
Di area gedung Basketball Indoor Skyline School itu ada sesosok perempuan yang dengan penuh semangat menantulkan bola oren berkali-kali dan melemparkannya menuju ring, meski berulang kali tak ada bola yang lolos dalam percobaan itu. Bahkan menyentuh ring saja tidak sama sekali. Payah.
Tak patah semangat, cewek itu kembali mengambil bola di keranjang dan kembali melemparkannya menuju ring. Ia melakukannya berulang kali hingga bola-bola itu berserakan tak menentu arah. Karena lelah, akhirnya gadis berambut cokelat gelap itu menelentangkan tubuhnya di lantai. Tak peduli kotor.
"Aduh, Ja. Kok gue kagak bisa-bisa, sih," keluhnya tanpa melihat pemuda bersurai hitam itu mencebik karena kesal harus mengumpulkan bola yang dilemparkan Aratha yang meleset semua. "padahal gue tuh ikut basket juga kayak lo," sambungnya dengan rengekan. Cewek itu masih tak bergerak sedikitpun.
"Pala lo tuh ikut basket," cibir Araja. Pemuda jangkung itu masih melemparkan bola pada kerangjang tempat asalnya. "gimana mau bisa main kalo kumpulan aja sekali sebulan lo, Ra." Cowok itu memperjelas setelah bola yang ia shoot mulus masuk ke dalam keranjang.
Aratha yang melihat itu merengek layaknya anak kecil.
"Lo kok bisa masukin tuh bola, sih, Ja? Gue aja nggak bisa, ih. Nggak adil." Tangan perempuan itu menyilang di dada.
"Apaan yang nggak adil?" tanya Araja menagih. "ini hasil kerja keras gue latihan, makanya lo harus latihan yang rajin," lanjutnya dengan sedikit perintah agar cewek itu rajin berlatih main basket dengan anggota lain bukan hanya dengan dirinya saja.
"Gue latihan, kok." Aratha membela diri.
Araja mengangguk menyetujui, tapi tak lama kemudian ia berujar, "Iya, sih, latihan, tapi lo cuma ikut pemanasan terus diem di sisi lapang makan mi ayam."
"Gue sibuk, Ja. Makanya gue izin nggak kumpulan." Aratha berdalih dengan alasan klisenya.
"Sibuk apaan lo?! Di rumah kerjaannya cuma nonton, makan, main ular tangga, jailin saka juga karokean di kamar," terang Araja yang tau setiap kegiatan tetangganya yang selalu berisik ini.
Aratha tertawa mendengar ocehan Araja yang sepertinya memang selalu tau apa yang dilakukan dirinya di rumah. Perempuan itu mengubah posisi terlentangnya untuk bersila memerhatikan teman laki-lakinya yang masih mengumpulkan bola. Tak ada niat untuk membantu Araja sama sekali dalam hatinya. Ia senang membuat Araja kesusahan yang kemudian ia kembali tertawa karenanya.
Araja begidik ngeri mendengar tawa mengerikan milik Aratha yang tanpa sebab. Sebal karena tawa cewek itu tak kunjung berhenti, Araja dengan seenaknya menoyor jidat Aratha hingga tawanya berhenti. Kemudian, duduk di samping perempuan tak jelas ini.
"Apaan, sih, lo, Ja?!" sewot Aratha mengusap jidatnya yang sudah mendapatkan toyoran gratis dari Araja. Matanya menatap sebal pada cowok itu yang kembali menoyor kepalanya.
"Lo kebiasan, ya, Ra, kalo ketawa tuh jangan lupa berhenti. Lo kalau nggak gue toyor nih pasti disangka orang kesurupan sama orang." Araja mencebik malas.
"Biarinlah. Gue gue juga yang kesurupan," balas Aratha judes.
"Males, gue sama lo, Ra. Mendingan ngantin daripada di sini nggak jelas sama lo." Araja hendak bangkit, tetapi mengurungkan niat dan menutup kedua telinganya dengan tangan ketika cewek di sampingnya ini mulai berteriak merengek.
"RAJA, BANTUIN GUE LATIHAN BUAT BIKIN ARIZONA NYESEL NOLAK GUE!"
"Gue di sebelah lo! Nggak usah teriak-teriak!" sembur Araja emosi. "gue juga nggak mau kalau alasan lo main cuma buat dapetin cowok kayak gitu, Ra." Araja jelas saja tak mau melatih temannya hanya untuk mendapatkan teman semasa putih-birunya itu.
