
Suara langkah kaki mulai terdengar jelas di apartemen yang Keyla tempati bersama suaminya, tak lama kemudian Abian dengan baju basketnya mulai nampak mendekati Keyla yang memperhatikannya dari meja makan dengan secangkir jus di tangannya.
Abian meletakkan sebuah plastik berisikan makanan yang ia belikan untuk Keyla, "Buat lo" Ucapnya singkat sembari melangkah pergi dari hadapan Keyla yang menatapnya tak bersahabat.
"Kotak bekal tadi pagi mana?" Tanya Keyla tak melepaskan Abian dari pandangannya sama sekali.
"Ada di tas" Sahut Abian singkat.
"Cuci ntar"
"Hm" Abian masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk lalu mulai membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Sedangkan itu, Keyla sedari tadi hanya menatap datar pada beberapa bungkus makanan yang Abian beri padanya. Sungguh ia tak berselera menyantap itu sebab suasana hatinya sedang tak baik.
Setengah jam kemudian Abian keluar dengan berpakaian santai. Rambutnya tampak basah dan acak-acakan aroma wangi lelaki itu menyebar dengan sempurna.
Abian lalu menghampiri Keyla yang tengah mencuci piring, ia kemudian menyadari jika apa yang ia belikan kepada Keyla sama sekali tak perempuan itu sentuh, "Dimakan Keyla makanannya" Berucap, ia tahu jika saat ini Keyla tengah marah padanya.
"Gue udah makan" Tutur Keyla sebelum menyelesaikan pekerjaannya. Ia lalu membalikkan tubuhnya dan menatap datar pada Abian yang duduk di atas kursi meja makan, "...darimana aja lo jam sembilan baru pulang"
"Main basket tadi" Menjawab singkat, jemarinya mengeluarkan martabak manis dari dalam plastik putih itu dan menyantap ya sepotong.
"Oh" Memperhatikan Abian yang sepertinya tak memperdulikan emosinya sama sekali, "...kayaknya gak bisa lepas banget lo sama hobi lo yang itu" Kembali berkata.
"Hm"
"Kayaknya sampe lupa kalau dah punya istri di rumah"
Abian mengangkat pandangannya pada Keyla, "Maksud lo?" Tak paham dengan apa yang dibicarakan sang istri. Lagipula apakah Keyla harus mempermasalahkan hal ini disaat dirinya baru pulang?
"Ya setidaknya lo tahu waktu lah, lo udah tinggal berdua gak sendiri lagi" Mengomel.
Abian yang tak terima jika ia disalahkan oleh Keyla berdecih kecil, "Ya kan bukan kemauan gue buat tinggal berdua sama lo" Ucapnya yang semakin memancing emosi Keyla.
"Bian!"
"Keyla" Abian bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam pada Keyla, "Ingat, kita ini dijodohkan sama orang tua kita. Artinya, gue ngelakuin ini cuma demi orang tua gue, dan lo jangan pernah berharap lebih dari pernikahan ini" Ucapnya yang membuat mata Keyla tampak berkaca-kaca.
Keyla menatap tak percaya pada Abian yang baru saja berucao seperti itu padanya, "Sebulan lebih sudah kita nikah masih gak ada rasa sedikit pun ke gue?" Bertanya.
"Iya" Menjawab seolah tak ada beban, "...gue bukan pribadi murahan kayak lo yang bisa baper sama orang asing, walaupun tinggal seatap"
"Gue nggak murahan!" Pungkas Keyla.
"Terserah lo Key, gue capek baru pulang langsung diajak debat sama lo cuma gara-gara gue pulang malam"
"Sama gue juga capek, kalau semua usaha gue selama ini gak pernah lo hargai" Air mata Keyla mulai mengalir membasahi pipinya.
"Lo marah gara-gara bekal tadi?" Bertanya.
