
Pulang sekolah...
Keyla berdiri di samping parkiran, tepatnya di samping motor sport milik Abian. Ia nampak bermain dengan ponselnya.
Lalu Nayra nampak mendekati ke arahnya, bersama Karin yang berdiri di belakangnya, "Key, mau bareng gak?" Tawar perempuan dengan tinggi 161 cm tersebut. Cukup tinggi.
"Nggak gue bareng Abian" Mengatakan dengan ria.
Karin membulatkan matanya sempurna, ia lalu bertatapan dengan Nayra, "Abian? Lo akrab?" Tanya perempuan itu.
"Lagi nyoba"
Nayra menghela nafasnya pelan, "Jangan sksd sama tuh cowok, cepet ilfeel orangnya" Ucapnya dengan datar.
"Emang gitu alurnya, ilfeel dulu baru suka" Keyla mengatakan dengan bijak, ia lalu mendorong bahu Nayra dan Karin agar meninggalkannya sendiri untuk menunggu Abian. "Udah lo pulang sana, ditungguin tuh"
"Hm" Karin lalu menggandeng tangan Nayra dan menuju mobil yang ada di pinggir jalan, yang sudah menunggu mereka sedari tadi.
Keyla lalu melihat jam yang ada di ponselnya, lalu membuka aplikasi Whatsapp.
"Ck, gini amat nasib" Gerutunya sebal.
Lapangan basket...
Abian sedari tadi fokus pada ponselnya, membuat Akiel penasaran, "Yan, siapa?" Tanya Akiel berusaha mengintip ponsel sang sahabat, tapi Abian lebih dulu mematikannya.
"Bukan siapa-siapa" Ucapnya dengan datar, ia lalu bangkit berdiri, mengambil bola basket dan mendribblenya pelan. Ia memberikan waktu istirahat pada anak-anak yang lain. Melempar bola itu ke arah ring basket dengan santai, dan kembali bermain seorang diri.
Parkiran...
"Lumutan gue lama-lama" Keyla sudah pegal sedari tadi berjongkok seperti orang bodoh di dekat motor yang masih tersisa di parkiran.
Tak lama kemudian nampak anak-anak lelaki melangkah ke arah parkiran, Keyla bangkit berdiri dan melambaikan tangannya pada Abian.
"Abian" Lantas anak-anak yang lain menoleh ke asal suara itu.
Rama mengernyitkan dahinya melihat Keyla yang masih ada di lingkungan sekolah, ia menghampiri perempuan itu. "Keyla, kok belum pulang?" Tanyanya, lelaki itu memamerkan senyumnya pada Keyla.
"Ini mau pulang, bareng Abian"
"Hah?" Perlahan senyum di bibir Rama luntur, ia melirik pada Abian yang hanya berwajah datar. Tak ada penjelasan satu pun dari lelaki itu.
Abian menghela nafasnya, lalu melangkah mendekati motornya, dikuti Keyla di belakang. "Gue duluan" Ucapnya pada anak-anak yang lain.
"Oh oke" Rama menjawab dengan pelan. Ia menatap intens pada Abian yang sudah naik ke atas motornya dan diikuti Keyla.
"Ini gimana naiknya?" Tanya Keyla kebingungan.
"Pegang bahu gue"
Keyla menaikkan sebelah kakinya dipijakan, lalu mencengkeram bahu Abian dan dengan kesusahan naik, "Udah, Bi" Sahut Keyla, ia melingkarkan tangannya di perut lelaki itu.
"Hm" Abian langsung menggas motor itu dan pergi keluar dari lingkungan sekolah dengan membonceng Keyla
Rama, Keenan, dan juga Akiel menatap kepergian sahabatnya dengan peremouan yang Rama sukai. Keenan berdehem, "Em ada yang potek nih heartnya" Menatap pada Rama.
"Apa sih lebay" Berkata dengan ketus. Jelas lelaki itu cemburu Keyla lebih memilih pulang dengan Abian daripada dirinya.
"Jadi Keyla nolak ajakan lo demi sama Abian?" Akiel sepertinya hendak membuat Rama semakin kesal.
"Rama" Panggil lelaki itu.
"Hm?" Berdehem singkat. Wajahnya masam.
"You good?" Bertanya dengan maksud mengejek ketua OSIS itu.
"Ya"
"Not you're not" Menepuk bahu Rama, seolah menguatkan. Tapi detik kemudian tawa Keenan dan Akiel pecah menertawakan Rama.
. . .
Malam semakin larut, Abian keluar dari kamar setelah mengambil hoodie. Ia mendekati Keyla yang tengah menerapkan masker wajah diselingi menonton televisi dan menyantap bolu yang sempat dibeli saat di perjalanan pulang tadi.
Keyla yang baru separuh mengolesi masker menatap pada sang suami, "Hah? Bukannya..."
"Habis, buru ah" Meminta dengan tak sabaran. Lagipula Abian malas mendengar cerewetnya Keyla.
"Santai gak usah sewot" Perempuan yang mengenakan piyama navy itu bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa lembar uang berwarna biru pada Abian.
