Eros Love

Eros Love
Hari Libur



Akhirnya setelah obrolan setelah sarapan tadi, Abian memilih untuk menuruti kehendak Keyla untuk pergi jalan-jalan menikmati hari dimana mereka tak menjalani aktifitas pembelajaran di sekolah.


Abian memilih untuk membawa sang gadis ke danau yang dulu biasa ia kunjungi.


"Duduk di situ, gue beliin minum dulu" Abian menunjuk ke arah bangku yang tak terlalu jauh dari pinggiran danau.


Keyla dengan sweater putihnya dan legging hitam terlihat begitu imut, "Emmm perhatian, sayang Bian" Membentuk hati dengan kedua tangannya yang menunjukkannya pada Abian.


Lelaki itu memutar bola matanya malas lalu mendorong tubuh perempuan itu pelan, "Iya, udah sana-sana"


Sementara Abian membelikan bubble tea yang kebetulan tak jauh dari danau Keyla nampak mengambil beberapa foto.


Tak lama kemudian Abian datang dengan membawa dua bubble tea di tangannya dan memberikan satu pada Keyla. Sebelumnya ia telah menusukkan sedotan sebelum memberikannya kepada Keyla.


Keyla dan Abian sama-sama diam menikmati pemandangan dan juga angin yang berhembus menyejukkan tubuh, "Kenapa ke sini Bian?" Keyla bertanya sebelum menikmati bubble tea yang Abian belikan untuknya.


"Gak usah banyak tanya" Menjawab singkat.


Keyla memanyunkan bibirnya mendengar jawaban dari Abian, "Bian sering ke sini?" Kembali melontarkan pertanyaan.


"Gak"


"Oh"


"Bian suka tempat ini?"


"Nggak"


"Idihh"


Abian menatap ke arah Keyla yang nampak senang saat menatap pemandangan di hadapannya, ia lalu memperhatikan leringat yang mulai membasahi kening gadis itu. Ia lantas melepas topi hitam yang ia kenakan lalu memakaikannya kepada Keyla, "Ntar lo kepanasan" Ucap Abian saat Keyla menatapnya bingung.


Rona merah terlihat di pipi perempuan itu, ia tersipu malu "Makasih" Ungkapnya dengan senyum manis. Ia lalu kembali menatap pada genangan air yabg cukup luas di hadapannya itu lalu menghirup udara dengan ria, "Akhirnya ya gue keluar dari penjara terus menghirup udara segar" Tuturnya dengan begitu gembira namun malah mengundang tatapan tajam dari Abian.


"Penjara apa maksud lo?" Bertanya dengan terus menatap pada gadisnya.


"Ya kan selama ini gue kayak dikurung, lo juga gak bolehin gue keluar" Jelas Keyla dengan antusias.


"Ntar kalau lo hilang kan gue yang repot" Jawab Abian sebelum kembali meminum bubble tea miliknya.


"Apaan sih?"


Abian menatap pada Keyla yang cemberut, "Badan lo itu kayak anak SD jadi penculik bisa aja ngira lo masih bocil" Jelas Abian sembari menyandarkan tubuhnya.


"Ya itu artinya gue awet muda" Keyla membela diri.


"Badan lo terlalu pendek"


"Kalian aja yang ketinggian"


"Cihh" Tak akan ada habisnya berdebat dengan Keyla jika mereka berdua selalu saja saling jawab dan tak ada kehendak mengalah jika tak lelah.


"Bian mau minum punya Bian dong" Keyla mulai tertarik dengan varian rasa brown sugar milik Abian yang terlihat lebih enak dibandingkan dengan rasa taro miliknya.


"Punya lo kan ada" Abian berkomentar.


"Nyicip"


Abian menggeleng, "Gak, yang ada malah minumannya lo tuker lagi" Sudah cukup hapal dengan semua sikap perempuan seperti Keyla.


"Ya siapa suruh pesannya beda? Gue kan jadi iri" Keyla berucap dengan nada mengomel.


Abian sepertinya memang tak berniat memberi, ia kembali menikmati minumannya teoat di hadapan Keyla, "Gak ada habis" Ucapnya.


"Iih Bian pelit"


"Lo aja yang maruk"


"Ngeselin" Kembali dengan aksi marahnya, Keyla membuat Abian cukup sebal sebab lelaki itu sangat malas untuk membujuk.


