Eros Love

Eros Love
Sebungkus permen



Garden Coffe...


Garden Coffe, tempat tersedianya berbagai jenis kopi. Tempat bersantai yang cukup strategis untuk di kunjungi berbagai kalangan. Angkringan yang biasa ditempati Abian beserta sahabat-sahabatnya untuk menikmati secangkir kopi yang menjadi minuman kegemaran mereka.


Garden Coffe adalah kafe yang dimiliki olej keluarga Keenan. Lelaki itu turut membantu di waktu senggang sebagai seorang barista.


"Gak bikin kopi lo?" Tanya Rama si ketua OSIS pada Keenan yang bermain ponsel di sebelahnya.


Keenan menggelengkan kepalanya.


"Hsssh, nih orang keknya nantangin gue" Gumam lelaki itu yang asik fokus pada ponselnnya sendiri.


"Siapa?" Tanya Akiel kepo pada orang yang dibicarakan oleh Keenan.


"Nih" Menunjukkan foto Yeji yang digunakan oleh pemain roleplay yang diduga bergender perempuan.


Akiel yang awalnya penasaran kini memasang wajah datar mengetahui hal yang Keenan maksud, "Nyesal gue kepo" Ungkap lelaki itu lalu meneguk cofee latte miliknya dengan perasaan dongkol.


"Yang nyuruh kepo siapa coba" Sungut Keenan lalu meletakkan ponselnya di atas meja, ia mengambil rokok yang ada di atas meja dan menghidupkannya,


Suara deringan telepon mengalihkan perhatian mereka semua, Akiel tahu itu dari ponselnya. Lantas ia mematikan panggilan telepon itu dengan acuh tak acuh.


"Berantem lo sama bokap? Tanya Rama yang tahu bagaimana sikap Akiel jika berada di dalam masalah.


Akiel hanya menaikkan alisnya, moodnya hilang hanya untuk sekedar berucap. Lalu pandangannya hilang hanya untuk sekedar berucap. Lalu pandangannya terarah pada seorang perempuan yang mengenakan kaos putih dan rok pendek navy.


"Karin" Secara refleks memanggil nama perempuan yang tengah memesan minuman.


Karin yang merasa dipanggil oleh suara yang terdengar familiar di telinganya mulai mengedarkan pandangannya mencari pemilik suara/ Tatapannya kemudian beradu pada Akiel yang juga melempar tatap pada dirinya.


Tak ingin lama-lama tenggelam pada pesona Akiel, perempuan yang menjadi sahabat Nayra itu berpaling kembali, enggan menanggapi.


"Sad boy" Tutur Rama, meledek Akiel yang masih menatap pada tubuh Karin dengan tatapan sendu.


Akiel menghembuskan nafasnya pelan, lalu mengalihkan pandangannya dari sang mantan. Ia memainkan ponselnya dengan lesu.


Sedangkan itu, Abian sedari tadi nampak fokus bermain ponselnya. Dan Rama memperhatikan hal itu, ia bahkan memergoki Abian memotret makanan mereka di atas meja dan mengirimkannya dengan seseorang. Lewat ekor matanya ia melihat dengan kabur nama yang tercantum, namanya terlalu panjang.


"Ngepap ke siapa lo Yan?" Tanya Rama yang menangkap basah kelakuan Abian yang wajar itu. Yang namanya Rama mana mungkin tak kepo dengan semua yang terjadi di sekitarnya.


"Manusia" Jawab Abian dengan begitu singkatnya.


"Udah-udah, ngapain lo ladenin sih saudaranya antartika? Mati membeku baru tahu lo" Tutur Keenan dengan begitu santainya. Ia tersenyum miring saat Abian menatap tajam padanya. Mana mungkin ia takut pada manusia modelan Abian.


"Udah punya cewek ya lo?" Sarkas Rama penuh kecurigaan pada sang sahabat. Abian menatap pada Rama, tatapan datar seperti biasanya.


"Menurut lo?" Bertanya dengan datar. Abian selalu seperti itu, ia kadang terlalu membosankan untuk diajak bercanda.


Rama mengangkat bahunya sekilas, "mana gue tahu. emang cenayang" Menyahut sebelum meneguk minuman miliknya.