"Menurut lo aja" Keyla memilih untuk pergi dari hadapan Abian dan masuk ke dalam kamar untuk meluapkan emosinya.
Abian sendiri terlihat memejamkan matanya dan mengatur ulang emosinya yang baru saja ia luapkan pada Keyla barusan.
. . .
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, Abian telah mematikan beberapa lampu di ruangan yang tak akan dikunjungi untuk beberapa jam ke depan disebabkan mereka harus beristirahat dan memulihkan keadaan fisik yang kelelahan.
Saat masuk ke dalam kamar, Abian menjumpai Keyla yang terlihat berbaring dengan ponsel menyala di tangannya. Sepertinya perempuan itu tengah berakting tidur saat Abian baru masuk kamar. Abian lalu naik ke atas kasurnya dan memdudukkan tubuhnya di samping Keyla yang masih saja memejamkan matanya.
"Gue tahu lo belum tidur" Ucap Abian sembari mengambil alih ponsel Keyla yang terasa panas lalu mematikannya.
"..."
Tak mendapatkan jawaban dari perempuan itu, Abian mulai meliriknya, "Keyla" Memanggil nama sang istri dengan cukup lantang.
Keyla berdecak sebal lalu menarik selimut yang ia kenakan untuk lebih menutupi dirinya, "Apa sih? Berisik banget, gue mau tidur juga" Menyahut dengan jutek.
Abian memutar bola matanya malas, lalu ikut berbaring di belakang punggung Keyla, "Lo kalau marah gak usah selama ini juga kali" Berucap dengan suara yang lebih tenang. Ia ingin menyudahi pertengkaran antara mereka pada hari ini.
"Gue gak marah" Keyla menyahut dengan nada suara tinggi.
"Lo marah" Abian bertutur.
"Nggak"
Mengetahui jika suasana hati Keyla benar-benar tak baik untik saat ini Abian memilih untuk mengalah saja, "Terserah lo"
Suasana menjadi hening beberapa saat, Abian dan Keyla sama-sama tak bersuara walau mereka masih terjaga di gelapnya malam dan heningnya suasana.
"Bian" Keyla membuka suara. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sedari tadi.
"Hm?" Abian yang telah memejamkan matanya menyahut panggilan dari Keyla dengan berdehem.
Keyla membuka matanya dan menatap kosong pada objek di depannya, "Lo seriusan gak ada rasa sama gue sedikit pun?" Tanya dengan nada suara pelan.
"Kenapa? Belum jelas apa yang gue bilang tadi" Nada suara Abian terdengar tak menyukai pertanyaan yang Keyla lemparkan pada dirinya.
Keyla diam sejenak sebelum ia berbalik badan dan berakhir berhadapan dengan wajah Abian yang menatap pada dirinya, "Kalau gitu gue bisa dekat sama cowok lain dong" Berucap tanpa ada raut wajah bercanda.
Tatapan teduh Abian kini berganti dengan tatapan tajam ada tersirat raut tak suka di wajahnya, "Gak"
"Apa sih? Lo juga gak mau sayang sama gue malah ngelarang gue disayang cowok lain" Keyla melemparkan protesnya terhadap Abian.
Abian berdecih sebal, "Gak usah gatel lo"
"Lo gak mau garukin mending gue suruh cowok lain yang garukin"
"Apa sih Keyla?"
"Kenapa? Abian cemburu?" Dengan jarak yang begitu dekat itu Keyla cukup berani berkata dengan nada mengejek lada Abian yang selama ini cukup gampang terpancing emosinya.
"Tidur" Titah Abian tak ingin memperpanjang masalah baru yang Keyla buat.
"Gak usah gengsi kali, kalau suka mah bilang aja" Ucap Keyla sembari memejamkan matanya.
Abian yang mendengar itu hanya diam sembari memandangi wajah mungil Keyla yang tepat berada di hadapan wajahnya.