"KAYAK GITU GIMANA, SIH, JA? AR ITU BAIK DIBANDING LO YANG SUKA TOYOR-TOYOR KEPALA GUE HINGGA BIKIN GUE ****!" teriak Aratha lagi. Protes seperti ini harus ia lakukan agar Araja dapat melatih bermain basketnya demi kelangsungan hubungan asmaranya.
Arizona memang tidak bersekolah di sini. Namun, Aratha masih keukeuh untuk bisa bermain basket dari tahun lalu, tetapi niatnya yang tidak kuat membuatnya tak bisa bermain basket sampai detik ini. Meski, begitu Aratha tetap ingin membuat cowok itu sadar bahwa ia pantas untuk bersanding dengan cowok yang pandai main basket.
"Lo emang **** ngejar-ngejar Arizona yang bahkan ditelan bumi." Pekataan menusuk itu tak dihiraukan Aratha sedikit pun.
"AR, ADA DI JOGJA RAJA!!" Masih membela orang yang tak ada di sana, Aratha terus saja berteriak membuat telinga Araja berdengung tak kuat mendengarnya.
"Alah, bodo amat. Gue mau makan." Tak peduli. Araja memilih bangkit dari duduknya, tetapi kedua tangan Aratha yang memeluk sebelah kakinya membuat pemuda bersurai hitam itu tidak bisa bergerak.
"Ih, lo kayak gembel ngemis-ngemis ke gue dan gue berasa jadi sultan diginiin," tutur Araja menarik-narik kakinya agar terlepas dari pelukan kuat cewek itu. Bila sudah begini, ia susah kabur nih.
Idih, idiot, gumam Aratha dalam hati. "Iya, Raja. Hamba yang gembel ini butuh bantuan Raja untuk melatih hamba bermain basket."
"Astaga, lo anak sapa, sih?!" Araja hanya bisa menepuk jidat ketika pikiran bodoh Aratha nampak jelas di permukaan. "apa boleh buat kalo udah gini," lirihnya pasrah disertai helaan napas panjang.
"YES, GUE MENANG JUGA!" Aratha langsung berteriak heboh dan berdiri tegap serta menggoyang-goyangkan bahu Araja berulang kali serta berucap, "MAKASIH, RAJAKU, SAYANGKU, CINTAKU, PUNYAKU, APA PUN ITU. GUE SAYANG SAMA LO."
Setelah mengatakan hal itu dan membuat Araja pening karenanya. Aratha sempat membalas toyoran di kepala Araja sebelum berlari menjauh dengan tawanya yang menggema.
"Nggak tau diri, tuh, anak." Meski begitu, cowok yang memiliki poni tersebut menerbitkan senyum sebelum menyusul Aratha yang berteriak memanggil namanya dan menyuruhnya ke kantin.
"Hai semua, aku Arizha Arfagusti. Bisa dipanggil Rizha, semoga kita bisa berteman baik, yah." Senyuman manis tersuguhkan kala seorang perempuan dengan rambut panjangnya itu memperkenalkan diri di depan kelas.
"Oke, kalian simpan dulu pertanyaannya untuk nanti. Ibu akan kembali dan untuk tugasnya jangan lupa dikerjakan." Guru yang membawa siswi baru itu pergi meninggalkan kelas setelah mengatakan siswi bernama Arizha itu boleh duduk di mana saja.
"Hai, Rizha. Kamu bisa duduk sebelah aku aja. Di sini nggak ada yang nempatin."
"Lo berkhianat, yah, Yudha!" seruan dari belakang membuat Arizha mengurungkan niat untuk melangkah ke bangku barisan kedua itu. Matanya melirik bangku belakang yang kosong dan hendak menuju sana, tetapi langkahnya terhalang ketika ketiga laki-laki menghadang langkahnya.
"Hallo, cantik. Bisa dong godain Abang yang tampan dan rupawan ini." Salah satu dari mereka menyibakkan rambutnya yang gondrong. Arizha hanya diam tak tau harus berkata apa.
"Haii, Rizha Sayang. Sini duduk sama gue aja," tawar yang lain menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya. Arizha masih tak bergeming menanggapi.
"Woooooo, ngapain nih?"
