Eros Love

Eros Love
Harga diri Akiel



Lelaki dengan tubuh tinggi dan badan atletis yang dibasahi oleh keringat terlihat tengah serius bermain basket di saat hari sedang panas akibat paparan sinar matahari.


Namun itu tak menjadi pantangan baginya untuk terus memasukkan bola basket ke dalam ring.


"Abian" Seorang gadis mungil dengan seragam SMA-nya tiba-tiba saja muncul di hadapan Abian yang tengah melempar bola.


Terkejut, reflek lelaki itu menarik Keyla ke arahnya agar terhindar dari bola yang terarah pada perempuan itu.


"Lo" Menatap bola yang jatuh menghantam tanah cukup keras, "...hampir aja kan kena bola" Kini mengalihkan pandangannya ke arah Keyla yang menatap polos kepadanya.


"Tapi gak kena" Bukan Keyla namanya jika ia harus menurut pada Abian.


"Kenapa?" Abian bertanya sembari berlari kecil mengambil bola basket tadi dan kembali memainkannya. Dan diikuti dengan patuh oleh langkah kecil Keyla.


"Gak apa-apa, iseng aja mau ke sini" Ucap perempuan itu sembari mendongakkan kepalanya pada Abian, "Abian tinggi banget sih?" Ucapnya kagum.


"Lo aja yang kependekan"


Mendengar hal itu Keyla lantas memutar bola matanya malas, "Iyain" Sudah kebal dengan drama body shaming tersebut, ia kemudian memperhatikan cara permainan basket yang suaminya lakukan tersebut.


"Nyoba dong Bi" Berucap dengan penuh harap sembari mengulurkan kedua tangannya hendak meminta bola basket itu.


Abian menghentikan kegiatannya, ia kemudian menatap kesal pada Keyla yang tetap diam ditempatnya, "Mending lo ke kelas deh Key, gak usah ganggu gue" Ucap Abian yang merasa terganggu dengan kehadiran Keyla.


"Emang napa sih?"


"Keyla, gue lagi malas debat" Abian kembali memainkan bola basketnya sembari melangkahkan kaki agak menjauh daripada Keyla.


"Lo takut ada rumor tentang lo?" Tutur Keyla, "Kalau bener ya bagus dong lo tinggal publish status kita terus--"


"Terus kita dikeluarkan dari sekolah" Potong Abian langsung, ia mengatakan konsekuensi yang harus mereka tanggung jika status mereka berdua sampai bocor di sekitaran anak sekolah, "...itu yang lo mau?" Menatap geram pada Keyla.


"N-nggak" Nyali Keyla langsung menciut mendengar nada suara Abian yang terlihat marah terhadap ucapannya.


"Kalau gitu lo menjauh dari gue, biarin gue tenang"


"Di rumah juga lo tenang-tenang aja kok" Terus menerus menyahuti perkataan Abian dan membuat lelaki itu memejamkan matanya untuk sekedar meredakan emosinya yang akan meledak.


"Keyla" Menatap tajam perempuan itu, "Gue lagi malas debat, paham gak sih?" Terlihat lelah jika harus bertengkar di sekolah dengan istrinya sendiri.


"Nggak"


"Terserah lo" Abian tak sanggup lagi meladeni tingkah laku Keyla, ia kemudian berbalik badan dengan membawa bola basketnya lalu pergi menjauhi Keyla.


"Abian kemana?"


"Nyari tempat yang gak ada lo"


"Jahat" Menatap kesal pada punggung Abian yang menjauh daripadanya.


"Keyla, lo kenapa?" Tak lama kemudian, Rama datang menghampiri Keyla yang masih berada di tengah lapangan basket outdoor.


"Sahabat lo tuh ninggalin gue mulu" Adu Keyla sebal pada tiang listrik lainnya yang adalah sahabat Abian.


"Abian maksud lo?" Bertanya untuk lebih jelasnya.


"Iya"


Rama tersenyum simpul ia kemudian mengulurkan sebungkus makanan ke hadapan Keyla yang masih terlihat kesal, "Nih es krim mau?" Tawar ketua OSIS itu dengan nada ramahnya.


"Gratis?"


"Iya, nggak dipungut biaya apa-apa kok tenang aja" Terkekeh kecil.


Senyum manis Keyla lantas terpancar, ia mengambil pemberian itu dengan senang hati, "Thank you Rama, tambah ganteng deh lo" Memuji.


"Baru sadar lo"


"Basa-basi doang sih gue" Ucap Keyla lalu melangkah menuju tempat yang lebih teduh untuk ia bersantai dan diikuti pula oleh Rama.


Sembari berduduk santai dan menikmati es krim, Rama dengan tidak sengaja melihat wallpaper ponsel Keyla yang berupa bayangan dua orang, "Wallpaper lo bagus" Tutur Rama.


