaingi dengan Araja. Sedangkan, cowok bersurai hitam itu tampak menyunggingkan senyuman.


"Gue nggak tertarik jadi kapten." Mendapatkan sorakan dari teman yang lain membuat Araja tertawa. "Kasian lo yang beasiswa basket nggak jadi kapten," sambungnya mengejek.


"Gila lo, man. Mana ada beasiswa gue dicabut cuma gara-gara nggak jadi kapten basket, lagian otak gue masih encer buat ambil bewasiswa lain." Meski begitu, Milendi masih bisa membanggakan dirinya. Bukan masalah besar bagi Milendi yang sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan akademik di sekolah.


"Segitu aja sombong lo, Len. Dibanding sama gue, pinteran gue nih." Cowok yang sedaritadi menyimak dari belakang memisahkan jarak antara keduanya. Ikut membanggakan diri.


"Lo masih kalah sama temen gue si Argi." Milendi tak mau kalah, maka ia membanggakan temannya saja.


"Itu temen lo, bukan lo," sahut Asta meledek. Cowok itu tertawa setelahnya.


"Halah, bacot lo semua." Kalvian menyahut dengan sewot pembicaran mereka bertiga. Mereka bertiga memiliki otak encer dengan kelebihannya masing-masing, sedangkan ia yang termasuk tim tidak memiliki kemampuan apa pun. Selain rebahan.


"Sirik lo, Kal." Asta tertawa menanggapi teman Araja satu itu.


"Ambil posisi masing-masing, cuy. Tim lawan mau defense." Milendi memerintah dan mereka semua bersiap dengan posisi masing-masing. Tim lawan yang dipimpin Arizona perlahan menyerang dan mencoba melewati pertahanan.


Araja yang langsung berhadapan dengan cowok yang menampilkan senyum memuakkan itu bergerak mencegah. Ia tak akan membiarkan Arizona mencetak poin. Dirinya tak payah seperti yang dikatakan Arizona waktu lalu.


Asta dengan sigap menblock ketika bola dipantulkan oleh Arizona. Tim Araja segera menyerang posisi lawan dan saling meneriakkan nama satu sama lain ketika mengoper bola dan kembali mencetak poin dua untuk timnya.


"Daebak, *****." Kalvian berseru. Mereka bergantian untuk bertos setelah suara peluit menandakan pertandingan telah usai. Javier sebagai pelatih memberikan selamat pada tim yang dipimpin Milendi mencetak poin lebih besar dibandingkan tim Arizona. Hanya selisih lima poin.


Araja meneguk minumannya ketika duduk di pinggir lapangan dengan anak basket lainnya yang didominasi anak kelas sepuluh yang memerhatikan tim perempuan mulai berkerumun di lapangan dengan arahan Bang Javier.


Araja memicingkan matanya ke gedung selatan ketika tak sengaja matanya menangkap sosok yang menurutnya tak asing memasuki kelas 2A4 ---Kelas Aratha. Kemudian, matanya beralih menatap Aratha yang berlarian di lapangan dengan bola di tangan. Aratha menempati janjinya pada Bang Javier. Seperti yang Araja kenal.


Matanya kembali memerhatikan gedung IPA, tak ada yang lain. Hanya sepi dan tak ada sosok lain. Melihat Aratha di lapang yang memberikan peace pada timnya terlihat lucu di matanya. Aratha kembali mengulang kesalahannya dengan memasukkan bola pada wilayahnya.


"Ra, lempar sini." Mendapatkan namanya dipanggil. Aratha celingukan mencari orang yang memanggilnya. "gue di sini, jaenab!" seruan itu kembali terdengar. Aratha segera mengopernya ketika mata cantiknya melihat posisi Dalla tak jauh dari posisinya.


"Yeuh, dasar lo, Jaenudin." Dalla mencibir ketika bola sama sekali tak dapat ia tangkap sebab lawan mengambilnya duluan. "Kalo lempar bola liat situasi dulu, dong. Ada lawan atau nggak," lanjutnya seraya mendekati Aratha yang menggaruk pelipisnya bingung.


"Lo 'kan nyuruhnya langsung lempar aja. Lo nggak nyuruh gue buat liat lawan dulu atau nggak," jelas Aratha seperti anak baru lahir yang minta dipukul.


"Dasar lo, Maemunah." Dalla mendengkus kasar mendengar penuturan Aratha yang ada benarnya juga.


"Eh, eh, Dal. Panggilan gue kok banyak, yah. Tadi Jaenab ... terus Jaenudin, terus barusan panggil gue Maemunah. Lucu-lucu banget panggilan lo buat gue. So sweet."


"Terserah lo, Ratha. Nanti gue sakit jiwa deket-deket sama lo terus." Dalla segera menjauh. Aratha mengembungkan pipinya mendengar itu. Salah satu alasan beberapa perempuan jarang berbincang dengannya. Sudah Aratha bilang hanya Arizha teman terbaiknya.


Aratha melirik sekitarnya. Anak-anak basket lain terlihat bisa saja menggiring bola, sedangkan ia hanya bisa merutuki dan bersikap minder. Namun, Aratha akan membuktikannya ia bisa. Sebelumnya, ia melihat seseorang di lantai dua gedung selatan. Wajah yang begitu familier ketika orang itu seperti melemparkan sesuatu ke tempat sampah.


"Ra, ambil." Suara itu membuyarkan pikiran Aratha. Cewek itu mendribble bola ke wilayah lawan, kali ini ia tak mungkin salah ketika matanya menangkap teman tim berlarian menuju ring.


