
"Gue suka sama Raida" Rama yang kala itu berumur 15 tahun berceletuk kepada sahabat perempuannya yang tengah memakan cimol dengan wajah riang sebab itu ditraktir.
"Terus?" Tak menunjukkan wajah kepedulian dengan apa yang Rama beritahukan kepada dirinya.
Rama tertaea cengengesan lalu merangkul bahu Andrea, "Lo kan baik dan pinter banget tuh" Mulau pembukaan dengan yang manis-manis.
"Bisa to the point aja?" Muak dengan kalimat itu.
Rama lalu menghentikan langkah kaki mereka lalu berdiri di hadapan Andrea sembari menyatukan kedua telapak tangannya, "Gue pengen pacaran ama dia Ya, pliss bantuin ya?" Meminta.
Andrea menatap malas kepada Rama, "Ayaaa, ntar gue traktir deh. Janji" Rama mulai menjanjikan sesuatu yang mengenyangkan kepada Andrea.
"Nraktir dimana? Warteg samping SMP kita? Modal dikit napa?" Andrea memilih fokus dengan makanannya, tak memperdulikan Rama.
"Tapi lo menikmati kok"
"Aish" Ingin rasanya Andrea menusukkan lidi cimolnya ke mata lelaki itu.
Rama berdecak kesal, "Iya iya tuh di perempatan jalan ada kang bakso, ntar gue traktir bakso deh" Mengganti menu traktiran.
Andrea tampak berpikir sebentar kemudian menggelengkan kepalanya menolak. Ia lalu melangkahkan kakinya mendahului Rama.
"Ya, lo masih kecil lho masa dah matre?" Rama berucap kala langkah mereka sama.
"Iya, emang kek lo? Tua" Sewot Andrea.
"Ayaaa" Meminta dengan sangat dan jangan lupa wajah sok imutnya yang menjijikan bagi Andrea.
"Kelas berapa?" Terpaksa membantu.
. . .
"Ngelamunin apa lo?" Rama mengejutkan Andrea yang tengah duduk di bangku taman rumah sakit dan menatap lurus hingga tak menyadari kehadirannya.
"Ngagetin aja lo" Andrea berdecak kesal pada Rama.
Rama terkekeh kecil, lelaki yang masih mengenakan seragam sekolah membuka tasnya, "Mau gak?" Menyodorkan salad buah kepada Andrea.
"Pake ditanya lagi" Andrea lantas mengambil makanan itu lalu menyantapnya dengan nikmat.
Rama te6ris memperhatikan wajah Andrea sembari bersandar, "Kapan-kapan jalan yuk" Ajak Rama yang suka memghabiskan waktu senggang dengan jalan-jalan.
"Gak mau" Menolak.
"Gue yang bayarin" Rama menawarkan, "...gue juga yang jemput ke rumah lo sekalian minta izin" Rama tahu jika Andrea bukanlah peremouan yang mudah diajak jalan dengan laki-laki sembarang oleh keluarganya.
"Oke kalau gitu" Setuju.
"Nyokap lo juga gak bakal ngelarang kalau lo sama gue"
Andrea menatap malas, "Nyokap kan gak tahu kelakuan busuk lo" Celetuk Andrea.
"Dih busuk dari mana orang gue segar begini" Berbangga diri.
Rama tertawa kecil, "Terserah lo" Lelaki itu kemudian menatap ke arah langit yang perlahan semakin gelap, senja mulai meredupkan sinarnya, "Gak masuk lo? Udah sore Aya" Menegur Andrea yang tampak tertegun pada satu arah.
Andrea mengangguk dalam ketegunannya.
"Ram" Memanggil Rama kala langkah mereka membawa pergi.
"Hm?" Rama ribet sendiri dengan infus milik Andrea.
Andrea menatap sekilas pada Rama, "Karin tadi sekolah?" Tanyanya.
"Nggak tahu gue, coba tanya Akiel deh" Andrea berdecak sebal lalu mengambil alih tiang infusnya yang menyibukkan Rama. Kesal jika dilihat.