"Makasih"


"Udah punya pacar?" Pertanyaan itu tak sembarang Rama lontarkan sebab ia tahu bayangan itu adalah bayangan perempuan dan laki-laki.


"Gak ada" Berucap dengan santai sembari menikmati es krimnya.


"Masa sih?" Tak percaya dengan ucapan Keyla.


"Gak percaya ya gak apa-apa sih" Kembali mengatakannya dengan santai, ia lalu menatap pada Rama yang juga terus menatap dirinya, "Kenapa? Suka ya lo sama gue?" Tertawa kecil.


"Kalau iya kenapa? Kalau nggak kenapa?"


"Jangan suka gue deh Ram, backingan gue galak soalnya" Hal yang Keyla ucapkan sebenarnya mengarah pada Abian yang selalu terlihat tak suka jika ia mengobrol dengan lelaki lain.


"Ahahaha Keyla, bisa aja lo" Rama menganggap itu seolah sebagai candaan semata, "Gantengan gue atau backingan lo?" Kini mencoba membandingkan visual.


"Dia ganteng, tapi lo juga gak kalah sih tapi dia masih di atas lo"


"Lo suka sama dia?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada yang tak terlalu lantang.


"Kepo ih Rama"


Rama hanya tersenyum simpul, "Kapan-kapan jogging bareng yuk"


"Hm?"


"Supaya tinggi lo nambah" Mengejek tinggi Keyla sembari tertawa lepas.


"Ih Rama body shaming" Memukul pundak lelaki itu berulang kali.


"Canda Key canda ahahaha"


UKS....


"Akiel?" Karin terkejut dengan kedatangan lelaki itu ke UKS dengan wajah lesunya, "Ngapain lo?" Tanya Karin dengan ketus ia sungguh tak ingin terlalu lama berada di dekat Akiel.


Akiel diam memandang wajah Karin yang rasanya semakin cantik dan ia sendiri semakin merindukan kenangan antara mereka di masa lalu.


Tapi kini ada jarak yang Karin ciptakan dan jarak itu semakin menjauh tatkala Akiel mencoba menepisnya, "Bisa minta obat gak buat sakit kepala?" Tanya Akiel.


"Bentar" Karin berbalik badan untuk mengambilkan apa yang lelaki itu inginkan.


"Nih minum" Tak lupa ia menyodorkan segelas air mineral. Karin tetap berada di tempatnya sampai Akiel meneguk pil tersebut.


"Karin, kantin ayo" Suara itu membuat Karin terkejut, ia menoleh ke arah pintu UKS dan menemukan Nayra yang kini menatap tajam ke arah Akiel yang juga menatap ke arah Nayra.


"Iya Nayra" Karin tahu jika Nayra sangat tak menyukai Akiel, ia lalu memgambil alih gelas yang Akiel pegang lalu mengembalikannya ke tempatnya semula lalu segera menghampiri Nayra namun lengannya di pegang oleh Akiel.


"Rin, bisa bareng gak ke kantinnya?" Tanya Akiel demgan penuh harap. Karin menatap pada wajah lelaki itu, Akiel tampak begitu lelah dan berada di bawah tekanan.


"Nggak" Nayra menepis cekalan Akiel dan segera menyadarkan Karin dari lamunannya. Nayra kemudian menarik Karin keluar dari UKS dengan paksa.


"Dia cuma minta obat aja kok" Jelas Karin.


"Gue gak suka ya lo dekat-dekat dia lagi"


"Iya Nayra sayang, bawel deh lo" Karin berucap sembari memeluk sahabatnya dari samping.


"Lo juga mau aja dibegoin tuh orang, ganteng-ganteng minus akhlak" Masih tak terima dengan pemandangan yang Nayra lihat hari ini.


"Nayra gak boleh gitu ish" Tegur Karin.


"Apa? Mau ngebela dia lo?"


"Nggak Nayra gak gitu, udah ya pesan makan aja kita" Ucap Karin menenangkan sahabatnya. Ia bersyukur memiliki sahabat yang begitu peduli padanya.


. . .


"Apa gue terlalu ngerendahin harga diri gue ya buat Karin?" Di sisi lain Akiel yang baru bergabung dengan sahabat-sahabatnya langsung mencurahkan isi hatinya dengan nada tak bersemangat.


Andrea menatap lelah pada Akiel, lelah dengan kegamonan lelaki itu, "Dih baru sadar lo?" Menyeruput es jeruknya.


"Lo juga kenapa gak bantu jelasin sih kalau gue gak mungkin kayak gitu" Kini menatap kepada Andrea yang memasang wajah tak bersalahnya dengan ucapannya barusan.


"Kenapa bawa-bawa gue?"


"Lo kan ada di situ" Ucap Akiel sedikit sebal.


"Oliv juga" Menunjuk pada Olivia yang sedari tadi menikmati gorengannya bersama dengan Keenan yang numpang makan gratis melalui uangnya.