"Apaan, sih, lo ganggu aja!" Galuh menyahuti dengan sewot. Cowok yang rambutnya gondrong itu menatap Aratha tak ramah. Cewek itu hanya menjulurkan lidah dan beralih menatap Tabib yang masih menggoda Arizha.
Lagi tak ingin ribut dengan kedua cowok itu, Aratha mengapit lengan Arizha. "Yuyuyu, lo duduk sama gue aja, Zha." Lengan Aratha yang bebas menyingkirkan Galuh dari hadapannya. Dirinya mendudukkan Arizha di samping bangku dan dirinya duduk di atas meja.
"Makasih, yah." Arizha tersenyum tulus. Aratha sendiri nyengir dan mengibaskan tangannya di depan wajah. "Mereka bukan apa-apa," katanya menyombongkan diri.
"Kenalin, gue Aratha. Perlu nama lengkap, nggak?" Aratha mengulurkan tangan dan dibalas cepat oleh perempuan yang saat ini tertawa candaan yang bahkan tak lucu menurut Aratha sendiri.
"Hehe, aku Arizha." Sekali lagi gadis itu tersenyum manis.
"Lo, gue perhatiin daritadi kalo ngomong suka senyum, ya?" Aratha sedikit terkekeh setelah melepaskan jabatan tangannya.
Arizha senyum lagi. "Senyum itu nular sama orang lain, barangkali yang bicara sama aku bisa baik-baik aja dan ikut senyum juga."
Aratha mengibaskan tangan di depan wajah diserati lenguhan. "Otak gue nggak sampe buat cerna perkataan lo yang belibet, Zha." Aratha tak habis pikir dengan gadis ini yang tertawa menutupi mulutnya. Padahal, otaknya memang tak mengerti maksud dari ucapan Arizha, ia bukan pura-pura ****, kok.
"Bolos, yuk, Zha?" tawar Aratha begitu saja. Arizha nampak bingung memerhatikan Aratha yang biasa-biasa saja. "kenapa natapnya gitu amat, sih, Zha?" Aratha merasa risi dengan tatapan polos gadis itu.
"Bukannya ada tugas dari Pak Rama untuk kerja kelompok buat musikalisasi pu---"
"Alah, itu mah gampang." Aratha mengibaskan tangannya enteng. Lalu, matanya melirik seisi kelas yang beberapa orang berdiskusi. "woy, Hany, gue sama Rizha masuk kelompok lo, yah," teriaknya pada gadis berkacamata di ujung sana. Perempuan itu mengangguk pelan meski teman kelompok lainnya terlihat mendesah pasrah dimasuki cewek yang otaknya tak berisi.
"Kuy, Zha. Keliling sekolah," ajak Aratha lalu turun dari bangkunya dan menarik Arizha ke luar dari kelas. "lo santuy aja, Pak Rama tuh udah tua, pasti pikun tuh." Aratha tertawa terbahak meski Arizha hanya menatapnya bingung. Ah, dasar murid baru.
"Tour Skyline School, dimulaiii." Aratha menunjung tinggi tangannya yang terkepal di udara. Perempuan itu mengoceh panjang lebar mengenai seluk beluk bahkan sampai sejarah didirikannya Skyline School bahkan sampai gedung belakang IPA yang rumornya banyak penghuni yang tak kasat mata. Aratha menjelaskannya lewat penghubung gedung IPA dengan gedung olahraga, katanya takut digodain hantu-hantu di sana.
"Itu siapa, Ra?" tanya Arizha menunjuk salah satu siswa di lapangan outdoor basket. "itu, yang cuma pake kaos item." Arizha kembali menunjuk pemuda itu. Aratha terlihat menyelidik satu persatu anak basket di sana.
"Ohh, itu si Araja, tuh. Kenapa? Lo suka?" Aratha langsung heboh sendiri. Ia mendesak agar Arizha menjawab pertanyaan itu hingga menjadi pusat perhatian di koridor lantai dua kantin.
"Si Araja nggak mungkin pacaran lha, Zha. Meski dia keliatan urakan, dia tuh paling lemah kalo ada cewek yang suka sama dia."
Arizha menatap pemuda di bawah sana dan beralih menatap Aratha bergantian. Lalu, ia tersenyum. Aratha yang melihatnya merasa horror sendiri.
Follow Instagram :
@monthprojectseries.ofc
@ismimd_
@katamd_