"Nih" Memilih mengalah dan membiarkan Keyla mencicipi miliknya.


"Gak, itu pasti ngasihnya gak ikhlas" Tak ingin menerima langsung pemberian Abian.


"Mau gak?" Kini nada suaranya lebih lebih dari sebelumnya, "Ini masih banyak Keyla" Kembali berucap.


Keyla kemudian dengan hati penuh sukacita mengambil alih minuman itu dan mencicipinya, "Enak Bi" Dengan mata yang berbinar ia berucap.


"Mau tuker?" Tawar Abian.


"Boleh" Keyla menukarkan minumannya dengan milik Abian dan menikmatinya dengan wajah berseri.


Abian terus memandang wajah Keyla yang terlihat begitu menggemaskan, tanpa sadar ia tersenyum kecil.


Lucu.


Garden Coffe...


Meninggalkan kebersamaan Abian dan Keyla di danau, keadaan kafe yang Keenan kelola terlihat sangat padat sebab banyaknya pengunjung yang datang.


Rama dan Akiel yang sedari tadi hanya duduk memperhatikan betapa sibuknya para pekerja di Garden Coffe sepertinya tak ada niatan untuk turun tangan membantu, "Sibuk banget tuh anak" Ucap Rama sembari menikmati sepotong kue yang ia pesan.


Akiel yang juga sedang mengerjakan tugas di laptopnya memganggukkan kepalanya, "Wajar sih, kan kekurangan karyawan makanya dia ikutan sibuk ngurus pesanan" Ucapnya, "Lo juga kenapa gak ngebantuin?" Menendang kaki Rama dari bawah meja.


"Lo tuh"


"Gue kan lagi nugas, artinya gue ada kesibukan" Akiel memberikan alasan yang tak bisa Abian bantah. Ketua OSIS itu bahkan sepertinya tak seambis Akiel.


Rama memutar bola matanya malas, "Iyain" Ia lalu memperhatikan Akiel yang kembali fokus dengan penugasannya, "Lo kenapa sih ambis banget jadi orang?" Tutur Rama.


"Bokap"


"Ya tapi kan nilai lo udah lebih baik dari sebelumnya"


Akiel hanya tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya, "Kayak gak tahu keadaan keluarga gue aja lo" Ya, memiliki seorang ayah yang berhasil mendirikan perusahan hingga membuka cabang di berbagai tempat dan juga kakak yang kini meneruskan usaha itu bukanlah hal yang buruk bagi keluarga Akiel. Hanya saja sebab itu, ia juga dituntut untuk menjadi sempurna di segala aspek akademik maupun non akademik.


Kamarnya yang penuh dengan sertifikat lomba dan juga piala sepertinya tak cukup memuaskan ayahnya akan keberhasilan yang Akiel capai.


"Terus lo gak capek ngejar Karin?" Topik diubah begitu saja oleh Rama yang membuat Akiel menghentikan tarian jemarinya di atas keyboard laptop.


"Gue masih sayang sama dia" Tutur Akiel sembari menatap pada Rama.


"Dia udah gak percaya sama lo"


"Gue nggak ngelakuin apa-apa"


Rama tak menanggapi lagi ucapan Akiel ia memilih untuk meneguk minumannya tanpa hendak memancing Akiel yang tadi sempat menaikkan nada suaranya. Kedua mata lelaki itu kemudian tertuju pada sekumpulan manusia yang baru datang dan langsung mengambil tempat tak jauh dari mereka. Rama menyipitkan matanya saat menyadari jika ia mengenal satu dari antara banyaknya orang itu.


"Bukannya itu pacarnya Oliv ya?" Rama menendang pelan kaki Akiel untuk melihat apa yang ia temukan.


"Ayden maksud lo?" Tanya Akiel yang masih fokus dengan tugasnya.


Rama berdecak kesal dengan apa yang dipertanyakan oleh Akiel, "Emang Oliv punya pacar selain tuh anak kuliahan?" Agak gemas.


"Mana?" Akiel mengangkat kepalanya untuk melihat hal itu, apa yang membuat Rama mendesaknya untuk melihat lelaki yang sudah berkuliah itu.


"Itu sama teman-temannya" Menunjuk dengan ujung dagunya.