"Kenapa memangnya?" Rama menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Andrea menggeleng, "Gak apa-apa kok"
"Lo udah beres-beres?" Tanya Rama saat ia melihat jika beberapa barang sudah rapi. Andrea akan pulang hari ini, dan ia menawarkan diri untuk mengantarnya pulang sebab kedua orang tua Andrea tengah sibuk.
"Sudah" Mengangguk kecil dengan isi pikiran yang berkecamuk.
Keesokan harinya...
Andrea bersenandung ringan di koridor dengan menikmati permen yang ia beli di kantin tadi, matanya menatap lekat pada sepasang orang tua yang cukup ia kenali. Lekas ia mendatangi mereka dan salim.
"Lho Aya kamu sekolah? Rama bilang kamu di rumah sakit" Ibunda dari Rama terheran-heran dengan keberadaan Andrea di area sekolah.
Andrea menganggukan kepalanya, "Cuma demam aja kok Tan, kemarin pulang" Perjelas Andrea dengan begitu santun.
"Langsung sekolah hari ini? Memangnya kamu udah sembuh total, hm?" Papa Rama mengusap-usap rambut Andrea gemas. Sahabat kecil putranya itu tampak selalu ceria dimata beliau.
"Udah mendingan kok" Andrea tertawa kecil, ia baru ingat jika ada yang ingin ia tanyakan pada mereka berdua, "Tante sama Om ngapain ke sini?" Mengucapkan tanda tanya di pikirannya.
Sang ibunda lalu menghela nafas kesal lalu menatap pada sang putra yang sedari tadi ada di belakang mereka, "Ini nih si Rama bikin masalah di sekolah, ketua OSIS kok ngerusak fasilitas" Mengomel sedikit, menceritakan kelakuan sang putra.
"Demi kebaikan Rama Ma" Alibi Rama, melirik sekilas kepada Andrea yang menatapnya bingung.
"Dimana kamu dapat kebaikan kalau mecahin jendela hm? Bandel banget" Mencubit lengan putranya itu dengan gemas.
"Astaga Rama, udah ya Aya Tante tinggal dulu" Dua orang tya itu kemudian meninggalkan tempat itu.
"I-iya Tan" Andrea menatap punggung mereka yang terus menjauh dari pandangannya, ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Rama yang berdiri di sisi tubuhnya. Ia memukul bahu Rama cukup keras. "Lo mecahin jendela? Kapan?" Memarahi.
"Gak usah tahu ya, sayang" Rama mengacak-acak rambut perempuan itu.
"Rama" Andrea menepiskan tangan Rama, "...lo mecahin jendela waktu kita kekurung di ruang OSIS?" Andrea harap 'tidak' adalah jawaban yang akan Rama berikan padanya.
Rama mengangkat bahunya acuh.
"Benar-benar lo ya, itu sama aja ngerusak image lo" Andrea semakin dibuat marah dengan apa yang telah Rama buat.
"Baru juga ini gue bikin masalah sampe dipanggil ortu" Malah menyahut dengan begitu santai.
Andrea tercengang dengan sahutan itu, "Gak habis pikir gue sama lo" Andrea melangkah dengan cepat meninggalkan Rama.
"Kok lo marah sih?" Rama berseru.
"Tahu ah bodo"
Andrea terus melangkah hingga ia mencapai area kelasnya, ia menatap kesal pada sepasang kekasih yang tengah mengobrol di depan pintu, "Lo ngapain di sini sih?" Membentak sang lelaki. Abian.
Keyla yang ikut terkejut dengan ucapan itu mengelus punggung Andrea yang tampaknya begitu kesal hari ini, "Aya, kenapa?" Tanyanya dengan lembut.
"Kulkas berjalan ini napa di kelas kita sih?" Mengadu dengan kesal pada Keyla. Sepertinya kehadiran Abian mengganggunya. Ia masuk ke dalam kelas dengan kesal.
"Bian ada masalah sama Aya?" Tanya Keyla pada Abian yang memainkan helai rambut panjangnya.
Abuan menggeleng, "Gak ada"
"Terus?"
"Tahu, emang sering gak jelas tuh cewek" Ucap Abian dengan begitu santainya mengatai Andrea.