"Shoot, Ra, shoot," perintah itu langsung diangguki Aratha. Ia bersiap dengan posisi yang pernah diajarkan Araja. Kemudian ia melemparkannya dan memejamkan mata agar kenyataan tak membuat harapannya sirna.


Prang


Suara itu membuat Aratha membuka mata dengan refleks. Ia melompat kegirangan ketika tak disangka bolanya masuk.


"Keren lo, Ra." Teman satu timnys mendekat dan memberikan selamat.


"Lain kali gitu lagi, ya, Jaenab." Dalla menyengir mengucapkannya. "jangan bunuh diri terus," sambungnya.


Aratha mengernyit keheranan. "Gue nggak mungkin mau bunuh diri," katanya tak berdosa.


Teman-teman basketnya menepuk jidat. Lalu, meneriakkan nama Araja dan menyatakan bahwa cewek sok polos ini adalah temannya.


✖﹏✖


Aratha masih dengan baju basket birunya itu memgayuh sepeda tanpa kenal lelah setelah latihan basket di sekolah. Di sampingnya ada Araja dengan sepedanya juga. Cowok itu nampak santai saja mengayuh, tak seperti gadis di sampingnya yang sampai berdiri dan berteriak di jalanan.


Araja ikut berhenti. Ia memerhatikan Aratha yang turun dari sepedanya. Gadis itu terlihat berbincang sedikit dengan anak jalanan itu. Araja suka sekali kalau melihat Aratha masih ingat sesama meski dirinya sendiri juga membutuhkan.


"Makan, yah, biar cepet gede kayak Kakak." Aratha mengacak rambut kumuh bocah ini. Seperti memperlakukan Saka. "tapi begonya jangan diturutin, yah." Aratha memperingati. Ada seulas senyum yang diberikan bocah ini. Aratha semakin tersenyum lebar mendapati hal itu.


"Kakak baik. Bian mau seperti Kakak." Anak kecil bernama Bian ini tersenyum dengan mata berbinar. "makasih makanannya, Kakak," ucapnya dengan riang. Ia seperti melihat Saka yang selalu ceria.


"Dadah, Kakak pulang, yah, Bian." Aratha melambaikan tangannya yang kemudian mulai mengayuh sepedanya menjauh. Araja ikut menyusul.


"Lo kenapa kasih? Padahal itu buat makan Saka." Araja bersuara. Kali ini ia penasaran dengan alasan Aratha.


"Ada yang lebih butuh daripada gue, Ja. Di rumah masih ada persediaan, gue bisa masak buat makan nanti. Lagian kalau gue punya rezeki lebih, gue nggak sungkan untuk berbagi," ungkap Aratha memandang lurus ke depan. Merasa benar dengan ucapannya.


Araja merasa terharu. Aratha sudah besar, ternyata. Namun, pada menit berikutnya Aratha kembali berteriak sambil bernyanyi di jalanan. Menyita perhatian pengguna jalan. Ternyata, Araja salah menduga. Aratha tetap masih kecil dengan hati yang besarnya.


Cinta kamu adalah


Cinta aku adalah


Cinta, cinta, cinta


Cinta kita


Aratha tak merasa malu. Setiap lirik ia nyanyikan dengan senang, tangannya sampai menunjuk seseorang di trotoar jalan atau bahkan yang tengah berkemudi.


Cinta kamu adalah


Cinta aku adalah


Cinta, cinta, cinta


Cinta kita berdua


Hal penting bagi Aratha adalah ia bahagia. Maka, ia tak peduli dengan tatapan atau omongan seseorang terhadap dirinya yang terlewat senang. Hingga memasuki komplek perumahan, Aratha masih saja bernyanyi dengan lagu yang sama. Tak pernah bosan.


Aratha segera turun ketika sampai di rumah. Cewek itu menstandarkan sepedanya di halaman rumah. Dengan senang ia masih bersenandung kecil dan berhenti tepat di depan pintu.


Kotak hitam, lagi.


"Kotak apaan, Ra?" Dari samping rumahnya. Araja berteriak untuk bertanya.


Araja tak boleh tau hal ini. Maka ia menjawab, "Paket dari kampung, Ja. Iya, paket." Paket menuju neraka. Sambungnya dalam hati. Ia tersenyum miring karenanya.


"Tumben banget lo dapet paket," tutur Araja.


"Mereka baru inget gue kali," kekeh Aratha hambar. Meniru adegan sinetron beberapa hari lalu. Aratha ke dalam rumah dan tak mendapati Saka di depan televisi seperti biasanya. Lalu, ia berinisiatif ke kamar bocah kecil itu dan Saka ada di atas kasur. Tengah tertidur.


"Paket ke neraka kayak apa lagi, nih." Aratha bergumam pada kotak hitam yang ia bawa. Ia membukanya ketika terduduk di kursi belajar.


Aku sudah siapkan neraka yang sesungguhnya untukmu.


--- double A


"Cih, sok-sokan." Aratha berdecih tak suka. Lalu mengambil kertas hitam lainnya.


Kamu sudah terperangkap padaku.


--- double A.


"Lo pikir gue burung yang bisa terperangkap di sangkar?" tanyanya sinis seolah double A ini ada di hadapannya. "lagian gue pasti nggak akan terperangkap. Gue cukup pintar untuk teka-teki kayak gini," lanjutnya seolah tak takut apa pun.


Aratha kembali memasukkan dua kertas itu pada kotak dan menutupnya. Kemudian, ia menyimpannya di laci meja belajar dengan beberapa kotak yang ia dapat di depan pintu rumahnya.