Ayden, lelaki dengan kemeja hitam itu tampak tengah mengobrol dengan teman-temannya diantara banyaknya jantan di meja itu ada seorang perempuan yang berpakaian cukup terbuka yang duduk di samping Ayden dan terlohat sesekali menyentuh Ayden dan tak ditolak sama sekali oleh lelaki itu, "Lo gak mikir apa yang gue pikirin kan?" Tutur Rama saat mendengar percakapan yang diucapkan oleh perempuan itu yang terdengar seperti pick me girl.


"Aelah kita mah sudah sepikiran kali Ram" Tutur Akiel lalu mengalihkan pandangannya dari circle Ayden.


"Buset gak risih tuh berteman ama cewek begitu?" Rama berkomentar sebab perempuan itu tertawa begitu keras, "Andrea gak sampe segitunya deh" Sambungnya.


"Kenapa harus Andrea yang lo bahas?" Tanya Akiel saat perempuan cantik di sekolah mereka disebutkan.


"Gegara dia cewek paling berisik yang gue kenal"


"Wahh bidadari gue itu sangat kalem dan berhati mulia" Memuja Keyla.


"Stress lo, sana-sana bantuin Keenan aja lo berisik banget gue mau ngerjain tugas juga"


"Iya ah"


Akiel yang sebenarnya masih sedikit penasaran kembali menoleh ke arah circle Ayden lagi dan menemukan pemandangan Ayden tertawa dengan ucapan tak berfaedah perempuan itu, "Pake diladenin juga, nggak waras emang" Tuturnya sebelum menyudahi rasa penasarannya.


Keesokan harinya...


"Sini biar gue" Nayra berucap pada Keyla yang terlihat kesulitan menghapus tulisan di papan tulis di bagian paling atas.


"Nggak usah Nay, nanti tinggal naik kursi aja gue" Keyla menolak saat Nayra ingin mengambil alih penghapus yang dipegangnya.


"Udah nggak apa-apa sini penghapusnya"


"Thanks"


"Ck kek sama siapa aja lo" Tawa kecil Nayra berderai dan melanjutkan sisa pekerjaan Keyla.


"Karin mana Nay?" Tanya Keyla yang kini beralih untuk merapikan meja guru, ia menyadari jika tak ada Karin yang biasanya bersama dengan Nayra.


"Tadi sama Akiel, dipaksa tuh cowok ke kantin" Menjawab dengan nada kesalnya.


Keyla mengangguk, "Btw, Akiel sama Karin dulu lama ya pacaran?" Ia juga tahu jika Karin dan Akiel pernah menjalin hubungan karena beberapa kali kerap dibahas oleh Andrea dan Olivia.


"Sekitar dua tahun keknya" Menjawab dengan malas.


"Gue dengar mereka putus gegara Akiel deket sama cewek lain?"


"Selingkuh kali tuh cowok" Ucap Nayra sembari mengembalikan penghapus ke atas meja guru, "Udah ya gue keluar dulu nyusulin Karin" Nayra pamit undur diri pada Keyla lalu langsung pergi


"Oh oke"


Modelan Akiel selingkuh? Kek mustahil banget.


. . .


Keenan dan Akiel sudah kembali dari kantin dan kini ingin kembali ke kelas, di tengah kaki mereka terus melangkah Akiel terus memperhatikan seorang perempuan yang berkuncir satu dan berkacamata, "Lo Marsha kan?" Akiel menghampiri perempuan yang fotonya pernah ia lihat di surat lamaran kerja untuk Garden Coffe.


"Em iya Kak, kenapa ya?" Terkejut sekaligus gugup sebab disapa oleh salah satu primadona sekolah. Ia menutup setengah wajahnya yang polos tanpa make up dengan buku yang ia pegang.


"Oh nggak kok, cuma mastiin aja" Ucap Keenan sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Mastiin apa lo? Kalian saling kenal?" Akiel bertanya dengan penuh rasa curiga.


Keenan berdecak kesal, "Diem lo" Ia kembali menatap pada Marsha yang terus menatap kepada mereka berdua.


"Lo yang mengajukan lamaran ke kafe gue?" Tanya Keenan lagi kepada Marsha.


"Hah?"


"Garden Coffe" Akiel memperjelas apa yang Keenan maksudkan.


"Ah iya Kak" Menganggukan kepalanya, ia baru tahu ternyata kafe itu milik Keenan.


"Lo diterima, minggu depan udah bisa mulai kerja lagi pula gue juga emang lagu perlu banget karyawan" Ucap Keenan memberitahukan secara langsung pada adik kelasnya itu.