"Kali aja minat jadi dukun" Kembali menyahuti Rama dengan santai. Ia mematikan ponselnya lalu ikut berbincang ringan bersama sang sahabat.


Keesokkan harinya....


"Hai Keyla" Sapaan itu terdengar di telinga Keyla, membuat perempuan dengan tinggi 145 cm itu menoleh.


"Kelas bareng yuk" Ajak Nayra.


"Em duluan deh. Gue ada keperluan bentar" Tutur Keyla. Ia tak tahu mengapa, hanya saja ia merasa tak cocok bergabung dengan circle Nayra dan Karin, dua primadona sekolah dengan segudang prestasi.


Nayra dan Karin bersitatap, "Ya udah duluan ya?" Pamit Karin lalu segera pergi dari situ.


Keyla kemudian melangkah menuju taman belakang sekolah. Tadi pagi, Rama si ketua OSIS mengiriminya pesan agar mereka bisa bertemu di taman sekolah sebelum bel masuk berbunyi.


"Hai Rama" Sapa Keyla pada Rama yang bermain ponsel sembari duduk di bangku yang tersedia.


Rama mendongakkan kepalanya menatap pada Keyla yang berdiri di sisinya, ia tersenyum tipis mendengar sapaan tersebut, "Hai" Membalas sapaan itu.


Lelaki dengan almamater OSIS itu bangkit berdiri, menunjukkan betapa jauhnya perbedaan tinggi badan mereka, "Buat lo" Memberikan sebungkus permen lolipop pada Keyla.


"Hah?" Heran.


"Gue nggak mampu beli yang mahal, ini seribu" Ucap Rama dengan santai dan bangga hati. Bahkan ia memberitahukan berapa jumlah uang yang ia keluarkan untuk membeli cemilan tersebut.


Keyla yang masih bingung, mengambil pemberian dari Rama, "Thanks" Tuturnya canggung, "Oh ya, ngapain manggil gue ke sini? Ada yang mau lo omongin?" Tanya gadis itu dengan tatapan yang terarah pada Rama.


Rama memamerkan giginya yang berderet rapi pada Keyla, "Gue mau ngasih itu"


Tambah diberi jalan buntu oleh Keto tampan membuat Keyla pusing dibuatnya, Oh cuma mau ngasih ini? Gak ada yang mau lo omongin?" Kembali melempar pertanyaan.


Rama terkekeh pelan, "Emang apa yang mau lo dengar dari gue?" Tanyanya sembari mensejajarkan tinggi badanya dengan Keyla. Menepiskan jarak di antara mereka.


Keyla mundur, membuat jarak di antara mereka.


Rama tertawa kecil lalu kembali menegakkan kepalanya, "Ya uadh gue balik dulu. bentar lagi bel masuk, buru gih ke kelas" Sarannya dengan nada santai. Di dadanya sudah terasa bagaimana cepatnya si organ jantung berdetak.


Keya tersenyum tipis, "Gue duluan, makasih permennya" Pamit Keyla lalu pergi dari situ. Saat berbalik badan perlahan senyumnya memudar, ia memikirkan alasan Rama yang terlalu konyol untuk didengar.


Tatapannya kemudian terarah pada permen lolipop yang ia pegang, "Perasaan seribu dapet dua deh" Gumamnya.


Kelas XII IPA 2....


"IF I WAS YOU, I'D WANNA BE ME TOO"


"I,D WANNA BE ME TOO"


"I'D WANNA BE ME TOO"


Keyla mematung di depan pintu kelas mendengar teriakan itu, tampak seorang perempuandengan seragam yang sama dengannya tengah berdiri di depan kelas, bernyanyi dengan suara nyaring.


Ia nampak asing denga wajah itu, seminggu bersekolah di SMANSA Taruna tak pernah ia lihat wajah itu.


"Aya, nyapu yang bener. Bentar lagi bel" Seorang perempuan dengan rambut yang dikuncir berucap.


Dua perrempuan itu memang terlihat asing di mata seorang Keyla Xandra Rumasya, perempuan itu lalu menghembuskan nafasnya pelan lalu melangkahkan kakinya masuk kelas.


"Lo siapa?" Tangan Keyla dicekal oleh perempuan yang sedari tadi berisik. Ia menatap perempuan yang memiliki tinggi semampai itu.