
Angka tigapuluh enam adalah poin terakhir setelah tiga puluh menit dilalui untuk mencetak skor sebanyak limapuluh. Nyatanya, Aratha tak mampu menggapai angka sebanyak itu untuk waktu setengah jam. Jika statusnya sekarang bukan pacar Arizona, mungkin Aratha tak akan bisa menggapai cowok itu. Meski kenyataannya, hari ini berbanding terbalik.
"Lo lumayan," ucapan itu terdengar ketika Aratha memutuskan untuk menyelonjorkan kakinya di lantai ketika di gedung basket indoor. Ia melahap rakus oksigen di sekitarnya ketika pasokan oksigen di dadanya menipis.
"Nih, minum dulu." Arizona menyodorkan botol mineral yang sudah dibuka tutupnya. Aratha meneguknya hingga tandas setengah. Gadis itu menelentangkan tubuhnya menatap atap yang memayunginya dari panas matahari. Arizona ia tarik tangannya untuk ikut terlentang.
"Ar, memangnya gue pantes yah jadi cewek lo setelah ini? Bahkan gue nggak memenuhi target yang lo janjikan." Aratha tak melirik pada Arizona yang menatapnya.
"Kata siapa lo nggak pantes jadi cewek gue? Gue yang milih, kan?" Arizona bertanya balik. Memastikan.
"Hm,"gumamnya. Aratha menggerakkan kepalanya untuk bersitatap dengan Arizona dan mengatakan, "tapi ... gue payah seperti kata lo."
"Lo udah berusaha, nggak ada salahnya untuk gue menghargai lo," ujar Arizona santai dan memberikan seulas senyum tipis pada Aratha.
"Lo jadi pacar gue bukan karena lo kasian, kan?" Aratha bertanya memastikan. Ia menatap penuh arti pada cowok di sampingnya ini. Ia menuntut jawaban yang setidaknya tidak seperti yang dikatakan hatinya.
Arizona menatap Aratha tepat di mata. Cowok itu mencubit pipi berisi Aratha dan terkekeh. "Gue suka sama lo, Ra," katanya lembut.
Aratha segera kembali pada posisinya menatap langit-langit. Aratha percaya itu karena ia percaya Arizona meski sempat meragukan beberapa saat yang lalu. Keduanya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing hingga meninggalkan kesunyian di antara keduanya.
Perempuan bersurai hitam itu berubah sendu mengingat sosok Araja yang mengajarkannya sampai saat ini, hingga ia bisa meski tidak memenuhi targetnya. Namun, kejadian semalam membuatnya digentayangi rasa bersalah. Dirinya sangat salah jika tidak membutuhkan Araja karena sejatinya ia adalah manusia yang jatuh pada butuh.
"Kenapa, Ra?" tanya Arizona melihat perubahan di wajah gadisnya. Iya, gadisnya.
"Gue ngerasa bersalah sama Raja gara-gara gue semalam nggak inget Saka di rumah dan gue keterlaluan kalau gue bilang nggak butuh dia," ungkap Aratha. "padahal nyatanya, gue selalu butuh Raja di sisi gue, Ar," keluhnya sendu. Ia keterlaluan sekali.
"Nggak pa-pa. Masih ada gue, Ra." Arizona menepuk pelan puncak kepala gadis di sampingnya. Kemudian, ia bersila diikuti Aratha juga. "pulang aja yuk, Ra," ajak Arizona.
"Tapi ke kantin dulu, gue masih haus." Aratha nyengir hingga menampilkan deretan gigi rapinya.
"Rakus banget minumnya. Ya udah, ayo." Arizona berdiri dan memberikan tas gadis itu ketika Aratha mengekori dirinya.
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan saling menaut. Mereka mengobrol, tetapi Aratha hanya diam menatapi sosok yang berjalan berlawanan arah dengannya dengan seorang gadis manis di sebelahnya. Apalagi, ia keheranan ketika Araja menggenggam tangan Arizha.