Hujan mulai mengguyur bumi dengan membawa hawa yang cukup dingin, sepasang remaja yang telah melangsungkan pernikahan tanpa ada warga sekolah yang mengetahuinya itu nampak saling berebut selimut untuk menghangatkan tubuhnya masing-masing.
Abian yang cukup muak dengan perebutan penghangat tubuh itu akhirnya memilih untuk merapatkan tubuhnya dengan tubuh Keyla dan mendekap perempuan itu erat dan kehangatan mulai menjalar di tubuh mereka.
Keyla yang nampaknya tak terbangun sama sekali dari tidurnya itu terlihat nyaman dalam pelukan suaminya. Ia bahkan mencari posisi nyaman daripada tubuh Abian yang juga terlelap dalam tidurnya.
. . .
Keyla sendiri yang merasakan cahaya pagi menerpa wajahnya terbangun dengan terkejut dan langsung memeriksa jam di dinding.
Saat perempuan itu hendak bangun, ia baru sadar jika sebuah lengan kekar tengah melingkar di perutnya dan dengan erat memeluk.
Keyla menatap pada Abian--yang masih terlelap dalam tidurnya--sembari menepuk-nepuk tangan Abian, "Bian lepas" Ucapnya pelan namun sama sekali tak direspon oleh lelaki itu sama sekali.
"Kita telat Bian" Kini nadanya menjadi lebih keras dari sebelumnya dan membuat Abian sedikit bereaksi.
"Eugh, apaan sih Key? Berisik tahu gak sih" Melenguh dalam tidurnya dan kembali terlelap dalam tidur.
Keyla mendengus sebal, ia berusaha menjauhkan diri dari Abian sebab memang sudah sesak dalam pelukan lelaki itu, "Ya lepas dulu Bian lo kalau mau telat gak usah ngajak-ngajak gue juga kali" Mulai sebal, disaat dirinya tengah memikirkan masalah yang akan ia dapat jikalau datang terlambat Abian malah memeluknya posesif.
Keyla diam sejenak sebab lelah memberontak namun tak dibiarkan lepas oleh sang suami, "Udah jam enam Bian" Ucap Keyla sembari menyisir rambut Abian ke arah belakang.
"Hemm"
"Bian sekarang jam enam!"
Abian terdengar berdecak sebal, ia membuka matanya dan menatp Keyla yang menatap dirinya sedari tadi, "Hari ini kita libur Keyla, guru rapat" Ucap Abian dengan begitu malas.
"Hah?" Tampak terkejut dengan penuturan Abian.
Abian lalu melepas pelukannya terhadap Keyla lalu mendorong perempuan itu sedikit menjauh, "Sana sekolah" Tuturnya sembari membalikkan badannya membelakangi Keyla
"Bian ihh" Dengan sebal Keyla memukul pundak Abian, "Udah asal peluk asal dorong pula" Omelnya kemudian sebelum mendudukkan dirinya.
"Gak jadi sekolah lo?" Bertanya tanpa menatap pada Keyla yang saat ini tengah mengikat rambutnya.
"Ish" Keyla kembali memukul pundak lelaki itu kesal, "Abian mau sarapan apa?" Tanya Keyla. Pada akhirnya ia tetap akan menyediakan makanan siap santap pada lelaki yang kemarin tak menghargai makanannya.
"Gak usah" Ucap Abian malas.
"Nanya Akiel deh mau sarapan apa"
"Terserah lo, buru buatin buat gue" Nada suara Abian terdengar tegas dan menjawab dengan cepat ucapan yang Keyla lontarkan barusan.
"Akiel?" Kembali bertanya tentang sahabat Abian.
"Sisanya" Berucap asal.
Keyla tertawa pelan, ia mengacak-acak rambut lelaki yang masih betah dengan posisi berbaringnya, "Cemburu bilang aja" Ucap Keyla sebelum ia turun dari atas kasur.
"Najis"
"Gue doain lo cinta mati sama gue"
"Y"
"Nyebelin" Mendengus sebal.
