Eros Love

Eros Love
Topik Pembicaraan



Apartemen....


Abian meletakkan beberapa cangkir teh ke atas meja untuk dinikmati oleh kedua orang tuanya, matanya melirik ham dinding yang menunjukkan pukul empat sore dan Keyla masih helum membalas pesannya sama sekali.


"Mama sama Papa mau cemilan gak? Kayaknya ada di kulkas" Abian menawarkan cemilan yang ada kedua orang tuanya. Tanpa menunggu jawaban ia lantas melangkahkan kakinya kembali menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan yang tersedia.


Namun terdengar suara langkah kaki yang menuju ke arah apartemennya, Abian lantas menuju pintu sebab ia tahu pasti siapa pemilik langkah kaki itu.


Pintu terbuka dan menampakkan seorang Keyla dengan wajah kelelahan dan rambut yang mulai tak keruan, perempuan itu terkejut melihat sosok tinggi yang tengah bersila tangan dengan menatap lurus pada dirinya.


"Abian" Melirih.


Abian mengangkat sebelah alisnya, "Capek banget kelihatannya" Menyindir.


"Ehehe gue pake tangga"


"Makanya kalau ditelepon itu angkat" Tangan lelaki itu sedikit membantu Keyla untuk merapikan rambutnya yang berantakan, "Mama sama Papa udah nunggu" Tutur lelaki itu lagi pada Keyla yang menatap lekat pada dirinya.


"L-lama gak?" Gugup.


Sebelah alis Abian terangkat, "Menurut lo?" Ucapnya meminta agar Keyla berpikir sendiri dengan otaknya yang mungkin masih berfungsi itu.


"Maafin" Cicitnya.


"Masuk"


Keyla menurut dan segera melewati Abian untuk menemui orang tua dari suaminya tersebut.


"Sore Ma, Pa" Keyla menyapa dengan kikuk pada kedua mertuanya itu lalu dengan malu-malu berdiri di dekat sofa yang berbeda dari pasangan suami istri itu.


"Baru pulang Key? Abian bilang habis hangout bareng temen" Ucap wanita yang sudah berumur tersebut.


"I-iya Ma, maafin Keyla ya" Masih merasa bersalah karena tak ada di rumah disaat mertuanya datang berkunjung.


"Memangnya Abian gak bilang kalau Mama sama Papa bakal datang?" Tanya Mama dengan ramah.


"Lupa" Suara bariton lelaki menyahut, ia adalah Abian. Lelaki yang kini datang dengan membawa makanan ringan di tangannya lalu menaruhnya di atas meja.


Lelaki utu kemudian menempati sofa kosong lalu menatap pada sang istri yang masih setia berdiri, "Sini duduk, ngapain berdiri terus?" Ketus lelaki itu pada Keyla yang tak kunjung bergerak.


Sang Papa yang mendengar suara ketus Abian itu menatap pada sang putra, "Abian..." Mengangkat suara, "Nada suaranya yang baik sama istri kamu" Menasihati.


Keyla menatap pada Abian yang hanya memutar bola matanya malas menanggapi ucapan sang Papa, "Udah gak apa-apa, Pa" Keyla menyahut lembut lalu ia beranjak untuk duduk di samping Abian.


"Papa lagi cuti ya?" Tanya Keyla membuka pembicaraan dengan mertuanya tersebut.


"Iya, minggu depan baru ada jadwal penerbangan" Sang Papa menjawab pada menantu cantiknya itu dengan lembut sebelum mengambil cangkir teh yang Abian buatkan dan meneguknya.


Lalu obrolan mengalir begitu saja dengan alami, hingga satu pembicaraan mengubah suasana secara mendadak.


"Kalian gak ada rencana mau bulan madu?"


"Uhuk-uhuk" Abian yang tengah meneguk teh tersedak begitu mendengar topik yang Mamanya ambil, bahkan air dalam cangkir itu tertumpah oleh dirinya.


"Bian" Keyla terkejut sebab air itu juga tumpah ke pakaiannya.


Abian menatap pakaian Keyla yang basah akibat ulahnya, ia lantas mengambil beberapa lembar tisu dan memberikannya kepada Keyla.


"Lho kenapa? Kok malah kesedak?" Tanya Mama heran sembari memperhatikan apa yang pasutri itu lakukan.


Abian berdecak kesal, "Lagian Mama bahas yang aneh-aneh" Ucapnya sembari memperhatikan Keyla dengan seksama.


Kening wanita paruh baya itu mengerut, "Aneh gimana?" Ia sendiri tak merasa aneh dengan topik pembicaraan yang ia ambil. Tak ada salahnya kan membahas hal itu pada sang putra yang sudah menikah.


Sang Mama menatap Keyla dan Abian secara bergantian sebab tak ada jawaban sama sekali dari dua orang itu, "Kalian udah juga kan?" Bertanya lagi untuk memastikan sesuatu.


Dagi Keyla mengernyit bingung ia lalu menatap pada Abian yang memasang ekspresi wajah yang terlihat lelah dengan pertanyaan yang Mamanya lontarkan, "Udah apa, Bi?" Bertanya.


Abian menatap pada sang istri yang begitu polos, perempuan itu sepertinya tak tahu apa.yang tengah dibicarakan saat ini.