Aratha menghela napas pelan, matanya bersibobrok sebentar ketika Araja melewati dirinya dan kembali mengobrol dengan Arizha. Mungkin, apa yang dikatakan Malik dan Kalvian memang benar. Araja menyukai Arizha dan kemungkinan keduanya sudah menjalin hubungan dekat sebelum ia dan Arizona sedekat ini.
Aratha seharusnya ikut senang dengan kedekatakan kedua temannya. Namun, hatinya seakan tak rela jika itu memang terjadi. Entah kenapa, Aratha tak rela saja.
Sedangkan, Araja yang menuju parkiran dengan Arizha segera melepaskan tautan tangannya dengan gadis di sebelahnya yang kemudian melunturkan senyum di wajah.
"Woy, Ja. Lo jadi nggak ke apart gue?" Kalvian yang baru saja datang dengan Malik ke parkiran berteriak bertanya meski jarak tak sejauh dua benua.
"Jadi," jawab Araja memasangkan helm pada Arizha dan segera naik ke motornya. "gue nganterin dulu Rizha," lanjutnya yang kemudian dirinya menyuruh gadis yang diam membatu untuk segera naik di belakangnya.
Araja menyalakan mesinnya dan tak lama kemudian ia melaju ketika motor Malik yang memboncengi Kalvian melewatinya. Meninggalkan area Skyline School dan melaju di jalanan yang cukup padat dengan kendaraan beroda yang hilir mudik.
"Kamu bisa nonton perlombaan aku nanti, Ja?" tanya Arizha di belakang Araja. Cowok itu melirik gadis di belakangnya yang nampak berharap lebih.
"Gue ada pertandingan basket, Zha. Nggak mungkin bakal sempet ke perlombaan lo," jawab Araja. Tentu saja, dua minggu ke depan dirinya juga ada pertandingan basket dengan tim. Jadwalnya juga sama dengan jadwal perlombaan yang diikuti Arizha.
"Oh, kamu tanding, yah. Berarti aku nggak bisa nonton juga kalau jadwal kita barengan." Arizha mengeluh. Araja terlihat menyunggingkan senyuman.
"Makasih udah anterin aku, Ja." Arizha memberikan helm pada Araja yang langsung menerimanya. "Mau masuk dulu?" tanyanya menatap satu persatu teman-teman Araja baru saja menghentikkan motornya.
"Gue mau ke apart Kalvian, lain kali aja, deh, Zha. Sorry banget nih." Araja menolak dengan halus.
"Ah, nggak nggak. Nggak pa-pa, kok." Arizha tersenyum ramah mendapatkan harga jawaban seperti itu.
"Gue nanti mampir kalau mau lamar lo, Zha," celetuk Malik yang langsung mendapatkan jitakan di kepalanya.
"Gue sama yang lain duluan, Zha." Araja kembali menyalakan mesin motornya.
"Hati-hati."
✖﹏✖
"Tumben banget, Kal," sahut Malik yang langsung mengambil tempat duduk di sofa dan menguasainya hingga tak menyisakkan tempat untuk Araja duduk. Tidak perempuan yang digaet, sofa juga terlena akan paras pemuda songong itu.
"Urusan apaan, Kal?" tanya Araja mengambil minum di mini bar dapur yang terhubung dengan ruang televisi.
"Mereka dapet info kalau yang katanya adek gue itu masih ada. Hidup, tapi nggak tau orangnya di mana." Kalvian menjawab malas dengan menegaskan di beberapa katanya. Dibalik Kalvian yang suka sekali tidur, ada sosok yang lebih malas daripada itu. ******.
"Lo terima lha calon adek lo dengan baik," sahut Malik pada Kalvian yang saja ke luar dari kamar mandi dapur.
"Mana ada, gini-gini gue anak tersayang." Kalvian membanggakan diri dengan sombong. Cowok itu membuka lemari es lebar-lebar.
"Sayang pala lo tuh," sewot Malik yang masih pada posisi sama dan dengan rakusnya cowok itu memakan camilan yang ada di meja.
"Ja, masakin makanan, dong. Adek lapar pengen mamam." Kalvian merayu manja layaknya anak kecil yang minta dihanyutkan di sungai.
