
Olivia tampak tengah membuka gerbang rumahnya, setelan kemeja merah muda dipadukan dengan jeans hitam tampak cocok di tubuhnya yang indah.
Suara motor sport membuat Olivia menoleh dan ia menatap datar pada seorang lelaki yang turun dari atas motir itu menghampirinya tanpa melepas helm full face.
"Ngapain ke sini?" Bukannya senang dengan kedatangan lelaki itu, Olivia malah menatap penuh tak minat pada kekasihnya.
Ayden melepas helmnya dan menatap pada Olivia, "Bunda kamu mana?" Bertanya sembari melempar senyumnya.
"Oh mau ngapel sama bunda?" Menaikkan sebelah alisnya
"Sama anaknya dong, ini mau izin" Mengacak-acak rambut Olivia gemas.
Olivia masih menatap dingin pada sang kekasih, ia menepiskan tangan Ayden yang ada di kepalanya, "Tumben gak nugas sama si cewek paling-paling itu" Berkata dengan mada sinis.
"Teman aku lho itu Oliv" Mencubit pipi gadis itu, "Bentar ya" Berlalu meninggalkan Olivia dan masuk ke dalam rumah gadis itu untuk meminta izin membawa pergi Olivia.
Olivia berdecih yang mencengkeram ponsel yang ada di tangannya penuh amarah, "Teman apa cadangan kalau putus sama gue nanti?" Tuturnya, "...rendah banget selera tuh orang suka sama pick me girl" Mata tajam itu melirik sebuah foto yang ada di ponselnya.
Kehancuran hubungannya tengah menghadang di depan mata.
Mall...
Ayden dan Olivia tengah berkeliling mall, Ayden meminta waktu Olivia untuk menemaninya membeli beberapa barang untuk keperluan kuliahnya.
Tangan mereka tampak saling menggenggam Ayden beberapa kali melempar candaan pada Olivia namun tak direspon dengan begitu antusias oleh sang pacar. Mungkin ia sedang dalam mood yang buruk, pikir Ayden.
Saat tengah melihat beberapa koleksi baju, seorang perempuan dengan tinggi 154 cm tampak menepuk bahu Ayden, "Ayden, kebetulan banget kita bisa ketemu" Sapa perempuan itu dengan senyum yabg merekah di bibirnya.
"Oh hai Melody" Ayden lantas berbalik badan dan menatap perempuan yang memiliki nama Melody.
Pandangan Melody kemudian terlaihkan pada Olivia yang menatapnya tak bersahabat, "Lo lagi ngedate?" Melontarkan pertanyaan yang sebenarnya sudah memiliki jawaban di depan mata.
"Iya kenapa? Mau gangguin waktu gue lagi sama Ayden?" Nada suara Olivia naik satu oktaf. Ia tak menyukai kehadiran perempuan itu.
"Oliv gak boleh gitu" Nasihati Ayden, lelaki itu memegang lengan sang gadis.
Senyum miring tercetak di bibir Melody saat melihat ada percikan amarah di mata Olivia. "Gue habis dari toko kosmetik nih" Menunjukkan paper bag yang ia pegang kepada Ayden.
"Gak nanya" Gumam Olivia.
Melody kemudian nampak mengesampingkan rambutnya, "...padahal ya gue gak terlalu bisa make up tapi ya coba-coba aja. Gue takutnya nih kosmetik malah gak kepake dan nganggur di rumah" Kata-kata itu sungguh membuat Olivia jengkel kala mendengarnya.
"Si paling natural" Gumam Olivia lagi.
"Oh ya? Lo kalau mau belajar make up sama Oliv aja dia jago loh" Ayden menepuk bahu Olivia yang masih terlihat emosi. Olivia menanggapi hal itu dengan memutar bola matanya malas.
Perhatian Melody kemudian teralihkan pada wajah Olivia yang nampak cantik dengan polesan make up natural, "Iya kelihatan sih jagonya, buat jalan sama lo aja make upnya kayaknya cukup tebal ya" Mengatakannya setengah menyinggung.
"Emang napa? Gue make up buat gue sendiri kok" Sewot Olivia, ia tak tahan berbicara dengan perempuan di hadapannya.
Alis Melody terangkat sebelah, "Galak banget cewek lo" Berucap pada Ayden dan dibalas dengan kekehan kecil dari Ayden.
"Bacot" Tutur Olivia mengatai Melody dengan geram, "Ayo ah Ayden" Menarik Ayden menjauhi perempuan itu
"Iya"
Ayden kemudian mengajak Olivia ke salah satu restoran dan memesan makanan untuk mereka berdua. Usai makanan datang Olivia langsung menyantapnya tanpa mengatakan apapun, "Kamu kok gitu sih sama temanku?" Ayden membuka topik pembicaraan.