"Ah puji Tuhan, terima kasih Kak. Mohon kerja samanya" Senyum manis penuh syukur tercetak jelas di wajah anak kelas 11 itu, ia menatap Keenan dengan mata berbinar.


Keenan tersenyum simpul, "Iya, gue permisi" Ucap Keenan ramah lalu melanjutkan langkah kakinya.


. . .


Sedangkan itu, Rama dan Abian terlihat berjalan berdua dengan mengobrol santai di koridor sekolah. Lalu tatapan Rama terkunci pada seorang perempuan yang seperti baru kembali dari kantin, "Hai Keyla" Sapa ketua OSIS itu dengan ramah.


"Em hai Rama"


"Sendiri?"


"Ya"


"Lo punya pacar gak?" Mendengar hal itu lantas Abian memutar bila matanya malas mendengar ucapan tak berfaedah dari mulut sahabatnya itu.


"Tuh di samping lo" Tersenyum menggoda kepada Abian.


"Najis" Abian segera pergi meninggalkan Rama dan Keyla.


Keyla memperhatikan punggung Abian yang terus menjauh dari pandangannya, "Awas ntar kemakan ludah sendiri lho!" Seru perempuan mungil itu.


Rama memperhatikan Keyla yang tubuhnya begitu mungil, "Kantin yuk" Ajaknya


"Gue udah" Keyla menyahut, "...tapi kalau di traktir sih mau aja" Ucapnya sembari tertawa kecil.


"Bayar sendiri-sendiri lah" Menolak untuk keluar uang.


"Ck, malas ah. Ketos nggak modal" Tutur Keyla mengejek.


Rama kemudian tertawa kecil, "Ya udah gue yang bayar, tapi artinya lo ngutang ya"


"What? Lo niat traktir gak sih?" Mulai sebal.


"Gak ada yang bilang gue mau traktir lo"


"Dih, malas. Mending sama Abian" Berkata sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Rana tersenyun simpul mendengar nama sahabatnya kembali diucapkan oleh mulut Rama, "Abian? Segitunya lo tertarik?" Menatap Keyla dengan tatapan teduhnya, "...gak henti-hentinya gue liat lo deketin dia"


"Kan ganteng, siapa sih yang gak tertarik?" Berucap dengan antusias.


"Ganteng lagi gue"


Keyla menatap pada Rama, "Memandangmu...."


"Najis, hahaha" Langsung kabur dari hadapan Rama.


"Untuk gue demen ama lo" Gumam Rama yang melihat kelakuan Keyla yang begitu kekanakan.


"Aduhh" Sesuatu menabrak dirinya dengan keras. Ia menatap kepada orang yang menjadi pelaku dibalik semua ini.


"Lo jalan gak liat-liat apa?" Andrea yang tadi berlari kencang di koridor membentak kepada Rama yang ia tabrak namun masih mempertahankan keseimbangannya.


Rama yabg tak terima dibentak lantas memasang wajah tak suka, "Apaan sih? Santai aja kali, lo gak ampe luka juga" Ucap Rama sewot.


Andrea bangkit berdiri lalu membersihkan roknya dari debu yang berhamburan di lantai koridor, "Tuh kan ah, sobek rok gue" Menunjuk ke bagian belakang rok selutut miliknya yang kini terdapat garis robekan.


"Ya siapa suruh lo lari-lari?" Ucap Rama. Memang lebih baik jika mereka berdua tak dipertemukan saja, karena pasti akan selalu berdebat.


"Berisik ah Ram" Kesal perempuan cantik itu.


"Tinggal tutupi pake cardigan lo itu napa sih? Repot amat" Menunjuk pada cardigan yang selalu Keyla kenakan.


"Berisik, pergi sana lo" Mengusir.


Rama memutar bola matanya malas mendengar hal itu, "Btw itu cardigan pernah lo cuci gak sih? Tiap hari yang lo pakai itu mulu" Tertawa jahil penuh ejekan.


"Ck, gak usah banyak komen"


Rama menyilangkan tangannya di dada, "Ngerasa cantik kali lo ya pake yang begituan? Padahal mah b aja" Kembali berkomentar dan membuat Keyla geram.


"Rama!" Siap untuk memukul Rama namun lebih dulu lelaki itu kabur dari hadapan Andrea sembari menjulurkan lidahnya mengejek.


"Wleee"