"Gue ke sini bukan mau jadi babu." Araja mendengkus malas. Meski begitu cowok itu beralih ke depan kompor listrik Kalvian dan mengeluarkan bahan-bahan di lemari es.
"Terus lo mau ngapain ke sini?" tanya Kalvian memainkan kedua alisnya. Araja mendecih melihat Kalvian sok bossy. Lebih baik Kalvian tidur saja daripada sok-sokan seperti sekarang.
"Kalau bukan mau curhat soal patah hati lo. Lo mau apalagi ke sini?" Malik sekaan merencanakan sesuatu dengan Kalvian tanpa sepengetahuan Araja. Sekali lagi, Araja mendecih hingga membuat hentakan keras ketika mengiris bawang.
"Mau ngedugem gue," jawab Araja kesal.
"Oke, siap, gue setel nih lampu disko." Kalvian melompat dari tempat duduknya. "Mal, Mal, setel lagu dj lo, Mal, pake gigi biru," seru Kalvian heboh.
"Siap, santuy, bosquee." Malik juga berseru heboh. Cowok itu mengotak-atik ponselnya dan tak lama kemudian terdengar lantunan lagu bising dari spiker.
"Sialan lo, Nyet!" maki Araja melayangkan sendok di tangannya ke arah kedua temannya yang sibuk berjoget ria dengan lampu berkelap-kelip di atas kepala.
"Anjirr, kurang mantep kalo di sini. Nggak ada ceweknya." Malik berceloteh di sela-sela tariannya dengan Kalvian. Sang pemilik rumah meneguk minuman bening di gelas kecilnya, cowok itu sempoyongan meski untuk berdiri.
"Kagak bagi-bagi lo. Minta gue," sembur Malik merebut gelas di tangan Kalvian dan meneguknya. "cih, cuma aer biasa." Malik mencibir atas minuman yang dikirannya itu wine.
Kalvian dan Araja menertawakan muka merah padam Malik yang menahan emosi. "Lo pikir anak Mami mau mabok, Mal?" tanya Araja masih dengan tawanya.
"Eh, lo pikir anak Mama kayak lo juga mau mabok, hah?" Kalvian menyahuti sewot pada cowok yang tengah masak itu.
"Dasar lo anak Bu Hunya." Araja mengejek.
"Dasar lo anak Pak Arfi." Kalvian membalas sewot menyebutkan nama papanya Araja. Belum seru kalau sahabatan nggak tau nama orang tuanya.
"Diem, diem, malah berantem lo berdua. Gue nggak menghayati musik nih." Malik melerai sebab kenyamanannya terusik.
"Diem lo anak Pak Jay," teriak Kalvian dan Araja berbarengan. Kompak sekali.
Mereka bertiga makan ketika makanan yang dimasak Araja sudah matang. Mereka bertiga menggelilingi meja bundar dengan beberapa menu di atasnya. Menu sederhana yang membuat Malik dan Kalvian memakannya dengan berselera.
"Ja, lo tau si Ratha jadian sama si Arizona?" selidik Malik. Ia siap jadi pakar cinta.
Araja melirik Malik di sampingnya, ia bertanya, "Gue belum kasih tau lo. Kenapa lo bisa tau, Mal?"
"Malik gitu, lho." Malik menyombongkan dirinya, tetapi naas ketika Kalvian berkata, "Dari Ratha langsung, Ja."
"Anying lo. Kali-kali bikin gue bahagia kek." Malik menjitak kepala Kalvian dengan marah. Sedangkan cowok itu tak peduli dan memilih makan saja dengan tenang.
"Lo ****, sih, Ja. Kenapa lo nggak larang tu cewek jadian sama si keresek sampah? Kasian hati lo, patah berkeping-keping." Malik meledek dan Araja mendelik.
"Terus, kenapa lo nggak minta Ratha putusin si keresek daging biar bisa sana lo?" Kalvian menyahuti pula.
"Cara lo berdua nggak murni," judes Araja.
"Ya udah kalau gitu. Tikung aja tuh anak sampe ******," saran Malik yang diangguki oleh Kalvian.
Araja memgerjapkan matanya. Teman-temannya masih waras 'kan?