"Gue gak mau ikut campur masalah lo" Ucap Olivia santai, "Urusan lo kenapa harus kita yang repot?" Sambungnya lagi.


"Dihh" Ia yang masih bad mood memilih untuk memakan batagor yang dipesankan Andrea padanya.


"Lagian kayak lo gak tahu Nayra aja, dia kalau liat ada yang gak bener langsung jaga jarak. Dia aja jaga diri banget apalagi sahabatnya pasti ikut dijagain" Keenan ikut mengeluarkan pendapatnya.


Decakan kecil keluar dari mulut Andrea, "Udah sih gue sebenarnya mau muntah juga liat lo ngemis-ngemis maaf ke Karin tapi gak digubris sama sekali" Ia mengeluarkan kekesalannya pada Akiel, "...cari cewek lain napa sih"


Akiel menghela napasnya berat, "Aya, gue kan sama dia udah lama" Tuturnya galau.


"Halah bilang aja lo gak laku makanya pengen balik ama yang pernah lo dapetin"


"Aya" Keenan memanggil membuat Andrea dan yang lain menatap ke arahnya, "Kalau ngomong suka bener deh lo" Mengangkat tangan mengajak Andrea tos.


"Iya kan?" Dengan senang hati menyambut tos itu.


"Benar-benar deh" Punya sahabat kadang seperti malaikat kadang seperti binatang.


"Ntar malem kalian jadi ke kafe gue?" Tanya Keenan menanyakan rencana yang tadi sempat mereka bahas bersama.


"Jadi dong" Akiel tiba-tiba saja menjadi semangat.


"Gue juga ikut bareng Oliv, ntar bisa ngajak Keyla juga" Andrea ikut berucap.


"Okelah"


"Bakal caper deh kayaknya Rama ntar malem kalo tahu gebetannya datang" Tutur Keenan yang sudah menduga lebih dulu dengan kelakuan yang akan di perlihatkan oleh Rama.


"Oh iya ngomong-ngomong Keyla sama Rama kok gak ada ya?"


"Abian juga nih" Andrea kemudian mengambil satu batagor milik Akiel dan memakannya.


"Udahlah biarin aja paling-paling sibuk sama urusannya" Ucap Keenan santai.


"Si paling sibuk" Tutur Olivia.


"Si paling-paling" Andrea menyambung.


"Ahahahah"


Tawa itu kemudian berhenti terdengar saat ponsel milik Olivia berdering dan menunjukkan jika ada telepon masuk, "Siapa Liv?" Tanya Andrea penasaran.


"Bentar"


"Halo Ayden" Ternyata telepon dari pacarnya.


"..."


"Nanti malam ya?"


"..."


"Tapi nanti malam aku mau jalan sama teman aku Ay"


"..."


"Aya ikut kok, Keyla juga. Aku gak sendirian di situ ceweknya"


"..."


"Ayden, nggak gitu"


"..."


"Kamu apa-apaan sih? Aku aja gak pernah ngelarang kamu berteman"


Melihat jika Olivia terlihat marah, Andrea lantas meminta agar ia yang berbicara dengan Ayden, "Sini teleponnya" Olivia memberikan telepon itu pada Andrea, membiarkan sahabatnya yang mengambil alih obrolan.


"Heh lo baru jadi pacar aja gak usah belagu ya. Siapa lo ngatur ruang lingkup pertemanan Oliv" Sembur Andrea langsung. Ia tak suka sahabatnya dibuat susah dan dikekang seenaknya.


"..."


"Kalau bukan gara-gara gue juga lo gak bakal bisa jadian sama Oliv, jangan banyak omong lo"


"..."


"Oliv bukan tipe cewek murahan ya Ayden, gak bakal nih cewek selingkuh. Bacot lo" Andrea langsung mematikan telepon itu dan mengembalikannya kepada Olivia.


"Nyesal gue bikin lo berdua jadian, minus attitude banget si Ayden jadi cowok lo" Omel Andrea yang didengarkan oleh tiga orang lainnya yang ada bersamanya, "...kalau gue jadi lo udah gue putusin nih orang"


Karin hanya diam mendengar ucapan itu. Sudah berulang kali Ayden menyakitinya tapi ia masih bertahan di status yang sama berharap Ayden merubah sikapnya.


"Sabar Aya sabar, nih minum-minum" Keenan menyodorkan minuman milik Andrea yang sempat ia minum kala Andrea beradu mulut dengan Ayden.


"Bego banget jadi cewek gue lihat" Kembali mengatai Olivia yang hanya diam.


"Bulol" Akiel menyahuti.


Andrea lantas menatap tajam pada Akiel, "Siapa lo berani ngatain Oliv gitu?"


"Lo bikin macan ngamuk mulu gue lihat, gak beda jauh sama Rama" Keenan berucap ia lelah mendengar perdebatan orang-orang.


"Iya iya maaf, gue salah" Akiel memiluh untuk mengalah.