"Lo tuh yang gak jelas!" Andrea mendengar ucapan Abian barusan.
Abian tampak mengejek Andrea yang bawel itu, ia kemudian menyadari kehadiran Rama yang tengah mengatur nafasnya yang tak beraturan itu, "Kayaknya gue tahu deh masalahnya" Beritahu Abian pada Keyla.
"Apa?" Tanya Keyla kepo ia ikut menatap arah yang sama dengan Abian.
"Rama" Memanggil sang sahabat yang terlihat membawa cemilan tangannya.
"Kenapa sama Aya? Lo apain anak orang?" Abian langsung mencerca Ra yang baru datang.
Rama menatap pada Abian, ia menghembuskan nafasnya pelan, "Gak gue apa-apain kok, Aya cuma marah gegara tahu kalau gue mecahin jendela doang" Memberi informasi.
Abuan terkekeh kecil, "Pantesan" Gumamnya, ia lalu tersenyum licik menatap Rama, "...auto gak bakal pacaran lo sama Aya image lo kan udah gak bener di matanya" Ucapnya menakut-nakuti Rama yang terlihat frustasi.
"Sialan lo Yan" Memukul lengan Abian dengan begitu kesal, ia lalu menatap pada Keyla yang menatap kepada mereka berdua dengan netranya yang teduh.
"Keyla cantik" Memasang senyum manisnya pada Keyla.
"Hm? Kenapa Rama?" Menatapnya.
Rama lalu menyodorkan cemilan yang ia bawa tadi kepada Keyla, "Kasih ini ke Aya ya, gue harus ke ruang kepala sekolah" Ucapnya, ia dipanggil oleh kedua orang tuanya untuk turut mendengarkan apa ucapan kepala sekolah dan guru BK.
"Oke" Mengambil alih cemilan itu.
Rama kemudian berbalik badan dan segera melangkah menjauhi kelas tersebut.
"Sini biar gue" Abian mengambil alih apa yang Rama berikan kepada istri mudanya tersebut.
Keyla menatap kesal dan ingin merebutnya kembali, "Apaan sih Bi? Orang Rama nitipnya ke gue" Tuturnya.
"Dia habis manggil lo cantik, gue gak terima" Ucap Abian tanpa tersirat wajah bercandanya.
"Jadi gue gak cantik?" Memancing masalah.
Abian menatap lekat Keyla untuk beberapa detik, "Lo manis" Tuturnya lalu masuk ke dalam kelas.
Abian menghampiri Andrea yang tengah duduk di kursinya sembari bermain ponsel dengan wajah kesalnya, ia menoleh kala Abian mengetuk mejanya beberapa kali sembari meletakkan beberapa cemilan, "Dari Rama, gue saranin gak usah lo makan soalnya ini ada peletnya" Ucap Abian yang membuat Olivia yang juga berada di dekat Andrea menatap lelaki itu kesal.
"Abian" Olivia tak mau jika mood Andrea semakin buruk dibuat.
Abian menatap pada Olivia, "Gak percaya lo? Coba nih lo makan pasti habis ini lo suka sama tuh playboy" Mengambil sebungkus roti dan menyodorkannya kepada Olivia namun segera gadis itu tolak.
Andrea kemudian berdecak kesal ia menatap tajam kepada Abian, "Berisik ah Yan, pergi gak lo" Mengambil penggaris dari kolong mejanya dan hendak memukul Abian.
"Iya iya" Abian berlalu pergi, ia menghampiri Keyla yang sedari tadi menatap ke arahnya, "Gue ke kelas dulu ya, nanti pulang gue samperin lo" Ucap Abian sembari mengelus kepala perempuan itu lembut.
"Okee"
Keyla kemudian mengalihkan pandangannya kepada Nayra yabg baru saja datang dari kantin dengan wajah daftarnya.
"Hai Nayra" Menyapa dengan ramah.
Nayra melirik sinis pada Keyla lalu melanjutkan langkahnya, mengacuhkan perempuan itu dengan memasang raut wajah tak bersahabat. Membuat Keyla bingung dibuatnya.