"Kamu kan tahu sendiri aku gak suka sama dia, masih aja kamu ladenin" Olivia masih menggunakan nada biasa saja walau hatinya sudah panas terbakar emosi.
"Ya gak ada salahnya kan?" Tutur lelaki itu lagi.
Olivia merasa jika sikap yang Ayden tunjukkan benar-benar tidak memihaknya sama sekali, "Gak ada salahnya? Itu udah salah besar Ayden, aku gak cemburu cuma gegara ini ya. Kamu udah sering kali jalan sama tuh cewek daripada sama aku" Tak ada selera lagi menikmati makanan ia merasa muak dengan perlakuan Ayden yang menuntutnya selalu bersikap ramah dan mengalah pada Melody.
"Ya tapi kan sama anak-anak yang lain juga" Ayden membela diri.
"Tapi dia kan yang selalu kamu dahulukan. Aku tahu ya kamu antar jemput dia setiap nongkrong" Jemari Olivia mengetuk meja makan dengan geram.
Ayden diam sejenak, ia menatap pada sang kekasih yang terlihat marah besar, "Kenapa sih memangnya? Gitu aja dipermasalahkan" Menyepelekannya.
"Gitu aja? Kamu sekarang bela dia? Pacar kamu itu aku atau dia sih sebenarnya?!" Meninggikan nada suara.
"Olivia!" Berucap dengan tegas memanggil nama Olivia, "Aku ajak kamu malam ini keluar bukan untuk ribut ya, jadi bisa gak sih kamu gak usah bahas hal sepele ini" Ucap lelaki itu yang malah mendapat decakan dari Olivia.
"Sepele?" Tertawa kecil mendengar penuturan Ayden, "Bahkan aku tahu kalau kamu ciuman sama dia Ayden! Itu yang kamu bilang sepele?! Gak ada otak memang" Olivia mengatakan satu hal yang memang sedari tadi ada di kepalanya dan perempuan itu mulai menitikkan air matanya sebab emosinya yang meluap-luap.
Ayden mulai menunjukkan amarahnya, "Kalau gak ada buktinya kaju gak usah tuduh-tuduh Oliv, aku gak suka" Ucap lelaki itu tegas.
"Bukti?" Perempuan itu menunjukkan sebuah foto yang ada di galery ponselnya, sepasang manusia yang tengah bertukar saliva yang tiada lain adalah Ayden dan Melody, "...bahkan Melody sendiri yang ngasih aku bukti itu" Tutur Olivia dengan suara yang tertahankan.
"Liv" Pandangan Ayden mulai memelas pada Olivia kala ia melihat bukti foto yang ada pada Olivia.
Perempuan cantik itu kini berdiri dari duduknya dan menatap kecewa pada Ayden, "Untuk sekarang aku benar-benar capek Ayden, jalanin hubungan sama cowok kayak kamu. Aku tuh udah di ambang batas sabar" Menarik nafasnya sejenak, "Kita putus aja, jangan pernah hubungin aku lagi" Setelah mengatakan itu Olivia langsung mengambil sling bag nya dan meninggalkan Ayden yang masih diam mematung.
"Aku gak mau putus, Oliv"
"Aku gak terima penolakan" Menepis tangan Ayden yang mencekalnya.
"Oliv, kenapa?" Kebetulan sekali Andrea yang tengah berkeliling mall bersama Rama menemukan Olivia dan Ayden yang terlihat tak baik-baik saja.
Melihat Olivia menangis Rama mengambil tindakan dengan menarik perempuan itu agar berlindung di balik tubuhnya.
"Aya" Dengan derai air matanya Olivia menunjukkan foto perselingkuhan Ayden.
Andrea mengambil ponsel itu dan memperhatikannya, "Brengsek lo Ayden" Tangan Andrea mendarat keras di pipi Ayden, "...berapa kali gue bilang kalau jangan main-main sama sahabat gue? Nyakitin juga kan lo akhirnya?!" Nafasnya terdengar tak beraturan sebab emosi yang tiba-tiba memuncak.
Ayden menatap pada Andrea, "Lo gak usah ikut campur Aya" Peringati lelaki itu dengan lantang.
"Gue berhak ikut campur" Andrea mempertegas.
"Jangan pernah lo munculin muka lo yang jelek itu di hadapan gue atau Oliv lagi, camkan itu" Andrea lalu menarik Olivia agar keluar dari mall dan tak bertatap muka lagi dengan mantannya yang bajingan itu.
"Andrea" Ingin mengejar namun langsung ditahan oleh Rama yang menatap dingin pada lelaki yang membuat Olivia menangis.
"Gue gak kenal lagi sama lo meskipun lo itu bekas kakak kelas gue" Mengatakannya dengan penuh kekesalan, "Dasar bajingan"