"Nih"
Abian mengambilnya dan memasukkannya ke dalam dompet. "Sama-sama" Pergi meninggalkan istri seorang diri.
"Ck, miskin dalam sebulan baru tahu rasa lo" Bergerutu sebal. Keyla lalu duduk dan mengambil ponselnya yang bergetar barusan. Da notifikasi whatssap masuk.
. . .
Abian sedari tadi hanya diam. Pikirannya melayang pada Keyla yang ada di rumah sendirian, ia lalu menatap pada arlojinya yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. "Ck, kok gue kepikiran tuh cewek sih?" Gusar sendiri tentang Keyla yang tidur harus ditemani.
"Gue balik duluan" Bangkit dari duduknya. Membuat tiga sahabatnya yang sedari tadi bermain game dibuat terkejut.
"Buru-buru amat, baru jam segini" Tegur Rama, tapi ya memang bukan pertama kali Abian seperti ini. Ia akan datang untuk berkumpul tapi pulang saat moodnya mengingini pulang ke apartemen.
"Gak apa-apa" Singkat lalu melangkah pergi.
. . .
Pin apartemen terdengar ditekan oleh seseorang lalu pintu terdengar seperti dibuka. Keyla menoleh ke arah pintu dan menemukan sang suami sudah berada di rumah.
"Abian" Sapanya.
Abian menatap Keyla sebentar lalu kembali melangkah. "Hm?" Lelaki itu masuk ke kamar mandi untuk sekedar mencuci wajah dan gosok gigi.
Saat keluar ia menemukan Keyla yang tengah menyantap bolu yang sempat dibeli saat di perjalanan pulang tadi. "Mau gak?" Menawari sang suami. Istri yang baik bukan?
Abian menggeleng.
"Abian mau kemana?" Tanya Keyla saat lelaki itu memilih tak menghampirinya.
"Tidur" Menjawab singkat.
"Cepat banget" Komentar Keyla. Sebenarnya bukan Abian yang terlalu cepat ingin tidur, hanya saja lelaki itu tak tahu harus apa. Jujur ia masih belum terbiasa tinggal dengan seorang perempuan di rumahnya.
"Besok sekolah" Sahut Abian.
"Oh iya juga ya" Keyla lalu membereskan bungkus-bungkus makanan yang ada di atas meja. Ia lalu lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk sekedar menyikat giginya. Perempuan itu lalu masuk ke dalam kamar dan berbaring di samping Abian.
Suasana sunyi senyap, Abian lalu menoleh pada Keyla yang berbaring di sampingnya sembari menatap langit-langit kamar "Lo kok gak masalah seranjang sama gue?" Tanya Abian pada Keyla yang memang sejak dari pertama pindah, perempuan itu sama sekali tidak protes jika harus tidur seranjang dengannya.
"Daripada tidur di lantai" Jawab Keyla dengan santainya. Perempuan itu lalu menatap pada Abian yang terlihat memejamkan mata. "Bi" Panggilnya.
"Hm"
"Kita kok gak bulan madu kek di film-film sih?"
Sungguh pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut orang bodoh, perempuan itu terlalu random memilih pertanyaan yang harus dijawab oleh dirinya, "Ck, mulut lo" Kesal dengan pertanyaan itu. Ia masih lelaki normal, hanya saja enggan menyentuh Keyla sebab tak ingin memberi harapan palsu.
"Nanya doang" Cemberut sebab ia dimarahi. Suasana menjadi hening untuk beberapa saat. Tanpa Abian sadari perempuan itu berbaring menghadapnya, "Kalau bulan madu itu ngapain sih? Jalan-jalan sambil makan madu ya Bi?" Pertanyaan itu lagi.
Abian lalu menoleh pada Keyla, membuat jarak wajah mereka begitu dekat. "Gue usir lo ya" Semakin kesal.
"Apa sih marah-marah mulu?" Memperbaiki posisi tidurnya menjadi telentang.
"Bian jangan marah-marah. Takut nanti lekas tua" Nyanyinya dengan suara yang tak terlalu indah tapi masih bisa dinikmati oleh telinga yang masih berfungsi dengan baik.
"Berisik Keyla, tidur" Tapi Abian yang terganggu dengan nyanyian itu.
"Y" Ikut kesal.
"Ck" Abian berdecak sebal. Ia lalu membuat posisinya membelakangi Keyla.
"Abian ada rencana bulan madu gak? Eh tapi gue nggak suka madu, Bi" Kembali berceloteh dengan bulan madu, yang Keyla sendiri tak tahu apa itu bulan madu.
"Keyla, tidur" Mendengar nada suara Abian yang lebih mengintimidasi dari sebelumnya membuat Keyla memejamkan matanya berusaha menghindari amukan suami kulkasnya itu.
Darah tinggi gue lama-lama, batin Abian yang ia sendiri tak tahu sampai kapan bisa menyesuaikan diri dengan kepribadian Keyla yang berbanding terbalik dengannya.