. . .
Saat Keyla tengah menyusun sarapan di atas meja, Abian dengan wajah baru bangunnya keluar dari kamar dan langsung menghampirinya.
"Cuci muka dulu sana" Ucap Keyla sembari memotong beberapa buah yang biasa Abian konsumsi.
"Hm" Mengambil sepotong pir yang sudah dipotong dan langsung memakannya.
Keyla menatap pada Abian yang tentu saja lebih tinggi daripadanya, "Bian ih cuci muka dulu baru makan"
Semakin sering Abian bersama Keyla semakin mirip dirasakan lelaki itu karamter yang dimiliki oleh Keyla dan Mamanya, salah satunya ialah mengomel tiap waktu, "Buah doang Key"
"Bodo" Keyla lalu melepas pisau yang ia pegang lalu mendorong Abian menuju kamar mandi, "Sana-sana ihhh"
"Iya iya ck ribet lo" Dengan malas Abian menuruti Keyla yang sudah lebih dulu menjauh.
Sepuluh menit lepas Abian mencuci wajah dan berkumur-kumur, lelaki itu kini kembali menghampiri Keyla yang sudah duduk manis di meja makan sembari bermain ponsel.
Menyadari kedatangan Abian, Keyla lantas mematikan ponselnya, "Sini makan" Ucap Keyla memanggil.
Abian duduk di kursi dengan memandang sarapan yang cukup banyak pilihan menu yang Keyla masak pagi ini.
Keula yang menyadari jika Abian hanya memandang menegur, "Makan jangan diliatin doang"
"Gak selera makan gue"
Keyla menghela nafas kesal lalu mengambil garpu yang menganggur di mangkok mie goreng lalu menodongnya ke arah Abian dengan menatap lelaki itu tajam, "Makan gak?" Mengancam, "...atau gak gue kasih ke Akiel semua nih makanan"
"Ck, apa-apaan sih?" Berdecak sebal lalu dengan patuh menyantap sarapan itu walau dengan wajah keberatan.
Keyla mengatur emosinya kembali menjadi ceria seperti biasanya.
"Habis ini jalan-jalan yuk Bi" Ajak Keyla saat Abian yang baru selesai makan mulai meneguk air mineral.
"Gak" Tanpa adanya beban di pundak, lelaki itu langsung menolak ajakan Keyla.
"Ihh" Sebal.
Abian lalu memgambil alih ponsel Keyla yang menganggur dan membukanya sejenak, "Temen lo mana?" Bertanya.
"Healing"
"Kenapa gak ikut mereka aja?"
"Kan gue maunya sama lo"
"Gue nggak"
"Terserah"
Keyla lalu dengan cepat memghabiskan makanannya yang masih tersisa di dalam piring, membiarkan Abian menjelajahi ponselnya, lagipula Keyla tak merasa melakukan hal aneh di ponsel utu hingga tak boleh disentuh oleh siapapun, "Bisa gak sih kita kayak pasangan di luar sana sehari aja Bi?" Kembali membahas tentang hubungan mereka, "...setiap hari juga gue ikhlas kok"
"Nggak"
Keyla berdecak kesal lalu merebut ponselnya daripada Abian, "Kayaknya emang paling bener gue cari cowok lain" Tuturnya yang membuat Abian menatapnya sinis, "Canda elah"
"Kalau gue nemu yang lebih ganteng daripada lo baru gue tinggalin" Kembali berucap, "Tapi Rama gak kalah ganteng sih, temen lo cakep--" Keyla berhenti berbicara tatkala menyadari jika aura yang Abian pancarkan saat ini cukup menakutkan. Ia meneguk salivanya sukar, "K-kenapa?"
"Ngomong lagi gue ikat lo di kamar" Berucap dengan nada datar namun membawa kesan mengancam. Abian lalu bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Keyla.
"Galak amat" Bergumam.