"Lho belum?" Mama terlihat terkejut saat melihat ekspresi wajah Keyla yang terlihat bingung.


Abian tampak kesal, ia lalu mengambil sampah tisu yang ada di tangan Keyla, "L-lo ganti baju gih" Mencoba menjauhkan Keyla dari pembicaraan dewasa ini. Perempuan yang bahkan tak tahu rasanya berciuman itu harus segera disingkirkan sebelum otaknya tercemarkan.


"Iya nak" Papa yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan sang istri dengan Abian menyahuti ucapan menantunya dengan tersenyum ramah.


Setelah kepergian Keyla, Mama kembali menatap pada Abuan yang terlihat menghela nafasnya sejenak, "Beneran belum?" Pertanyaan itu sungguh membuat Abian muak tapi ia tetap harus menjawabnya.


"Ma..." Memohon untuk menghentikan topik kali ini.


"Mama cuma nanya" Tetap ingin mendapatkan jawaban dari putra semata wayangnya.


Abian diam beberapa saat sebelum membuka suara, "Masih sekolah lho kami, gak mungkin ngelakuin itu" Ucapnya dengan menatap lekat pada wanita yang telah membesarkannya itu.


Tawa kecil dari Papa terdengar, "Tahu nih Mama, gak sabaran banget mau gendong cucu" Sahutnya sembari mengelus bahu sang istri lembut.


"Ck, Papa ah" Tampaknya mood Mama berubah.


Papa kini menatap pada Abian yang tengah menyantap makanan ringan yang tersedia., "Oh ya Abian, soal sekolah penerbangan yang pernah kamu mau itu..."


Abian mengangkat kepalanya menatap pada sang Papa, ia tahu apa yang pria itu maksud, "Iya Pa" Ucapnya pelan, "...aku paham, aku bakal ubah cita-cita itu" Ucapnya setengah tak ikhlas untuk mempertaruhkan apa yang ia inginkan semenjak dulu.


"Kamu menyesal dengan ini?"


"Dengan apa maksud Papa?"


"Dengan pernikahan muda kamu dengan Keyla"


"..." Abian terdiam, matanya menatap ke arah kamar tidur tempat Keyla berada. Perempuan itulah alasannya melakukan semua ini, dan konsekuensinya telah tersedia bagi dirinya yang menerima hal ini.


. . .


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan, orang tua Abuan pulang seusai makan malam bersama tadi. Dan kini hanya tersisa Abian dan Keyla dua remaja yang telah menjalin ikatan pasutri melalui pernikahan yang hanya beberapa orang saja yang tahu.


Abian yang baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri kini masuk ke dalam kamar menjumpai Keyla yang tengah berkutat dengan laptopnya.


Tanya Abian sembari membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Ngapain?" Bertanya pada Keyla.


"Nyari duda buat digoda" Menjawab asal yang membuat Abian meliriknya sinis, "...kali aja kepincut terus nikahin gue" Lanjut Keyla lagi yang direspon decihan sebal dari Abian.


"Duda mikir-mikir kali mau ngejadiin lo istri" Nyinyir lelaki itu sembari menghidupkan ponselnya, "...mana mau ama yang modelan kek lo udah pendek tepos lagi" Sambung lelaki itu yang membuat raut wajah Keyla terlihat kesal.


"Dih sok tahu" Ketus Keyla yang dikomentari dengan tubuhnya yang begitu mungil bak anak sd.


Abian mengubah posisinya menjadi tengkurap, "Kelihatan kok dari luar" Sahut lelaki itu yang membuatnya terkena serangan bantal dari Keyla.


"Apaan sih Bian? Mesum banget" Keyla marah, sembari memukuli Abian.


"Lah gue ngomong fakta" Abuan terlihat pasrah dipukuli oleh sang istri.


"Makan tuh fakta, nyebelin" Melempar bantal pada punggung Abian lalu beranjak pergi.


"Cewek prik" Cibir Abian sembari menatap kemana kaki Keyla melangkah


Brukkk.....


Karma sepertinya berlaku dengan cepat pada Keyla, perempuan itu kini terjatuh sebab terpeleset sebuah kain yang tergeletak di lantai kamar.


Abian menyengir melihat pemandangan di hadapannya, "Mampus" Lontar Abian sambil menertawakan keadaan Keyla yang tengah kesakitan.


"Huaaaa sakit" Seru Keyla dengan keras hingga Abian menutup telinganya mendengar seruan itu.


"Kualat kan lo sama gue" Masih tak beranjak dari tempat tidurnya ia mengomentari kelakuan Keyla terhadap dirinya barusan.


"Aaa Bian bantuin!" Keyla merengek dengan kesal.


"Ogah" Abian kini mengubah posisinya untuk duduk di atas kasur.


"Bian beneran nyebelin!" Marah Keyla terhadap kelakuan Abian, "Huaaa ngeselin, rese--" Ucapan perempuan itu terpotong sebab badannya tiba-tiba diangkat oleh Abian.


"Diem ah ntar tetangga lain keganggu sama lo" Tutur Abian menegur Keyla yang sejak tadi terlalu kencang mengeluarkan suaranya.


"Bian rese" Keyla berucap dengan sebal.


"Makanya jangan pecicilan"